"Bagi duit. Ibu mau ke salon. Habis itu mau arisan. Sebelum arisan, ibu mau beli perhiasan. Ada model terbaru. Ibu nggak mau kalah sama teman arisan ibu."
"Kenapa nggak ibu minta sama mas Setu. Mas Setu kan...."
"Apa? Nggak mau kamu kasih uang sama ibu mertuamu? Mau jadi menantu durhaka kamu?" pekik ibu Sirlina.
"Katanya kerja siang dan malam. Tiba diminta mertuanya uang malah nggak mau kasih. Pelit banget jadi menantu "
"Bukan begitu, Bu tetapi.... Salin sudah.... "
Hampir saja ia keceplosan kalau ia sudah dipecat dari perusahaan besar itu.
"Sudah apa? Hah?" tanya ibu Sirlina. Ia mengangkat dagunya tinggi.
"Ada apa sih ribut-ribut?"
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara bass seorang laki-laki. Tak lain dan tak bukan ia adalah Setu.
"Ini nih istri kamu. Ibu minta uang malah nggak dikasih. Bukannya dia ini kerja siang dan malam. Mana buktinya? Giliran ibu minta duit malah nggak kasih. Dasar pelit."
Setu tersenyum mencibir.
"Ya sudah jelas lah Bu, dia nggak ada uang. Dia kerjanya bukan kerja beneran kok. Dia kan cuma merayu boss nya itu. Alasan aja pergi kerja," tukas Setu. Setiap kata yang ia ucapkan ia tekankan.
"Mas, kenapa sih nuduh Salin begitu? Salin tak seperti yang mas tuduhkan."
"Alah, nggak usah berdalih kamu. Kamu pasti ketagihan kan mepet mepet sama atasan kamu itu. Iya kan?"
"Apa sih mas? Nggak jelas."
"Kalau begitu buktikan. Kasih ibu duit," sela ibu Sirlina.
Kembali Salin terdiam.
"Kenapa diam?"
Salin masih saja diam. Ia sedang berpikir keras. Apa ia harus memberikan uang pada ibu mertuanya? Yang ia yakini jumlahnya tidaklah sedikit. Uang untuk arisan, uang untuk beli perhiasan terbaru, uang untuk ke salon yang tak kaleng-kaleng harganya.
Mana mau ibu Sirlina perawatan di salon murahan. Tidak. Dia mau kualitas terbaik, yang sedang trend dan tentunya mahal. Supaya ia bisa pamer ke teman sosialitanya, supaya ia bisa pamer ke medsos, supaya ia bisa cerita ke teman arisannya. Atau supaya suatu saat ada kalanya mereka janjian sama-sama nyalon disana.
Semua itu salin pikirkan di dalam benaknya. Ia putar otaknya. Berpikir berulangkali apakah ia akan mengabulkan permintaan ibu mertuanya.
"Gimana kalau rumah ini aja kita gadai?" ujar ibu Sirlina memberi usul.
"Apa?" pekik Salin. "Ibu ingin menggadaikan rumah ini hanya untuk ke salon, ke arisan?"
"Kenapa rupanya?"
"Bu, itu rumah kan atas nama Salin, Bu. Kok ibu tega sih ibu?"
"Oh, jadi kamu mengandalkan dirimu yang bekerja di perusahaan besar itu? Kamu udah sombong sekarang ya!" sela Setu.
"Bukan gitu, mas tapi..."
"Apa? Jadi kamu mau pamer? Kamu mau hitungan? Hah?" seru Setu. Ia bangkit berdiri dengan amarah yang memuncak.
Disini, sikap arogannya muncul sudah. Sifat merasa direndahkan sang istri keluar sudah.
"Benar kan yang saya bilang. Kalau kamu menyepelekan saya karena saya tidak sekaya boss kamu itu. Kamu pasti bandingin antara gaji kamu dengan gaji saya kan? Bahkan kamu bandingkan saya dengan kamu karena kamu lulusan S2 luar negeri kan?"
"Baik. Saya akan ungkit semuanya," ucapnya geram.
"Ya, rumah ini atas namamu. Seisi rumah ini, kamu yang bertanggung jawab. Biaya kita menikah juga hampir setengah kamu yang bertanggung jawab. Uang saku ibu kamu yang tanggung jawab. Semua kebutuhan ku, kamu juga yang tanggung jawab. Perusahaan yang kupegang sekarang juga kamu yang paling berperan besar dalam hal dana di sini. Sudah?" sergah Setu beruntut.
"Puas kamu? Puas kamu merendahkan saya? Atau mungkin ada yang lupa yang belum saya sebutkan?" cetus Setu. Emosinya masih menggebu-gebu.
"Mau saya hitung semua biaya yang sudah kamu keluarkan selama kita membina rumah tangga? Mau saya kalkulasikan berapa sudah uangmu yang sudah kamu belanjakan untuk kebutuhan kita sehari-hari? Hah?" pekiknya.
"Bukan gitu, mas. Saya nggak ada maksud merendahkan mas. Saya juga nggak bermaksud menghitung-hitung. Tetapi...."
"Tetapi apa? Sadar nggak sih kamu yang duluan mengungkit. Mau kamu apa sekarang?"
"Maksudnya mas?"
"Ya kamu mau apa? Mau kamu hentikan semua fasilitas di rumah ini? Kamu mau stop uang saku ibu?"
"Kamu salah besar, mas. Saya nggak niat untuk melakukan semua itu. Hanya saya ingin mas berpikir, cobalah berhemat. Ibu juga. Belilah sesuatu sesuai kebutuhan dan sesuai isi dompet."
"Kamu mau ngajari ibu?" pekik ibu Sirlina.
"Kamu ngajari saya?" pekik Setu. Ibu dan anak itu serentak memekik pada Salin.
"Bukan begitu, mas, Bu," sahut Salin.
"Kalau begitu kasih ibu duit sekarang! Lebihkan!"
"Baiklah, Bu." Akhirnya hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Salin. Ia tak mau pertengkaran ini akan berkepanjangan. Ia masih ingin rumah tangganya hancur.
"Nah gitu kek dari tadi. Tunggu berdebat berkepanjangan baru kamu kasih ibu duit."
Salin diam saja. Sementara Setu tersenyum tipis.
"Mana? Sini!"
"Ibu kirim nomor rekeningnya. Biar saya transfer."
Gegas ibu Sirlina mengirimkan apa yang Salin minta. Dan langsung terdengar notifikasi masuk pada ponsel Salin.
"Sudah, Bu," ucap Salin. Ia pun meninggalkan mertua dan suaminya itu menuju kamar mandi.
Ibu Sirlina tersenyum sumringah saat melihat ada pesan masuk di ponselnya.
"Se-senang itu ibu?" tanya Setu pada sang ibu. Ia turut senang melihat ibunya bahagia.
"Iya dong. Ibu bisa perawatan sepuasnya. Ibu bisa ikut arisan, bisa beli perhiasan. Makanya, kamu juga harus bisa kayak dia," celetuk sang ibu.
"Ibu membandingkan aku dengannya? Sama saja ibu dengan dia," ujar Setu. Ia segera berlalu, meninggalkan ibunya di dalam kamar mereka.
"E eh, bukan gitu maksud ibu. Ibu hanya ingin kamu bekerja keras, cari uang yang banyak, jadi istrimu pun tidak memandangi sepele dirimu," tutur ibu Sirlina.
"Dasar. Ibu masih ngomong dia udah melipir. Untung ibu sayang," pungkasnya akhirnya.
"Sekarang saatnya untuk menghabiskan uang. Hehehe...." Ia tertawa riang. Ibarat anak kecil karena diberi mainan kesukaannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments