"Nggak usah ngawur kalau bicara. Buktinya kamu nggak lihat apa-apa kan?" sergah Setu.
Salin pun tertunduk. Ia membenarkan apa kata suaminya. Kalau memang suaminya membawa gadis selingkuhannya, seharusnya ikut bersamanya. Tetapi ini, Setu sendirian. Tak ada yang menemaninya.
"Mungkinkah yang dikatakan rekan mas Setu itu salah?" batin Salin bertanya-tanya.
"Kalau gitu, kenapa kita nggak langsung publish ke teman-teman mas kalau kita ini pasangan suami istri? Kenapa mas malah mengaku kalau saya ini sepupu mas? Kenapa, mas?"
"Ya.. karena..." Setu mulai gugup. Ia berusaha mencari alasan yang tepat agar bisa menjawab pertanyaan sang istri.
"Karena mereka belum waktunya tau, kalau kamu adalah istri saya. Karena saya rencana nya akan membuat acara yang spesial untuk publish hubungan kita ke teman kantor atau pun kolega saya. Ya, saya ingin membuat mereka terkejut kalau saya sudah menikah denganmu," terang Setu panjang lebar.
Entah dari mana Setu mendapatkan ilham untuk menjawab pertanyaan itu. Dan se-encer itu otaknya untuk mengarang indah sebuah alasan yang sangat masuk di akal.
Tentunya, siapa pun yang mendengarnya pasti akan senang. Pasti akan bahagia bila pasangannya membuat suatu kejutan, membuat suatu pesta untuk mempublish hubungan mereka. Tak terkecuali Salin, ia juga terharu saat ia mendengar alasan Setu.
Tanpa ia sadari, setitik air matanya jatuh karena menangis haru. Ia tak menyangka bahwa ternyata masih ada cinta untuknya dari suaminya itu. Suaminya masih begitu peduli dan perhatian padanya.
"Makanya saya kerja, lembur terus, supaya pekerjaan saya cepat kelar dan saat itu saya bisa bersamamu sepuasnya. Mungkin kita bisa nginap di hotel? Hitung-hitung sebagai honeymoon, karena kita kan belum pernah honeymoon?" tambah Setu.
Sungguh, ia sudah mengarang bebas tadi alasan yang tepat dan sekarang, malahan menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin ia lakukan untuk Salin.
Tetapi Setu merasa bodo amat. Yang penting untuk saat ini ia selamat, untuk alasan janji biar nanti urusan belakangan. Dia akan memikirkan alasan apalagi yang tepat untuk menutupi janji palsunya itu.
Sedangkan Salin berpikir lain. Dulu ia sempat menolak tidak adanya bulan madu. Karena ia merasa bulan madu atau tidak toh tujuan ya ke ranjang kan. Ia tak pernah berpikir kalau bulan madu itu bukan hanya sekedar ranjang.
Tetapi sekarang ia mikir lain. Ia berharap dengan adanya honeymoon nanti, hubungannya dengan Setu akan membaik. Tidak ada keretakan, kerenggangan dalam rumah tangganya yang masih muda itu. Yang kebanyakan orang bilang, baru menikah pasti sedang mesra-mesranya.
"Honeymoon mas?" tanya gak percaya. Ia ingin memastikan sekali lagi bahwa apa yang diucapkan Setu bukanlah khayalannya belaka.
"Iya," jawab Setu singkat.
Sudah terlanjur basah ya sudah mandi saja. Pepatah itu sangat cocok untuk Salin sekarang.
"Trimakasih, mas. Maaf selama ini saya sudah over thinking. Selama ini saya sudah hampir nyerah dengan rumah tangga kita. Tapi hari ini, saya senang. Ternyata mas Setu masih mengharapkan rumah tangga kita baik-baik saja. Trimakasih ya, mas. Saya sangat senang," ujar Salin panjang lebar.
Saking senangnya, Salin sampai memeluk dengan sangat erat suaminya itu.
Membuat Setu mau tak mau membalas pelukan sang istri, walau dengan berat hati. Seenggaknya ia bisa mengalihkan atensi sang istri dari pertanyaan mengenai selingkuh dan pelakor itu.
"Saya akan mencari hotel yang bagus untuk kita, mas," lirih Salin.
Ucapan Salin sontak membuat Setu terjebak dengan permainannya sendiri. Maksud hati ingin menyelamatkan diri dari Salin, eh malah terjebak dengan ucapannya sendiri. Tapi ia kembali bodod amat.
Entah apa yang terjadi pada Setu. Kenapa dia semudah itu tak merasa bergetar di peluk sang istri. Tak merasa menegang saat istrinya merapat di tubuhnya.
Mungkinkah karena sudah ada rumah baru tempat ja menuntaskan hasratnya? Mungkinkah karena ia jenuh dengan sang istri? Atau rumput tetangga yang lebih hijau dan segar?
"Sekarang kita pulang," titah Setu segera.
Tak ingin ia Weni memergoki ia sedang berpelukan dengan istrinya. Mengingat Weni tak tau sama sekali bahwa Setu sudah menikah dengan wanita yang tak kalah cantik dengannya. Hanya beda pada keseksiannya.
"Tapi mas, pestanya..."
"Nggak apa-apa. Tadi saya sudah ijin sama yang pesta," sahut Setu cepat.
"Tapi saya belum pamit sama Gita, mas. Tadi kan saya bareng dia. Takut nanti dia kecarian."
"Kan bisa lewat telpon. Jangan di buat ribetlah," ucap Setu menaikkan nada suaranya sedikit.
Ternyata ia tak kuat, tak tahan lama untuk berpura-pura lembut. Belum sejam ia sudah keceplosan. Ia pun sadar ia telah membentak Salin.
"Maaf, maksud saya.... saya lelah. Saya ingin istirahat. Lebih baik kita segera pulang, dan kamu nanti bisa kabarin Gita lewat ponsel kamu. Chat atau telpon bebas," seru Setu. Memperbaiki kata-katanya agar Salin tak sampai merajuk.
Padahal Setu ingin menghindari pertemuan antara Salin dengan Weni. Ia belum siap kalau mereka berdua bertemu. Ia belum menemukan alasan apa yang akan ia katakan bila mereka berdua bertemu. Baik kepada Salin maupun kepada Weni.
Salin pun akhirnya menyetujui ajakan suaminya. Sebagai istri yang baik ia selalu menuruti apa kata suaminya jikalau memang itu yang terbaik. Tak pernah sekalipun ia membantah akan titah sang suami juga dengan ibu mertuanya.
"Mas, tadi yang disana itu rekan kerja mu, mas atau ada rekan bisnis juga?" ucap Salin. Memecah kesunyian dalam mesin roda empat itu.
"Iya," jawab Setu singkat.
Rasanya malas sekali meladeni kecerewetan istrinya itu. Beda halnya dengan Saling yang ingin memanfaatkan momen ini berdua dengan sang suami. Bila perlu suaminya mengajaknya pergi kemana agar mereka memiliki banyak waktu. Itu sih harapannya saat ini.
Sementara Setu, ia ingin segera sampai rumah agar ia bisa memberi kabar kepada kekasih hatinya, yang pastinya saat ini uring-uringan mencari keberadaannya. Kalau ia mengabari sekarang lewat ponsel kerjanya, maka Weni akan curiga. Karena setelah Setu membeli ponsel baru waktu itu, tak pernah sekalipun lagi Setu memakai ponsel kerjanya untuk menghubungi Weni.
Dan bila ia mengabari Weni lewat ponsel pribadinya, maka Salin akan curiga dan semakin cerewet bertanya. Karena Salin tak tau sama sekali perihal ponsel baru itu.
"Mas, kenapa kita harus ngebut?" tanya Salin bingung. "Bisa kan lebih santai, mas? Kita kan nggak diburu," pinta Salin. Ia memasang apa saja yang ia bisa, menahan tubuhnya supaya tidak terantuk pada dasbor mobil.
"Pegangan!" titah Setu tak mau dibantah.
"Ya tapi kenapa, mas?" Salin masih berusaha bertahta dengan nada lembut. Ia heran dengan suaminya itu. Tadi lembut sekali, sekarang malah dingin dan tak peduli dengan keberadaan Salin yang duduk di sampingnya yang sedang mengemudi.
"Kan tadi saya sudah bilang saya capek!" bentak Setu. Untung dia cerdas. Ia mengangkat pautkan alasannya tadi dengan ngebutnya ia sekarang.
"Untung gue cerdas," batin Setu. Ia tersenyum menyeringai, memuji kecerdasan dirinya. Entah mengapa hari ini ia merasa otaknya mengalir bagai sungai deras mencari alasan membohongi istrinya itu. Dan ia tak merasa bersalah sedikitpun.
Karena yang ada dalam benaknya saat ini adalah Weni, Weni dan Weni.
Seketika Salin terdiam membisu, dengan jemari yang mencengkram kuat gaun pesta yang ia kenakan. Terkejut ia dengan perubahan pada suaminya, yang menurutnya sangat drastis dan tiba-tiba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments