"Saya nggak ada maksud untuk membandingkan antara kamu dan saya, mas. Tapi saya hanya ingin mas sadar. Mas hemat. Kemana semua uang dari hasil kerja mas selama ini? Apa yang mas lakukan di luar sana?"
Setu terdiam. Ia merasa
kalimat panjang lebar yang diutarakan istrinya adalah hal yang menohok. Tetapi ia tak mau mengaku salah dan kalah dengan sang istri. Gengsi. Sudah terlalu sering ia membuat hati sang istri sakit. Sudah terlalu sering ia berbuat kekerasan pada sang istri.
"Kamu curiga sama saya?" hardiknya langsung. Cepat sekali ia menyahut ucapan sang istri.
"Ya siapa yang curiga sih mas? Istri mana coba yang nggak curiga, saat suaminya kerja, tetapi sampai sejauh ini istrinya belum menikmati nafkah darinya. Sangat jarang sekali Salin menikmati hasil jerih payah suaminya itu.
Jadi, istilah yang mengatakan uang suami adalah uang istri, uang istri adalah uang istri, sepertinya tak tepat untuk Salin. Dia bukanlah seperti istri orang di luaran sana yang mana suaminya memberikan gajinya untuknya. Tidak. Salin jauh dari kamus itu.
"Bahkan, biaya untuk ibu saja saya yang berikan "
"Jadi, kamu keberatan? Kamu nggak terima?" pekik Setu. ia langsung berdiri, dengan mata melotot dan tangan mengepal. Rahangnya mengeras.
"Ya bukan keberatan sih, mas. Lebih tepatnya saya mempertanyakan tanggung jawab mas sebagai kepala keluarga. Apalagi ayah sudah lama nggak ada, sudah seharusnya mas yang bertanggung jawab untuk ibu."
"Sudahlah. Nggak perlu kamu ngajarin saya. Saya lebih tau yang terbaik untuk saya daripada kamu. Lagian kamu tau sendiri kan, gaji yang kudapat dari hasil kerjaku hanya seberapa lah. Mana sebanding dengan gajimu. Bahkan beberapa kali saya sering kalah tender."
"Usaha dong, mas. Jangan banyak ngeluh dan putus asa. Kalau gagal ga coba lagi dan coba lagi. Nih ya mas, saya pernah baca satu kalimat yang menurut saya itu bisa jadi motivasi untuk kita."
"Gagal itu, biasa. Bangkit itu yang luar biasa."
"Bagus banget kan mas. Bisa jadi motivasi untuk kita yang nyaris putus asa."
"Ah, sudahlah. Tak usah kamu menggurui saya. Saya muak dengan ceramah un-faedah kamu. Kalau mau ceramah, sana di mesjid. Jangan disini. Aku nggak butuh ceramah kamu!"
Drrrrt drrrrrt drrrrrt
Tiba-tiba Setu merasakan ponsel dalam saku celananya bergetar.
Seketika amarahnya pun mereda saat ia menatap ponselnya. Membaca nama siapa yang coba menghubunginya. Bahkan ia mengabaikan istrinya yang ada di hadapannya.
"Halo..." katanya sambil berlalu meninggalkan Salin.
Salin tentu heran dengan sikap suaminya itu. Ada apa dengan mas Setu? Siapa yang meneleponnya? Kenapa dia bisa sumringah begitu? Begitu banyak tanya yang menggunung dalam benak Salin.
Sudah kedua kali ini, Salin menyaksikan sendiri suaminya tersenyum sumringah saat menerima telepon. Dan anehnya lagi, Setu malah menjauh darinya saat ia menjawab telepon orang itu. Istri mana sih yang nggak curiga? Hanya istri yang tak punya hati dan tak punya rasa yang tak merasa cemburu.
"Sebenarnya mas Setu telponan sama siapa?" gumamnya penuh tanya.
****
"Iya, sayang. Ini mas lagi di mansion. Sebentar lagi mas kesana ya."
"Beneran ya, mas."
"Iya, sayang," sahut pria itu. Ia sangat gemas dengan suara manja wanita itu. Ingin rasanya ia segera kesana. Tetapi apa boleh buat, jarak yang memisahkan . Meski memang hanya berapa menit saja jika ditempuh dengan kendaraan roda empat.
Tetapi bagi orang yang sedang dimabuk asmara, itu adalah jarak yang jauh dengan waktu yang lama.
"Jangan lama-lama ya, mas. Aku udah rindu sama mas. Rasanya ingin dekat-dekat mas terus," ucap lagi wanita itu dengan nada manja.
"Iya, sayangku. I love you. Wait me ya."
"Oke, mas. Mmuach." Wanita itu memberikan kiss jauh kepada kekasihnya itu. Membuat sesuatu yang dibawah pria itu berkedut. Seperti meronta ingin lepas.
"Ah kamu, Jun baru gara-gara itu aja kamu udah meronta. Tahan napa? Sebentar lagi lo kita kesana. Nanti kalau kamu kesana, kamu bebas mau apa saja. Mau berapa lama, itu terserah kamu. Puaskanlah nanti," omel pria itu pada bagian bawahnya sambil menatap bagian bawahnya itu. Yang sudah menonjol hingga terlihat. Apalagi ia memakai celana pendek dan ketat. Tergambar sudah dengan jelas.
"Ya udah, mas berangkat ya, sayang."
"Iya, mas. Aku tunggu. Ini aku juga udah masak yang enak untuk mas. Mas pasti suka. Karena itu makanan kesukaan mas."
"Iya, sayang. Aku selalu suka kalau kamu yang masak. Masakan kamu enak banget di lidah mas. Tak pernah bosan mas masaknya."
"Oke. Aku tunggu. Bye mas."
"Bye sayang...."
Lelaki itu pun segera masuk ke dalam kamar mandi. Ya, ia akan menemui kekasihnya saat ini. Setelah mendapat telpon tadi dia jadi tambah semangat. Amarahnya yang meluap tadi kini sirna sudah.
Ia kenakan parfum barunya. Parfum yang istrinya belum tau. Karena itu memang pilihan kekasih hatinya. Ia semprotkan ke bajunya, agar sang kekasih menempel padanya.
"Mau kemana kamu, mas?"
"Bukan urusanmu!" cetus Setu. Ia merasa berhadapan dengan suaminya, membuatnya tambah muak. Tadi sudah sempat ceria karena sang kekasih, eh malah kembali lagi manyun karena sang istri.
"Kenapa bukan urusanku? Kamu kan suami saya, mas?"
Setu abai. Ia meninggalkan Salin yang masih penasaran suaminya ingin kemana. Dan ia mencium bau yang berbeda pada aroma tubuh sang suami.
"Bukan aroma parfum yang saya beli," gumamnya.
Ya, pria dewasa yang sedang kasmaran di telpon tadi adalah Setu. Tetapi entah dengan siapa ia telponan, Salin tak tau. Tetapi Setu menyebutnya sebagai kekasih hatinya. Kekasih yang menjadi tempat ja pulang saat ia muak dengan sang istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments