"Kamu dari mana saja mas? Tumben kamu lama pulang. Biasanya kamu tak pernah begini mas, paling lama kamu pulang jam sembilan malam."
"Tidak usah banyak tanya! Saya tidak butuh cerewet kamu, yang terlalu suka mencampuri urusan orang lain."
"Orang lain kamu bilang mas? Aku istri kamu mas. Aku bukan orang lain. Dua tahun kita sudah menikah mas dan dua tahun kita masa pacaran, apakah aku masih orang lain di mata kamu mas? Apa mas sudah berubah? Mana cinta macam dulu? Dimana mas Setu yang dulu?"
Rasanya Salin tak mampu lagi menahan amarahnya. Sampai-sampai, ia menyebut aku pada dirinya. Padahal biasanya saya yang ia ucapkan pada dirinya.
"Apa mas masih ingat kita berjuang dari nol? Dari mas belum ada apa-apa hingga seperti sekarang ini. Dulu, kita saling mendukung hingga kita ada di titik ini."
"Titik yang mana maksudmu? Titik di mana kamu yang lebih tinggi pendidikan hanya dari suamimu? Titik di mana kamu yang lebih besar gajinya daripada suamimu? Titik di mana kamu tidak menghargai suamimu karena kamu lebih daripada suamimu? Itukah yang kamu maksud?"
Setu pun membalasnya tak kalah emosi. Pasangan suami istri itu pun bersitegang.
"Kenapa sih mas selalu bahas itu? Saya tidak pernah mas membandingkan saya dengan mas. Saya selalu menghormati mas sebagai kepala keluarga di rumah tangga kita, sebagai imam bagi saya selaku istri mas. Apa salah saya bertanya, kenapa mas berubah? Apa salah saya bertanya, di mana cinta untuk saya, salah mas?
"Sudahlah, tidak usah banyak tanya dan tidak usah banyak drama Saya tidak butuh itu. Saya capek mau tidur. Suami baru pulang kerja lembur bukan disambut malah nyerocos saja dari tadi. Nggak jelas. Saya mau mandi siapkan baju saya!"
"Tapi mas, tolong dengarkan dulu saya sekali ini saja," mohon Salin. Ia berharap semua bisa dibicarakan dengan baik. Bukan malah adu otot dan adu otak.
"Dengarkan apa sih? Apalagi yang ingin kamu bahas? Nggak ngerti apa bahasa? Saya bilang saya sudah capek, saya sudah lelah. Saya mau tidur gimana sih?" omel Setu.
"Iya yah, saya akan siapkan baju mas. Tapi mas janji ya, besok kita akan bicara ya mas. Sudah lama kita tidak ada deep talk.
Setu mengabaikan apa kata istrinya itu Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi lalu membanting pintu itu, menutupkannya dengan kasar sehingga suara pintu tersebut menggelegar. Membuat penghuni rumah itu terkejut tak terkecuali ibu sirlina yang saat ini sedang berada di meja makan menikmati hidangan yang baru saja dibeli oleh Setu.
"Mana kamu yang dulu mas? Yang lembut, yang perhatian, yang cinta hanya untuk saya. Mana mas?" batin Salin.
"ulu kita hidup sederhana mas tapi kamu tidak pernah mengeluh sama saya juga. Justru kamu yang selalu menguatkan saya mas, selalu mengajari saya untuk tetap bersyukur atas apa yang telah kita miliki . Kamu yang dulu selalu menguatkan saya di saat saya hendak menyelesaikan studi saya, kamu yang tahu lebih banyak mengenai papa yang tidak mendukung saya untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi."
"Kamu selalu ada mas. Kamu sembunyikan semua dari papa tapi tidak dari mama. Papa yang orangnya keras mendidik kami, dengan keras melarang seorang anak perempuannya untuk melaju ke pendidikan tinggi. Sikapmu yang selalu mendukung saya, sikapmu yang selalu menghargai setiap perempuan, membuat Mama tergoda kepadamu mas. Terpikat untuk menjadikanmu sebagai suami putrinya."
"Karena mama lah kita bisa menjadi seperti sekarang, menjadi sepasang suami istri yang sudah berikrar di hadapan sang pencipta bahwa kita akan selalu bersama setia sampai mati tak ada yang bisa memisahkan baik manusia atau yang lain kecuali maut.
"Dulu kamu menjanjikan kepada saya, kamu akan bahagiakan saya mas. Kamu tidak akan membiarkan saya untuk meneteskan air mata. Itu janji kamu dulu pada mama. tapi lihat mas sekarang aku sedih mas aku terluka. Kamu berubah. Kamu amu semakin hati semakin cuek, dingin dan tidak peduli. bahkan kamu abai sama saya mas."
"Mas sudah tidak menghiraukan perasaan saya lagi, bahkan mas bekerja sama dengan ibu untuk menjadikan saya. bahkan sekarang mas lebih suka tersenyum pada ponsel mas. ada apa di ponsel mas. saya salah apa mas?
Begitu banyak tanya yang menggunung di benak Salin. Namun, sepertinya ia tak punya keberanian untuk bertanya kepada Setu. Ia tahu, kalau ia bertanya maka Setu akan marah kepadanya. Bukan jawaban yang akan ia dapatkan kelak tapi malah amukan, geraman, amarah dari suaminya itu.
Dengan hati yang pilu, dengan hati yang bimbang, dengan hati yang penuh tanya, Salin tetap menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Ia berharap esok adalah hari yang indah, berharap suaminya itu mau bicara dari hati ke hati kepadanya. Dan dia akan jujur kepada suaminya bahwa ia telah dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja.
Mungkin keputusannya sudah tepat. Sehingga suami dan ibu mertuanya tidak akan menganggapnya lagi istri yang tak berguna, menantu durhaka, menantu tak becus dan banyak hal lainnya.
Tetapi saling kembali berpikir kepada kelangsungan hidup mereka kedepannya. Teringat sama lama ini, bisa dibilang Salin adalah tulang punggung di keluarga ini. Memang antara dia dengan Setu sama-sama bekerja tapi entah ke mana semua penghasilan Setu. Setiap bulan Salin tak pernah pegang. sangat jarang. Saya itu mengajak ia makan di luar atau memberi nafkah berupa uang. Atau.. itulah zaman sekarang suami memberikan gaji untuk istrinya. tidak saling tidak merasakan itu.
Setiap ia bertanya maka si Setu akan menjawab bahwa gajinya telah habis untuk membayar gaji karyawannya. Gajinya telah habis untuk investasi. banyak hal yanpg menjadi alasan Setu sehingga ia akhirnya tidak menyetor gajinya kepada istrinya itu.
Selama 2 tahun menikah, Salinlah! Iya, ia memenuhi kebutuhan nafkah untuk suaminya dan ibu mertuanya. tetapi tidak ada yang tahu semua itu. baik Mama salin papa Salin, adik Salin ataupun Kakak laki-lakinya. Bahkan ia tak pernah bercerita kepada keluarganya, kalau Setu sering berbuat kasar kepadanya melukai tubuhnya.
Salin tak mau ibunya terluka. Salin tak mau ibunya kecewa. Salin tak mau mamanya sedih. Karena arena sejauh ini jika sampai ketahuan mamanya mengkhawatirkan salin maka papanya akan marah kepada mamanya.
Ya, hanya krena kesamaan prinsip dan karakter , papa Salin mengizinkan Salin untuk menikah dengan Setu. Yang papanya kira kalau Setu dengannya adalah sepemikiran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments