"Sudahlah! Anak-anak sudah besar. Untuk apa kamu pikirkan mereka? Mereka itu pasti menjalankan kewajibannya masing-masing," ucap Sande - papa Salin.
Sande mencoba menenangkan sang istri agar tidak khawatir kepada putrinya, Salin dan juga Stephania.
Saat ini Stephania sedang duduk di bangku kelas 3 SMA. Dia adalah anak kedua dari Sefarina, hasil pernikahannya dengan Sande Devaro. Sementara Salin dan Stephania mempunyai seorang kakak laki-laki yang bernama Ardan. Hasil pernikahan Sande Devaro dan istrinya dulu, Senti kakaknya Sefarina.
Di mata Sande Devaro, anak perempuan dan laki-laki sungguh sangat berbeda. Dimana laki-laki harus mencapai mimpinya setinggi mungkin. Sementara perempuan, bersekolah seadanya karena pada akhirnya akan kembali pada kegiatan di dapur. Tak peduli ia dengan cita-cita atau impian kedua putrinya.
Kehidupan yang dijalani Salin dan Stephania sungguh keras. Berbeda halnya dengan Ardan.
Salin, sebagai anak yang selalu mendengarkan apa kata orang tua, termasuk ayahnya, selalu menuruti apa kata sang ayah. Tak pernah ia membantah apa pun kata sang papa. Bahkan, pertemuan antara Salin dan Seru tak luput dari campur tangan papa Sande Devaro.
Mama Sefarina diam saja dengan ucapan suaminya. Selama puluhan tahun ia menyandang status sebagai istri dari Sande, tak pernah ia meremehkan sang suami. Ia selalu menghormati, menghargai suaminya. Dan menganggap semua ucapan yang keluar dari mulut suaminya adalah titah.
****
"Ibu, Salin sudah selesai semua tugas. Boleh ya Bu salin pergi?"
Salin mencoba meminta ijin untuk berangkat kerja kepada ibu mertuanya itu. Sementara Sirlina, sengaja memberikan segudang pekerjaan di pagi hari itu kepada sang menantu. Dengan tujuan Salin terlambat datang ke kantor dan akhirnya mendapatkan teguran dari bosnya. Kemungkinan terburuk adalah dia akan dipecat.
"Ngebet banget mau pergi?" cibir ibu Sirlina. "Baru jam berapa," timpalnya lagi.
"Kamu belum bisa pergi sebelum kamu beresin kamar saya."
"Tapi, Bu tadi sudah saya bereskan. Bereskan gimana lagi, Bu?"
Sirlina gegas berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya.
"Beres gimana? Buta ya mata mu? Lihat tuh!" Ia menunjuk ke arah tengah-tengah kamar dengan barang yang berserakan.
Seingat Salin, ia sudah membereskan semuanya tadi. Tetapi kenapa bisa berantakan kembali? Ada apa sebenarnya?
Tentu pertanyaan - pertanyaan itu hanya Salin ucapkan dalam hati. Karena kalau sampai ia bertanya, maka waktu akan semakin banyak terbuang. Toh belum tentu juga ibu mertuanya itu mau langsung menjawab.
Salin menunduk hormat kepada ibu mertuanya lalu, segera masuk ke dalam kamar itu. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati kamar yang sangat berantakan itu. Baju berserakan diatas tempat tidur, selimut dan bantal berserakan diatas lantai. Ada noda bekas minuman. Entahlah, tak terungkapkan bagaimana menjelaskannya.
"Ini kok bisa seperti ini? Perasaan tadi sudah aku bereskan. Dan ini kenapa jadi berantakan begini? Ulah siapa ini?" tanya Salin dalam hati. Ia menatap kamar itu penuh makna dan penuh tanya.
"Cepetan! Malah bengong," pekik ibu Sirlina tiba-tiba. Membuyarkan lamunan Salin yang tak habis pikir dengan keadaan kamar itu.
Salin menatap jam di tangannya.
"Bu, boleh nggak kalau nanti saja Salin bereskan? Soalnya kalau sekarang kan nggak keburu. Nanti Salin terlambat ke kantor gimana, Bu?"
"Itu bukan urusan saya!" ucap ibu Sirlina. Memberi penekanan pada kalimat itu. "Sekarang yang harus kamu lakukan adalah bereskan semuanya! Tidak ada bantahan."
"Tapi, Bu...."
"Sudah kubilang tidak ada tapi-tapian. Kerjakan sekarang!" titahnya dengan tegas dan tak mau dibantah.
"Atau gimana kalau nanti Salin bereskan saat jam makan siang di kantor, Bu?" masih coba Salin menawar.
"Nanti kan ada istirahat di kantor saat jam makan siang. Kira-kira se jam-an lebih lah. Gimana, Bu?" imbuhnya lagi. Dalam hati Salin berharap tawaran yang ia berikan dikabulkan sang mama.
"Apa kamu bilang? Kamu kira saya sedang jualan apa? Pakai tawar menawar segala."
"Setelah kamu bereskan kamar ini, kamu harus membersihkan kamar mandi saya. Kamu pel sampai kinclong. Dan harus kering. Saya tidak suka basah-basah kamar mandi saya," ucapnya tegas lagi.
Salin menarik napas panjang. Ia memutar otak. Bagaimana cara dia membersihkan semua ini dalam waktu yang begitu mepet.
"Nanti saya datang. Saya akan cek. Kalau masih belum sesuai dengan yang saya sebutkan tadi, maka bersiaplah. Saya akan beri pelajaran padamu," ancam sang mertua. "Saya mau sarapan dulu."
Ibu Sirlina pun meninggalkan kamarnya dan beranjak ke dapur untuk sarapan bersama dengan anak kesayangannya itu.
"Salin...."
"Salin...."
Terdengar lagi suara bariton yang sangat menggelegar di pagi hari itu. Memanggil Salin, istrinya yang sedang berada di kamar ibunya.
"Bu, kemana Salin? Saya panggil dari tadi malah nggak jawab. Buat kepala tambah pusing saja," adu Setu pada ibunya.
"Salin ada di kamar ibu Dia saya suruh bereskan kamar ibu dan juga kamar mandi," sahut ibunya santai.
"Ibu apaan sih? Setu juga butuh tenaganya, Bu. Setu udah mau terlambat nih," gerutunya.
Segera Setu beranjak menuju kamar sang ibu dan memanggil-manggil istrinya yang belum kelihatan itu.
"Heh, kamu tuli ya? Dari tadi saya panggil, bukannya jawab," omel Setu.
"Maaf, mas. Tapi saya.. "
"Alah, banyak ngomong. Mana dasi dan sepatu ku. Ambilkan!" titahnya dengan kasar. Tak ada kelembutan dalam nada suaranya.
"Tapi, mas ini... ibu..."
"Heh, kamu dengar nggak sih? Saya sudah mau terlambat. Cepat Carikan dasi dan sepatu saya! Nanti kan bisa kamu lanjutkan pekerjaan kamu. Susah banget sih!"
"Tapi kan, mas Salin sudah menyiapkan dasi mas diatas ranjang. Salin juga sudah menyiapkan sepatu mas di dekat pintu. Memangnya mas nggak bisa ambil sendiri?" tanya Salin heran.
Biasanya Setu memang sudah disiapkan oleh salin semuanya. Dan hari ini salin. juga sudah menyiapkan nya. Tetapi entah kenapa, menurut suaminya itu semuanya tak ada Salin siapkan.
"Saya nggak suka pilihanmu hari ini. Cari yang lain!" cerocos Setu.
Dalam hati Salin hanya mendesis, mengeluh. Pagi-pagi begini, ia sudah direpotkan oleh ibu mertuanya dan juga suaminya sendiri. Bukannya ia tak sanggup. Bukan pula ia tak mengerjakan semuanya.
Salin sudah bangun subuh tadi, bahkan jam empat subuh ia sudah membereskan rumah, memasak, mencuci. Dengan harapan tidak akan telat ke kantor.
Tetapi apa ini? Pagi ini ia disibukkan dengan ulah ibu mertua dan juga suaminya. Seolah-olah Salin merasa kalau mereka berdua sekongkol untuk membuat salin terlambat ke kantor.
Mau tak mau, Salin pun menuruti titah sang suami. Ia berjalan dengan menghentakkan kakinya.
"Kenapa kamu? Nggak terima saya suruh? Mau jadi istri durhaka kamu? Mau kena azab kamu? Hah?"
Salin tertunduk.
Jujur sebagai manusia biasa ia mulai lelah. Lelah dengan semua tingkah suami dan juga ibu mertuanya. Salin merasa mereka berdua berubah. Seolah bekerja sama untuk membuat Salin repot.
"Kuatkan aku ya, Allah," batin Salin. Segera ia ke kamarnya dan suaminya untuk menyiapkan apa yang dikatakan suaminya itu tadi.
"Ini, mas," katanya. Ia menyodorkan dasi itu pada sang suami. Dan meletakkan sepatu di dekat suaminya diatas lantai.
"Pakaikan!" titah Setu.
Salin pun hanya bungkam. Tapi tangannya memasangkan dasi pada leher sang suami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments