Akibat mendengar kasak kusuk dari pada bapak-bapak itu, Salin merasa kantong kandung kemihnya penuh. Dan sepertinya ia harus menuntaskan hasratnya. Segera ia berlari arah lain, hendak mencari toilet, sambil menenteng handbag nya. Ia menelusuri gedung mewah itu, mencari keberadaan toilet.
"Permisi, mas....?" ucap Salin ragu. Dari kostum pria itu sepertinya ia bertugas sebagai pelayan di hotel itu.
"Yes, ma'am. What can i do for you?" tanyanya sopan.
Tersadar Salin, lelaki itu menjawab dengan bahasa Inggris.
"Could you please,show me a toilet?" (Boleh saya tau kamar mandi di sebelah mana?) tanya Salin dengan bahasa Inggris pula. Salin memang bisa berbicara dalam bahasa Inggris. Bahkan dengan bule sekalipun.
"Sure, ma'am. From her, go straight, then turn left. There is writing men's and women's toilets."
(Dari sini ibu jalan lurus, lalu belok kiri. Disitu ada tulisan toilet laki-laki dan perempuan).
"Oh, thank, Sir."
"You're welcome, ma'am."
Petugas hotel itu menunduk hormat pada Salin, salin membalas dengan menunduk juga. Lalu petugas hotel itu meninggalkan Salin untuk melanjutkan kerjanya akibat diusik Salin tadi.
Salin segera berjalan sesuai arahan petugas hotel tadi.
"Itu dia," gumamnya. Dengan langkah semangat ia menuju toilet itu dan segera masuk. Rasanya ia sudah sesak, tak tahan menuntaskan yang sedari tadi hendak keluar.
Beberapa saat kemudian...
"Ah, lega rasanya," ujar Salin. Ia mencuci tangannya di wastafel lalu merapikan pakaiannya di depan cermin.
Kemudian ia keluar dari toilet itu. ia berpapasan dengan seorang wanita dengan make up tebal, baju yang serba ketat dan kurang bahan. Bagi Salin itu kurang bahan.
"Ini perempuan, nggak kedinginan apa dengan baju kurang bahan seperti itu," batin Salin.
"Nggak kebayang aku pakai itu," batinnya lagi.
"Eh, eh, itu seperti mas Setu," ucapnya setelah ia berada di depan pintu toilet itu. Ia melihat sekelebat bayangan Setu. Lebih tepatnya yang ia lihat, punggung Setu.
"Iya, itu mas Setu. Berarti benar, mas Setu disini. Apa mas Setu suamiku juga yang dibicarakan mereka tadi?" batinnya penuh tanya.
Pikirannya pun kini teralihkan pada bayangan punggung Setu. Mengaitkan dengan ucapan bapak-bapak tadi.
Salin gegas menuju dimana ia melihat punggung Setu tadi. Bayangan itu masuk ke dalam, ke tempat acara dilangsungkannya resepsi itu.
Gegas Salin mengejar bayangan punggung itu. Ia tak mau lagi kehilangan jejak. Tadi ia sudah gagal meneliti mobil Setu, maka sekarang ia tak mau lagi gagal.
"Mas Setu!" serunya. Berharap orang yang dipanggil namanya menoleh melihat keberadaannya. Dan rencananya untuk menunjukkan jati dirinya ke rekan kerja Setu juga kepada Gita, akan ia lakukan saat ini.
Sementara orang yang mirip dengan Setu itu kini bergabung bersama rekan-rekannya.
Ditengah-tengah obrolan mereka, orang yang mirip Setu itu terkejut melihat seorang wanita yang menghampiri ke arah mereka.
"Salin," batinnya panik. Rasanya untuk menghindar ia tak bisa. Salin tinggal beberapa meter ada di depannya. Dan tatapan Salin tertuju hanya ke arahnya.
"Lo kenapa, bro?" tanya salah satu rekan Setu. Ia melihat Setu terdiam mematung, seolah merasa takut.
"Mas Setu..." panggil Salin.
Seketika ia teringat akan celoteh bapak-bapak yang membicarakan Setu tadi. Dan mereka adalah orang yang sama.
"Mas Setu, kok ada di sini? Bukankah mas Setu banyak kerjaan di kantor. Tau gitu kita berangkat barengan tadi, mas," ucap Salin tersenyum. Ia mencoba mengabaikan suara-suara bapak-bapak tadi yang terngiang-ngiang di telinganya, yang membicarakan tentang Setu. Dan ternyata itu adalah Setu, suaminya sendiri.
"Mana kekasih mas Setu? Kenapa dia sendirian?" batin Salin. "Apa mungkin masih di kamar mandi? Apa mungkin mereka baru saja selesai bercinta sesuai dengan apa kata mereka?" batin Salin, menangis.
"Dia siapa, bro? Berangkat bareng?" tanya salah satu rekan kerja Setu.
"Iya, kamu kenal?" sahut yang lainnya.
"Emm..... Dia.... Dia..... sepupuku," sahut Setu tergagap.
Deg
Bagai disambar petir di siang hari, terkejut Salin mendengar suaminya sendiri berkata bahwa ia sepupunya. Bagai di sayat sembilan, perih dan sakit diakui kepada teman-temannya bahwa ia adalah sepupu bukan istri. Sakit tak berdarah, menusuk hati Salin yang paling dalam, mengatakan ke khalayak ramai kalau ia, Salin diakui oleh suaminya sendiri, orang yang ia cintai sebagai sepupu.
Salin tak berdaya. Seketika kekuatannya menghilang. Kaki bahkan tubuhnya bergetar hebat.
"Mas Setu..." lirihnya pelan. Keseimbangan tubuhnya pun rasanya sudah hilang. Hampir saja terjatuh, tapi segera ia menguatkan dirinya sendiri.
Sedangkan Setu, berusaha memutar akal. Ia tak mau rahasianya terbongkar. Apalagi kalau Weni sampai tau ia sudah menikah, maka hubungannya akan hancur.
"Ikut saya," ucapnya mendekati Salin. Ia mencengkram sekuat tenaga pergelangan tangan Salin, agar wanita itu tak bersuara lagi.
Setu menebarkan senyum kepada rekan-rekannya. "Kami ke sana dulu, ya. Aku ada yang mau diomongin kepada sepupu gue," ucap Setu sembari menyunggingkan senyum kemunafikannya itu.
Biar orang beranggapan, di depan Setu sangat manis kepada sepupu yang berstatus sebagai istrinya itu, tetapi di dalam hati siapa yang tau? Siapa yang bisa melihat kalau Setu kesal bertemu salin di pesta ini. Setu menyesal, mengiyakan atau mengajak Weni ke sini.
Setu lupa kalau Salin memang akan ke sini, karena mereka sudah sepakat kemarin, bahwa hanya salin yang pergi. Sementara dia sibuk bekerja di perusahaannya.
Setu membawa Salin ke luar dari gedung itu. Setelah mereka di luar, Setu langsung melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Salin. Ia hempaskan dengan kuat hingga terlepas.
Salin meringis menahan sakit akibat cengkraman tangan suami kasarnya itu.
"Sakit, mas," ringisnya.
"Kalau kamu nggak mau lebih sakit lagu, jangan pernah mengaku kalau kamu istri saya di depan rekan kerja saya!" titah Setu sekaligus memberi ancaman.
"Kalau kamu ingin lebih sakit lagi, maka ungkapkan! Ungkapkan siapa kamu sebenarnya kalau kamu istri saya. Tetapi saya tidak akan pernah mengakuinya di depan rekan kerja saya. Saya tak Sudi mengakui kamu sebagai istri saya. Cuihh."
"Jadi benar, mas Setu selingkuh dari saya?" sela Salin. Ia tak memikirkan ancaman salin barusan. Yang sangat ia harapkan saat ibu adalah pengakuan dari Setu.
Deg
Jantung Setu terkejut mendengar pertanyaan Salin. Darimana ia tau itu? Dia saja tidak ada membawa Weni bersamanya. Hal yang disyukuri Setu saat ini adalah, Weni masih berada di kamar mandi. Jadi Salin tak memiliki bukti kalau ia selingkuh.
"Apa kamu bilang? Selingkuh? Nggak usah ngaco kamu," hardiknya.
"Kalau memang saya selingkuh seperti yang kamu tuduhkan, mana coba? Nggak ada kan. Saya tidak ada membawanya ke sini. Kamu jangan ngarang deh," elaknya.
"Tapi mas, rekan-rekan mas tadi bilang kalau selingkuhan mas ikut ke sini. Dan rencananya mas akan publish hubungan mas dengan gadis itu. Ada hubungan apa antara mas dengan gadis itu? Kekasih? Pacaran? Atau teman bercinta mas?"
Plak
Setu menampar wajah Salin dengan kuat.
"Heh, kalau ngomong jangan sembarangan ya. Saya adalah lelaki yang menjunjung tinggi tidak adanya perselingkuhan dalam rumah tangga saya. Saya bukan lelaki yang setuju adanya pelakor dalam rumah tangga saya. Seenaknya saja kamu bicara," sahut Setu berapi-api.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments