"Heh, kamu ngapain sih mondar-mandir dari tadi? Kayak setrikaan aja," omel ibu Sirlina pada Salin.
"Salin sedang menunggu mas Setu, Bu. Sudah jam segini tapi belum pulang."
"Halah, baru juga jam segini. Mungkin dia lembur, banyak kerjaan yang belum selesai "
"Tapi, Bu mas Setu nggak pernah pulang selarut ibu?"
"Siapa bilang ga pernah?" celetuk ibu Sirlina.
Mendengar ucapan ibu mertuanya tentu salin bertanya-tanya. Karena seingatnya, Setu tak pernah pulang larut malam. Ya meski sekarang memang masih jam setengah dua belas malam. Di perusahaan mana sih lembur sampai selarut ini?
"Emang pernah, Bu?"
"Ya pernah lah. Kamu nya saja istri yang nggak care sama suaminya. Sampai suami pernah pulang malam karena lembur kamu nggak tau," gerutu ibu Sirlina lagi.
"Sekarang mendingan kamu pergi dari sini. Jangan ganggu konsentrasi saya. Saya sedang menonton. Tunggulah Setu entah dimana kek. Yang jelas jangan di sini!" tekan ibu Sirlina.
Niat salin menunggu di dekat ibu mertuanya memang, karena ia ingin menciptakan jarak dekat dan rasa hangat yang dulu banyak dan sekarang hilang. Ia ingin mendekatkan diri kembali kepada ibu mertuanya itu.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu nggak kerja hari ini? Tumben."
Deg
Jantung salin berdegup kencang seketika. Apa yang harus ia katakan? Bagaimana ia harus menjawab tanya dari ibu mertuanya itu?
"Sa-saya... saya ambil cuti, Bu selama seminggu." Salin menjawab dengan gugup. Entah kenapa, hanya itu ide yang tercetus dalam pikirannya sekarang.
"Saya ingin menjadi istri yang baik selama saya cuti, bu. Semoga dengan ini nanti ibu dan mas Setu lebih baik lagi kepada saya. Lebih menganggap saya sebagai istri," batin Salin.
"Melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan apa yang ibu dan mas Setu harapkan," tambah salin lagi dalam batinnya.
"Cuti selama seminggu? Mau kemana kamu selama itu cuti? Gaji kamu tetap jalan kan? Nanti gimana biaya hidup ibu kalau kamu cuti? Terus gimana dengan perhiasan, arisan, tas ibu kalau kamu cuti?" tanya ibu Sirlina panjang kali lebar.
"Maaf, Bu. Tetapi saya lelah. Saya ingin istirahat selama seminggu ini," ucap Salin lirih.
"Apa? Istirahat? Selama seminggu? Memangnya kamu ngapain saja sampai kamu kelelahan begitu?"
Salin tertunduk. Tak ingin lagi ia menjawab setiap tanya dari ibu mertuanya itu. Untuk saat ini, diam adalah jalan yang terbaik.
Brumm
Suara mobil memasuki halaman kediaman mereka. Sontak ibu Sirlina tersenyum.
"Itu pasti Setu. Ibu akan bilang ke Setu kalau kamu sudah mulai malas-malasan sekarang,"' celetuk ibu Sirlina seraya meninggalkan Salin menuju ke pintu masuk. Sungguh ia berniat sekali memprovokasi Salin dan Setu. Entah apa tujuannya, Salin tak tau.
"Setu. Nak, kamu sudah pulang?.." pekik sang ibu.
"Ibu lapar," ucapnya manja. Bisa-bisanya ibu Sirlina berucap begitu pada Setu di jam segini, jam dua belas kurang. Sebentar lagi dini hari.
Salin yang sudah berada di sana tentu terkejut dengan ucapan ibu mertuanya itu. Lapar? Tengah malam? Itu yang ada di batin Salin.
"Tumben ibu lapar tengah malam. Biasanya juga makan sore, katanya untuk menjaga tubuhnya agar tak gendut. Kok sekarang merengek minta makan. Ibu kenapa sih," batin Salin.
"Lho, ibu jam segini kok kelaparan? Memang ibu nggak makan?" tanya Setu, ia menaik turunkan alisnya.
"Nggak. Ibu nggak tau mau makan apa. Masakan istri kamu nggak enak, apalagi lauknya itu-itu saja," ucap ibu Sirlina dengan cemberut.
Sontak Setu melotot pada Salin yang berdiri beberapa meter dari mereka.
"Kamu masak apa memangnya?" tanya Setu pada Salin dengan nada marah.
"I-itu... sa-saya..."
"Istri kamu itu udah nggak kerja lagi. Dia sekarang udah malas-malasan," sela ibu Sirlina. Sungguh niat yang tadi memprovokasi benar ia lakukan. Otomatis Setu pasti percaya kepadanya.
Setu langsung menoleh menatap sang ibu.
"Udah gitu, dia kan nggak kerja hari ini. Tapi semua pekerjaan rumah ibu yang kerjain. Ibu capek, nak. Jangankan cemilan, teh saja nggak ada disuguhkan untuk pelepas lelah ibu," ucap ibu Sirlina lagi mengadu.
"Istri kamu itu hanya memasak, itupun masakannya ya masakan murahan. Masa lauknya tempe dan ayam goreng. Padahal ibu pengennya daging berkualitas. Pelit banget sih istri kamu itu," imbuh ibu Sirlina.
"Mending kamu bawa si We .."
"Ibu bicara apa tadi? Mana, coba saya lihat dia masak apa," celetuk Setu. Segera ia mengalihkan perkataan sang ibu. Agar Salin juga teralihkan perhatiannya dengan ucapan ibu Sirlina tadi.
Setu mengeraskan suaranya agar fokus Salin hanya tertuju pada suaranya. Ia pun tersenyum. Senyum yang akhir-akhir ini jarang dilihat Salin.
"Mas, mas Setu, sudah lama saya tak melihat senyummu, mas," gumam Salin dengan lirih. Tentu tak bisa didengar oleh ibu mertuanya dan juga suaminya.
Setu pun melangkah masuk ke dalam inti rumah itu diikuti ibunya yang bergelayut di lengannya dan salin di belakang ibu mertuanya.
Setu membuka tudung saji. Terhidang di hadapannya kini makanan yang menggunggah selera. Tetapi ia sudah makan. Jujur ja tergiur, tapi karena hari sudah larut, tak mungkin ia untuk makan lagi.
"Menunya enak kok, Bu. Kok ibu nggak mau makan sih?" tanya Setu.
"Enak apaan? Kamu gimana sih, Setu? Ibu kan sudah tua, masa makan makanan yang seperti itu? Nanti kalau ibu kolesterol gimana? Nanti kalau ibu asam urat gimana?" celetuk ibu Sirlina.
"Tapi kan, Bu dari pada ibu lapar."
"Ada apa dengan mas Setu? Kenapa dia hari ini membela saya?" batin Salin penuh tanya.
"Kamu jangan senang dulu. Saya tidak ada niat membela kamu," bisik Setu di telinga Salin.
"Ya udah. Ibu mau makan apa? Biar Setu belikan," tawar Setu pada ibunya.
"Banyak banget?" tanya Setu setelah ibunya mengucapakan permintaannya.
"Ibu sudah nggak diet lagi? Ibu nggak takut gendut?"
"Sesekali nggak apa-apa. Habis ibu kesal sama istri kamu. Ibu lapar bukannya dimasakin makanan kesukaan ibu. Padahal ibu sudah lelah seharian," rengeknya manja.
"Ya sudah. Setu beli dulu. Semoga saja masih ada yang buka," pamit Setu pada ibunya. Ia pun meninggalkan Salin dan ibunya. Lalu ibu Sirlina pun melangkah ke kamarnya, meninggalkan salin dengan dagu yang terangkat ke atas. Seolah menyombongkan kemenangannya, karena ia menang. Anaknya lebih percaya dan membela dirinya.
Sementara Salin, terbesit dalam hatinya rasa kecewa. Kenapa ibu mertuanya mengkambinghitamkan semua terhadapnya? Bukankah ia yang seharian ini membereskan semua isi rumah? Bukan kah ia yang juga mencuci, menyetrika, memasak. Belum lagi merapikan bunga-bunga yang ada di halaman depan, samping dan belakang mansion?
"Tega banget ibu pada saya, entah apa salah saya," ucap Salin pelan. Air matanya menetes.
"Dan kamu, mas, kamu sudah berubah. Jauh berubah. Sudah tak peduli saya lagi, sudah tak pernah memihak saya lagi. Apakah cinta juga sudah tidak akan untuk saya mas? Kenapa mas? Kenapa?" tanya Salin pilu.
"Apakah kamu selingkuh, mas? Apa kamu sudah ada wanita lain di hatimu?"
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Elena Sirregar
jadi perempuan kok bodoh. laki² kayak ga perlu dihormati. kita wanita harus bisa bersikap tegas. jangan mau di rendahkan bodoh kamu selain ajaran mana yang membenarkan kdrt sama isteri dasar bodoh
2023-07-22
0