"Sini kamu!" ujar lelaki dewasa itu. Ia menarik paksa tangan wanita yang ada di sampingnya.
"Sakit, mas. Lepasin," rintih Salin.
Salin berusaha melepas cengkraman tangan yang begitu erat itu. Tetapi tak berhasil. Ternyata tenaga Salin kalau jauh dengan tenaga Setu, suaminya.
"Mas, pelan..." ucapnya lagi memohon.
Tetapi Setu seolah tuli akan permohonan sang istri. Ia semakin mengeratkan cengkramannya pada wanita itu. Yang membuat Salin Manahan sekuat tenaga agar tak menimbulkan kecurigaan orang-orang banyak yang saat ini menatap mereka bingung.
"Wah, itu siapa?"
"Iya, cool banget."
"Apa dia pacarnya Bu Salin?"
"Wah, ganteng banget. Jadi mau dong ditarik juga."
"Keren banget gayanya. Kayaknya dia sayang banget dengan Bu Salin."
Begitu ungkapan orang-orang yang menatap mereka, Salin dan Setu saat ini. Mereka seolah menilai bahwa Setu begitu menyayangi Salin. Memang, belum ada yang tau identitas Salin atau status Salin yang sebenarnya.
"Masuk!" titah Setu dengan tegas. Setelah pintu mobil sudah ia buka lebar. Ia memaksa Salin untuk memasuki mobilnya.
"Ke-kemana, mas? Aku masih bekerja. Nanti .. "
"Masuk! Saya bilang masuk ya masuk! Kamu tuli?" cecarnya.
Tak ada pilihan bagi Salin. Bagaimana pun ia harus menuruti titah suaminya. Lagi lagi, yang jadi alasan adalah ia tak mau orang-orang tau masalah rumah tangganya.
"Kemana kita, mas? Salin masih harus kerja, mas. Tolonglah!" mohon Salin. "Kita kan bisa bicara baik-baik, mas," imbuhnya.
Saat ini ia sudah duduk di samping Setu. Ia memegangi tangannya yang dicengkeram kuat oleh Setu. Pergelangan tangannya memerah dan ada rasa sakit disana.
"Mas," panggil Salin.
Sedari tadi sudah banyak tanya Salin, tapi Setu tak mau juga menjawabnya.
Malah sekarang, Setu melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Jauh lebih cepat seperti biasa ia berangkat ke kantor.
Salin merasa sangat ketakutan. Kedua tangannya saling bertaut erat seraya berdoa dalam hati. Meminta kepada yang Maha Kuasa agar meluluhkan hati suaminya.
Diam. Hanya diam yang ada di dalam kendaraan roda empat itu. Hingga kini mereka sudah tiba di kediaman keluarga Setu Sandoro.
Waktu yang biasa di tempuh dari perusahaan tempat Salin bekerja selama 25 menit, kini menjadi 10 menit oleh ulah Setu. Bahkan Salin sampai merasa sangat ketakutan.
"Turun!" titahnya.
Dari perusahaan hingga tiba di rumah hanya satu kata satu kata saling bicara.
Perlahan Salin turun, dengan masih memegang pergelangan tangannya yang memerah.
"Sini kamu!" cerca Setu usai Salin keluar dari dalam mobil.
Ditariknya secara paksa kembali Salin. Lalu dibawanya masuk ke dalam rumah dengan langkah yang lebar. Sehingga salin bersusah payah mengikuti langkah Setu. Selangkah bagi Setu, tiga langkah bagi Setu.
Lagi lagi Setu abai akan kondisi Salin. Tatapannya lurus ke depan. Menusuk tajam bagi siap yang melihat. Rahangnya mengeras. Dia sedang marah sekarang. Entah marah pada siapa. Salin pun bertanya-tanya.
"Ya, Tuhan. Mas Setu kenapa? Dan dia akan membawa aku kemana," batinnya.
*****
"Dimana Salin?"
"I-ibu Salin keluar, tuan."
"Apa? Keluar? Kemana?"
"Saya tidak tau, pak. Tadi ada seorang laki-laki yang menjemput dia dan membawa ibu Salin," jelas karyawan yang mejanya berdekatan dengan Salin.
"Kurang ajar!" umpat pria itu.
"Telepon dia segera! Suruh menghadap saya! Kalau tidak, kamu yang saya tuntut." Pria dingin itu mengancam teman Salin.
"Baik, tuan," sahutnya sambil menunduk hormat. Wanita itu bernama Selina. Sejauh ini, hanya dialah satu-satunya orang yang dekat dengan Salin. Dan hanya Salin pulalah tempat ia berbagi banyak hal selama ini.
Selina segera menghubungi nomor Salin. Tapi sayang, tak tersambung.
"Ibu Salin, ibu dimana sih? Angkat telpon Selin dong, Bu," ucapnya pelan penuh harap.
Selina tak ingin kehilangan pekerjaannya. Oleh karena itu ia berusaha terus menghubungi nomor Salin.
Karena tak ada jawaban dari Salin, Selina pun akhirnya menyerah. Ia akan segera menemui Salin besok. Atau kapan Salin kembali ke perusahaan.
****
Sementara di kediaman Setu Sandoro
"Kenapa dia, nak?" tanya sang ibu pada anaknya.
"Ini nih Bu. Menantu ibu ini, di suruh mengantarkan berkas ke perusahaan bukannya mau. Ia malah asyik kerja sementara aku, kehilangan proyek kerjasama. Ini semua karena dia. Seharusnya ibu telepon dia tadi."
"Kamu nyalahin ibu?" sela ibu Sirlina.
"Ibu sudah hubungi nomor istri kamu. Tapi tak diangkat. Jadi ibu harus gimana. Nggak mungkin dong ibu yang antar ke kantor kamu. Ibu capek, sayang," kilah ibu Sirlina.
"Ibu kan baru perawatan," imbuhnya.
"Iya, aku tau. Itulah yang buat aku marah Bu. Aku jadi kehilangan uang yang banyak karena dia," tuduh Setu.
"Sudahlah ibu. Ini urusan ku. Aku yang harus beri pelajaran kepadanya."
Setu kembali menarik paksa pergelangan tangan Salin, lalu membawa sang istri ke tempat yang hanya dia sendiri yang tau ingin kemana dia bawa istrinya itu.
"Ahh, sakit mas!" pekik Salin.
"Bodo amat," sahut Setu cuek.
Salin berusaha melepaskan hingga ia terduduk di lantai yang dingin itu. Ia meringis. Mencoba menghilangkan rasa perih dengan cara meniup pergelangan tangannya itu.
"Ayo!" ujar Setu.
Ia menarik paksa Salin, lebih tepatnya kedua tangan Salin ia cengkram kuat. Ia tarik sekuat kuatnya. Sementara Salin masih duduk. Bak seekor kambing yang di geret oleh tuannya. Begitulah yang dialami Salin sekarang.
Sesampainya di kamar, Setu melepaskan cengkramannya dari tangan Salin.
Gegas ia pergi ke dalam kamar mandi, lalu kembali dengan membawa ember. Ember itu berisi air yang sudah ia isi penuh. Kemudian ia siramkan ke tubuh Salin yang sedang meringis menahan sakit pada pergelangan tangannya.
"Dasar istri tak berguna," ujarnya. Ia guyur air itu ke seluruh tubuh Salin hingga habis tak bersisa.
"Bukannya mendukung kerjaan suami, malah asik pacaran dengan laki-laki itu. Apa kurangnya aku? Hah," ujarnya kemudian.
Tak peduli ia dengan keterkejutan Salin yang tiba-tiba diguyur oleh air, bukan air hujan tapi air yang berasal dari ember yang diangkat oleh suaminya.
Tak puas hanya se-ember, Setu kembali gegas ke kamar mandi mengisi air penuh ke dalam ember lalu membawanya kembali. Dan menyiram kembali ke tubuh Salin. Kini air itu ia hempaskan dengan kuat. Tidak seperti sebelumnya.
"Ini akibatnya karena tak mau mendengar apa kata suami," omelnya lagi. Ia guyurkan air itu lagi sampai tandas. Bahkan bukan hanya dua kali. Sampai kamar itu banjir karena ulah Setu.
Salin menggigil kedinginan. Tubuhnya bergetar. Kesempatan ini ia gunakan untuk menangisi nasibnya. Yang entah kenapa selalu saja salah di mata ibu mertua dan suaminya.
Guyuran air itu menyembunyikan ia yang sedang menangis, meneteskan air mata yang begitu derasnya.
"Apa salahku, mas? Kenapa kamu sekejam itu padaku,'" jerit pilu Salin dalam hati.
Puas melampiaskan nafsu amarahnya, Setu meninggalkan salin dalam keadaan yang mengenaskan. Kedinginan, menangis pilu, gelap.
Ya, sekarang Salin di kurung oleh Setu di dalam kamar kecil, gelap. Ruangan yang biasanya itu adalah kamar asisten rumah tangga mereka.
Brakk
Bahkan ia menghempaskan keras pintu itu saat ia menutupnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments