"Iih, mas Setu Sandoro kemana si?" gerutu Weni. "Udah jamuran gue nunggunya," omelnya lagi.
Saat ini ia sedang mondar-mandir di dalam kamar hotel yang sudah di booking oleh Setu, dekat dengan lokasi pesta.
"Ditelpon nggak diangkat, di chat juga nggak dibalas. Jangankan dibalas, dibaca agak nggak. Centang dia tapi warna abu-abu. Ihhh kesel."
"Katanya mau check in berdua. Mau nginap berdua, tapi ini udah sore orangnya bukannya nongol. Kasih kabar juga nggak."
Gadis itu mengomel sendirian. Ia bahkan berencana ngambek jika sang kekasih datang nanti.
Habis ia mengomel-ngomel, ia rebahkan tubuhnya diatas ranjang king size itu. Ia coba pejamkan matanya. Rasa lapar yang sedari tadi ia tahan, kini mencuat kembali.
Ya, akibat Setu belum muncul, belum ada kabar sama sekali, Weni bahkan tak berselera untuk mengisi perutnya atau mengganjalnya dengan kue atau roti. Rebahan adalah pilihan terbaik untuknya.
Kring kring kring
Belum lama ia merebahkan diri, tiba-tiba ponselnya berdering. Sekali berbunyi hingga suara itu sepi, ia abai. Kembali ponselnya berdering. Dan lagi-lagi ia tak hiraukan. Hingga akhirnya panggilan ke sepuluh, barulah Weni mengangkat panggilan itu.
"Hallo, sayang...."
"Ngapain?" ujarnya jutek bercampur kesal.
"Sayang marah?"
"Nggak."
"Mas minta maaf, tadi mas ada ..."
"Udah ya. Aku capek, mau tidur. Ngantuk."
Weni langsung memutus panggilan itu sepihak. Lalu melemparkan ponselnya sembarangan, kemudian melanjutkan tidurnya.
Tak berputus asa, Setu pun tetap menelpon gadisnya itu. Ia tetap keras kepala, ingin menjelaskan pada sang gadis duduk perkaranya.
"Angkat dong, sayang .." gumam Setu.
Entah kenapa ia merasa seperti ABG sekarang. ABG yang baru saja mengenal cinta dan sedang salah paham dengan pacarnya. Tak peduli ia meski Weni mengabaikan dirinya. Ia tetap menelpon, menelpon dan menelpon.
Mungkin karena suara ponsel yang berisik, Weni pun mengangkat panggilan itu. Membuat Setu tersenyum bahagia. Perjuangannya berbuah manis.
"Gitu dong sayang. Udah sedari tadi mas tungguin kamu angkat telpon mas. Pengen dengar suara kamu, mas udah rindu banget. Padahal baru siang tadi jumpa. Ah, rasanya mas pengen kesana sekarang."
"Aku nggak mau ngomong sama kamu. Kamu jahat sama aku. Seenaknya aja ninggalin aku sendirian," marah manja gadisnya itu. Membuat Setu semakin gemas dan semakin ingin bertemu gadisnya itu.
"Mas minta maaf ya. Tadi ada urusan mendadak dari kantor. Tadi sekretaris mas telpon dan itu urgent. Jadi mas nggak bisa nolak," sahut Setu lembut sekali. Ia sadar betul, menghadapi perempuan menggunakan perasaan bukan dengan paksaan.
Tapi apakah Setu sadar? Apakah ia memperlakukan istrinya dengan penuh perasaan sama seperti kepada gadisnya itu? Tentu saja jawabnya tidak. Tidak sama sekali.
"Sebagai permintaan maaf mas, mas akan kesana sekarang. Oke?"
"Buktikan!" sahut Weni dengan jutek.
"Mas akan buktikan, tapi kamu harus janji."
"Janji apa lagi?" kembali Weni mengomel di sebrang telpon itu. Terlalu bertele-tele menurutnya Setu hingga membuatnya dongkol.
"Kamu yang salah malah aku yang disuruh berjanji. Nggak adil," gerutu Weni.
Setu tersenyum mendengar gerutu manja gadisnya itu.
"Janji dulu nggak cemberut lagi, nggak marah lagi dan nggak jutek lagi. Maka mas akan kesana segera," pinta Setu mantap.
"Iya, nggak marah. Nggak jutek dan nggak cemberut," kata Weni datar.
"Pakai kelembutan dong sayang kayak yang biasa. Datar amat sih," protes Setu.
Mereka berdua ibarat dua ABG yang baru jatuh cinta. Padahal umur sudah mendekati kepala tiga. Walau memang jarak antara Setu dengan Weni selisih enam tahun, Setu lebih tua.
Akibat berhubungan dengan Weni, Setu seperti memiliki pacar ABG. Otomatis dia pun terkontaminasi gaya gadisnya itu. Ada waktunya ambekan, saling merayu, saling menggombal, saling enak dan banyak lagi.
Dan... mereka berdua sangat nyaman dengan gaya seperti itu. Sementara dengan Salin, Setu merasa terlalu serius. Tidak ada rasa seperti saat bersama Weni.
"Iya. Aku nggak marah sayangku, cintaku.... " ucap Weni akhirnya. Sangat mudah membujuk gadis itu. Rayuan receh Setu dengan mudah bisa meluluhkan hatinya yang tadinya masih marah akibat ditinggal begitu saja, sendirian tanpa kabar.
"Masih ada tiga kata yang kurang," sungut Setu manja.
Weni yang mendengar suara manja prianya itu, tersenyum bahagia.
"Apa?" tanyanya.
"Seperti biasa lho, sayang," ujar Setu lagi.
"I love you."
Berbunga hati Setu mendengarnya. Ia merasa hatinya meledak-ledak. Di dalam perutnya seolah menari banyak kupu-kupu.
"Ulang sekali lagi," pintanya lembut dengan suara parau.
"I love you."
Ah, tak terungkapkan rasanya dengan kata-kata kebahagiaan Setu sekarang. Hanya karena kata itu ia bisa mabuk, bisa terbang melayang ke langit ke tujuh. Ia ingin pamer pada Dewa dan Dewi cinta bahwa ia sedang dimabuk asmara.
Ia ingin pamer kepada Dewa dan Dewi bahwa ia dicintai oleh seorang gadis yang sangat lembut, cantik dan seksi. Seolah hannya dia seorang yang sedang merasakan cinta saat ini.
Berharap dengan ia pamer, Dewa dan Dewi akan cemburu kepadanya. Tanpa ia sadari, ia telah mengkhianati pernikahannya. Ia telah membohongi istrinya, ibu dari istrinya dan ayah dari istrinya. Seolah ia tutup hatinya untuk istrinya itu.
Tanpa Setu sadari, ia telah ingkar pada janjinya. Kepada Yang Maha Kuasa, kepada orang tua Salin dan kepada Salin istrinya.
"Love you too, sayang," jawab Setu semangat sekali. Bahkan ia berguling sekarang.
Tanpa Setu sadari, ada seseorang yang sedang menatap tingkahnya.
"Ya udah, mas kesana ya, sayang. Tunggu mas. Jangan tidur dulu. Oke."
"He'em. Iya, mas. Aku tunggu. Aku akan tahan mataku supaya terbuka lebar terus menunggu kekasihku datang padaku," sahut Weni.
"Mmmuach, love you." Ia mengecup panjang ponselnya itu. Tanpa sadar ia mencium benda mati. Cinta memang gila tanpa logika. Membayangkan ponsel adalah kekasihnya.
"Love you too, mas. Daaaah."
"Daaah, sayang."
Panggilan pun berakhir. Tetapi Setu masih setia dengan ponselnya. Ia membuka galeri ponsel barunya itu, lalu membuka satu persatu gambar gadisnya itu.
"Ah, sayang you're so cute," gumamnya tersenyum mengembang.
Sementara orang yang memperhatikan Setu dari tadi mematung di tempat. Tak tau apa yang akan ia lakukan sekarang. Hati dan pikirannya sangat terguncang.
"Mas, kamu kenapa? Sama siapa kamu telponan? Dan kenapa sangat mesra?" batin Salin penuh tanya. Air matanya sudah jatuh sekarang membasahi pipinya yang putih mulus itu.
Tak mau ketahuan kalau ia memergoki Setu, segera Salin meninggalkan suaminya yang masih sibuk dengan ponselnya itu. Ia masuk ke dalam kamarnya, lalu menelungkupkan tubuhnya di ranjang king size itu.
Ia menangis sejadi-jadinya. Tetapi tak ada yang tau, karena ia menutup kamar dan juga menyembunyikan tangisnya di balik bantal yang ada diatas ranjang itu.
***
"Kamu kenapa, Setu?"
"Ah, ibu. Ngagetin aja. Ini... aku lagi telponan sama Weni "
"Pacar muda kamu itu?" tanya sang ibu penuh selidik.
"Yes, mom."
"Sesekali, ajak dong dia kesini. Lunch atau dinner gitu. Ibu kan pengen kenal dekat dengannya," ucap Ibu Sirlina.
"Iya, Bu. Nanti aku ajak ya. Mama tenang aja .. "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments