Chapter 7. Dipecat

"Maafkan saya, Bu. Saya nggak bisa mempertahankan ibu di perusahaan ini. Saya yang jadi taruhannya bila ibu tetap disini. Dan maaf sekali lagi, Bu," tutur Selina penuh penyesalan.

Ia merasa sangat bersalah karena tak ada yang bisa ia lakukan untuk Salin, untuk membantu Salin agar tetap bekerja di perusahaan itu.

"Nggak apa-apa, Sel. Mungkin memang bukan disini rezeki saya," jawab Salin. Ia masukkan barang-barang pribadi dia ke dalam box coklat itu.

"Saya bantu ya, Bu?" Selin menawarkan bantuan.

"Tidak usah. Kamu kerjakan saja yang menjadi tugas kamu. Nanti kamu dilihat tuan sedang membantu saya. Saya nggak mau kamu mengalami seperti yang saya alami," tolak Salin halus.

Meski ia sendiri diusir dari perusahaan itu secara tidak hormat, tetapi ia juga profesional. Tak ingin ia memburuk-burukkan CEO perusahaan itu kepada taman-tamannya. Salin juga tak ingin teman-temannya kehilangan pekerjaan mereka.

Salin tau, di luaran sana begitu sulit mencari pekerjaan. Hal itu sangat ia sesalkan saat itu.

"Kenapa? Kenapa alam juga tak mendukung aku untuk bekerja? Kenapa ya, Tuhan?" jeritnya di hati.

"Nggak di rumah, nggak di kantor, tetap aku nggak diberi kesempatan untuk bekerja. Aku nggak diberi ruang untuk menunjukkan bahwa aku, meski seorang perempuan, tapi aku sanggup bersaing dengan laki-laki. Aku juga bisa berkarya, sama seperti mereka," gumam Salin sedih.

"Nggak papa, nggak suami, nggak mertua, nggak boss, semua menghambat aku untuk berkarya," gumamnya putus asa.

Salin menatap gedung pencakar langit itu dengan air mata yang masih menganak sungai, tapi ia masih tahan. Sambil menenteng box di tangannya, ia berdiri di depan gedung itu. Gedung yang menyimpan banyak kenangan dalam hidupnya. Teman-teman yang baik, bertemu dengan bos yang dingin dan banyak lagi.

Perlahan....ia melangkahkan kakinya meninggalkan gedung megah itu.

"Taksi..." teriaknya. Ia memberhentikan taksi yang lewat di depan gedung itu.

"Ke jalan X, pak," ucapnya pada sopir.

"Baik, Bu," angguk sang sopir. Tentu sesudah ia meletakkan box yang tadi ditenteng oleh Salin. Ia letakkan di samping Salin duduk. Salin tak mengijinkan sopir itu untuk meletakkan boxnya itu di dalam bagasi.

Di dalam taksi, Salin menumpahkan segala sesak yang menumpuk di dalam dadanya selama ini. Ia menangis sesentrupan. Sampai si sopir taksi kebingungan.

Salin tak peduli dengan reaksi sang sopir. Ia lebih memuaskan dirinya dengan tangisnya. Ia ingin mengeluarkan kesesakannya sebelum sampai di rumah.

*****

""Sa-Salin! Kamu?"

Ibu Sirlina kaget setengah mati dengan adanya Salin yang berdiri di depan pintu. Sementara ia baru saja menuju pintu dengan ponsel dan gelas di tangannya.

"Darimana saja kamu?" hardik ibu mertuanya itu.

"Dari kantor, Bu," sahut Salin apa adanya.

"Tapi.... tapi bukannya kemarin kamu... kamu dikurung Setu di kamar bibi, kenapa kamu bisa..."

"Salin letih, Bu. Mau istirahat," sela Salin.

Ia meringankan kakinya melewati sang mertua.

"Tunggu dulu. Mau kemana kamu? Ibu belum selesai bicara!"

"Salin," pekik ibu Sirlina.

Salin abai. Segera ia masuk ke dalam kamarnya dengan memeluk box di dekapannya.

"Ihh, dasar menantu durhaka. Mertuanya masih bicara malah ditinggal kabur. Awas kamu ya, aku adukan pada Setu nanti," rutuk ibu Sirlina.

Sesampainya di kamar, Salin meletakkan box yang ia bawa tadi di atas meja yang ada di dalam kamar itu. Lagu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa berniat mencuci muka atau mengganti pakaian kerjanya.

Ia menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang besar yang empuk itu. Rasanya semakin hari semakin melelahkan. Membuat pikiran dan raga Salin penat.

****

"Istri kamu itu sebenarnya siapa sih, Setu?"

"Maksud ibu? Kenapa ibu bertanya seperti itu?" Setu mengerutkan dahinya.

"Ya heran aja gitu. Pertama, dia bisa membereskan pekerjaan yang sangat banyak dengan begitu singkat. Ibu sangat yakin, sejam saja rasanya kurang untuk membereskan itu. Tapi ini, setengah jam tidak sampai. Semua beres sesuai ingin ibu. Menurutmu gimana?"

"Lalu?" tanya Setu belum mengerti.

"Ih, masa kamu nggak ngerti sih nak?" omel ibu Sirlina.

"Kedua, dia bisa kabur dari kamar sewaktu kamu sekap kemarin. Harusnya kamu pikir dong Setu, gimana caranya coba. Memangnya dia punya sihir? Hidup di jaman apa sebenarnya dia itu?" imbuh sang ibu.

Setu mendengar penjelasan ibunya dengan seksama. Ia juga mengangguk menyetujui pernyataan sang ibu. Tapi soal Salin mempunyai sihir, Setu tak percaya.

"Ya nggak mungkinlah, Bu dia punya sihir. Ada-ada saja ibu ini," sahut Setu.

"Lha, buktinya dia bisa bebas dengan mudah. Dia bisa senyum dengan mudah dengan apa yang sudah kita lakukan. Apa coba namanya kalau dia bukan penyihir."

"Ibu jangan ngawur ah. Salin nggak mungkin begitu. Kebetulan saja itu," sela Setu.

"Kebetulan gimana? Dan kamu tau, sekarang dia ada di kamar. Entah dari mana dia tenteng tenteng kotak begitu."

"Apa? Jadi dia ada di rumah?" tanya Setu keheranan. Ia pun sama seperti ibunya. Kebingungan karena tiba-tiba Salin sudah kembali ke rumah.

"Iya, lho. Dan kayaknya dia lagi menyimpan sesuatu deh. Ibu lihat wajahnya kusut begitu. Terus matanya juga sembab, kayak habis nangis gitu. Pas ibu mau tanya eh dianya malah masuk kamar. Istri kamu itu memang tidak punya sopan santun. Mentang-mentang pendidikannya lebih tinggi dari kamu, kerjaannya lebih bagus dari kamu, seenaknya aja dia perlakukan ibu. Nggak menghargai mertua sama sekali," rungut ibu Sirlina.

"Aku harus beri dia pelajaran," seru Setu. Ia segera berdiri dan melangkah menuju kamar dimana Salin kini berada.

"Ibu ikut. Kita harus mencari tau gimana dia bisa lolos dari sekapan itu. Semakin hari dia semakin bertingkah saja," timpal ibu Sirlina.

***

"Bangun kamu! Bangun! Dasar pemalas! Suami baru pulang bukannya disambut. Ini malah enak-enakan tidur. Dasar putri tidur," sergah Setu. Ia membangunkan Salin dengan paksa. Dengan cara menarik paksa kedua tangannya lalu mendudukkannya segera.

"Ada apa sih, mas? Aku lagi letih. Rasanya badan aku sakit semua. Aku tak ingin berdebat, mas," jawab Salin sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.

Ya, Salin rupanya tertidur pulas akibat memikirkan semua masalah yang menimpa dia hari ini.

"Sudah berani melawan kamu sekarang ya? Ha...."

Hampir saja Setu menampar wajah Salin yang baru bangun tidur itu.

"Istri macam apa kamu? Suami baru pulang malah kamu enak tiduran. Dulu ibu saat seusiamu, selalu menyambut ayahnya Setu sepulang kerja. Ibu ambil tasnya, ibu suguhkan teh untuknya. Bahkan ibu pijit badannya yang pegal. Kamu malah rebahan disini," sela ibu mertua Salin. Ia membandingkan Salin dengan dirinya saat ia masih muda. Saat ayah Setu masih ada.

"Aku kan bukan ibu. Lagian setiap orang punya kebiasaan dan karakter masing-masing. Jangan disamain dong, Bu," ucap Salin membela diri.

"Kamu melawan ibu? Berani sekali kamu?"

Salin tertunduk. Ia juga tak tau kenapa, entah keberanian dari mana, ia bisa menyahut sang mertua dengan kalimat yang menohok seperti itu.

"Dari mana kamu hari ini? Dan kenapa bisa kamu kabar dari kamar itu?" tanya Setu. Ia mencoba kembali ke topik sebelumnya yang ia ingin ketahui.

"Salin kerja, mas. Salin ijin ke bos kalau Salin nggak enak badan. Makanya Salin pulang ke rumah. Dan Salin disini sekarang."

Ya, Salin terpaksa berbohong. Ia tak ingin mertua dan suaminya tau kalau ia sudah dipecat. Karena kalau mereka sampai tau, semakin mereka merendahkan dirinya. Dia tak mau kalau itu sampai terjadi.

Episodes
1 Chapter 1. Istri Tak Berguna
2 Chapter 2. Menantu Tak Becus
3 Chapter 3. Istri Durhaka
4 Chapter 4. Teman Tuyul
5 Chapter 5. Apa Salahku, Mas?
6 Chapter 6. Salin Kabur
7 Chapter 7. Dipecat
8 Chapter 8. Jasa Clean Online
9 Chapter 9. Misi Selesai
10 Chapter 10. Ibu Minta Uang
11 Chapter 11. Kasmaran By Phone
12 Chapter 12. Noda Lipstik
13 Chapter 13. Adakah Cinta Untuk Saya?
14 Chapter 14. Perdebatan Yang Hakiki
15 Chapter 15. Mau Ke Pesta
16 Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?
17 Chapter 17. Dia Sepupu Saya
18 Chapter 18. Mempersiapkan Kejutan Untukmu
19 Chapter 19. Seperti ABG
20 Chapter 20. Kena Prank
21 Chapter 21. Lagi, Ibu Minta Uang
22 Chapter 22. Weni ... Weni
23 Chapter 23. Nona's Parfume
24 Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut
25 Chapter 25. Wanita Gampangan
26 Chapter 26. Terbongkar
27 Chapter 27. Alister Galeh Pratama
28 Chapter 28. Aku Dimana?
29 Chapter 29. Ada Yang Kepincut
30 Chapter 30. Masih Sayang
31 Chapter 31. Ceraikan Saja Dia
32 Chapter 32. Tidak Ingin Cerai
33 Chapter 33. Dia Hanya Pembantu
34 Chapter 34. Kecurigaan Stephania
35 Chapter 35. Ancaman Setu
36 Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina
37 Chapter 37. Tega Kamu, Mas
38 Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai
39 Chapter 39. Piala Bergilir
40 Chapter 40. Salin Pingsan
41 Chapter 41. Prove It
42 Chapter 42. Salina Xavier Meninggal
43 Chapter 43. Rumah Sewa
44 Chapter 44. Ada Pelangi Setelah Hujan
45 Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan
46 Chapter 46. Mama Sefarina Pingsan
47 47. Dia (bukan) Anak Kecil
48 Chapter 48. Papa Jahat!
49 Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah
50 Chapter 50. Jaga Diri Baik-baik
51 Chapter 51. POV Alister
52 Chapter 52. Wajar Dia Selingkuh
53 Chapter 53. Karena Aku Bosnya
54 Chapter 54. Rindu Salin
55 Chapter 55. Aku Hamil, Mas.
56 Chapter 56. Pikirkan Matang-matang
57 Chapter 57. Aku Kangen Banget Sama Kamu
58 Chapter 58. Jangan Salah Paham
59 Chapter 59. Saling Menatap
60 Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi
61 Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!
62 Chapter 62. Orang Yang Sama
63 Chapter 63. Hancur Sehancur-hancurnya
64 Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung
65 Chapter 65. Kerjasama
66 Chapter 66. Tentang Pertunangan Ardan
67 Chapter 67. Saya Ikhlas
68 Chapter 68. Hanya Dia?
69 Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha
70 Chapter 70. D'resto (mini hotel)
71 Chapter 71. Bertemu Mantan
72 Chapter 72. Misi Penyelamatan
73 Chapter 73. Dugaan Stephania
74 Chapter 74. Mengulang Kembali
75 Chapter 75. Rencana Papa Sande
76 Chapter 76. Ardan Hilang Kontak
77 Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit
78 Chapter 78. Keras Kepala
79 Chapter 79. Papa Sande Drop
80 Chapter 80. Yang Waras Mengalah
81 Chapter 81. Kamu Tidak Mengerti Bahasa Indonesia?
82 Chapter 82. Penyesalan Papa Sande
83 83. Calon Papa Mertua
84 Chapter 84. Saling Menguatkan
85 Chapter 85. Ulang Tahun Oma
86 Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2
87 Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi
88 Chapter 88. Mau Kemana Kamu?
89 Chapter 89. Ada Yang Luka?
90 Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan
91 Chapter 91. Buta, tapi Melihat
92 Chapter 92. Kebutaan Senja
93 Chapter 93. Salin Hilang
94 Chapter 94. Kita Akan Menikah
95 Chapter 95. Perih
96 Chapter 96. Brother Daniel
97 Chapter 97. Menangis
98 Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar
99 Chapter 99. Mencintaimu Dalam Hati
100 Chapter 100. Stephania ingin Bicara
101 Chapter 101. Keputusan Stephania.
102 Chapter 102. Janji Suci
103 Chapter 103. Lamaran Ditolak
104 Chapter 104. Cium Cium Cium (Last Chapter)
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Chapter 1. Istri Tak Berguna
2
Chapter 2. Menantu Tak Becus
3
Chapter 3. Istri Durhaka
4
Chapter 4. Teman Tuyul
5
Chapter 5. Apa Salahku, Mas?
6
Chapter 6. Salin Kabur
7
Chapter 7. Dipecat
8
Chapter 8. Jasa Clean Online
9
Chapter 9. Misi Selesai
10
Chapter 10. Ibu Minta Uang
11
Chapter 11. Kasmaran By Phone
12
Chapter 12. Noda Lipstik
13
Chapter 13. Adakah Cinta Untuk Saya?
14
Chapter 14. Perdebatan Yang Hakiki
15
Chapter 15. Mau Ke Pesta
16
Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?
17
Chapter 17. Dia Sepupu Saya
18
Chapter 18. Mempersiapkan Kejutan Untukmu
19
Chapter 19. Seperti ABG
20
Chapter 20. Kena Prank
21
Chapter 21. Lagi, Ibu Minta Uang
22
Chapter 22. Weni ... Weni
23
Chapter 23. Nona's Parfume
24
Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut
25
Chapter 25. Wanita Gampangan
26
Chapter 26. Terbongkar
27
Chapter 27. Alister Galeh Pratama
28
Chapter 28. Aku Dimana?
29
Chapter 29. Ada Yang Kepincut
30
Chapter 30. Masih Sayang
31
Chapter 31. Ceraikan Saja Dia
32
Chapter 32. Tidak Ingin Cerai
33
Chapter 33. Dia Hanya Pembantu
34
Chapter 34. Kecurigaan Stephania
35
Chapter 35. Ancaman Setu
36
Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina
37
Chapter 37. Tega Kamu, Mas
38
Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai
39
Chapter 39. Piala Bergilir
40
Chapter 40. Salin Pingsan
41
Chapter 41. Prove It
42
Chapter 42. Salina Xavier Meninggal
43
Chapter 43. Rumah Sewa
44
Chapter 44. Ada Pelangi Setelah Hujan
45
Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan
46
Chapter 46. Mama Sefarina Pingsan
47
47. Dia (bukan) Anak Kecil
48
Chapter 48. Papa Jahat!
49
Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah
50
Chapter 50. Jaga Diri Baik-baik
51
Chapter 51. POV Alister
52
Chapter 52. Wajar Dia Selingkuh
53
Chapter 53. Karena Aku Bosnya
54
Chapter 54. Rindu Salin
55
Chapter 55. Aku Hamil, Mas.
56
Chapter 56. Pikirkan Matang-matang
57
Chapter 57. Aku Kangen Banget Sama Kamu
58
Chapter 58. Jangan Salah Paham
59
Chapter 59. Saling Menatap
60
Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi
61
Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!
62
Chapter 62. Orang Yang Sama
63
Chapter 63. Hancur Sehancur-hancurnya
64
Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung
65
Chapter 65. Kerjasama
66
Chapter 66. Tentang Pertunangan Ardan
67
Chapter 67. Saya Ikhlas
68
Chapter 68. Hanya Dia?
69
Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha
70
Chapter 70. D'resto (mini hotel)
71
Chapter 71. Bertemu Mantan
72
Chapter 72. Misi Penyelamatan
73
Chapter 73. Dugaan Stephania
74
Chapter 74. Mengulang Kembali
75
Chapter 75. Rencana Papa Sande
76
Chapter 76. Ardan Hilang Kontak
77
Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit
78
Chapter 78. Keras Kepala
79
Chapter 79. Papa Sande Drop
80
Chapter 80. Yang Waras Mengalah
81
Chapter 81. Kamu Tidak Mengerti Bahasa Indonesia?
82
Chapter 82. Penyesalan Papa Sande
83
83. Calon Papa Mertua
84
Chapter 84. Saling Menguatkan
85
Chapter 85. Ulang Tahun Oma
86
Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2
87
Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi
88
Chapter 88. Mau Kemana Kamu?
89
Chapter 89. Ada Yang Luka?
90
Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan
91
Chapter 91. Buta, tapi Melihat
92
Chapter 92. Kebutaan Senja
93
Chapter 93. Salin Hilang
94
Chapter 94. Kita Akan Menikah
95
Chapter 95. Perih
96
Chapter 96. Brother Daniel
97
Chapter 97. Menangis
98
Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar
99
Chapter 99. Mencintaimu Dalam Hati
100
Chapter 100. Stephania ingin Bicara
101
Chapter 101. Keputusan Stephania.
102
Chapter 102. Janji Suci
103
Chapter 103. Lamaran Ditolak
104
Chapter 104. Cium Cium Cium (Last Chapter)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!