Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?

Salin turun dari dalam mobil Gita.

"Lho, itu kan mobilnya mas Setu?" gumamnya pelan. "Bukannya mas Setu nggak bisa ikut hadir, lalu kenapa mobilnya ada? Atau saya yang salah lihat."

Karena ragu, ia pun hendak menghampiri mobil itu. Ia ingin memastikan dengan matanya sendiri.

"Lin, ngapain kamu ke sini?"

Belum beberapa langkah, Gita menyeru memanggil namanya. Sontak Salin menghentikan langkahnya.

"Salin, tunggu! Kita masuk bareng ya," pinta Gita.

Salin pun mengurungkan niatnya untuk memeriksa apa benar itu mobil Setu atau tidak. Ada sedikit rasa kecewa karena Gita menghentikan aksinya.

"Iya, Ta," jawab Salin akhirnya.

Gita merangkul lengan Salin, lalu mereka melangkah memasuki gedung megah itu.

"Eh, Lin kamu belum jawab pertanyaan ku tadi. Kamu tadi kenapa duluan pergi? Dan aku lihat kamu mau kemana gitu, emang kamu mau kemana sih, Lin?"

"Ng-nggak kemana kok. Aku tadi mau masuk ke gedung pestanya," sahut Salin tergagap.

"Tapi kok kamu belok ke arah lain? Dan kenapa kamu tidak menunggu aku? Aku kan hanya parkirkan mobil sebentar."

"I-itu..."

"Itu apa, Lin?" tanya Gita kepo.

Gita ini orangnya kepo maksimal. Sebelum ia tau, ia akan bertanya terus dan terus. Salin saja sampai bingung menjawabnya. Rasanya idenya hilang entah kemana padahal tanya Gita sangatlah sederhana.

Bruk

Tiba-tiba ada yang menabrak mereka tanpa sengaja. Mengingat Gita yang bersemangat bertanya pada Salin, ia pun berjalan tanpa fokus. Akhirnya tertabrak seseorang yang baru saja turun dari dalam mobilnya.

"Eh, kalau jalan lihat-lihat dong! Jangan asal tabrak aja," ujar Gita.

Salin senang. Otomatis pikiran Gita teralihkan. Ia bernafas lega karena tidak harus pusing kepala memikirkan apa alasan yang akan ia ungkapkan tentang pertanyaan Gita tadi.

"Sudah nabrak, bukannya minta maaf malah nyerocos," sahut pria itu berseteru dengan Gita.

"Apa Lo bilang? Gue yang nabrak? Nggak salah Lo," cerocos Gita tak kalah sewotnya.

"Ta, sudahlah. Lebih baik sekarang kita masuk," tawar Salin. Ia tak mau ada keributan di parkiran itu yang membuat orang lain pada akhirnya nanti fokus pada mereka.

""Lin, nggak bisa gitu dong. Dia yang salah jadi dia harus minta maaf," kekeh Gita.

"Maaf, mas. Kami minta maaf, kami yang tidak lihat jalan akibat terlalu asyik mengobrol," sela Salin langsung. Ia ingin perdebatan ini segera berakhir. "Maafin teman saya juga ya, mas," mohon Salin.

"Eh, Lin! Kamu apaan sih? Dia yang salah malah kamu yang minta maaf," omel Gita tidak terima.

"Tuh, teman kamu aja tau kalau kalianlah yang salah. Bukan saya," tegas lelaki itu. Ia menyetujui ucapan Salin. "Jadi perempuan lembut sedikit kenapa? Ini malah kasar banget ngomongnya," timpalnya lagi.

"Nyerocos melulu kayak petasan," cibirnya pada Gita.

Lelaki itu terharu dengan kelembutan bicara Salin. Seketika ia terpana, tertancap dalam memori hatinya bahwa perempuan itu adalah gadis yang lembut, baik dan keibuan. Ia ingin sekali mengenalnya lebih dalam lagi.

Menurut lelaki itu, di jama sekarang ini, jaman millenial ini jarang sekali orang punya attitude yang baik. Salah satunya ya seperti teman Salin itu. Sulit mengakui kesalahannya padahal jelas ia salah. Lebih tepatnya gengsi meminta maaf pada orang yang telah ia sakiti.

"Apa kamu bilang? Hah? Mau cari ribut Lo?" hardik Gita.

"Sudahlah, Ta," ucap Salin. Ia mencoba meredam amarah di hati Gita. "Kita kan ke sini mau kondangan. Kok malah berantem sih, malu tau," ucap Salin lagi dengan pelan.

"Mendingan kita masuk saja, siapa tau di dalam ada cowok ganteng, kayak oppa Korea gitu. Kamu kan tau pak Gunawan miliarder. Sudah pasti undangannya pun bukan kaleng-kaleng," bisik Salin di telinga Gita.

Gita terdiam sejenak sambil merenung.

Sengaja Salin menekankan pada oppa-oppa Korea, agar pikiran Gita langsung teralihkan. Gadis yang suka menonton drakor itu langsung tersenyum sumringah. Ia langsung mengabaikan lelaki yang ada di hadapannya itu, yang ia ajak berdebat tadi.

Salin mengambil kesempatan, menarik tangan Gita agar mereka segera memasuki gedung itu. Sebelum itu, ia sudah menunduk menganggukkan kepala kepada lelaki tadi, sebagai tanda ia permisi.

Lelaki itu pun membalas anggukan Salin sambil tersenyum. Senyumnya manis sekali. Tetapi Salin segera menoleh ke arah lain, hingga ia tak melihat senyum itu.

"Gadis yang manis, lembut, cantik dan attitude nya bagus," gumam lelaki itu pelan.

Ia pun mengikuti langkah Salin dan Gita memasuki gedung itu.

Salin dan Gita melangkah pasti memasuki gedung itu. Gedung megah dengan banyak hadirin yang datang menyambut mempelai pria dan wanita yang kini sudah sah menjadi pasangan sehidup semati. Kini tinggal acara resepsi.

"Wow, cantik banget...." seru Gita. "Gaunnya," imbuhnya.

"Dasar ya kamu. Orangnya nggak cantik gitu? Hanya gaunnya doang?" cibir Salin pada Gita.

"Orangnya juga. Hehe." Gita merasa malu karena diledekin oleh Salin. "Kamu senang banget mengganggu ketenangan orang Lin."

"Siapa yang ganggu. Aku ngomong fakta kok. Kamu kan suka gitu."

"Iya deh, kamu yang menang. Udah ah, kamu mah gitu terus sama aku," ucapnya pura-pura cemberut.

"Kita makan eskrim yuk. Aku udah nggak kuat, dari tadi eskrim nya manggil-manggil aku terus," ucapnya tiba-tiba.

Sangat gampang memang melunakkan seorang Gita. Cukup dengan eskrim dua rasa, coklat stroberi, maka mood nya akan kembali normal.

"Kamu aja deh, Ta. Aku disini saja. Nanti kembali ke sini ya. Nggak enak duduk sendirian. Cuma kamu yang kukenal."

"Iya bawel. Nggak Asyik kamu mah. Ita deh, aku pergi "

Dengan cemberut Gita beranjak ke stan eskrim lalu meminta eskrim kesukaannya pada penjaga stan eskrim itu.

"Gita... Gita... Kamu nggak berubah. Kalau sudah ada eskrim dunia rasa milik pribadi," gumam Salin sambil geleng-geleng kepala.

"Kemana sih pak Setu, katanya tadi mau mengenalkan kekasihnya ke kita. Ijinnya ke kamar mandi, eh sampai sekarang malah nggak nongol batang hidungnya," gerutu pria yang duduk di sebelah Salin.

Pria itu berkata kepada temannya yang ada di sebelahnya. Tetapi Salin bisa dengar. Dari penampilan pria itu, dia bukanlah orang sembarangan. Sepertinya seorang pebisnis juga. Salin yakin itu. Mengingat ia sudah bekerja beberapa tahun dulu di perusahaan besar, sudah banyak ia menemui klien bosnya yang penampilannya menyerupai lelaki di sebelahnya itu.

"Iya, benar. Kemana dia? Masa menyusul kekasihnya ke kamar mandi lama banget?" celetuk teman yang di sampingnya.

"Mungkin mereka lagi bercinta kali di kamar mandi," celetuk pria yang lain yang duduk di barisan belakang. Mereka duduk diatas kursi yang mejanya bundar, sambil menikmati hidangan yang tersedia.

Sepertinya beberapa meja itu, mereka adalah satu geng atau teman dekat. Jadi saling meledek, itu hal biasa bagi yang berteman.

"Pria tadi bilang siapa? Mas Setu? Jadi benar mas Setu ke sini? Bawa kekasihnya," gumam Salin penuh tanya.

"Apa mungkin mas Setu yang lain," batinnya.

"Iya, benar, nama Setu kan banyak di dunia ini," batinnya lagi menguatkan diri sendiri. Berusaha untuk berpikir positif, kalau lelaki yang mereka sebutkan bukannya Setu suaminya.

"Ah, memang Setu itu. Tak pernah mengenal tempat. Bercinta aja pakai di kamar mandi segala. Sewa hotel kek," cerocos yang lain.

"Sewa hotel? Mahal bro, Lo tau kan gimana dia. Uangnya aja di handle kekasihnya. Gimana mau sewa hotel," celetuk yang lainnya.

Pria yang awalnya tadi membahas Setu mengangguk setuju.

"Gue setuju. Kalau gue kayak pak Setu, sudah saya putuskan gadis itu. Dia yang capek kerja sebagai direktur perusahaan, ya meski nggak besar sih perusahaannya, tapi kenapa jadi gadis itu yang handle. Toh gadis itu belum jadi istrinya. Kok mau ya pak Setu dijajah gadis itu," timpalnya tak habis pikir dengan Setu.

"Namanya juga cinta, bro. Kayak nggak tau aja," celetuk yang lain.

Salin yang mendengar semua itu bertanya-tanya. Dari semua ucapan mereka, kenapa seolah ia merasa tertuju pada Setu. Dari nama, jabatan, perusahaan, semuanya mengarah pada Setu. Kembali ia meragu.

Tadinya ia coba positif thinking, sekarang malah ragu. Pikirannya bercabang.

"Apa ia mas Setu ada disini? Apa benar mobil tadi milik mas Setu? Apa mas Setu punya kekasih?" Begitu banyak pertanyaan yang menerobos masuk ke dalam benak Salin akibat obrolan para bapak-bapak tadi.

Episodes
1 Chapter 1. Istri Tak Berguna
2 Chapter 2. Menantu Tak Becus
3 Chapter 3. Istri Durhaka
4 Chapter 4. Teman Tuyul
5 Chapter 5. Apa Salahku, Mas?
6 Chapter 6. Salin Kabur
7 Chapter 7. Dipecat
8 Chapter 8. Jasa Clean Online
9 Chapter 9. Misi Selesai
10 Chapter 10. Ibu Minta Uang
11 Chapter 11. Kasmaran By Phone
12 Chapter 12. Noda Lipstik
13 Chapter 13. Adakah Cinta Untuk Saya?
14 Chapter 14. Perdebatan Yang Hakiki
15 Chapter 15. Mau Ke Pesta
16 Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?
17 Chapter 17. Dia Sepupu Saya
18 Chapter 18. Mempersiapkan Kejutan Untukmu
19 Chapter 19. Seperti ABG
20 Chapter 20. Kena Prank
21 Chapter 21. Lagi, Ibu Minta Uang
22 Chapter 22. Weni ... Weni
23 Chapter 23. Nona's Parfume
24 Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut
25 Chapter 25. Wanita Gampangan
26 Chapter 26. Terbongkar
27 Chapter 27. Alister Galeh Pratama
28 Chapter 28. Aku Dimana?
29 Chapter 29. Ada Yang Kepincut
30 Chapter 30. Masih Sayang
31 Chapter 31. Ceraikan Saja Dia
32 Chapter 32. Tidak Ingin Cerai
33 Chapter 33. Dia Hanya Pembantu
34 Chapter 34. Kecurigaan Stephania
35 Chapter 35. Ancaman Setu
36 Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina
37 Chapter 37. Tega Kamu, Mas
38 Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai
39 Chapter 39. Piala Bergilir
40 Chapter 40. Salin Pingsan
41 Chapter 41. Prove It
42 Chapter 42. Salina Xavier Meninggal
43 Chapter 43. Rumah Sewa
44 Chapter 44. Ada Pelangi Setelah Hujan
45 Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan
46 Chapter 46. Mama Sefarina Pingsan
47 47. Dia (bukan) Anak Kecil
48 Chapter 48. Papa Jahat!
49 Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah
50 Chapter 50. Jaga Diri Baik-baik
51 Chapter 51. POV Alister
52 Chapter 52. Wajar Dia Selingkuh
53 Chapter 53. Karena Aku Bosnya
54 Chapter 54. Rindu Salin
55 Chapter 55. Aku Hamil, Mas.
56 Chapter 56. Pikirkan Matang-matang
57 Chapter 57. Aku Kangen Banget Sama Kamu
58 Chapter 58. Jangan Salah Paham
59 Chapter 59. Saling Menatap
60 Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi
61 Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!
62 Chapter 62. Orang Yang Sama
63 Chapter 63. Hancur Sehancur-hancurnya
64 Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung
65 Chapter 65. Kerjasama
66 Chapter 66. Tentang Pertunangan Ardan
67 Chapter 67. Saya Ikhlas
68 Chapter 68. Hanya Dia?
69 Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha
70 Chapter 70. D'resto (mini hotel)
71 Chapter 71. Bertemu Mantan
72 Chapter 72. Misi Penyelamatan
73 Chapter 73. Dugaan Stephania
74 Chapter 74. Mengulang Kembali
75 Chapter 75. Rencana Papa Sande
76 Chapter 76. Ardan Hilang Kontak
77 Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit
78 Chapter 78. Keras Kepala
79 Chapter 79. Papa Sande Drop
80 Chapter 80. Yang Waras Mengalah
81 Chapter 81. Kamu Tidak Mengerti Bahasa Indonesia?
82 Chapter 82. Penyesalan Papa Sande
83 83. Calon Papa Mertua
84 Chapter 84. Saling Menguatkan
85 Chapter 85. Ulang Tahun Oma
86 Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2
87 Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi
88 Chapter 88. Mau Kemana Kamu?
89 Chapter 89. Ada Yang Luka?
90 Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan
91 Chapter 91. Buta, tapi Melihat
92 Chapter 92. Kebutaan Senja
93 Chapter 93. Salin Hilang
94 Chapter 94. Kita Akan Menikah
95 Chapter 95. Perih
96 Chapter 96. Brother Daniel
97 Chapter 97. Menangis
98 Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar
99 Chapter 99. Mencintaimu Dalam Hati
100 Chapter 100. Stephania ingin Bicara
101 Chapter 101. Keputusan Stephania.
102 Chapter 102. Janji Suci
103 Chapter 103. Lamaran Ditolak
104 Chapter 104. Cium Cium Cium (Last Chapter)
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Chapter 1. Istri Tak Berguna
2
Chapter 2. Menantu Tak Becus
3
Chapter 3. Istri Durhaka
4
Chapter 4. Teman Tuyul
5
Chapter 5. Apa Salahku, Mas?
6
Chapter 6. Salin Kabur
7
Chapter 7. Dipecat
8
Chapter 8. Jasa Clean Online
9
Chapter 9. Misi Selesai
10
Chapter 10. Ibu Minta Uang
11
Chapter 11. Kasmaran By Phone
12
Chapter 12. Noda Lipstik
13
Chapter 13. Adakah Cinta Untuk Saya?
14
Chapter 14. Perdebatan Yang Hakiki
15
Chapter 15. Mau Ke Pesta
16
Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?
17
Chapter 17. Dia Sepupu Saya
18
Chapter 18. Mempersiapkan Kejutan Untukmu
19
Chapter 19. Seperti ABG
20
Chapter 20. Kena Prank
21
Chapter 21. Lagi, Ibu Minta Uang
22
Chapter 22. Weni ... Weni
23
Chapter 23. Nona's Parfume
24
Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut
25
Chapter 25. Wanita Gampangan
26
Chapter 26. Terbongkar
27
Chapter 27. Alister Galeh Pratama
28
Chapter 28. Aku Dimana?
29
Chapter 29. Ada Yang Kepincut
30
Chapter 30. Masih Sayang
31
Chapter 31. Ceraikan Saja Dia
32
Chapter 32. Tidak Ingin Cerai
33
Chapter 33. Dia Hanya Pembantu
34
Chapter 34. Kecurigaan Stephania
35
Chapter 35. Ancaman Setu
36
Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina
37
Chapter 37. Tega Kamu, Mas
38
Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai
39
Chapter 39. Piala Bergilir
40
Chapter 40. Salin Pingsan
41
Chapter 41. Prove It
42
Chapter 42. Salina Xavier Meninggal
43
Chapter 43. Rumah Sewa
44
Chapter 44. Ada Pelangi Setelah Hujan
45
Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan
46
Chapter 46. Mama Sefarina Pingsan
47
47. Dia (bukan) Anak Kecil
48
Chapter 48. Papa Jahat!
49
Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah
50
Chapter 50. Jaga Diri Baik-baik
51
Chapter 51. POV Alister
52
Chapter 52. Wajar Dia Selingkuh
53
Chapter 53. Karena Aku Bosnya
54
Chapter 54. Rindu Salin
55
Chapter 55. Aku Hamil, Mas.
56
Chapter 56. Pikirkan Matang-matang
57
Chapter 57. Aku Kangen Banget Sama Kamu
58
Chapter 58. Jangan Salah Paham
59
Chapter 59. Saling Menatap
60
Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi
61
Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!
62
Chapter 62. Orang Yang Sama
63
Chapter 63. Hancur Sehancur-hancurnya
64
Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung
65
Chapter 65. Kerjasama
66
Chapter 66. Tentang Pertunangan Ardan
67
Chapter 67. Saya Ikhlas
68
Chapter 68. Hanya Dia?
69
Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha
70
Chapter 70. D'resto (mini hotel)
71
Chapter 71. Bertemu Mantan
72
Chapter 72. Misi Penyelamatan
73
Chapter 73. Dugaan Stephania
74
Chapter 74. Mengulang Kembali
75
Chapter 75. Rencana Papa Sande
76
Chapter 76. Ardan Hilang Kontak
77
Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit
78
Chapter 78. Keras Kepala
79
Chapter 79. Papa Sande Drop
80
Chapter 80. Yang Waras Mengalah
81
Chapter 81. Kamu Tidak Mengerti Bahasa Indonesia?
82
Chapter 82. Penyesalan Papa Sande
83
83. Calon Papa Mertua
84
Chapter 84. Saling Menguatkan
85
Chapter 85. Ulang Tahun Oma
86
Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2
87
Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi
88
Chapter 88. Mau Kemana Kamu?
89
Chapter 89. Ada Yang Luka?
90
Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan
91
Chapter 91. Buta, tapi Melihat
92
Chapter 92. Kebutaan Senja
93
Chapter 93. Salin Hilang
94
Chapter 94. Kita Akan Menikah
95
Chapter 95. Perih
96
Chapter 96. Brother Daniel
97
Chapter 97. Menangis
98
Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar
99
Chapter 99. Mencintaimu Dalam Hati
100
Chapter 100. Stephania ingin Bicara
101
Chapter 101. Keputusan Stephania.
102
Chapter 102. Janji Suci
103
Chapter 103. Lamaran Ditolak
104
Chapter 104. Cium Cium Cium (Last Chapter)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!