Chapter 6. Salin Kabur

"Ibu jangan buka pintu kamar ini!" titah Setu pada ibunya.

"Untuk apa ibu buka? Biarkan saja dia disitu kedinginan. Sakit, tau rasa," sahut sang ibu.

Ibu Sirlina menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, saat salin disirami air oleh anaknya itu. Tapi ia abai. Tersenyum menyeringai. Seolah tidak terjadi apa-apa di kamar itu.

Ibu Sirlina malah asyik menikmati makan siangnya saat ini. Ya, di rumah itu seolah tidak ada suatu kejadian yang memprihatinkan.

****

Esok paginya....

"Gimana kabar istri kamu? Masih kamu kurung saja dia?" tanya sang ibu. Pagi ini mereka sedang berada di meja makan hendak menikmati sarapan pagi yang sudah dimasak oleh asisten rumah tangga yang baru kemarin siang bekerja untuk keluarga itu.

"Belum, Bu. Dia masih kubiarkan disana." Setu menjawab cuek.

"Coba kamu cek deh. Siapa tau ada apa-apa, kita bisa kena masalah loh, nak "

"Masalah apa, Bu? Pasti dia baik-baik saja itu. Dia kan punya sembilan nyawa. Ya pasti masih baik-baik lah dia sekarang. Ibu khawatir ya sama dia?" Setu menatap ibunya mendelik.

"Ih, siapa yang khawatir. Nggak sudi!" cibir ibu Sirlina.

"Ya siapa tau saja kan. Ibu sudah berubah. Lebih peduli pada dia daripada sama aku yang anak ibu sendiri."

"Kamu jangan bicara begitu. Bagaimana pun, kamulah yang terpenting dalam hidup ibu. Hanya kamu yang ibu punya sekarang," lirih sang ibu.

"Coba cek dulu deh. Nanti kita kena masalah kalau dia sampai mati."

Yang tadinya ingin sarapan, tapi urung karena mengingat semalaman Setu mengurung Salin di dalam kamar itu. Kamar yang dulunya ditempati oleh asisten rumah tangga yang lama.

Setu pun akhirnya dengan langkah berat, membawa kakinya menuju kamar kecil itu. Dan diekori ibunya dari belakang.

"Kok ibu nggak dengar ada suara, nak?" tanya sang ibu berbisik.

"Entahlah, Bu," sahut Setu sambil mengangkat bahu.

"Coba kamu buka segarang," bisik sang ibu lagi.

Setu pun melakukan titah sang ibu.

Pelan tanpa ingin menimbulkan suara, Setu membuka pintu itu hingga lebar. Sehingga memudahkan mereka berdua melihat seisi ruangan itu.

Tak ada orang. Ruangan itu gelap dan kosong.

"Mana dia," celetuk Setu.

"Emang kamu nampak? Kan lampunya mati?" tanya ibu Sirlina.

Setu pun tersenyum menyadari pertanyaannya. "Bentar ya, bu. Aku ambil senter dulu."

"Nggak usah. Nih, ibu bawa hp."

Ibu Sirlina menyodorkan ponselnya pada Setu, dengan keadaan senter ponsel yang sudah menyala.

Setu pun mengarahkan hp itu ke seluruh ruangan kecil itu.

"Beneran Bu dia nggak ada," celetuk Setu.

"Apa? Kemana dia? Kabur? Nggak mungkin."

Ibu Sirlina bertanya dan ia pun menjawab pertanyaannya sendiri.

"Kabur? Ah mana mungkin," sahut Setu.

"Aku menguncinya dengan benar kok. Dan ibu lihat sendiri tadi kan, pintunya tidak rusak. Kalau ia kabur pasti pintunya dirusak. Gimana cara kaburnya coba," cerocos Setu.

"Betul juga ya, nak," sahut ibunya sambil menganggukkan kepala setuju dengan ucapan sang anak. "Jadi kemana dia?" tanyanya kemudian.

"Atau mungkin....." Ibu Sirlina masih berpikir ingin melanjutkan kata-katanya. Karena memang dia belum ada kata yang ingin ia ucapkan. Seolah kata itu masih menggantung di ujung lidahnya.

"Atau mungkin apa, Bu?" tanya Setu.

Mereka berdua sedang berdiri sekarang di dalam kamar itu, kamar yang sudah kering. Tak ada air seperti kemarin.

"Tapi, Bu kenapa lantainya kering? Bukankah semalam aku menyirami dia dengan air begitu banyak? Enam atau lima ember ya itu kemarin, lupa," ucap Setu heran. "Sekarang kok bisa kering begini. Apa mungkin airnya kering sendiri?"

"Ah, nggak mungkin lah. Ibu nggak yakin itu kering sendiri. Bisa jadi kan Salin yang mengeringkannya."

"Lalu kemana dia, Bu?" tanya Setu, kembali fokus pada hilangnya Salin.

"Emm, ibu baru ingat. Coba kamu cek di kamar mandi. Siapa tau di enak-enakan tidur disana."

Setu pun mengangguk setuju, lalu segera bergegas menuju kamar mandi. Dengan masih menjadikan hp sang ibu sebagai penerang.

Ceklek

Setu membuka pintu kamar mandi itu dengan cepat. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok istrinya. Tetapi hasilnya tetap nihil. Yang dicari tak ditemukan.

"Ada?" tanya ibu Sirlina penasaran. Ia berdiri di tempatnya tadi.

"Nggak ada, Bu," jawab Setu.

Kedua insan itu keheranan. Kemana menghilangnya Salin. Kenapa tidak ada tanda-tanda kalau dia kabur.

****

Tok tok tok

"Masuk!" ujar suara bass dari dalam ruangan.

"Permisi, tuan. Saya...."

"Kemari!" titah orang itu lagi, tanpa berniat berbicara panjang lebar.

"Baca ini!" titahnya lagi, meski wanita itu belum sampai berjalan ke arah yang ia minta tadi.

"Apa ini, tuan?" Wanita itu kebingungan saat ia melihat sebuah amplop berwarna putih yang ditujukan untuknya.

"Ambil dan baca!"

"Ba-baik, tuan."

Dengan tangan gemetar, Salin meraih amplop itu. Ia menatap pada tuannya dan amplop itu secara bergantian. Jantungnya sudah berdegup begitu kencang.

Perlahan, Salin membuka amplop itu. Lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Selembar kertas yang terlipat dengan rapi .

"Surat apa ini," tanyanya dalam batin.

Salin ingin menyuarakan pertanyaannya seandainya bos nya itu ramah atau hangat. Akhirnya hanya bisa pendam sendiri pertanyaannya itu. Takut bosnya akan mengamuk.

Dengan teliti, Salin membaca setiap kata yang tertera di surat itu. Tak satu katapun ia lewatkan.

"Surat PHK?" tanya Salin.

Dengan debaran jantung yang semakin menggebu, ia pun membaca scanning surat itu. Ia ingin cepat mengetahui apa isi surat itu.

"Saya dipecat, tuan?" tanyanya akhirnya. Tentu setelah ia baca surat itu hingga selesai.

"Hmm. Bisa baca kan?"

"Hari ini juga, angkat semua barang - barang kamu. Kamu saya pecat! Dan saya tidak membutuhkan persetujuan dari kamu! Keluarlah!"

"Apa salah saya, tuan? Saya .. saya hanya sekali melakukan kesalahan dan tuan sudah memecat saya. Lalu saya akan bekerja dimana lagi, tuan?"

"Tuan, tolong. Kasihanilah saya, tuan. Saya butuh pekerjaan ini."

Sang CEO abai akan semua keluh kesah Salin. Tak peduli dengan rengekan, permintaan dan permintaan yang salin lontarkan. Seperti manusia yang tak punya hati dan perasaan.

Melihat reaksi sang boss yang tak peduli dengan dirinya, Salin akhirnya meninggalkan ruangan itu, membawa kekecewaan yang begitu dalam di dalam hatinya.

Dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tak ingin menunjukkan kerapuhannya kepada siapapun. Cukup ia tanggung untuk dirinya sendiri.

"Lihat, Bu Salin kenapa tuh?"

"Iya, apa ya yang dilakukan tuan dengannya?"

"Iya, melihat ekspresinya biasa saja sepertinya Bu Salin baik-baik saja. Secara kan si tuan kan senang dengan bu Salin. Kerjaannya selalu beres."

"Iya, benar. Makanya si tuan selalu bawa dia kemana-mana."

"Wajarlah kerjanya bagus, dia kan lulusan luar negeri."

Begitu banyak celotehan dari teman-teman kantor mengenai Salin yang baru keluar dari ruangan bos mereka.

Episodes
1 Chapter 1. Istri Tak Berguna
2 Chapter 2. Menantu Tak Becus
3 Chapter 3. Istri Durhaka
4 Chapter 4. Teman Tuyul
5 Chapter 5. Apa Salahku, Mas?
6 Chapter 6. Salin Kabur
7 Chapter 7. Dipecat
8 Chapter 8. Jasa Clean Online
9 Chapter 9. Misi Selesai
10 Chapter 10. Ibu Minta Uang
11 Chapter 11. Kasmaran By Phone
12 Chapter 12. Noda Lipstik
13 Chapter 13. Adakah Cinta Untuk Saya?
14 Chapter 14. Perdebatan Yang Hakiki
15 Chapter 15. Mau Ke Pesta
16 Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?
17 Chapter 17. Dia Sepupu Saya
18 Chapter 18. Mempersiapkan Kejutan Untukmu
19 Chapter 19. Seperti ABG
20 Chapter 20. Kena Prank
21 Chapter 21. Lagi, Ibu Minta Uang
22 Chapter 22. Weni ... Weni
23 Chapter 23. Nona's Parfume
24 Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut
25 Chapter 25. Wanita Gampangan
26 Chapter 26. Terbongkar
27 Chapter 27. Alister Galeh Pratama
28 Chapter 28. Aku Dimana?
29 Chapter 29. Ada Yang Kepincut
30 Chapter 30. Masih Sayang
31 Chapter 31. Ceraikan Saja Dia
32 Chapter 32. Tidak Ingin Cerai
33 Chapter 33. Dia Hanya Pembantu
34 Chapter 34. Kecurigaan Stephania
35 Chapter 35. Ancaman Setu
36 Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina
37 Chapter 37. Tega Kamu, Mas
38 Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai
39 Chapter 39. Piala Bergilir
40 Chapter 40. Salin Pingsan
41 Chapter 41. Prove It
42 Chapter 42. Salina Xavier Meninggal
43 Chapter 43. Rumah Sewa
44 Chapter 44. Ada Pelangi Setelah Hujan
45 Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan
46 Chapter 46. Mama Sefarina Pingsan
47 47. Dia (bukan) Anak Kecil
48 Chapter 48. Papa Jahat!
49 Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah
50 Chapter 50. Jaga Diri Baik-baik
51 Chapter 51. POV Alister
52 Chapter 52. Wajar Dia Selingkuh
53 Chapter 53. Karena Aku Bosnya
54 Chapter 54. Rindu Salin
55 Chapter 55. Aku Hamil, Mas.
56 Chapter 56. Pikirkan Matang-matang
57 Chapter 57. Aku Kangen Banget Sama Kamu
58 Chapter 58. Jangan Salah Paham
59 Chapter 59. Saling Menatap
60 Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi
61 Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!
62 Chapter 62. Orang Yang Sama
63 Chapter 63. Hancur Sehancur-hancurnya
64 Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung
65 Chapter 65. Kerjasama
66 Chapter 66. Tentang Pertunangan Ardan
67 Chapter 67. Saya Ikhlas
68 Chapter 68. Hanya Dia?
69 Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha
70 Chapter 70. D'resto (mini hotel)
71 Chapter 71. Bertemu Mantan
72 Chapter 72. Misi Penyelamatan
73 Chapter 73. Dugaan Stephania
74 Chapter 74. Mengulang Kembali
75 Chapter 75. Rencana Papa Sande
76 Chapter 76. Ardan Hilang Kontak
77 Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit
78 Chapter 78. Keras Kepala
79 Chapter 79. Papa Sande Drop
80 Chapter 80. Yang Waras Mengalah
81 Chapter 81. Kamu Tidak Mengerti Bahasa Indonesia?
82 Chapter 82. Penyesalan Papa Sande
83 83. Calon Papa Mertua
84 Chapter 84. Saling Menguatkan
85 Chapter 85. Ulang Tahun Oma
86 Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2
87 Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi
88 Chapter 88. Mau Kemana Kamu?
89 Chapter 89. Ada Yang Luka?
90 Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan
91 Chapter 91. Buta, tapi Melihat
92 Chapter 92. Kebutaan Senja
93 Chapter 93. Salin Hilang
94 Chapter 94. Kita Akan Menikah
95 Chapter 95. Perih
96 Chapter 96. Brother Daniel
97 Chapter 97. Menangis
98 Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar
99 Chapter 99. Mencintaimu Dalam Hati
100 Chapter 100. Stephania ingin Bicara
101 Chapter 101. Keputusan Stephania.
102 Chapter 102. Janji Suci
103 Chapter 103. Lamaran Ditolak
104 Chapter 104. Cium Cium Cium (Last Chapter)
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Chapter 1. Istri Tak Berguna
2
Chapter 2. Menantu Tak Becus
3
Chapter 3. Istri Durhaka
4
Chapter 4. Teman Tuyul
5
Chapter 5. Apa Salahku, Mas?
6
Chapter 6. Salin Kabur
7
Chapter 7. Dipecat
8
Chapter 8. Jasa Clean Online
9
Chapter 9. Misi Selesai
10
Chapter 10. Ibu Minta Uang
11
Chapter 11. Kasmaran By Phone
12
Chapter 12. Noda Lipstik
13
Chapter 13. Adakah Cinta Untuk Saya?
14
Chapter 14. Perdebatan Yang Hakiki
15
Chapter 15. Mau Ke Pesta
16
Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?
17
Chapter 17. Dia Sepupu Saya
18
Chapter 18. Mempersiapkan Kejutan Untukmu
19
Chapter 19. Seperti ABG
20
Chapter 20. Kena Prank
21
Chapter 21. Lagi, Ibu Minta Uang
22
Chapter 22. Weni ... Weni
23
Chapter 23. Nona's Parfume
24
Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut
25
Chapter 25. Wanita Gampangan
26
Chapter 26. Terbongkar
27
Chapter 27. Alister Galeh Pratama
28
Chapter 28. Aku Dimana?
29
Chapter 29. Ada Yang Kepincut
30
Chapter 30. Masih Sayang
31
Chapter 31. Ceraikan Saja Dia
32
Chapter 32. Tidak Ingin Cerai
33
Chapter 33. Dia Hanya Pembantu
34
Chapter 34. Kecurigaan Stephania
35
Chapter 35. Ancaman Setu
36
Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina
37
Chapter 37. Tega Kamu, Mas
38
Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai
39
Chapter 39. Piala Bergilir
40
Chapter 40. Salin Pingsan
41
Chapter 41. Prove It
42
Chapter 42. Salina Xavier Meninggal
43
Chapter 43. Rumah Sewa
44
Chapter 44. Ada Pelangi Setelah Hujan
45
Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan
46
Chapter 46. Mama Sefarina Pingsan
47
47. Dia (bukan) Anak Kecil
48
Chapter 48. Papa Jahat!
49
Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah
50
Chapter 50. Jaga Diri Baik-baik
51
Chapter 51. POV Alister
52
Chapter 52. Wajar Dia Selingkuh
53
Chapter 53. Karena Aku Bosnya
54
Chapter 54. Rindu Salin
55
Chapter 55. Aku Hamil, Mas.
56
Chapter 56. Pikirkan Matang-matang
57
Chapter 57. Aku Kangen Banget Sama Kamu
58
Chapter 58. Jangan Salah Paham
59
Chapter 59. Saling Menatap
60
Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi
61
Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!
62
Chapter 62. Orang Yang Sama
63
Chapter 63. Hancur Sehancur-hancurnya
64
Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung
65
Chapter 65. Kerjasama
66
Chapter 66. Tentang Pertunangan Ardan
67
Chapter 67. Saya Ikhlas
68
Chapter 68. Hanya Dia?
69
Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha
70
Chapter 70. D'resto (mini hotel)
71
Chapter 71. Bertemu Mantan
72
Chapter 72. Misi Penyelamatan
73
Chapter 73. Dugaan Stephania
74
Chapter 74. Mengulang Kembali
75
Chapter 75. Rencana Papa Sande
76
Chapter 76. Ardan Hilang Kontak
77
Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit
78
Chapter 78. Keras Kepala
79
Chapter 79. Papa Sande Drop
80
Chapter 80. Yang Waras Mengalah
81
Chapter 81. Kamu Tidak Mengerti Bahasa Indonesia?
82
Chapter 82. Penyesalan Papa Sande
83
83. Calon Papa Mertua
84
Chapter 84. Saling Menguatkan
85
Chapter 85. Ulang Tahun Oma
86
Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2
87
Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi
88
Chapter 88. Mau Kemana Kamu?
89
Chapter 89. Ada Yang Luka?
90
Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan
91
Chapter 91. Buta, tapi Melihat
92
Chapter 92. Kebutaan Senja
93
Chapter 93. Salin Hilang
94
Chapter 94. Kita Akan Menikah
95
Chapter 95. Perih
96
Chapter 96. Brother Daniel
97
Chapter 97. Menangis
98
Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar
99
Chapter 99. Mencintaimu Dalam Hati
100
Chapter 100. Stephania ingin Bicara
101
Chapter 101. Keputusan Stephania.
102
Chapter 102. Janji Suci
103
Chapter 103. Lamaran Ditolak
104
Chapter 104. Cium Cium Cium (Last Chapter)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!