Salin mendengar deru mesin mobil Setu semakin menjauh di indera pendengarannya. Buru-buru ia bergegas, bermaksud mengejar suaminya itu. Ia takut kehilangan jejak. Kali ini, tekadnya sudah bulat, ia ingin mengungkit suaminya itu.
Buru-buru ia tancap gas, mengejar Setu yang sudah jauh di depan. Ia tetap menjaga jarak agar tak ketahuan oleh Setu.
Hingga dua puluh menit kemudian, ia melihat mobil Setu berhenti di suatu tempat. Di sebuah hotel megah, dekat dengan hotel resepsi pernikahan kolega bisnis Setu kemarin.
Salin melihat secara teliti saat Setu keluar dari dalam mobil, lalu masuk ke dalam hotel itu. Ia pun segera keluar dari dalam mobil, mencari jejak suaminya.
"Kemana dia?" batin Salin saat sudah berada di lobi hotel.
"Permisi, nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis. Seorang wanita memakai seragam dengan rok depan pendek tinggi diatas lutut, menyapa Salin yang kebingungan.
"Saya. saya mencari suami saya, nyonya. Atas nama Setu Sandoro. Kalau boleh tau di kamar nomor berapa ya?" tanya Salin hati-hati. Ia tak ingin dicurigai pihak hotel.
"Sebentar ya, nyonya," ujar wanita itu ramah serta menunduk hormat.
Wanita itu memeriksa sesuatu di komputernya. Lalu mengatakan hal yang baru ia lihat pada wanita cantik di hadapannya.
"Maaf, nyonya. Untuk nomor kamarnya kami tak bisa memberitahu ke sembarang orang." Tiba-tiba ujar wanita itu. Entah apa yang ia baca tadi di layar komputernya.
"Tapi kenapa, nyonya? Saya ini istrinya, saya berhak tau dong suami saya di kamar nomor berapa," protes Salin tak terima.
"Maaf, nyonya. Itu adalah kesepakatan antara orangnya langsung dan pihak hotel. Kami tidak menyebarkan identitas pribadi klien kami," ucap resepsionis meminta maaf, merasa tak enak.
"Jadi.... mas Setu membaut privasi agar orang lain tak tau bahwa ia menginap di sini?" batin Salin kecewa.
"Tapi, nyonya. Saya hanya ingin tau bahwa suami saya benar di sini. Saya hanya ingin memastikan bahwa suami saya ada di hotel ini, soalnya orang tua dari suami saya sedang mencarinya. Ada hal yang mereka ingin bahas. Saat saya telpon nggak diangkat, dan saat saya chat nggak dibalas. Makanya saya nyusul ke sini, nyonya," terang Salin panjang lebar.
Berharap karangan indahnya menyelamatkan dirinya, berhasil memergoki Setu di hotel ini entah dengan siapa.
"Tapi nyonya, pria dan wanita itu sudah bekerja sama dengan hotel kalau identitas mereka tidak boleh sampai tercium oleh siapa pun termasuk istrinya. Begitu beliau berpesan kepada kami. Sekali kami meminta maaf ya, nyonya."
"Apa? Mas Setu bersama wanita?" batin Salin. Hampir runtuh ia ke lantai. Tetapi buru-buru ia pertahankan bobot tubuhnya. Tak mau ia mempermalukan dirinya di tempat umum seperti ini.
Belum selesai resepsionis itu melayani Salin, tiba-tiba ada klien baru yang datang dan bertanya kepada resepsionis itu.
Kesempatan itu Salin gunakan sebaik-baiknya, untuk kabur. Ia ingin mencari di mana keberadaan Setu sekarang. Rasanya ia sudah tak sabar ingin memergoki Setu dengan wanita itu.
"Mas, sebenarnya kamu ngapain ke sini? Dan sama siapa kamu mas?" batin Salin pilu. Ia melangkahkan kakinya gontai menaiki lift. Secepat kilat ia berlari dari lobi saking inginnya ia memergoki Setu suaminya.
Salin melangkah mengikuti langkahnya. Entah kemana langkahnya itu membawanya. Dan tibalah ia di lantai delapan hotel itu. Dia bingung. Ada banyak kamar yang ada di sana. Dia tak tau harus kemana. Dan semua kamar itu tertutup. Membuatnya semakin sulit menemukan Setu.
Samar-samar ia mendengar suara wanita dan pria yang sedang terkikik di dalam salah satu kamar. Ia fokuskan indera pendengarannya mencaritahu dimana suara kikikan itu berada.
***
Tok tok tok
"Siapa?"
"Room service."
"Biar aku yang buka," ucap wanita itu.
Lelaki itupun menganggukkan kepalanya.
Ceklek
Suara pintu dibuka dari dalam.
"Apa ada masalah?" tanya wanita yang berdiri di depan pintu pada orang yang mengaku sebagai room service itu.
"Saya ingin mengganti sprei, nyonya," ucap petugas hotel itu. Ia menutup wajah dengan masker, hampir menutupi matanya. Kepalanya juga dihiasi oleh topi khas hotel itu sendiri.
"Oh, silakan," jawab wanita itu. Ia pun memundurkan langkahnya agar petugas hotel itu bisa masuk.
Petugas hotel itupun masuk dengan perlahan. Ia celingak-celinguk seperti mencari sesuatu.
"Siapa, At?" tanya suara bass yang membuat atensi petugas hotel itu menoleh ke sumber suara.
"Petugas hotel, mas," jawab wanita yang membuka pintu tadi.
Petugas hotel itu yang tak lain adalah Salin, mematung di tempat. Menatap tajam pria yang ada di depannya. Yang tak lain adalah suaminya sendiri. Ia shock mendapati suaminya dengan berduaan di hotel dengan seorang wanita.
"Oh, biarkan saja. Biar dia melakukan tugasnya," sahut seorang pria, yang berjalan dari belakang Setu tadi.
Semakin terkejutlah Salin dengan pemandangan di depannya. Dua pria satu wanita? Itu hanya yang ada dibenaknya sekarang.
Dan muncul lagi laki-laki dan perempuan dari arah yang sama saat Setu keluar tadi. Semakin heran Salin melihat semua itu. Sebenarnya ada acara apa ini?
"Trimakasih, tuan atas kerja sama ini. Semoga kita bisa jadi partner. Dan kerjasama kita akan terus berlanjut," ucap seorang pria baya yang menjabat tangan Setu.
"Sama-sama, tuan." Setu menjawab lugas dan mantap.
"Kerjasama?" batin Salin.
Dugaannya salah. Setu kemari bukan untuk check in dengan teman wanita, tetapi mereka sedang mengadakan diskusi di sebuah hotel. Tapi, tunggu? Masa di kamar hotel ada tempat rapat?
Niat awal ingin memergoki suami, eh malah dia yang kena prank. Di sini yang ada rapat bisnis.
Salin mengedarkan pandangan menyusuri seluruh isi kamar. Ada tempat tidur kecil, sofa, meja dan kursi kerja tersusun dengan rapi di ruangan itu. Tetapi sejak kapan kamar hotel di sulap jadi tempat rapat? Itu yang membuat salin bertanya-tanya. Atau dua yang salah duga. Atau karena dia yang kurang up to date.
Soalnya Salin belum bertemu dengan kamar hotel sekaligus tempat untuk meeting. Ini m kali pertama dalam hidupnya. Untung dia menyamar jadi petugas hotel kalau tidak dia yang kepergok oleh Setu.
"Mati aku," batin Salin. Apalagi menyadari ia membawa sprei yang ukurannya berbeda dengan ukuran ranjang yang ada di ruangan itu.
Takut ketahuan, Salin pura-pura merapikan ranjang kecil itu, yang memang berantakan. Lalu meminta maaf karena salah membawa sprei.
"Maaf, tuan, nyonya... sudah mengganggu. Saya salah bawa seprei. Saya akan kembali," ucapnya gugup.
Buru-buru ia melangkah, meninggalkan Setu dan rekan-rekannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments