"Maafkan saya, Bu. Saya nggak bisa mempertahankan ibu di perusahaan ini. Saya yang jadi taruhannya bila ibu tetap disini. Dan maaf sekali lagi, Bu," tutur Selina penuh penyesalan.
Ia merasa sangat bersalah karena tak ada yang bisa ia lakukan untuk Salin, untuk membantu Salin agar tetap bekerja di perusahaan itu.
"Nggak apa-apa, Sel. Mungkin memang bukan disini rezeki saya," jawab Salin. Ia masukkan barang-barang pribadi dia ke dalam box coklat itu.
"Saya bantu ya, Bu?" Selin menawarkan bantuan.
"Tidak usah. Kamu kerjakan saja yang menjadi tugas kamu. Nanti kamu dilihat tuan sedang membantu saya. Saya nggak mau kamu mengalami seperti yang saya alami," tolak Salin halus.
Meski ia sendiri diusir dari perusahaan itu secara tidak hormat, tetapi ia juga profesional. Tak ingin ia memburuk-burukkan CEO perusahaan itu kepada taman-tamannya. Salin juga tak ingin teman-temannya kehilangan pekerjaan mereka.
Salin tau, di luaran sana begitu sulit mencari pekerjaan. Hal itu sangat ia sesalkan saat itu.
"Kenapa? Kenapa alam juga tak mendukung aku untuk bekerja? Kenapa ya, Tuhan?" jeritnya di hati.
"Nggak di rumah, nggak di kantor, tetap aku nggak diberi kesempatan untuk bekerja. Aku nggak diberi ruang untuk menunjukkan bahwa aku, meski seorang perempuan, tapi aku sanggup bersaing dengan laki-laki. Aku juga bisa berkarya, sama seperti mereka," gumam Salin sedih.
"Nggak papa, nggak suami, nggak mertua, nggak boss, semua menghambat aku untuk berkarya," gumamnya putus asa.
Salin menatap gedung pencakar langit itu dengan air mata yang masih menganak sungai, tapi ia masih tahan. Sambil menenteng box di tangannya, ia berdiri di depan gedung itu. Gedung yang menyimpan banyak kenangan dalam hidupnya. Teman-teman yang baik, bertemu dengan bos yang dingin dan banyak lagi.
Perlahan....ia melangkahkan kakinya meninggalkan gedung megah itu.
"Taksi..." teriaknya. Ia memberhentikan taksi yang lewat di depan gedung itu.
"Ke jalan X, pak," ucapnya pada sopir.
"Baik, Bu," angguk sang sopir. Tentu sesudah ia meletakkan box yang tadi ditenteng oleh Salin. Ia letakkan di samping Salin duduk. Salin tak mengijinkan sopir itu untuk meletakkan boxnya itu di dalam bagasi.
Di dalam taksi, Salin menumpahkan segala sesak yang menumpuk di dalam dadanya selama ini. Ia menangis sesentrupan. Sampai si sopir taksi kebingungan.
Salin tak peduli dengan reaksi sang sopir. Ia lebih memuaskan dirinya dengan tangisnya. Ia ingin mengeluarkan kesesakannya sebelum sampai di rumah.
*****
""Sa-Salin! Kamu?"
Ibu Sirlina kaget setengah mati dengan adanya Salin yang berdiri di depan pintu. Sementara ia baru saja menuju pintu dengan ponsel dan gelas di tangannya.
"Darimana saja kamu?" hardik ibu mertuanya itu.
"Dari kantor, Bu," sahut Salin apa adanya.
"Tapi.... tapi bukannya kemarin kamu... kamu dikurung Setu di kamar bibi, kenapa kamu bisa..."
"Salin letih, Bu. Mau istirahat," sela Salin.
Ia meringankan kakinya melewati sang mertua.
"Tunggu dulu. Mau kemana kamu? Ibu belum selesai bicara!"
"Salin," pekik ibu Sirlina.
Salin abai. Segera ia masuk ke dalam kamarnya dengan memeluk box di dekapannya.
"Ihh, dasar menantu durhaka. Mertuanya masih bicara malah ditinggal kabur. Awas kamu ya, aku adukan pada Setu nanti," rutuk ibu Sirlina.
Sesampainya di kamar, Salin meletakkan box yang ia bawa tadi di atas meja yang ada di dalam kamar itu. Lagu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa berniat mencuci muka atau mengganti pakaian kerjanya.
Ia menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang besar yang empuk itu. Rasanya semakin hari semakin melelahkan. Membuat pikiran dan raga Salin penat.
****
"Istri kamu itu sebenarnya siapa sih, Setu?"
"Maksud ibu? Kenapa ibu bertanya seperti itu?" Setu mengerutkan dahinya.
"Ya heran aja gitu. Pertama, dia bisa membereskan pekerjaan yang sangat banyak dengan begitu singkat. Ibu sangat yakin, sejam saja rasanya kurang untuk membereskan itu. Tapi ini, setengah jam tidak sampai. Semua beres sesuai ingin ibu. Menurutmu gimana?"
"Lalu?" tanya Setu belum mengerti.
"Ih, masa kamu nggak ngerti sih nak?" omel ibu Sirlina.
"Kedua, dia bisa kabur dari kamar sewaktu kamu sekap kemarin. Harusnya kamu pikir dong Setu, gimana caranya coba. Memangnya dia punya sihir? Hidup di jaman apa sebenarnya dia itu?" imbuh sang ibu.
Setu mendengar penjelasan ibunya dengan seksama. Ia juga mengangguk menyetujui pernyataan sang ibu. Tapi soal Salin mempunyai sihir, Setu tak percaya.
"Ya nggak mungkinlah, Bu dia punya sihir. Ada-ada saja ibu ini," sahut Setu.
"Lha, buktinya dia bisa bebas dengan mudah. Dia bisa senyum dengan mudah dengan apa yang sudah kita lakukan. Apa coba namanya kalau dia bukan penyihir."
"Ibu jangan ngawur ah. Salin nggak mungkin begitu. Kebetulan saja itu," sela Setu.
"Kebetulan gimana? Dan kamu tau, sekarang dia ada di kamar. Entah dari mana dia tenteng tenteng kotak begitu."
"Apa? Jadi dia ada di rumah?" tanya Setu keheranan. Ia pun sama seperti ibunya. Kebingungan karena tiba-tiba Salin sudah kembali ke rumah.
"Iya, lho. Dan kayaknya dia lagi menyimpan sesuatu deh. Ibu lihat wajahnya kusut begitu. Terus matanya juga sembab, kayak habis nangis gitu. Pas ibu mau tanya eh dianya malah masuk kamar. Istri kamu itu memang tidak punya sopan santun. Mentang-mentang pendidikannya lebih tinggi dari kamu, kerjaannya lebih bagus dari kamu, seenaknya aja dia perlakukan ibu. Nggak menghargai mertua sama sekali," rungut ibu Sirlina.
"Aku harus beri dia pelajaran," seru Setu. Ia segera berdiri dan melangkah menuju kamar dimana Salin kini berada.
"Ibu ikut. Kita harus mencari tau gimana dia bisa lolos dari sekapan itu. Semakin hari dia semakin bertingkah saja," timpal ibu Sirlina.
***
"Bangun kamu! Bangun! Dasar pemalas! Suami baru pulang bukannya disambut. Ini malah enak-enakan tidur. Dasar putri tidur," sergah Setu. Ia membangunkan Salin dengan paksa. Dengan cara menarik paksa kedua tangannya lalu mendudukkannya segera.
"Ada apa sih, mas? Aku lagi letih. Rasanya badan aku sakit semua. Aku tak ingin berdebat, mas," jawab Salin sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.
Ya, Salin rupanya tertidur pulas akibat memikirkan semua masalah yang menimpa dia hari ini.
"Sudah berani melawan kamu sekarang ya? Ha...."
Hampir saja Setu menampar wajah Salin yang baru bangun tidur itu.
"Istri macam apa kamu? Suami baru pulang malah kamu enak tiduran. Dulu ibu saat seusiamu, selalu menyambut ayahnya Setu sepulang kerja. Ibu ambil tasnya, ibu suguhkan teh untuknya. Bahkan ibu pijit badannya yang pegal. Kamu malah rebahan disini," sela ibu mertua Salin. Ia membandingkan Salin dengan dirinya saat ia masih muda. Saat ayah Setu masih ada.
"Aku kan bukan ibu. Lagian setiap orang punya kebiasaan dan karakter masing-masing. Jangan disamain dong, Bu," ucap Salin membela diri.
"Kamu melawan ibu? Berani sekali kamu?"
Salin tertunduk. Ia juga tak tau kenapa, entah keberanian dari mana, ia bisa menyahut sang mertua dengan kalimat yang menohok seperti itu.
"Dari mana kamu hari ini? Dan kenapa bisa kamu kabar dari kamar itu?" tanya Setu. Ia mencoba kembali ke topik sebelumnya yang ia ingin ketahui.
"Salin kerja, mas. Salin ijin ke bos kalau Salin nggak enak badan. Makanya Salin pulang ke rumah. Dan Salin disini sekarang."
Ya, Salin terpaksa berbohong. Ia tak ingin mertua dan suaminya tau kalau ia sudah dipecat. Karena kalau mereka sampai tau, semakin mereka merendahkan dirinya. Dia tak mau kalau itu sampai terjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments