Pagi ini, usai kepergian Setu ke kantor, Salin sedang berada di ruang laundry. Ia hendak memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Ia sudah mengumpulkan semua baju-baju kotor itu mulai dari kamarnya bersama Setu, juga kamar ibu Sirlina.
Kebiasaan Setu adalah meletakkan baju bekas pakainya di sembarang tempat. Di balik kamar, di pintu kamar mandi, di senderan kursi, bahkan kadang diatas ranjang.
Maka Salin harus mondar-mandir mengumpulkan keberadaan pakaian kotor suaminya itu. Setelah ia kumpulkan pakaian kotor suaminya, ia akan ke kamar ibu mertuanya. Sama, untuk membawa pakaian kotor mertuanya itu ke ruang laundry yang sudah dikumpulkan ibu Sirlina dalam keranjang baju kotor.
Kini, saat ia membalikkan jas kantor Setu, ia menemukan kejanggalan.
"Bekas lipstik," gumamnya.
Salin menemukan bekas lipstik berbentuk bibir di bagian dada sebelah kiri jas abu-abu itu. Tetapi sudah samar, tak mudah kelihatan bila tak diteliti dengan baik. Sepertinya sudah di hapus, akan tetapi yang menghapus kurang teliti, sehingga masih ada jejaknya.
Salin tak mau fokus pada jejak lipstik itu dulu. Ia memasukkan semua pakaian kotor itu ke dalam mesin, berikut deterjen dan airnya. Lalu ia putar tombol wash.
Sambil menunggu meski bekerja, Salin kembali ke jas bernoda lipstik tadi. Ia meneliti dengan seksama.
"Warnanya agak gelap. Ini bukan lipstik punya saya," gumamnya. Ia bicara dengan dirinya sendiri.
"Tunggu, tunggu. Ini jejak bibir siapa?" tanyanya seorang diri. Sungguh-sungguh ia meneliti noda lipstik itu.
****
"Kamu kok ke kantor sih? Kan mas lagi kerja."
"Kan aku rindu sama kamu, mas. Emang mas nggak rindu sama aku?"
"Rindu. Tapi kan nanti masih bisa kita ketemuan. Tunggu mas kerja dulu, rencana mas mau ajak kamu jalan-jalan."
"Beneran, mas?"
"Iya, beneran. Kemana?"
"Ada deh. Tapi kita nggak berdua."
"Lalu?"
"Sama orang kantor. Dan syaratnya harus sama pasangan masing-masing."
"Iyakah? Baiklah, aku ikut. Asal sama mas, aku pasti senang," ucap wanita itu dengan nada manja. Ia langsung mendudukkan diri dalam pangkuan lelaki itu.
"Aku juga sekalian bawa makan siang untuk mas. Kita lunch bareng. Udah lama kita nggak lunch bareng. Mas sih sibuk terus."
"Iya, sayang. Mas minta maaf. Trimakasih ya. Kamu sudah ingat, mas. Kamu sudah sabar menunggu mas kerja."
"Kan aku cinta sama mas." Wanita itu menautkan tangannya di leher pria itu. Kini keduanya saling berhadapan.
"Iya, sayang. Love you too."
Mereka berdua pun akhirnya saling berpelukan.
"Sayang, mas ganti nomor ya?"
"Lho, kenapa, mas?"
"Mas ingin nomor baru mas itu menjadi yang spesial buat kamu. Khusus buat kamu seorang," jawab lelaki itu sambil menoel ujung hidung gadisnya itu.
"Aaa, romantis banget."
"Nomor lama khusus untuk pekerjaan," pungkas pria itu. Selagi ia bicara, tangannya bergerak menuju laci meja kerjanya.
"Ini dia. Nomor baru dan hp baru khusus untuk kita berdua. Jadi kenangan tentang kita berdua akan kita buat di sini, mulai hari ini," terang pria itu lagi.
"Mas misscall ke nomor kamu, ya."
"Iya, mas Setu. Mas Setu yang terbaik," jawab wanita itu mengangguk senang.
Teringat Setu mengenai ponsel lamanya. Kala itu, malam yang dingin dan hujan lebat, ia menemukan istrinya sedang duduk di tepi ranjang. Penasaran, Setu pun membuka matanya. Mencaritahu apa yang sedang dilakukan sang istri.
Pelan-pelan ia angkat kepalanya agar ia dapat melihat apa yang dilakukan sang istri
"Itu kan ponselku," batin Setu.
"Kenapa nggak bisa dibuka?" Setu bisa mendengar dengan jelas apa yang terucap dari bibir sang istri.
"Uhh, untung saja hp nya pakai kunci. Kalau tidak mati saya," batin Setu lega.
Setu pun kembali melanjutkan tidurnya karena ia merasa lega, rahasianya tak terbongkar.
"Iihh, kenapa sih harus dikunci? Bikin kesal aja," gerutu Salin.
Ia melemparkan kembali ponsel suaminya itu ke sembarang arah. Dan Setu tersenyum licik menyaksikan semua tingkah istrinya itu.
"Kalau gitu, sekarang kita selfie yok, mas. Di hp terbaru," ucapnya senang. Ia masih bergelayut manja di pangkuan kekasihnya itu. Dengan tangan memegang ponsel baru itu.
"Mas..." panggil wanita yang biasa disapa Weni itu.
"Mas," panggilnya lagi dengan meninggikan suaranya.
"I-iya," jawab Setu terkejut.
"Mas mikirin apa sih? Kok aku dicuekin?" Setu gemas sekali dengan tingkah sang kekasih yang lucu, manyun gitu bibirnya.
"Nggak apa-apa, sayang. Maaf ya."
"Nggak mau. Males sama, mas," cetus Weni.
Weni pun beranjak langsung dari pangkuan sang kekasih.
"Gimana kalau kita belanja nanti?" tawar Setu.
Weni yang mendengar iming-iming dari sang kekasih, spontan menghentikan langkahnya.
"Beneran, mas?" tanyanya seraya senyum sumringah. Ia mengedipkan matanya berulang-ulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments