"Ibu kenal dengan mbak Salin?" tanya Denia akhirnya. Bagaimana pun ia tak ingin percaya begitu saja pada wanita paruh baya itu. Ia takut bahwa dia adalah suruhan dari ibu mertua Salin.
"Iya, kenal. Saya dulu pernah bekerja disini sebagai asisten rumah tangga. Namun setelah tuan Setu menikah dengan non Salin, saya dipecat oleh ibu mertua non Salin, ibu Sirlina," ucap wanita itu.
Denia bisa melihat di kata wanita itu tak ada kebohongan.
"Dulu saat saya disini, non Salin sering dimarahi oleh ibu mertuanya. Bahkan suaminya juga sering marah padanya. Tapi saya tak tau kenapa. Kasihan non Salin, mbak," ucap bibi itu dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar cerita si bibi, Denia pin percaya. Lalu ia pun menceritakan tentang apa yang terjadi pada Salin sekarang.
Dengan mulut menganga, lalu segera ditutup oleh si bibi berharap tak mengeluarkan suara yang menimbulkan kecurigaan, ia mendengarkan dengan seksama penjelasan Denia.
"Ya Allah, non Salin!" pekik bibi Surti tertahan.
"Bibi bantu saya ya," mohon Denia. Bibi mengawasi sekitar, jangan sampai ada yang lihat kita membantu mbak Salin keluar dari kamar ini. Dan kalau ada yang datang ke sini, bibi harus bisa mengalihkan mereka," titah Denia.
"Baik, mbak." Bi Surti mengangguk setuju.
Denia pun memasuki ruangan tempat dimana kunci duplikat berada, sementara si bibi mengawasi di depan pintu itu dengan sambil berpura-pura mengelap apa saja yang ia temui yang dekat dengan ruangan itu.
Setelah perjuangan Denia berhasil, kini ia ke misi selanjutnya. Membebaskan Salin yang kini disekap di kamar asisten rumah tangga rumah itu.
Sama seperti tadi, bi Surti yang bertugas mengawasi situasi dan kondisi, sementara Denia melancarkan aksinya.
Dengan debaran jantung yang berdegup kencang, sambil berdoa, Denia berharap semua lancar. Dimana tantangan kali ini begitu rumit. Untuk melalui kamar dimana Salin disekap sekarang, ia harus melewati kamar nyonya rumah, tuan Setu, dapur, ruang tamu. Hampir semua depan ruangan itu harus ia lalui.
Dengan mengendap-endap, dengan tangan bergetar menggenggam kunci itu, Denia berjalan perlahan menahan langkah agar tak mengeluarkan suara, Denia kini berada di ruang tamu.
"Aman, mbak," ucap bibi tanpa suara. Dan Denia kebetulan melihatnya.
Keduanya memang berinteraksi untuk misi ini, baik lewat suara atau bahasa tubuh. Atau menggunakan bahasa isyarat.
Setelah mendapat kode dari bibi, Denia pun melancarkan langkah tanpa suaranya.
Kini ia tiba di depan dapur, tepatnya di dekat meja makan. Dan benar kata Salin, saat ini mertua dan suaminya sedang duduk di meja makan, menikmati sarapan pagi yang dimasak oleh bibi.
"Duh, gimana caranya aku lewat?" batin Denia. Ia memutar otak.
Sungguh ia merasa saat ini berada di jalan buntu. Sementara posisi Setu dan ibu Sirlina saat ini saling berhadapan. Bila Denia mundur, maka akan terlihat oleh Setu. Bila ia maju maka akan terlihat oleh ibu Sirlina. Denia merasa Dejavu sekarang. Bagai makan buah simalakama. Maju kena, mundur apa lagi.
"Haruskah aku seperti suster ngesot?" batinnya bertanya. Entah kenapa drama horor Indonesia itu yang terbesit di otaknya sekarang.
Bi Surti pun yang menyaksikan semua itu harap-harap cemas. Satu sisi ia tak mau kehilangan pekerjaannya kalau sampai ia ketahuan. Satu sisi lainnya, Salin kasihan kepada majikan mudanya itu. Ia merasa bahwa salin adalah seorang wanita yang baik. Meski ia belum kenal lama dengan wanita itu.
Lain hal dengan Setu dan ibu Sirlina, ia sudah tau betul watak mereka berdua, yang arogan dan suka seenaknya pada orang lain.
Tak mau kalah dengan Denia yang memutar otak, tapi tak kunjung dapat ide, bi Surti pun memikirkan cara agar misi mereka ini berhasil. Misi untuk membebaskan sang putri dari karantina ibu suri dan pangeran.
Sssst ssssst
Bi Surti memanggil Denia dengan mendesis pelan. Takut ketahuan oleh sang majikan.
Untung saja Denia melihat dan ia pun menoleh.
Ia mengangkat dagu tanda bertanya.
Bi Surti melambaikan tangannya memanggil Denia. Denia pun menghampiri bi Surti.
"Ada apa, bi?" tanyanya berbisik.
Bi Surti pun membisikkan ke telinga Denia apa rencananya.
Setelah itu, Denia mengangguk tanda setuju. Sepertinya ide sang bibi adalah yang terbaik untuk saat ini. Kemudian, kembali Denia ke tempatnya tadi. Lalu disusul bibi dari belakang. Tetapi bibi langsung melewati Denia dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Ma, maaf, nyonya," ucapnya gugup. Ia menghampiri meja makan tempat Setu dan ibu Sirlina berada sekarang.
"Bisa nggak sih jangan mengganggu orang kalau lagi makan?" sergah ibu Sirlina langsung.
"Maaf, nyonya tapi ..." Bibi Surti sambil mengedipkan mata kepada Denia, lalu Denia pun gegas melewati mereka dari sisi yang lain. Kebetulan pandangan ibu Sirlina dan Setu mengarah pada bi Surti.
"Sa-saya mau bertanya. Apakah nyonya mau. .. nambah?" tanyanya gugup. Matanya tetap menatap langkah kaki Denia yang sudah lolos dari tempat itu. Dan kini ia menuju ruang tempat Salin sekarang berada.
"Tambah?" hardik ibu Sirlina. "Kamu mau buat saya gemuk? Hah? Pagi-pagi kamu suruh saya makan?" ucapnya penuh amarah.
Ibu Sirlina merasa selera makannya berkurang seketika.
"Saya hanya ingin...."
"Lancang kamu ya? Berani kamu memerintah saya?" hardik ibu Sirlina.
"Maaf, Bu. Tapi...."
"Aaargh, sudahlah. Saya sudah tak ada selera makan lagi. Ini semua karena kamu ya, Bi. kalau sampai nanti saya sakit kamu tanggung jawab." Ibu Sirlina mengancam.
Ibu Sirlina pun meninggalkan meja makan dengan perasaan dongkol. Entah kenapa, Setu pun mengikuti langkah ibunya.
Hal ini tentu saja membuat bibi Surti merasa senang. Seolah dunia berpihak pada mereka untuk mengeluarkan Salin dari kurungan.
Gegas bi Surti menuju kamar pelayan, untuk memastikan bahwa Salin sudah aman.
"Trimakasih ya, mbak. Lagi-lagi saya ngerepotin, mbak," ucap.
"Sama-sama, mbak. Saya nggak merasa direpotkan kok," jawab wanita berhijab itu sambil tersenyum.
"Ya udah. Tunggu saya. Saya mau beres-beres sebentar. Saya mau menumpang di motor mbak. Saya mau ke kantor. Tak sampai lima menit ya," ucap Salin ngegas.
Lagi-lagi Denia tersenyum. "Siap, mbak," jawabnya.
Lima menit kemudian, mereka pun berangkat bersama, Salin dan Denia. Kini tinggallah Bu Surti di kamar itu dengan alat pembersih di tangannya. Ya, dia akan membersihkan kamar itu, membereskan semua agar tak meninggalkan jejak. Tak lupa ia juga meletakkan kunci duplikat itu kembali pada tempatnya semula.
***
"Nih mbak, aku kasih dobel ya tipsnya. Lagi-lagi mbak Nia sudah menyelamatkan saya. Trimakasih banyak ya," ucapnya tulus. Senyum indah terukir di bibirnya.
"Eh nggak usah, mbak. Saya ikhlas kok."
"Saya mohon diterima ya," ucap Salin memohon.
Flashback 1 and 2 off.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments