Pagi Buta

Pagi - pagi buta, semua orang sudah berada di meja makan, kecuali Leo, Xan melihat kursi Leo yang kosong.

"Dimana Leo?"

"Masih tidur" jawab Alena enteng.

"Kenapa enggak kau bangunin?"

"Dia semalaman enggak tidur!" ujar Alena masih dengan santai nya, Xan menaikan alis, masih belum mengerti apa yang di katakan Alena.

"Tidak tidur?" ulang El, menatap tajam ke arah Alena, mereka bertiga saling pandangan satu sama lain, entah apa yang telah di perbuat Alena kepada Leo, sehingga membuat Leo, tidak tidur semalam.

Namun, berbeda dengan Al, ia menatap Alena pagi ini dengan senyuman, apalagi sudut bibir Alena yang terkotor oleh selai coklat saat memakan roti.

"Alena" panggil Al, semua orang menghentikan sarapan nya, bukan Alena saja yang menatap Al, tapi Xan dan El juga.

"Eeemmm" Alena menatap Al, pria itu menggerakkan tangan nya sembari memberitahu Alena, jika di sudut bibir nya ada coklat.

"Owh, makasih" jawab Alena singkat, sembari membersihkan coklat itu.

Xan memicingkan mata nya ke arah Al, dan Al hanya cuek saja, ia merasa tidak melakukan apapun.

"Ingat Tuan muda Xan, keberhasilan Fashion, Fernandez ada pada mu kali ini, menangkan kontrak kerja sama dengan mereka, maka Fernandez akan semakin sukses" Alena tersenyum kepada Xan, yang berdiri di dekat mobil, sembari mengulurkan tangan ke arah Alena.

Alena memberikan kunci mobil untuk Xan, dan wajah pria itu langsung ceria, karena ia tidak ingin pergi ke kantor naik taxi, tanpa menunggu Al dan El, Xan telah pergi meninggalkan tempat tersebut.

"Tuan El, ini untuk anda" Alena memberikan kunci mobil El, dan Pria itu hanya tersenyum miring, lalu pergi masuk ke dalam mobil nya.

Al masih senang melihat ke arah Alena, tanpa meminta kunci mobil, Alena langsung memberikan nya kepada Al.

"Terimakasih, kamu orang pertama yang membuat kak Xan, pagi ini tersenyum ceria, seperti mendapatkan harta Karun" ungkap Al, yang kini tersenyum ke arah Alena.

"Tuan Al, terlalu berlebihan. Kalau boleh tau, kapan Tuan Xan, terakhir tersenyum" tanya Alena yang sedikit penasaran.

"Kak Xan, memang jarang tersenyum, namun dia tidak pernah sedingin dan sekejam sekarang, dia seperti itu semenjak mama meninggal, dan terasa dunia kak Xan itu berubah, seolah-olah tidak ada lagi orang yang mampu membuat nya tersenyum" Al masih tersenyum ke arah Alena.

"Sudah pergi sana, nanti Tuan El marah!" Alena mengusir Al, pria itu hanya terkekeh melihat wajah Alena yang saat ini bersemu merah karena malu.

Al segera masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan Alena di depan garasi.

"Alena!" teriak Leo, dari arah meja makan, Alena menghela nafas nya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

"Ada apa pagi-pagi teriak, Haah?" Alena berkacak pinggang di depan Leo, yang sedang mengaruk kepala nya sembari menguap.

"Aku lapar, boleh kah aku makan dulu?" tanya Leo, Alena langsung membulatkan mata nya.

"Kalau lapar tinggal makan, kenapa kau berteriak" ketus Alena yang kesal.

"Apa yang bisa ku makan, disini tidak ada makanan" Leo dan Alena menatap meja makan yang kosong.

"Minta Bi Yem Lo Leo, 'kan bisa?" Alena menggelengkan kepala nya.

"Bi, ambilkan sarapan untuk Tuan muda Leo" seru Alena di meja makan.

"Baik Non..."

Leo belum mandi, terlihat masih mengantuk, dan Bi Yem membawakan sarapan bubur untuk Leo.

"Hari ini, kau harus bimbing dengan dosen mu"

"Kamu ikut?" Leo menatap Alena,

"Enggak, aku enggak mau dosen itu tahu, kita tinggal serumah!"

"Kau harus ikut, aku tidak kenal dosen itu, lagian ini pertama kali aku ke Indonesia, kau lupa aku lahir dan besar di Paris, beda dengan Kakak ku!" pungkas Leo, Alena malas menanggapi ucapan Leo.

Alena hanya menikmati teh manis nya yang di buatkan oleh Bi Yem, sembari menatap Leo yang sedang sarapan.

"Aku kenyang!" seru Leo, menyisakan sedikit makanan.

"Tunggu!"

Alena menghentikan Leo, yang akan meninggalkan meja makan.

"Apa lagi? aku harus mandi!" kesal Leo,

"Habis 'kan sarapan mu, masih banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan, tapi kau malah menyisakan nya!" ketus Alena, Leo memutar malas mata nya.

"Ayo lah Alena, aku kenyang!" gerutu Leo, kesal.

"Habiskan! atau tidak ada uang jajan!"

"Haah?" Leo membulatkan mata nya.

"Tidak masalah, aku punya kartu!" ujar Leo enteng.

"Aku akan minta paman, untuk memblokirnya, aku akan bilang kamu malas belajar dan suka menghabiskan uang!" ancam Alena,

"Alena ayo lah, sejak kapan keluarga Fernandez takut habis uang, Haah?" Leo, memegang kursi dan menatap malas ke arah Alena, masih dengan posisi memakai piyama.

"Habiskan, aku tidak akan menemani mu!" final Alena, Leo pun menurut seperti bayi.

"Baiklah!"

Leo duduk dengan patuh, dan mengabiskan sarapan yang tadi ia sisa 'kan. Alena hanya menatap nya dengan senyuman.

"Ingat, tidak boleh buang - buang makana, dan tidak boleh menghamburkan sembarangan uang, kamu hanya boleh membeli apa yang kamu perlu saja, oke!"

"Eeemmm" Leo, tidak menatap Alena, padahal disini mereka seumuran, namun Alena terlihat sedang memperingati seorang adik yang sangat ia sayangi.

"Aku selesai"

"Eemmm. Kembali ke kamar dan mandi, aku akan menunggu mu di teras, kita berangkat bersama "

"Oke!"

Leo, segera berlari ke arah tangga, lalu pergi ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap.

Satu jam berlalu, Alena telah menunggu Leo dengan jenuh di teras, namun Tuan muda itu tidak juga turun untuk menunjukkan batang hidung nya.

"Sialan, kemana anak itu!" gumam Alena yang kesal.

"A..le..na..." panggil Leo, dengan nada yang berirama, saat keluar dari pintu.

"Masih bisa tersenyum kau!" kesal Alena,

"Maaf, tadi aku tertidur sepuluh menit, he he he" jawab Leo, sembari menggaruk leher nya yang tidak gatal.

"Heeemmm, huuf. Sabar..." Alena mengelus dada nya, menatap Leo, yang sedang nyengir.

"Ayo berangkat!" ajak Leo, berjalan ke arah mobil.

"No, kita naik itu!" sembari menunjukkan bajai yang terparkir di depan rumah mewah.

"Kenapa harus itu?" bingung Leo,

"Kau akan tahu nanti, kita mulai dari hal-hal kecil dulu oke!" seru Alena, berjalan meninggalkan Leo, pria itu pun terpaksa mengikuti nya dari belakang.

Tiba di depan bajai, itu adalah bajai yang sering nongkrong di simpang rumah Fernandez, akhir -akhir ini terlihat sepi penumpang.

"Kamu lihat pria tua itu Leo, dia itu tulang punggung keluarga, dan kadang jarang ada yang naik bajai nya semenjak orang di komplek ini menggunakan taxi" ungkap Alena.

"Alena, ini komplek mewah, siapa lagi yang mau naik bajai" ketus Leo.

"Ada, kalau tuan rumah enggak mau naik, 'kan pelayan rumah bisa, saat pergi ke pasar, selain itu kita bisa menghemat uang yang akan di bayar ke taxi, naik bajai lebih murah!" pungkas Alena, Leo masih menatap nya dengan bingung.

Terpopuler

Comments

Mur Wati

Mur Wati

alena mengajar kan supaya mereka tidak menghamburkan uang

2023-09-17

0

Dyah Oktina

Dyah Oktina

seru ...alena... lanjut thor... 😁😁😁

2023-08-04

1

ria

ria

semangat alena😙😙
luluhkan semua anak gajah..
kayakx al duluan yg bakalan bucin sama kamu alena..

2023-03-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!