"Mas, apa sih salahku sama kamu? Kenapa kamu suka marah-marah terus?" tanya Salin dengan hati-hati.
Akhir-akhir ini, ia mulai hati-hati bicara dengan sang suami. Sedikit - sedikit marah. Sedikit - sedikit main fisik. Tak jarang Salin mendapati luka memar di tubuhnya akibat ulang sang suami.
Dan sering bukan masalah besar. Sering sekali masalah sepele yang membuat emosi sang suami naik sampai ke ubun-ubun.
"Ada masalah di kantor, mas?" tanyanya lagi. Karena tak da reaksi atas pertanyaannya kepada suaminya itu.
"Bukan urusanmu!"
"Tapi, mas..."
"Aaah, cerewet! Diam kamu! Berisik! Urus urusanmu sendiri!" Setu bahkan berapi-api mengucap setiap kalimat beruntun itu.
"Kok gitu sih mas ngomongnya? Salah ku apa mas sama kamu?" tanya Salin lagi. Masih mencoba halus dan lembut berbicara. Walau bagaimanapun tindakan suaminya kepadanya, saling tetap menghormati suaminya itu. Ia selalu menjadikan mamanya sebagai panutan. Walaupun papanya sering menyakiti mamanya.
"Salahmu kamu bilang? Kamu pura-pura nggak tau atau memang kamu lola? Katanya master, tapi lelet. Beli ijazah ya?"
"Apa sih, mas. Tanyaku apa, jawab mas apa. Nggak nyambung."
"Iyalah. Hanya kamu yang nyambung. Mentang-mentang kamu master. Selalu saja menganggap orang remeh. Aku ini apalah."
"Apa sih kamu, mas? Nggak jelas. Siapa yang membahas master. Master chef ya, mas?"
"Garing. Nggak lucu," celetuk Setu jengkel.
"Ya, aku kan bukan pelawak, mas. Mana bisa aku bikin lucu. Kamu ada-ada saja, mas mas."
"Diam kamu!"
****
"Saliiiin…..." pekik seroang wanita paruh baya.
Salin yang sedang ada di kamar, beres-beres sungguh terkejut dengan pekikan ibu mertuanya itu. Masih pagi sekali padahal. Bahkan matahari belum juga muncul, tapi rumah besar itu sudah ribut. Dan suara keributan itu hanya berasal dari suara seorang ibu paruh baya yaitu mertua dari Salin.
Segera Salin bergegas menyelesaikan urusannya di kamar, lalu ia berlari menghampiri sang mertua.
"Ada apa, ibu?" tanyanya lembut. Napasnya masih ngos-ngosan.
"Mana bajuku?" tanyanya masih memekik.
"Ibu, maaf. Bisa dipelankan sedikit suaranya? Masih pagi lho, Bu."
"Kamu ngajarin aku? Sudah berani kamu ya?" hardik wanita itu.
"Sini kamu!" titahnya. Tak membiarkan Salin mendekat, tapi ia yang mendekati Salin lalu menjambak rambut Salin. Bagai tali kekang, ia tarik rambut Salin itu hingga salin merasa sangat kesakitan.
"Apa salahku, ibu?" tanya Salin gemetar. Ia masih tertunduk akibat tarikan rambut dari sang mertua.
Mendengar tanya Salin, ibu Sirlina pun tambah marah. Wajahnya memerah. Giginya gemeletuk.
"Masih tanya apa salahmu? Heh, tugas kamu itu membereskan semua pakaian ku, menyiapkan air mandiku, belanja, sikat WC, memasak, pokoknya semua isi rumah ini, kamu yang bertanggung jawab!"
"Tapi ibu, bukan kah ada asisten rumah tangga? Lalu kalau Salin yang ngerjain semuanya, bagaimana salin akan bekerja, ibu? Kalau Salin telat bagaimana?" Salin mencoba melepaskan rambutnya dari cengkeraman ibu mertuanya itu. Tetapi ia tak mampu.
Sebenarnya dari segi tenaga, Salin bukannya tidak mampu melawan ibu mertuanya. Ia sanggup, sangat sanggup malah. Tetapi bukan itu maunya Salin. Ia masih menghormati ibu mertuanya itu. Ia berharap semuanya bisa dibicarakan baik-baik.
"Tidak ada pelayan. Aku sudah memecatnya."
"Tapi kenapa ibu?"
"Jelas karena itu akan buang-buang uang. Kan masih ada kamu yang ngerjain semuanya. Kamu mau santai aja gitu di rumah ini? Mau jadi ratu kamu? Huh, jangan mimpi!"
Ibu Sirlina menghempaskan rambut Salin yang ia jambak tadi. Sehingga membuat salin hampir saja terjatuh kalau ia tak bisa menahan diri dengan menjaga keseimbangan tubuhnya.
Salin pun berdiri tegak lalu merapikan rambutnya yang berantakan.
"Sekarang cari bajuku!" titah Sirlina lagi. "Cepat!" hardiknya.
"Baju yang mana, bu?" tanya Salin berusaha senyum.
"Tegar sekali wanita ini. Masih bisa tersenyum walau aku sudah menyiksa dia lahir dan batin. Tetapi dia masih bisa senyum?" batin ibu Sirlina.
"Baju yang warna gold. Yang banyak bling bling nya itu. Awas kalau payetnya itu jatuh walau sebiji pun. Habis kamu," ancam sang ibu mertua.
Salin pun paham baju yang mana yang diucapkan sang ibu mertua. Ya, Salin tau. Baju itu sangat mahal. Mungkin bukan yang paling mahal diantara baju-baju sang mertua. Bahkan baju itu juga sedang viral dan diminati ibu-ibu pecinta fashion terbaru apalagi dengan viral.
Memang semua baju mertuanya mahal. Bahkan seluruh isi rumah ini dibeli dengan harga mahal dan kualitas terbaik.
Tetapi tidak dengan apa yang dipunya Salin. Tak pernah sekalipun ibu mertuanya itu mengijinkan Salin membeli barang untuk dirinya yang mahal. Semuanya standar. Bahkan suaminya sekalipun, tak pernah membeli ia barang branded sejak mereka memutuskan untuk menikah.
Sering sekali Salin diam-diam membelikan barang yang lumayan lah untuk mendukung penampilannya. Mengingat dia bekerja sebagai sekretaris CEO di perusahaan terbesar di negara itu. Perusahaan nomor satu pula dan bergengsi.
Tetapi sering juga ibu mertuanya dan suaminya protes apabila Salin memakai barang itu dan mereka tau itu mahal. Alasan Salin selalu adalah hadiah dari kantor. Hadiah dari bos. Hadiah dari teman-teman.
Alasan itulah yang membuat Setu menuduh Salin bahwa salin berselingkuh di kantor. Ia tak terima Salin bekerja dengan gaji yang lebih besar darinya. Ia tak terima bahwa Salin bekerja di perusahaan yang jauh lebih besar darinya. Ia tak terima bila Salin mendapatkan beasiswa dari perusahaan hingga ia mendapatkan gelar lebih tinggi darinya.
Alasan - alasan itulah yang menimbulkan perkara yang semakin menggunung di dalam rumah tangga Setu dan Salin. Dan Salin tak pernah tau itu. Karena ia sendiri merasa biasa saja. Tak pernah ia merasa Setu lebih rendah darinya. Tak pernah ia foya-foya atas apa yang ia punya. Tak pernah ia boros dengan apa yang ia miliki. Oleh karena itu ia merasa tidak ada masalah. Beda halnya dengan Setu dan juga ibu Sirlina, ibu mertuanya itu.
"Salin, mana bajunya?" pekik sang mertua lagi. Padahal baru beberapa menit ia menyuruh Salin untuk mencari keberadaan baju itu.
"Sebentar, bu. Belum ketemu," sahut Salin.
"Kamu ngapain aja sih? Lelet banget," cibir ibu Sirlina.
"Maaf Bu, tapi aku udah mencari dimana-mana tapi nggak ada."
"Alah, bilang saja kamu malas. Sama, cari lagi!" titahnya lagi.
"Maaf, Bu. Boleh Salin cari di lemari ibu?" tanya Salin hati-hati sekali.
"Enak saja. Nggak sopan kamu. Itu privasi saya. Enak aja kamu mau otak atik isi lemariku. Dimana etikamu? Katanya master. S2, tapi apa? Attitude aja nggak ada," cibir ibu Sirlina.
"Tapi, Bu. harus kemana lagi aku mencari? Mungkin keselip di lemari ibu. Atau...."
"Aah, dasar nggak berguna. Nggak guna aku suruh kamu nyari. Nggak becus kamu jadi menantu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments