"Mas, gimana dengan undangan pernikahan dari teman bisnis kamu? Kita jadi pergi kan, mas?"
Setu diam, memikirkan ucapan sang istri. Ia baru ingat bahwa mereka diundang oleh kolega bisnisnya dalam acara pesta pernikahan, yang tiga hari lagi akan dilaksanakan.
Padahal ia sudah berjanji pada Weni, kalau mereka akan berangkat bareng. Dan ia berencana akan memperkenalkan Weni sebagai kekasih hatinya kepada koleganya itu.
Sama seperti Salin, Setu juga tak memberitahu kepada rekan kerjanya kalau ia sudah menikah dengan Salin. Hanya segelintir yang tau. Bukan maksud menyembunyikan, tapi lebih ke urusan pribadi yang tak semestinya harus diumbar.
Teringat ia dengan tingkah manja Weni, ia pun tersenyum tanpa sadar.
"Kenapa mas tersenyum?" tanya Salin, mengejutkan Setu yang sedang melamun.
"Mas, apa sih yang membuatmu tersenyum?" masih tanya Salin lagi. Ia heran dengan tingkah suaminya itu.
Tersentak Setu karena seruan istrinya. Ia mengembalikan kesadarannya dan mencoba fokus mengingat apa yang dibicarakan istrinya barusan.
"Saya tidak bisa pergi. Ada urusan di kantor. Saya sudah minta ijin kepada kolega saya," ucap Setu akhirnya.
"Kalau begitu, saya pergi sendiri saja ya, mas. Kebetulan saya juga diundang lewat jaringan pribadi," ucap Salin.
"Hmmm," gumam Setu. Hanya itu jawabannya.
Tak ada sedikitpun ia curiga, bahwa istri ada hubungan pribadi dengan kolega bisnisnya itu. Meski memang bukan siapa-siapa bagi Salin. Tetapi sebagai suami yang menjaga istrinya, bukankah Setu seharusnya bertanya, kenapa bisa ada hubungan pribadi. Sebagai suami yang mencintai istrinya seharusnya ia mencaritahu ada apa sebenarnya.
Ya, Salin memang diundang secara pribadi oleh teman satu kantornya dulu. Kebetulan memang Setu diundang, jadi Salin memanfaatkan momen ini. Ia ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa ia telah menikah dengan Setu.
****
"Sayang, udah dimana?" tanya gadis itu manja di sebrang telpon.
"Mas sudah dekat, sayang. Sabar ya," sahutnya lembut.
"Iya. Aku tunggu ya, mas."
"Ya, sayang. Sebentar ya."
Setu pun mengakhiri panggilannya bersama dengan sang kekasih.
Berbanding terbalik ia memperlakukan Salin dan Weni. Saat bersama Salin ia selalu marah, kasar sedang saat bersama Weni, drastis ia lembut sekali. Tak pernah sekalipun ia meninggikan suaranya kepada pujaannya itu. Berbeda hal jika berhadapan dengan Salin.
Ya, hari ini tiba saatnya pesta pernikahan kolega dari. Tentunya sesuai janji Setu kala itu, ia akan membawa Weni dan memperkenalkannya kepada rekan-rekannya.
Weni yang cantik, berbodi bohay dan seksi, tentu ia bangga memperkenalkan Weni kepada rekan-rekannya. Sebenarnya tak kalah cantik dengan Salin. Bedanya, Salin tidaklah seksi. dan bohai tubuhnya ditutupi oleh pakaian yang tidak terlalu seksi. Sementara Weni lebih suka memakai pakaian yang kurang bahan.
Sementara di mamsion Setu, Salin sedang bersiap di depan meja riasnya. Hari ini ia berencana bareng dengan teman kantornya yang dulu. Akibat Setu tak bisa ikut, ia pun meminta kepada temannya agar pergi bersama-sama. Bahkan temannya yang bernama Gita itu menawarkan untuk naik mobilnya saja ke pestanya.
Jadilah Salin saat ini, sembari menunggu Gita, ia pun bersiap santai sambil memoles make up pada wajahnya.
Hingga akhirnya bunyi notifikasi ponselnya memaksanya untuk mengakhiri kegiatannya itu. Yang memang tadi sudah selesai, jadi dia tinggal merapikan.
"Lin, gue udah di depan," katanya lewat chat.
"Iya, gue segera turun ya "
"Ok. Gue tunggu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments