Ancol

Alena dan Leo seperti anak kembar yang di temani oleh ke dua Kakak nya untuk pergi ke pantai. Di belakang Alena dan Leo ada Al dan El, yang membawa banyak makanan.

"Alena, katakan pada ku kenapa kita membawa banyak makanan kesini, padahal jika mau makan kita bisa beli disini" tukas El yang terlihat kesal, menenteng dua plastik kresek di tangan.

"Tunggu Tuan muda, nanti anda juga akan tahu"

"Sini biar aku bantu" lanjut Alena, dan itu membuat El senang, namun ternyata Alena hanya mengambil kantong plastik yang ada di tangan Al.

"Alena!" teriak El yang semakin kesal, mereka bertiga hanya tertawa saja melihat El yang kesal. Belum ada orang yang berani memperlakukan El begitu, Alena lah orang pertama yang bertindak seperti itu.

"Tuan muda, anda bertiga boleh main sepuas nya, dan ingat jangan terpisah oke !" Alena mengambil semua belanjaan di tangan El dan menyimpan nya bersama dengan dia.

"Jadi kami udah boleh main?" tanya Leo,

"Iya, tapi ingat jangan jauh - jauh, dan jangan terpisah, kalian harus tetap bersama, aku akan memantau kalian dari sini"

"Oke siap bos" sahut mereka bertiga, terlihat Leo yang senang baru pertama kali datang ke tempat itu, dan Al dan El juga ikut bermain.

Melihat mereka yang bermain, Alena pun menyatukan semua belanjaan, dan membawa nya pergi.

Sejumlah pengemis terlihat berada di depan gerbang Wihara Bahtera Bhakti, Ancol. Mereka terlihat duduk beralaskan kardus bekas dan membawa plastik.

Itu lah tujuan Alena membawa sedikit makanan untuk mereka, Alena memberikan semua belanjaan di tangan nya kepada pengemis, setelah itu baru ia kembali bersama dengan mereka bertiga.

"Alena ayo main bersama " teriak Leo yang sedang main bebek di laut, dan ada Al yang berjemur di pantai, El yang duduk sembari memegang kelapa, entah dari mana di dapat nya.

"Iya tunggu!" Alena langsung berjalan ke arah Leo, dan mereka berdua terlihat begitu asik memainkan air, tanpa sadar Al dan El memperhatikan mereka.

"Ternyata Alena tidak seburuk yang ku kira" ujar El, Al langsung berbalik dan menatap adik nya itu.

"Apa yang salah dengan mu, bukan kah kamu sangat membenci nya"

"Iya awal nya ku membenci nya, apalagi apa tahu dia akan di nikahi oleh Papa membuat aku semakin marah"

"Tapi nyata nya itu 'kan hanya salah paham"

"Iya"

Mereka kembali menatap Leo dan Alena bermain begitu puas.

"Haaah, capek!" keluh Alena yang duduk di tepi pantai di depan Al dan El, dan di susul oleh Leo, dengan membawa bebek bersama dengan nya.

"Laper!" Leo terlihat begitu lelah.

"Dimana kresek kita?" tanya Al.

"Oh, itu sudah aku bagikan untuk pengemis!" jawab Alena.

"APA?" mereka bertiga terlihat begitu terkejut, mendengar ucapan Alena.

"Alena, aku laper kenapa kau memberikan nya kepada orang lain" ketus Leo yang kesal.

"Kita bisa memesan mie ayam di luar sini, ada warung mie ayam terdekat, ayo kita pergi" ajak Alena, meski terdengar tidak senikmat makanan di restoran, namun mereka tahu itu bisa mengganjal perut mereka yang lapar.

Tiba di warung mie ayam, Al dan El serta Leo ragu untuk masuk, tempat nya sangat sederhana, dan mereka bertiga belum pernah ke tempat itu.

"Ada apa? kalian tidak lapar lagi?" tanya Alena, melihat ke arah mereka yang hanya diam saja.

"Kamu yakin disini?"

"Iya, ayo masuk"

Akhirnya Alena memaksa mereka bertiga untuk masuk ke dalam warung. Alena membantu mereka untuk memesan Mie ayam pangsit.

Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, pesanan mereka tiba, Alena mengajari mereka cara memakan Mie tersebut, dan memberikan mereka sumpit.

"Eemmm, enak!" ucap Leo, setelah mencicipi sedikit Mie yang ada di mangkuk nya, mendengar itu, Al dan El langsung mencoba, dan benar saja mereka juga menyukai nya.

"Ternyata benar - benar enak" El sangat bersemangat menghabiskan Mie yang ada di depan nya.

"Kalau kalian mau, kalian bisa memesan lebih dari satu" tukas Alena,

"Aku mau nambah kak" sahut Leo, Al mengiyakan nya, lalu mie ke dua milik Leo tiba dan pria ini sangat menikmati nya.

Satu jam berlalu, Leo telah menghabiskan tiga mangkuk mie, dan itu membuat dia terlalu kenyang dan mengelus - elus perut nya.

"Liat lah, dia sangat senang, Alena jujur kami belum pernah makan makanan di pinggir jalan seperti ini, dan ini pertama kali nya" pungkas El.

"Padahal makan di pinggir jalan begini, tanpa sengaja kalian sudah membantu pedagang kecil, dari hasil pembelian kalian mereka bertahan hidup, kalian perlu memperhatikan orang - orang kecil seperti mereka, satu mangkuk mie yang kalian beli, kalian sudah membantu mereka sedikit" tukas Alena.

"Tidak semua pedagang pinggir jalan itu miskin, ada juga yang sudah sangat kaya dari hasil jualan mereka" ujar Al, yang tersenyum ke arah Alena.

"Benar, kalian juga kalau mau bantu orang harus liat - liat, siapa yang mau kalian bantu, liat mereka, mereka itu perlu kalian bantu jika bertemu di jalan, memberi sedekah tidak akan membuat kalian miskin" ketiga Tuan muda mengikuti arah penglihatan Alena, dan ada dua anak - anak yang sedang berdiri mereka adalah pengemis di sekitar tempat itu.

"Alena dimana toilet, aku ingin ke toilet, kebelet pipis" bisik Leo,

"Ada di sebelah sana, mau ku antar?"

"Tidak usah, aku bisa sendiri" Leo langsung berdiri menuju toilet, Al meminta pelayan untuk memberikan dua bungkus mie ayam untuk anak -anak pengemis itu.

El langsung berdiri untuk membayar semua pesanan mereka. Setelah semua selesai, mereka kembali ke mobil, dan menunggu Leo.

"Dimana Leo, kenapa lama sekali?" tanya Al, yang sedari tadi menunggu sang adik, tapi belum kembali juga.

"Mungkin nyasar!" timpal El,

"Tidak mungkin aku mengirim pesan untuk nya, menyuruh dia langsung ke tempat parkir"

"Kalian tunggu disini, aku akan mencari nya" Alena langsung turun dari mobil, dan pergi mencari Leo di toilet.

Tiba Alena di depan toilet, dia tidak menemukan ada nya Leo, dan itu membuat Alena panik, dan langsung keluar dari tempat itu dan mencari Leo di sekitar warung mie ayam.

"Alena, dimana Leo?" tanya Al saat melihat Alena hanya kembali sendiri.

"Aku sudah mencari nya, tapi tidak ketemu. Coba Tuan muda Al menelpon Leo, aku sangat lelah!"

"Tunggu aku akan mengubungi nya"

Al segera menghubungi Leo, namun panggilan Al tidak terjawab, dan itu membuat Al dan El serta Alena khawatir.

"Ayo kita cari Leo" ajak El yang turun dari mobil.

"Tunggu!" Alena menghentikan Al dan El, lalu melihat ke arah Leo, yang sedang membeli permen kapas terlihat Leo sangat senang memakan makanan kapas itu.

"Itu Leo, kita sudah panik, dia malah pergi membeli itu" cetus El, yang memperhatikan adik nya.

"Tunggu disini saja" timpal Al yang ingin masuk kembali ke mobil.

"Baiklah kita tunggu disini" Alena pun ingin membuka pintu mobil.

Braakk..!

Suara benturan yang begitu keras mengejutkan mereka bertiga, Al dan El langsung menoleh, begitu juga Alena, mereka semua terkejut, mendengar suara itu, ternyata sebuah kecelakaan, dan mereka melihat permen kapas yang tadi di tangan Leo terjatuh di aspal.

"Leo!" teriak mereka bertiga, dan mereka langsung lari ke tempat kejadian.

Terpopuler

Comments

Bambang Setyo

Bambang Setyo

Weh siapa ini yg kecelakaan.. Apa leo ketabrak kendaraan..

2023-03-27

0

ria

ria

semoga leo baik baik saja..

2023-03-26

0

Dewi Sumarni

Dewi Sumarni

semoga bkn leo yg tertabrk klau g kshn alena nnti d amuk sm xan,,, d tnggu up ny ok

2023-03-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!