Flashback on 1
"Hallo, mbak. Dengan mbak Salin yang sudah order jasa clean online kan?"
"Iya, mbak. Benar."
"Alamatnya sudah sesuai titik kan mbak?"
"Iya, mbak benar. Nanti kalau sudah sampai depan kabari ya, mbak. Hubungi saya segera."
"Baik, mbak "
"Trimakasih, mbak."
"Iya, mbak. Sama-sama.
Tak berapa lama, ponsel Salin berbunyi kembali. Notifikasi yang menandakan bahwa jasa clean online sudah tiba sesuai arahan Salin.
Segera Salin menghampiri si mbak-mbak itu. Lalu mengarahkan kembali untuk masuk lewat pintu belakang. Salin sudah hapal betul kebiasaan ibu mertuanya dan juga suaminya. Paling tak pernah menginjakkan kaki dari belakang apalagi suasana pagi.
Salin dan si mbak mbak itu melakukan aksinya dengan sangat hati-hati. Simbiosis mutualisme. Salin cepat kelar pekerjaan dari ibu mertuanya sementara si mbak-mbak itu dapat orderan di pagi hari. Orderan pertama untuk hari ini.
Salin tak tinggal diam. Sambil harap-harap cemas ia juga turut meringankan beban pekerjaan si mbak mbak itu. Ia takut ibu mertuanya memergokinya sedang menggunakan jasa clean online.
Oleh karena itu ia turut membantu membereskan kamar sementara si mbak-mbak tadi membereskan kamar mandi.
Tidak sampai setengah jam, semuanya beres. Kamar itu baunya harum, bersih, tapi dan enak dipandang.
Usai Salin membayar si mbak-mbak itu, ia pun menyuruh si mbak segera pergi sesuai arahan darinya. Darimana ia tadi masuk, maka dari situ pulalah si mbak tadi keluar. Tentunya Salin menambahkan tips pada si mbak. Meminta kontaknya kalau suatu saat membutuhkan bantuan urgent seperti sekarang ini.
"Sekali lagi terimakasih, mbak. Semoga kerjasama kita terus berlanjut," ucap si mbaknya tulus.
"Sama-sama, mbak. Nanti kalau saya perlu kembali saya hubungi mbak ya," jawab Salin. Yang dijawab oleh si mbak itu dengan anggukan kepala.
Setelah memastikan semuanya sudah beres, Salin segera masuk kamar. Ia menggunakan kesempatan yang seminim ini sebaik-baiknya. Berharap ia tak terlambat ke kantor. Untung saja Setu dan ibu Sirlina sedang menikmati sarapan sekarang. Sementara Salin sudah sarapan tadi duluan setelah masakannya sudah jadi.
Usai bersiap, sudah rapi dengan baju kerja, make up sudah se natural mungkin, Salin pun berangkat segera menaiki taksi online dan tentunya dari pintu yang sama saat si mbak-mbak clean online tadi keluar.
Tentu saja Salin berdoa dalam batin, berharap tak ketahuan oleh ibu mertua dan suaminya. Dan untungnya ia selamat sampai di kantor tetapi sudah terlambat lima menit.
Flashback 2
"Halo, mbak. Sedang sibuk kah hari ini?"
"Iya, mbak Salin. Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?"
"Iya, mbak. Saya butuh bantuan mbak."
Ya, lagi lagi, pagi ini Salin kembali merepotkan si mbak clean online waktu itu. Meminta bantuan kepadanya untuk datang ke kediaman keluarga suaminya, tempat ia tinggal sekarang.
"Nanti kalau mbak sudah sampai di lokasi yang saya share, berkabar ya, mbak. Saya butuh banget bantuan, mbak. ini urgent banget. Bisa kan mbak?" tanya Salin penuh harap.
"Bantuan apa, mbak kalau boleh tau? Kebersihan lagi kah? Atau beberes, mbak?"
"Bukan. Untuk tugas itu nanti saya akan kasitau. Sekarang mbak siapkan saja alat untuk mendobrak pintu, tapi kalau bisa yang tidak meninggalkan jejak."
"Maksudnya gimana, mbak saya nggak ngerti?" tanya si mbak itu. Ia mengerutkan keningnya bingung. Meski ia tau Salin tak kan bisa melihatnya. Tetapi itu gerakan yang reflek.
"Nanti saya kabari, mbak. Kalau saya cerita sekarang, kelamaan. Nanti saya akan cerita saat mbak lagi di jalan. Mbak ada headset bluetooth kan?"
"Ada, mbak."
"Nah, sekarang mbak pakai headset bluetooth aja. Kita ngobrol mbak sambil jalan. Saya takut telat lagi, mbak."
Sambil Salin memberi saran, mbak itu pun mendengar sambil melakukan apa yang disarankan Salin. Hingga kini headset bluetooth itu sudah terpasang di telinganya.
"Udah, mbak. Saya sekarang sudah memakai headset bluetooth dan sedang diatas motor."
"Bagus. Sekarang mohon dengarkan saya bicara. Fokus ya mbak."
"Siap, mbak."
"Tetapi maaf, saya harus memanggil mbak siapa ya ya? Boleh tau nama mbak?"
"Saya Denia,, mbak. Panggil Deni saja. Nia juga boleh," jawab si mbak itu.
Sembari Denia menjalankan sepeda motornya, Salin pun menceritakan apa yang bisa dibantu oleh Denia. Dan menceritakan kondisi urgent yang saat ini terjadi padanya dan benar-benar butuh bantuan Denia.
"Nanti akan saya tambah tipsnya, mbak Nia," ucap Salin penuh harap.
Ya, saat ini Salin sedang di sekap oleh suaminya sendiri di kamar pembantu. Dan ia tak punya kunci serap agar bisa membuka kamar itu. Tetapi ia tau dimana letaknya kunci itu berada.
Salin tentu tidak mau dipecat hanya gara-gara terlambat. Ia ingin meneruskan kariernya, menunjukkan pada dunia bahwa wanita juga bisa bekerja. Melakukan apa saja sesuai kemampuan mereka, sesuai minta dan bakat perempuan itu sendiri.
Ia tak mau kehilangan pekerjaannya. Prinsip Salin memang, meski ayahnya adalah orang berada, tetapi ia tidak mau mengatasnamakan segala sesuatu dengan apa yang dimiliki sang ayah. Ia ingin menjadi wanita mandiri yang tanpa membawa-bawa nama sang ayah.
Ting
Bunyi notifikasi ponselnya kembali terdengar.
"Mbak, saya sudah di depan. Apa yang haru saya lakukan sekarang?" tanya Denia.
Kembali Salin mengarahkan Denia agar tidak ketahuan oleh kedua penghuni rumah lainnya. Yaitu Setu dan ibu Sirlina. Yang saat ini tentu saja sedang menikmati sarapan pagi. Tetapi salin tak tau apakah mereka bisa makan, apakah ibu Sirlina yang memasak. Dia tak tau itu. Karena biasanya ia yang memasak untuk keseharian mereka.
Denia berjalan mengendap-endap, lihat kanan, kiri, depan dan belakang, berharap tak ada yang melihatnya.
Hingga ia telah berhasil masuk ke ruangan yang sudah diarahkan oleh Salin.
"Mbak? Mbak siapa ya? Dan kenapa mbak bisa masuk ke...."
Tiba-tiba Denia mendengar suara seorang wanita dewasa dari arah belakangnya. Dengan takut-takut ia menoleh. Jantungnya berdetak kencang bertalu-talu.
"Mati aku. Ketahuan. Duh gimana ini? Aku harus jawab apa?" batinnya.
"I-itu, sa-saya....."
"Mbak temannya nona Salin ya?" tanya si wanita itu. Dia adalah asisten rumah tangga lama yang ditelepon kembali oleh ibu Sirlina untuk memasak sarapan mereka hari ini. Dan juga untuk beres-beres rumah sampai Salin selesai masa hukumannya.
"Sa-saya...."
"Maaf ya, mbak. Saya nggak tau dimana non Salin. Saya sudah coba cari-cari di sekitar rumah tapi tak ada. Biasanya mbak Salin sudan repot di dapur dan bersih-bersih pagi-pagi begini. Tetapi dari subuh tadi saya sampai non Salin tak nampak," jelas si bibi.
Denia pin bernapas lega. Tadinya ia mengira bahwa wanita paruh baya itu adalah mertua Salin. Tetapi setelah mendengar keterangan bibi itu, ia pun paham dan ia merasa lega. Sepertinya si bibi berada di pihak Salin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments