Chapter 4. Teman Tuyul

"Sssst..." Seseorang memberi kode pada Salin.

Salin lalu menoleh.

"Dari sebelah sana!" ucap orang itu dengan gerakan bibir. Berharap Salin dapat mengerti maksud si wanita itu.

Salin mengernyit heran.

"Apa?" katanya bersuara.

Lalu wanita yang memberi kode padanya menepuk jidatnya. "Aduh, kok malah bersuara sih?" batinnya. Ketahuan kan," imbuhnya di hati. Wanita itu menyesali ketidak mengertian Salin tentang kode yang ia beri.

"Kamu .."

Terdengar suara bass seorang laki-laki yang sangat Salin kenal suaranya. Karena suara itu sudah familiar di telinganya.

"Sa-saya, tuan?" tanyanya terbata. Ia menunjuk dengan telunjuknya pada dirinya sendiri, seraya menghentikan langkahnya yang hendak duduk di tempatnya.

"Iya kamu. Siapa lagi?"

"Ada apa ya, tuan?" tanya Salin tidak mengerti.

"Jam berapa ini? Kenapa baru sampai? Kamu mengira perusahaan ini punya nenek moyang kami?" ujar lelaki itu sarkasme.

"Saya .."

"Enak saja sesuka kamu masuk. Saya saja yang jadi CEO tidak pernah terlambat seperti kamu. Kok kamu malah main seenaknya saja," cibir lelaki itu.

Dia CEO di perusahaan itu. Dia bernama Daniel Alfaro. Seorang pria yang hampir saja menginjak usia tiga puluh tahun tetapi masih setia menyendiri. Sampai saat ini belum ada isu yang mengabarkan kalau dia pernah jalan bersama seorang wanita.

"Kamu tau kan jadwal saya hari ini?"

"I-iya, tuan." Salin menunduk takut. Ia sadar ia sudah terlambat. Meski memang hanya beberapa menit saja. Tetapi bagi seorang Daniel itu sudah sangat fatal. Karena dia selalu menerapkan sikap disiplin waktu pada pekerjanya. Katanya waktu sangat berharga. Terlambat lima menit saja ia akan kehilangan uang sebesar lima miliar.

Bisakah anda bayangkan sekaya apa Daniel Alfaro? Entahlah, entah berapa digit angka nol pada yang ada dalam brangkasnya.

"Gara-gara kamu terlambat, saya kehilangan 10 miliar saya. Bisa kamu ganti itu? Bahkan dengan gaji tiga tahun mu saja, kamu tak kan sanggup membayarnya." Daniel tersenyum getir.

"Saya tidak suka pekerja saya tidak disiplin. Terutama waktu. Hari ini, kamu saya beri SP 1?"

"Apa, tuan?"

"Belum jelas ucapan saya?" hardik Daniel.

"Apa kamu pikir perusahaan ini sebuah lelucon?"

"Maaf, tuan. Saya tidak akan mengulangi lagi. Saya akan lebih berusaha, tuan."

"Saya beri kamu kesempatan. Karena ia pertama kalinya kamu membuat kesalahan."

"Trimakasih, tuan. Saya akan bekerja lebih baik lagi," ucap Salin pelan. Ia merasa lega. Walau ia mendapat SP 1, tapi setidaknya ia tidak di pecat.

"Kembali ke mejamu dan schedule semua kegiatan saya!" titahnya tegas.

"Baik, tuan."

"Dan ingat," tambahnya.

"Iya, tuan?"

"Saya tidak mau ada kesalahan walau sedikit pun. Ingat baik-baik!"

"Baik, tuan," sahut Salin kembali sembari menunduk memberi hormat.

Sementara di kediaman Setu

Ceklek

Wanita paruh baya itu membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati. Ia bermaksud ingin memergoki Salin. Apakah pekerjaannya sudah beres atau belum.

"Kemana dia," gumam ibu Sirlina pelan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu. Tak ia temukan keberadaan Salin.

"Rapi banget?" tanya batinnya. Secepat ini salin membereskan semuanya?" tanyanya keheranan. Pandangan mata ibu Sirlina lamat-lamat pada seluruh ruangan yang ia sudah kerjakan pagi subuh tadi. Sengaja ia, seakan-akan kamarnya memang berantakan bak kapal pecah.

Namun dalam sekejap, rapi seketika oleh ulah Salin menantunya. Hal itu tentu saja membuat ibu Sirlina bertanya-tanya.

Perlahan, dengan langkah tanpa suara, ibu Sirlina berjalan ke arah walk in closed.

"Salin, sudah sele...."

Hampir saja ia mengeluarkan suara menggelegar nya. Tetapi urung karena ternyata salin tak ada juga di sana.

"Dimana wanita itu?" tanyanya pada diri sendiri.

"Ah, mungkin di kamar mandi. Tadi kan aku suruh juga bersihkan kamar mandi," gumamnya lagi.

Lagi-lagi, ibu Sirlina serasa di prank oleh Salin. Ia tak ada di dalam kamar mandi itu. Dan lagi-lagi, ibu Sirlina terpana dengan kondisi kamar mandi yang begitu wangi, dan bersih mengkilap.

"Wangi banget," ucapnya pelan.

"Tapi kok bisa ya Salin ngerjainnya cepat banget? Kan tangannya cuma ada dua. Apa ia, dia punya teman tuyul yang bisa ngebantuin? Ah nggak mungkin. Kayak dongeng aja. Zaman sekarang mah mana ada tuyul," ucap ibu Sirlina menerka-nerka.

Saking wanginya kamar mandi itu, ibu Sirlina merasa nyaman ada di dalamnya.

"Jadi pengen berendam," ucapnya.

Gegas ia mengisi bak mandi, menaburi bathtub itu dengan aroma terapi yang bisa memabukkan. Bermaksud ingin bermanja pada tubuhnya sendiri.

Hampir satu jam ibu Sirlina berendam dalam bathtub itu. Menggunakan waktu yang panjang untuk memanjakan diri, mumpung hanya dia seorang penghuni mansion itu. Karena Setu dan Salin sedang pergi bekerja ke perusahaan yang berbeda tentunya.

Beberapa saat kemudian, ibu Sirlina pun menuju ke ruang santai. Ia selonjorkan kaki sambil menonton di ponselnya.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

"Setu, ngapain dia nelpon," gumamnya.

"Halo, nak. Ada apa?" tanyanya to the point.

"Bu, Salin ada nggak?"

"Nggak ada. Kenapa memangnya?"

"Kok nggak ada sih, Bu?"

"Kamu gimana sih, nak? Ya seperti biasalah. Dia kan pergi kerja."

"Telepon Salin, Bu. Suruh antar berkas aku yang tertinggal. Aku letak di meja kamar, Bu."

"Kenapa bukan kamu yang telepon?" Ibu Sirlina mengerutkan dahi.

"Ponsel aku tinggal Bu, di rumah. Sekalian bilang ke dia bawa ponsel ku. Ini aku pake telpon kantor. Buruan ya, Bu!"

"Makanya, suruh tuh istri kamu itu biar nggak usah kerja. Begini kan jadinya kalau dia kerja. Nggak bisa ngelayanin kamu," gerutu ibu Sirlina.

"Sudah, Bu. Dia nya aja yang ngeyel. Nggak mau dengerin apa kata suami. Ya udah, Bu. Cepetan! Itu berkas penting banget, buat ditandatangani klien."

"Iya iya," sahut ibu Sirlina kesal.

Dengan malas ibu Sirlina menghubungi nomor Salin. Hingga tiga kali panggilan tak jua diangkat.

"Ini lagi Salin. Kemana sih? Sok sibuk banget?" omelnya.

Ibu Sirlina mengulang kembali memanggil Salin melalui panggilan telepon.

"Halo, Bu."

"Heh, kamu dari mana saja sih? Kenapa susah banget di telpon? Kayak orang penting aja, kayak kamu aja yang bosnya disana."

Ibu Sirlina mengomeli Salin panjang kali lebar. Tanpa ingin tau apa yang terjadi kepada menantunya itu.

Karena tak ada respon dari Salin, ibu Sirlina pun melanjutkan.

"Antar berkas Setu ke kantornya! Sekarang!"

"Tapi, Bu. Salin lagi kerja. Ini aja Salin sedang diob...."

"Ibu nggak kau tau. Ibu hanya menyampaikan pesan suamimu. Berkas itu harus ditandatangani oleh kliennya sekarang juga. Cepetan!"

Tuuuut tuuuut tuuuut

Panggilan itupun berakhir sepihak. Tanpa mau mendengarkan keluhan Salin.

"Mas Setu gimana sih? Berkasnya ketinggalan kenapa harus aku yang antar. Aku kan lagi kerja. Baru juga kena ultimatum dari bos. Udah kena SP satu lagi. Duh, gimana dong," gerutunya.

Episodes
1 Chapter 1. Istri Tak Berguna
2 Chapter 2. Menantu Tak Becus
3 Chapter 3. Istri Durhaka
4 Chapter 4. Teman Tuyul
5 Chapter 5. Apa Salahku, Mas?
6 Chapter 6. Salin Kabur
7 Chapter 7. Dipecat
8 Chapter 8. Jasa Clean Online
9 Chapter 9. Misi Selesai
10 Chapter 10. Ibu Minta Uang
11 Chapter 11. Kasmaran By Phone
12 Chapter 12. Noda Lipstik
13 Chapter 13. Adakah Cinta Untuk Saya?
14 Chapter 14. Perdebatan Yang Hakiki
15 Chapter 15. Mau Ke Pesta
16 Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?
17 Chapter 17. Dia Sepupu Saya
18 Chapter 18. Mempersiapkan Kejutan Untukmu
19 Chapter 19. Seperti ABG
20 Chapter 20. Kena Prank
21 Chapter 21. Lagi, Ibu Minta Uang
22 Chapter 22. Weni ... Weni
23 Chapter 23. Nona's Parfume
24 Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut
25 Chapter 25. Wanita Gampangan
26 Chapter 26. Terbongkar
27 Chapter 27. Alister Galeh Pratama
28 Chapter 28. Aku Dimana?
29 Chapter 29. Ada Yang Kepincut
30 Chapter 30. Masih Sayang
31 Chapter 31. Ceraikan Saja Dia
32 Chapter 32. Tidak Ingin Cerai
33 Chapter 33. Dia Hanya Pembantu
34 Chapter 34. Kecurigaan Stephania
35 Chapter 35. Ancaman Setu
36 Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina
37 Chapter 37. Tega Kamu, Mas
38 Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai
39 Chapter 39. Piala Bergilir
40 Chapter 40. Salin Pingsan
41 Chapter 41. Prove It
42 Chapter 42. Salina Xavier Meninggal
43 Chapter 43. Rumah Sewa
44 Chapter 44. Ada Pelangi Setelah Hujan
45 Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan
46 Chapter 46. Mama Sefarina Pingsan
47 47. Dia (bukan) Anak Kecil
48 Chapter 48. Papa Jahat!
49 Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah
50 Chapter 50. Jaga Diri Baik-baik
51 Chapter 51. POV Alister
52 Chapter 52. Wajar Dia Selingkuh
53 Chapter 53. Karena Aku Bosnya
54 Chapter 54. Rindu Salin
55 Chapter 55. Aku Hamil, Mas.
56 Chapter 56. Pikirkan Matang-matang
57 Chapter 57. Aku Kangen Banget Sama Kamu
58 Chapter 58. Jangan Salah Paham
59 Chapter 59. Saling Menatap
60 Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi
61 Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!
62 Chapter 62. Orang Yang Sama
63 Chapter 63. Hancur Sehancur-hancurnya
64 Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung
65 Chapter 65. Kerjasama
66 Chapter 66. Tentang Pertunangan Ardan
67 Chapter 67. Saya Ikhlas
68 Chapter 68. Hanya Dia?
69 Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha
70 Chapter 70. D'resto (mini hotel)
71 Chapter 71. Bertemu Mantan
72 Chapter 72. Misi Penyelamatan
73 Chapter 73. Dugaan Stephania
74 Chapter 74. Mengulang Kembali
75 Chapter 75. Rencana Papa Sande
76 Chapter 76. Ardan Hilang Kontak
77 Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit
78 Chapter 78. Keras Kepala
79 Chapter 79. Papa Sande Drop
80 Chapter 80. Yang Waras Mengalah
81 Chapter 81. Kamu Tidak Mengerti Bahasa Indonesia?
82 Chapter 82. Penyesalan Papa Sande
83 83. Calon Papa Mertua
84 Chapter 84. Saling Menguatkan
85 Chapter 85. Ulang Tahun Oma
86 Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2
87 Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi
88 Chapter 88. Mau Kemana Kamu?
89 Chapter 89. Ada Yang Luka?
90 Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan
91 Chapter 91. Buta, tapi Melihat
92 Chapter 92. Kebutaan Senja
93 Chapter 93. Salin Hilang
94 Chapter 94. Kita Akan Menikah
95 Chapter 95. Perih
96 Chapter 96. Brother Daniel
97 Chapter 97. Menangis
98 Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar
99 Chapter 99. Mencintaimu Dalam Hati
100 Chapter 100. Stephania ingin Bicara
101 Chapter 101. Keputusan Stephania.
102 Chapter 102. Janji Suci
103 Chapter 103. Lamaran Ditolak
104 Chapter 104. Cium Cium Cium (Last Chapter)
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Chapter 1. Istri Tak Berguna
2
Chapter 2. Menantu Tak Becus
3
Chapter 3. Istri Durhaka
4
Chapter 4. Teman Tuyul
5
Chapter 5. Apa Salahku, Mas?
6
Chapter 6. Salin Kabur
7
Chapter 7. Dipecat
8
Chapter 8. Jasa Clean Online
9
Chapter 9. Misi Selesai
10
Chapter 10. Ibu Minta Uang
11
Chapter 11. Kasmaran By Phone
12
Chapter 12. Noda Lipstik
13
Chapter 13. Adakah Cinta Untuk Saya?
14
Chapter 14. Perdebatan Yang Hakiki
15
Chapter 15. Mau Ke Pesta
16
Chapter 16. Apa Mas Setu Yang Lain?
17
Chapter 17. Dia Sepupu Saya
18
Chapter 18. Mempersiapkan Kejutan Untukmu
19
Chapter 19. Seperti ABG
20
Chapter 20. Kena Prank
21
Chapter 21. Lagi, Ibu Minta Uang
22
Chapter 22. Weni ... Weni
23
Chapter 23. Nona's Parfume
24
Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut
25
Chapter 25. Wanita Gampangan
26
Chapter 26. Terbongkar
27
Chapter 27. Alister Galeh Pratama
28
Chapter 28. Aku Dimana?
29
Chapter 29. Ada Yang Kepincut
30
Chapter 30. Masih Sayang
31
Chapter 31. Ceraikan Saja Dia
32
Chapter 32. Tidak Ingin Cerai
33
Chapter 33. Dia Hanya Pembantu
34
Chapter 34. Kecurigaan Stephania
35
Chapter 35. Ancaman Setu
36
Chapter 36. Agnesrani Anantha Pradina
37
Chapter 37. Tega Kamu, Mas
38
Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai
39
Chapter 39. Piala Bergilir
40
Chapter 40. Salin Pingsan
41
Chapter 41. Prove It
42
Chapter 42. Salina Xavier Meninggal
43
Chapter 43. Rumah Sewa
44
Chapter 44. Ada Pelangi Setelah Hujan
45
Chapter 45. Cerita Setu Yang Menyakitkan
46
Chapter 46. Mama Sefarina Pingsan
47
47. Dia (bukan) Anak Kecil
48
Chapter 48. Papa Jahat!
49
Chapter 48. Sampah Kembali Kepada Sampah
50
Chapter 50. Jaga Diri Baik-baik
51
Chapter 51. POV Alister
52
Chapter 52. Wajar Dia Selingkuh
53
Chapter 53. Karena Aku Bosnya
54
Chapter 54. Rindu Salin
55
Chapter 55. Aku Hamil, Mas.
56
Chapter 56. Pikirkan Matang-matang
57
Chapter 57. Aku Kangen Banget Sama Kamu
58
Chapter 58. Jangan Salah Paham
59
Chapter 59. Saling Menatap
60
Chapter 60. Kejutan Bertubi-tubi
61
Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!
62
Chapter 62. Orang Yang Sama
63
Chapter 63. Hancur Sehancur-hancurnya
64
Chapter 64. Lebih Baik Tanya Langsung
65
Chapter 65. Kerjasama
66
Chapter 66. Tentang Pertunangan Ardan
67
Chapter 67. Saya Ikhlas
68
Chapter 68. Hanya Dia?
69
Chapter 69. Kencan Ala Ardan dan Nantha
70
Chapter 70. D'resto (mini hotel)
71
Chapter 71. Bertemu Mantan
72
Chapter 72. Misi Penyelamatan
73
Chapter 73. Dugaan Stephania
74
Chapter 74. Mengulang Kembali
75
Chapter 75. Rencana Papa Sande
76
Chapter 76. Ardan Hilang Kontak
77
Chapter 77. Papa Sande Masuk Rumah Sakit
78
Chapter 78. Keras Kepala
79
Chapter 79. Papa Sande Drop
80
Chapter 80. Yang Waras Mengalah
81
Chapter 81. Kamu Tidak Mengerti Bahasa Indonesia?
82
Chapter 82. Penyesalan Papa Sande
83
83. Calon Papa Mertua
84
Chapter 84. Saling Menguatkan
85
Chapter 85. Ulang Tahun Oma
86
Chapter 86. Ulang Tahun Oma Part 2
87
Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi
88
Chapter 88. Mau Kemana Kamu?
89
Chapter 89. Ada Yang Luka?
90
Chapter 90. Nona Rebecca, Tuan
91
Chapter 91. Buta, tapi Melihat
92
Chapter 92. Kebutaan Senja
93
Chapter 93. Salin Hilang
94
Chapter 94. Kita Akan Menikah
95
Chapter 95. Perih
96
Chapter 96. Brother Daniel
97
Chapter 97. Menangis
98
Chapter 98. Wanita yang Kuat dan Tegar
99
Chapter 99. Mencintaimu Dalam Hati
100
Chapter 100. Stephania ingin Bicara
101
Chapter 101. Keputusan Stephania.
102
Chapter 102. Janji Suci
103
Chapter 103. Lamaran Ditolak
104
Chapter 104. Cium Cium Cium (Last Chapter)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!