Salin turun dari dalam mobil Gita.
"Lho, itu kan mobilnya mas Setu?" gumamnya pelan. "Bukannya mas Setu nggak bisa ikut hadir, lalu kenapa mobilnya ada? Atau saya yang salah lihat."
Karena ragu, ia pun hendak menghampiri mobil itu. Ia ingin memastikan dengan matanya sendiri.
"Lin, ngapain kamu ke sini?"
Belum beberapa langkah, Gita menyeru memanggil namanya. Sontak Salin menghentikan langkahnya.
"Salin, tunggu! Kita masuk bareng ya," pinta Gita.
Salin pun mengurungkan niatnya untuk memeriksa apa benar itu mobil Setu atau tidak. Ada sedikit rasa kecewa karena Gita menghentikan aksinya.
"Iya, Ta," jawab Salin akhirnya.
Gita merangkul lengan Salin, lalu mereka melangkah memasuki gedung megah itu.
"Eh, Lin kamu belum jawab pertanyaan ku tadi. Kamu tadi kenapa duluan pergi? Dan aku lihat kamu mau kemana gitu, emang kamu mau kemana sih, Lin?"
"Ng-nggak kemana kok. Aku tadi mau masuk ke gedung pestanya," sahut Salin tergagap.
"Tapi kok kamu belok ke arah lain? Dan kenapa kamu tidak menunggu aku? Aku kan hanya parkirkan mobil sebentar."
"I-itu..."
"Itu apa, Lin?" tanya Gita kepo.
Gita ini orangnya kepo maksimal. Sebelum ia tau, ia akan bertanya terus dan terus. Salin saja sampai bingung menjawabnya. Rasanya idenya hilang entah kemana padahal tanya Gita sangatlah sederhana.
Bruk
Tiba-tiba ada yang menabrak mereka tanpa sengaja. Mengingat Gita yang bersemangat bertanya pada Salin, ia pun berjalan tanpa fokus. Akhirnya tertabrak seseorang yang baru saja turun dari dalam mobilnya.
"Eh, kalau jalan lihat-lihat dong! Jangan asal tabrak aja," ujar Gita.
Salin senang. Otomatis pikiran Gita teralihkan. Ia bernafas lega karena tidak harus pusing kepala memikirkan apa alasan yang akan ia ungkapkan tentang pertanyaan Gita tadi.
"Sudah nabrak, bukannya minta maaf malah nyerocos," sahut pria itu berseteru dengan Gita.
"Apa Lo bilang? Gue yang nabrak? Nggak salah Lo," cerocos Gita tak kalah sewotnya.
"Ta, sudahlah. Lebih baik sekarang kita masuk," tawar Salin. Ia tak mau ada keributan di parkiran itu yang membuat orang lain pada akhirnya nanti fokus pada mereka.
""Lin, nggak bisa gitu dong. Dia yang salah jadi dia harus minta maaf," kekeh Gita.
"Maaf, mas. Kami minta maaf, kami yang tidak lihat jalan akibat terlalu asyik mengobrol," sela Salin langsung. Ia ingin perdebatan ini segera berakhir. "Maafin teman saya juga ya, mas," mohon Salin.
"Eh, Lin! Kamu apaan sih? Dia yang salah malah kamu yang minta maaf," omel Gita tidak terima.
"Tuh, teman kamu aja tau kalau kalianlah yang salah. Bukan saya," tegas lelaki itu. Ia menyetujui ucapan Salin. "Jadi perempuan lembut sedikit kenapa? Ini malah kasar banget ngomongnya," timpalnya lagi.
"Nyerocos melulu kayak petasan," cibirnya pada Gita.
Lelaki itu terharu dengan kelembutan bicara Salin. Seketika ia terpana, tertancap dalam memori hatinya bahwa perempuan itu adalah gadis yang lembut, baik dan keibuan. Ia ingin sekali mengenalnya lebih dalam lagi.
Menurut lelaki itu, di jama sekarang ini, jaman millenial ini jarang sekali orang punya attitude yang baik. Salah satunya ya seperti teman Salin itu. Sulit mengakui kesalahannya padahal jelas ia salah. Lebih tepatnya gengsi meminta maaf pada orang yang telah ia sakiti.
"Apa kamu bilang? Hah? Mau cari ribut Lo?" hardik Gita.
"Sudahlah, Ta," ucap Salin. Ia mencoba meredam amarah di hati Gita. "Kita kan ke sini mau kondangan. Kok malah berantem sih, malu tau," ucap Salin lagi dengan pelan.
"Mendingan kita masuk saja, siapa tau di dalam ada cowok ganteng, kayak oppa Korea gitu. Kamu kan tau pak Gunawan miliarder. Sudah pasti undangannya pun bukan kaleng-kaleng," bisik Salin di telinga Gita.
Gita terdiam sejenak sambil merenung.
Sengaja Salin menekankan pada oppa-oppa Korea, agar pikiran Gita langsung teralihkan. Gadis yang suka menonton drakor itu langsung tersenyum sumringah. Ia langsung mengabaikan lelaki yang ada di hadapannya itu, yang ia ajak berdebat tadi.
Salin mengambil kesempatan, menarik tangan Gita agar mereka segera memasuki gedung itu. Sebelum itu, ia sudah menunduk menganggukkan kepala kepada lelaki tadi, sebagai tanda ia permisi.
Lelaki itu pun membalas anggukan Salin sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. Tetapi Salin segera menoleh ke arah lain, hingga ia tak melihat senyum itu.
"Gadis yang manis, lembut, cantik dan attitude nya bagus," gumam lelaki itu pelan.
Ia pun mengikuti langkah Salin dan Gita memasuki gedung itu.
Salin dan Gita melangkah pasti memasuki gedung itu. Gedung megah dengan banyak hadirin yang datang menyambut mempelai pria dan wanita yang kini sudah sah menjadi pasangan sehidup semati. Kini tinggal acara resepsi.
"Wow, cantik banget...." seru Gita. "Gaunnya," imbuhnya.
"Dasar ya kamu. Orangnya nggak cantik gitu? Hanya gaunnya doang?" cibir Salin pada Gita.
"Orangnya juga. Hehe." Gita merasa malu karena diledekin oleh Salin. "Kamu senang banget mengganggu ketenangan orang Lin."
"Siapa yang ganggu. Aku ngomong fakta kok. Kamu kan suka gitu."
"Iya deh, kamu yang menang. Udah ah, kamu mah gitu terus sama aku," ucapnya pura-pura cemberut.
"Kita makan eskrim yuk. Aku udah nggak kuat, dari tadi eskrim nya manggil-manggil aku terus," ucapnya tiba-tiba.
Sangat gampang memang melunakkan seorang Gita. Cukup dengan eskrim dua rasa, coklat stroberi, maka mood nya akan kembali normal.
"Kamu aja deh, Ta. Aku disini saja. Nanti kembali ke sini ya. Nggak enak duduk sendirian. Cuma kamu yang kukenal."
"Iya bawel. Nggak Asyik kamu mah. Ita deh, aku pergi "
Dengan cemberut Gita beranjak ke stan eskrim lalu meminta eskrim kesukaannya pada penjaga stan eskrim itu.
"Gita... Gita... Kamu nggak berubah. Kalau sudah ada eskrim dunia rasa milik pribadi," gumam Salin sambil geleng-geleng kepala.
"Kemana sih pak Setu, katanya tadi mau mengenalkan kekasihnya ke kita. Ijinnya ke kamar mandi, eh sampai sekarang malah nggak nongol batang hidungnya," gerutu pria yang duduk di sebelah Salin.
Pria itu berkata kepada temannya yang ada di sebelahnya. Tetapi Salin bisa dengar. Dari penampilan pria itu, dia bukanlah orang sembarangan. Sepertinya seorang pebisnis juga. Salin yakin itu. Mengingat ia sudah bekerja beberapa tahun dulu di perusahaan besar, sudah banyak ia menemui klien bosnya yang penampilannya menyerupai lelaki di sebelahnya itu.
"Iya, benar. Kemana dia? Masa menyusul kekasihnya ke kamar mandi lama banget?" celetuk teman yang di sampingnya.
"Mungkin mereka lagi bercinta kali di kamar mandi," celetuk pria yang lain yang duduk di barisan belakang. Mereka duduk diatas kursi yang mejanya bundar, sambil menikmati hidangan yang tersedia.
Sepertinya beberapa meja itu, mereka adalah satu geng atau teman dekat. Jadi saling meledek, itu hal biasa bagi yang berteman.
"Pria tadi bilang siapa? Mas Setu? Jadi benar mas Setu ke sini? Bawa kekasihnya," gumam Salin penuh tanya.
"Apa mungkin mas Setu yang lain," batinnya.
"Iya, benar, nama Setu kan banyak di dunia ini," batinnya lagi menguatkan diri sendiri. Berusaha untuk berpikir positif, kalau lelaki yang mereka sebutkan bukannya Setu suaminya.
"Ah, memang Setu itu. Tak pernah mengenal tempat. Bercinta aja pakai di kamar mandi segala. Sewa hotel kek," cerocos yang lain.
"Sewa hotel? Mahal bro, Lo tau kan gimana dia. Uangnya aja di handle kekasihnya. Gimana mau sewa hotel," celetuk yang lainnya.
Pria yang awalnya tadi membahas Setu mengangguk setuju.
"Gue setuju. Kalau gue kayak pak Setu, sudah saya putuskan gadis itu. Dia yang capek kerja sebagai direktur perusahaan, ya meski nggak besar sih perusahaannya, tapi kenapa jadi gadis itu yang handle. Toh gadis itu belum jadi istrinya. Kok mau ya pak Setu dijajah gadis itu," timpalnya tak habis pikir dengan Setu.
"Namanya juga cinta, bro. Kayak nggak tau aja," celetuk yang lain.
Salin yang mendengar semua itu bertanya-tanya. Dari semua ucapan mereka, kenapa seolah ia merasa tertuju pada Setu. Dari nama, jabatan, perusahaan, semuanya mengarah pada Setu. Kembali ia meragu.
Tadinya ia coba positif thinking, sekarang malah ragu. Pikirannya bercabang.
"Apa ia mas Setu ada disini? Apa benar mobil tadi milik mas Setu? Apa mas Setu punya kekasih?" Begitu banyak pertanyaan yang menerobos masuk ke dalam benak Salin akibat obrolan para bapak-bapak tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments