"Ibu jangan buka pintu kamar ini!" titah Setu pada ibunya.
"Untuk apa ibu buka? Biarkan saja dia disitu kedinginan. Sakit, tau rasa," sahut sang ibu.
Ibu Sirlina menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, saat salin disirami air oleh anaknya itu. Tapi ia abai. Tersenyum menyeringai. Seolah tidak terjadi apa-apa di kamar itu.
Ibu Sirlina malah asyik menikmati makan siangnya saat ini. Ya, di rumah itu seolah tidak ada suatu kejadian yang memprihatinkan.
****
Esok paginya....
"Gimana kabar istri kamu? Masih kamu kurung saja dia?" tanya sang ibu. Pagi ini mereka sedang berada di meja makan hendak menikmati sarapan pagi yang sudah dimasak oleh asisten rumah tangga yang baru kemarin siang bekerja untuk keluarga itu.
"Belum, Bu. Dia masih kubiarkan disana." Setu menjawab cuek.
"Coba kamu cek deh. Siapa tau ada apa-apa, kita bisa kena masalah loh, nak "
"Masalah apa, Bu? Pasti dia baik-baik saja itu. Dia kan punya sembilan nyawa. Ya pasti masih baik-baik lah dia sekarang. Ibu khawatir ya sama dia?" Setu menatap ibunya mendelik.
"Ih, siapa yang khawatir. Nggak sudi!" cibir ibu Sirlina.
"Ya siapa tau saja kan. Ibu sudah berubah. Lebih peduli pada dia daripada sama aku yang anak ibu sendiri."
"Kamu jangan bicara begitu. Bagaimana pun, kamulah yang terpenting dalam hidup ibu. Hanya kamu yang ibu punya sekarang," lirih sang ibu.
"Coba cek dulu deh. Nanti kita kena masalah kalau dia sampai mati."
Yang tadinya ingin sarapan, tapi urung karena mengingat semalaman Setu mengurung Salin di dalam kamar itu. Kamar yang dulunya ditempati oleh asisten rumah tangga yang lama.
Setu pun akhirnya dengan langkah berat, membawa kakinya menuju kamar kecil itu. Dan diekori ibunya dari belakang.
"Kok ibu nggak dengar ada suara, nak?" tanya sang ibu berbisik.
"Entahlah, Bu," sahut Setu sambil mengangkat bahu.
"Coba kamu buka segarang," bisik sang ibu lagi.
Setu pun melakukan titah sang ibu.
Pelan tanpa ingin menimbulkan suara, Setu membuka pintu itu hingga lebar. Sehingga memudahkan mereka berdua melihat seisi ruangan itu.
Tak ada orang. Ruangan itu gelap dan kosong.
"Mana dia," celetuk Setu.
"Emang kamu nampak? Kan lampunya mati?" tanya ibu Sirlina.
Setu pun tersenyum menyadari pertanyaannya. "Bentar ya, bu. Aku ambil senter dulu."
"Nggak usah. Nih, ibu bawa hp."
Ibu Sirlina menyodorkan ponselnya pada Setu, dengan keadaan senter ponsel yang sudah menyala.
Setu pun mengarahkan hp itu ke seluruh ruangan kecil itu.
"Beneran Bu dia nggak ada," celetuk Setu.
"Apa? Kemana dia? Kabur? Nggak mungkin."
Ibu Sirlina bertanya dan ia pun menjawab pertanyaannya sendiri.
"Kabur? Ah mana mungkin," sahut Setu.
"Aku menguncinya dengan benar kok. Dan ibu lihat sendiri tadi kan, pintunya tidak rusak. Kalau ia kabur pasti pintunya dirusak. Gimana cara kaburnya coba," cerocos Setu.
"Betul juga ya, nak," sahut ibunya sambil menganggukkan kepala setuju dengan ucapan sang anak. "Jadi kemana dia?" tanyanya kemudian.
"Atau mungkin....." Ibu Sirlina masih berpikir ingin melanjutkan kata-katanya. Karena memang dia belum ada kata yang ingin ia ucapkan. Seolah kata itu masih menggantung di ujung lidahnya.
"Atau mungkin apa, Bu?" tanya Setu.
Mereka berdua sedang berdiri sekarang di dalam kamar itu, kamar yang sudah kering. Tak ada air seperti kemarin.
"Tapi, Bu kenapa lantainya kering? Bukankah semalam aku menyirami dia dengan air begitu banyak? Enam atau lima ember ya itu kemarin, lupa," ucap Setu heran. "Sekarang kok bisa kering begini. Apa mungkin airnya kering sendiri?"
"Ah, nggak mungkin lah. Ibu nggak yakin itu kering sendiri. Bisa jadi kan Salin yang mengeringkannya."
"Lalu kemana dia, Bu?" tanya Setu, kembali fokus pada hilangnya Salin.
"Emm, ibu baru ingat. Coba kamu cek di kamar mandi. Siapa tau di enak-enakan tidur disana."
Setu pun mengangguk setuju, lalu segera bergegas menuju kamar mandi. Dengan masih menjadikan hp sang ibu sebagai penerang.
Ceklek
Setu membuka pintu kamar mandi itu dengan cepat. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok istrinya. Tetapi hasilnya tetap nihil. Yang dicari tak ditemukan.
"Ada?" tanya ibu Sirlina penasaran. Ia berdiri di tempatnya tadi.
"Nggak ada, Bu," jawab Setu.
Kedua insan itu keheranan. Kemana menghilangnya Salin. Kenapa tidak ada tanda-tanda kalau dia kabur.
****
Tok tok tok
"Masuk!" ujar suara bass dari dalam ruangan.
"Permisi, tuan. Saya...."
"Kemari!" titah orang itu lagi, tanpa berniat berbicara panjang lebar.
"Baca ini!" titahnya lagi, meski wanita itu belum sampai berjalan ke arah yang ia minta tadi.
"Apa ini, tuan?" Wanita itu kebingungan saat ia melihat sebuah amplop berwarna putih yang ditujukan untuknya.
"Ambil dan baca!"
"Ba-baik, tuan."
Dengan tangan gemetar, Salin meraih amplop itu. Ia menatap pada tuannya dan amplop itu secara bergantian. Jantungnya sudah berdegup begitu kencang.
Perlahan, Salin membuka amplop itu. Lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Selembar kertas yang terlipat dengan rapi .
"Surat apa ini," tanyanya dalam batin.
Salin ingin menyuarakan pertanyaannya seandainya bos nya itu ramah atau hangat. Akhirnya hanya bisa pendam sendiri pertanyaannya itu. Takut bosnya akan mengamuk.
Dengan teliti, Salin membaca setiap kata yang tertera di surat itu. Tak satu katapun ia lewatkan.
"Surat PHK?" tanya Salin.
Dengan debaran jantung yang semakin menggebu, ia pun membaca scanning surat itu. Ia ingin cepat mengetahui apa isi surat itu.
"Saya dipecat, tuan?" tanyanya akhirnya. Tentu setelah ia baca surat itu hingga selesai.
"Hmm. Bisa baca kan?"
"Hari ini juga, angkat semua barang - barang kamu. Kamu saya pecat! Dan saya tidak membutuhkan persetujuan dari kamu! Keluarlah!"
"Apa salah saya, tuan? Saya .. saya hanya sekali melakukan kesalahan dan tuan sudah memecat saya. Lalu saya akan bekerja dimana lagi, tuan?"
"Tuan, tolong. Kasihanilah saya, tuan. Saya butuh pekerjaan ini."
Sang CEO abai akan semua keluh kesah Salin. Tak peduli dengan rengekan, permintaan dan permintaan yang salin lontarkan. Seperti manusia yang tak punya hati dan perasaan.
Melihat reaksi sang boss yang tak peduli dengan dirinya, Salin akhirnya meninggalkan ruangan itu, membawa kekecewaan yang begitu dalam di dalam hatinya.
Dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tak ingin menunjukkan kerapuhannya kepada siapapun. Cukup ia tanggung untuk dirinya sendiri.
"Lihat, Bu Salin kenapa tuh?"
"Iya, apa ya yang dilakukan tuan dengannya?"
"Iya, melihat ekspresinya biasa saja sepertinya Bu Salin baik-baik saja. Secara kan si tuan kan senang dengan bu Salin. Kerjaannya selalu beres."
"Iya, benar. Makanya si tuan selalu bawa dia kemana-mana."
"Wajarlah kerjanya bagus, dia kan lulusan luar negeri."
Begitu banyak celotehan dari teman-teman kantor mengenai Salin yang baru keluar dari ruangan bos mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments