Satu jam berlalu, Alena telah menunggu Leo dengan jenuh di teras, namun Tuan muda itu tidak juga turun untuk menunjukkan batang hidung nya.
"Sialan, kemana anak itu!" gumam Alena yang kesal.
"A..le..na..." panggil Leo, dengan nada yang berirama, saat keluar dari pintu.
"Masih bisa tersenyum kau!" kesal Alena,
"Maaf, tadi aku tertidur sepuluh menit, he he he" jawab Leo, sembari menggaruk leher nya yang tidak gatal.
"Heeemmm, huuf. Sabar..." Alena mengelus dada nya, menatap Leo, yang sedang nyengir.
"Ayo berangkat!" ajak Leo, berjalan ke arah mobil.
"No, kita naik itu!" sembari menunjukkan bajai yang terparkir di depan rumah mewah.
"Kenapa harus itu?" bingung Leo,
"Kau akan tahu nanti, kita mulai dari hal-hal kecil dulu oke!" seru Alena, berjalan meninggalkan Leo, pria itu pun terpaksa mengikuti nya dari belakang.
Tiba di depan bajai, itu adalah bajai yang sering nongkrong di simpang rumah Fernandez, akhir -akhir ini terlihat sepi penumpang.
"Kamu lihat pria tua itu Leo, dia itu tulang punggung keluarga, dan kadang jarang ada yang naik bajai nya semenjak orang di komplek ini menggunakan taxi" ungkap Alena.
"Alena, ini komplek mewah, siapa lagi yang mau naik bajai" ketus Leo.
"Ada, kalau tuan rumah enggak mau naik, 'kan pelayan rumah bisa, saat pergi ke pasar, selain itu kita bisa menghemat uang yang akan di bayar ke taxi, naik bajai lebih murah!" pungkas Alena, Leo masih menatap nya dengan bingung.
"Alena, apa sih yang sedang kamu katakan, I don't understand. Oke!" tegas Leo, yang ingin pergi.
"Tunggu, kita akan pergi dengan menaiki bajai ke kampus, dengan begitu kita sudah membantu keluarga nya!" ujar Alena, menarik Leo untuk segera masuk .
"Oh, No. Alena aku tidak mau!" Leo, memberontak, tapi Alena sudah lebih dulu mendorong Leo, agar segera masuk ke dalam bajai.
"Mang, antar kami ke kampus!" teriak Alena, sopir bajai mang Kardi pun segera menghampiri bajai nya yang sejak tadi hanya duduk di bawah pohon menunggu penumpang.
"Mau di antar kemana Non?"
"Kampus ya, nanti Aku kasih tahu jalan!"
"Baik!"
Mereka segera duduk dengan patuh, mang Kardi menyetir dengan begitu pelan, membuat Leo, kesal.
"Uhuk..Uhuk..." Leo terbatuk -batuk, akibat debu dan asap di jalan yang masuk ke mulut dan hidung nya.
"Biasa 'kan diri mu Tuan muda" bisik Alena, Leo mengeram dengan kesal, menatap tajam Alena, wanita ini hanya tersenyum nyengir seperti kuda saat melihat tatapan maut dari Leo.
"Pak, bisa lebih cepat!" ketus Leo,
"Maaf Tuan, hanya bisa segini, kalau di paksa takut di panggil polisi!" ujar Mang Kardi.
Terpaksa Leo, diam dan menahan kesal nya, kini hidup mereka berempat sedang berada di titik yang paling bikin mereka kesal, semenjak mereka di asuh oleh Alena.
Sekitar tiga puluh menit, mereka tiba di kampus, Leo dan Alena segera pergi menemui dosen yang akan membimbing Leo.
...****...
Di perusahaan Fernandez, Xan baru saja selesai meeting, dan kontrak kerjasama Fernandez antara Klien dari Jepang telah di terima dengan baik.
"Terimakasih Tuan Xan, senang bekerjasama dengan anda" ujar Pria yang berumur lima puluh tahun itu.
"Sama-sama!"
"Mari saya antar sampai ke lobi" lanjut Xan, pria itu hanya tersenyum sembari mengangguk.
Tiba lah mereka di lobi, pengawal Carlos sudah di lobi menjemput Carlos.
Setelah Tuan Carlos pergi, datang Fino untuk bertemu dengan Xan. Pria ini selain mengurus keluarga Fernandez dia juga punya tanggung jawab di rumah sakit sebagai dokter dan direktur disana.
"Tuan muda Xan, aku harus mengatakan ini, maaf jika mendadak" Fino terlihat cemas, Xan dapat merasakan ke khawatiran dalam diri Fino.
"Tuan Dorri membatalkan kerjasama dengan kita, dengan alasan jika dia mereka sudah menemukan perusahaan lain yang lebih menguntungkan " tukas Fino,
"Bagaimana bisa? Fernandez adalah perusahaan terbesar disini, bagaimana bisa mereka membatalkan kerja sama dengan kita?" Xan, mengambil berkas di tangan Fino, lalu melihat nya sekilas.
"Tuan, meskipun Fernandez perusahaan terbesar, namun kalau di bandingkan dengan perusahaan luar kita tetap yang terkecil di mata mereka!" ujar Fino, terlihat Xan yang menghela nafas nya, meskipun ia mengelola perusahaan sendiri di Paris, Xan baru kali ini mengambil tanggung jawab di bagian properti dan entertainment.
"Jadi apa dok, apa kamu punya usul agar Tuan Dorri tidak membatalkan kerja sama dengan kita?"
"Ada, anda harus pergi ke Inggris untuk membuat kerja sama yang baru, jika proposal baru kita ini bisa di terima, maka aku yakin Fernandez akan banyak di kenal oleh perusahan asing, selama ini kita hanya bekerjasama dengan klien dari cina, Thailand, dan juga Korea" ungkap Fino,
"Jika aku pergi, bagaimana dengan perusahaan ini?"
"Aku akan meminta Tuan Al untuk menangani masalah disini"
"Baik lah, aku akan memikirkan cara nya, dan berikan berkas ini kepada ku!"
"Baik"
Setelah mengambil berkas di tangan Fino, Xan segera berlalu menuju ruangan nya, dengan di ikuti oleh Fino dari belakang.
Tiba di dalam ruangan, Fino terlihat memperhatikan meja Xan, yang menghandle semua pekerjaan nya sendiri.
"Tuan, apa tidak sebaik nya anda mencari asisten pribadi untuk anda?"
"Apa dokter punya usul?"
"Bagaimana kalau Riko? dia baru kembali dari London, tapi dia belum memiliki pengalaman bekerja, hanya saja Riko lulusan terbaik di London"
"Baik lah, suruh dia datang besok kesini, dan dokter yang akan membimbing dia, selama aku di Inggris"
"Baik lah!"
Fino membantu Xan mengerjakan berkas yang tertinggal.
Di tempat lain...
Leo dan Alena baru saja selesai, mereka terlihat begitu lelah.
"Alena!" teriak seseorang yang membuat Alena terkejut dan menoleh bersama dengan Leo.
"Ria?" gumam Alena, saat melihat wanita itu berlari ke arah nya.
"Haaah, Haaah!" Ria ngos-ngosan akibat berlari begitu jauh.
"Ke-napa kau ber-sama dengan anak baru?" bisik Ria, sembari menatap Leo.
"Oh, enggak sengaja bertemu di sini" bohong Alena, mengedipkan mata ke arah Leo.
"I-iya kami bertemu disini, kenalkan aku Leo" pria itu mengulurkan tangan nya ke arah Ria.
"Ria!" Wanita ini tersenyum malu melihat pria tampan yang mengajak diri nya untuk berkenalan.
"Sekarang kamu mau kemana?" tanya Ria,
"Mau pulang"
"Aku mau ngajak kamu ke cafe untuk ngopi bareng, udah lama enggak ngopi" ujar Ria, Alena melirik ke arah Leo, Pria itu mengangguk menyetujui nya.
"Aku boleh ikut?" tanya Leo, Ria membulatkan mata nya karena pertanyaan Leo.
"Boleh enggak Alena?" tanya Ria, kepada Alena.
"Eeemm" terlihat Alena yang ragu, Leo langsung bersuara, takut tidak di bolehin.
"Aku traktir!" sahut Leo, Alena menghela nafas nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Siska Sutartini
pengulangannya hampir setengah part. agak disayangkan pemborosan chapternya. mungkin bisa dikurangi aja Thor part sebelumnya cukup 2-3 kalimat aja gitu. ini sih masukan ya 😁😁
2024-03-21
0
ria
semangat alena...the best😘
awal dari segalax alena..
mereka ber4 sedikit2 berhasil kamu atur alena..
semoga mereka gk hanya nurut di muka saja..
semoga mereka benar2 berubah sbg tuan muda yg positif dlm segala hal..
2023-03-26
0
ria
heleeh..hal kecil ini leo
2023-03-26
0