Hampir saja

Leo memarkirkan mobil nya di tempat parkiran hotel mewah.

"Kau yakin ini tempat nya?" tanya Alena, Leo menatap layar ponsel.

"Benar, kak Al mengirim pesan" ujar Leo.

Mereka berdua bergegas masuk dan bertemu dengan Al di lobi.

"Dimana Tuan muda El?" tanya Alena, saat melihat Al di lobi, yang baru saja turun untuk menemui mereka.

"El, El semalam pergi dengan menggunakan mobil, aku tertinggal di hotel" ujar Al, yang juga ikut panik.

"Kita harus menemukan El, sebelum sesuatu terjadi!" tegas Alena, yang saya ini ingin melangkah pergi, namun ia teringat dengan benda yang di pegang oleh cleaning servis.

"Permisi, mba apa ini milik seorang tamu?" tanya Alena, melihat sabuk milik El, yang Alena kenal, karena ia pernah melihat El memakai nya kemarin waktu mereka sarapan.

"Alena apa yang kau tanya, sabuk sepeti itu, bukan hanya di miliki oleh Kak El saja, mungkin itu punya orang lain" bisik Leo,

"Kamu diam!" ketus Alena yang kesal.

"Harap perhatian semua nya, kami mendapat kabar, jika ada seorang tamu hotel yang membawa masuk narkoba ke tempat ini, jadi di harapkan tidak ada yang boleh pergi sebelum tempat ini selesai di periksa!"

Suara itu berasal dari pintu lobi, dan benar saja aparat kepolisian sudah berkumpul di lobi, dan itu membuat Alena dan yang lain panik.

" Kita harus berpencar mencari El disini, aku yakin dia masih disini, kalau sampai dia ketahuan dalam keadaan mabuk, dan di ketahui banyak media, tamat lah riwayat kita!" tukas Al yang panik.

"Tuan muda juga tahu, jika media sedang ingin mencari tahu kebenaran tentang Tuan muda Fernandez yang jarang di liput oleh media?" tanya Alena, menatap Al.

"Aku tahu, dan itu baru menyadari nya kemarin saat aku tidak sengaja melihat catatan milik Papa di ruang kerja nya" pungkas Al, terlihat bersalah.

"Heeemm, sial" umpat Alena, yang saat ini sedang kesal.

"Alena, lakukan sesuatu, jangan biarkan El tertangkap oleh mereka, jika tidak Papa akan mengirim nya ke Afrika!" ujar Leo, seketika Alena ingin memukul kepala Leo.

"Kenapa jadi Afrika? " tanya Alena yang geram.

"Karena, setiap kami melakukan kesalahan Papa akan mengancam kami begitu, orang disana berkulit hitam mengkilat kami tidak suka!" jawab Leo, polos.

"Aku akan mencari di bagian timur, kamu Leo pantau di bawah, dan ...."

"Aku akan mencari di bagian utara" sambung Alena, terpaksa mereka mencari di semua kamar, karena Al tidak tahu nomer berapa El masuk semalam, dan mereka tidak bisa bertanya kepada resepsionis karena polisi meminta semua kunci cadangan kepasa resepsionis.

Terlihat Leo, yang memantau di bawah, dan Al berlari menelusuri lorong kamar hotel yang mewah itu, begitu juga dengan Alena.

Semua pintu kamar mereka ketuk tanpa terkecuali, namun tidak menemukan adanya El di dalam kamar yang mereka samperin.

Tok ! Tok ! Tok

'Ini adalah kamar terakhri, dan semoga El ada disini' batin Al, yang mengetuk pintu kamar tersebut.

Ceklek !

"Tuan cari siapa?" Tanya seorang tamu kamar tesebut yang membuka pintu kamar untuk Al, namun membuat Al sedikit mengintip ke kamar, tapi tidak terlihat ada El disana.

"Maaf saya salah kamar"

Blam !

Orang tersebut langsung menutup pintu kamar, Al pun segera pergi begitu pintu kamar tertutup, dan Al kembali turun ke lantai bawah, untuk menemui Leo.

Alena masih berusaha untuk mencari keberadaan Al. Kamar terakhir yang belum di datangi Alena adalah kamar terakhir dan itu membuat Alena sedikit gugup dan khawatir.

Alena menghela nafas nya berkali-kali tidak melihat ada nya Al di lorong kamar hotel. Alena sedikit mengangkat tangan nya untuk mengetuk pintu kamar terakhir.

Tok ! Tok ! Tok !

Alena sudah mengetuk lebih dari dua kali, namun pintu kamar tersebut belum juga terbuka.

Tok ! Tok ! Tok !

Berdiri dengan tidak tenang, tangan di pinggang, satu lagi sembari mengetuk, dalam hati mengutuk pemilik kamar, yang tidak bangun untuk membuka pintu.

Alena memegang kenop pintu, saat di rasa tak seorang pun yang datang membuka pintu tersebut.

Ceklek !

"Tidak di kunci" gumam Alena, lalu sedikit mengintip hanya memasukan kepala nya saja.

Tidak ada orang di dalam, namun ada seseorang yang tidur dengan telanjang dada di atas kasur, Alena mengedarkan pandangan nya ke arah ranjang, dan mulia menelusuri wajah yang terlihat damai dan tenang itu, barulah bola mata Alena membulat seakan keluar dari tempat nya.

"Tuan Muda El!" ucap Alena setengah berteriak, lalu melangkah masuk dan menutup pintu kamar tersebut.

Dengan langkah besar, ia mendekat ke arah ranjang, dan berdiri di samping ranjang sembari berkacak pinggang.

"Tuan muda El bangun!" panggil Alena, namun tidak adak jawaban dari pemilik nama, terlihat dua botol minuman yang terletak di atas nakas, lalu Alena berjalan ke arah kamar mandi untuk mencari orang lain, siapa tahu wanita yang di maksud Al masih ada di sini.

"Tidak ada!" gumam Alena saat pintu kamar mandi terbuka, lalu ia berbalik, mendapati El yang sudah bangun, masih duduk di atas ranjang, sembari merenggangkan otot-otot nya.

"K-Kau!" ketus El yang gagap, melihat Alena berjalan ke arah ranjang.

"Sudah bangun, cepat turun dari ranjang, kita harus pergi dari sini" Alena terlihat mengutip semua pakaian milik El, pria itu, masih menatap Alena dengan bingung. Dia baru sadar, hanya mengenakan celana pendek saja.

"Kenapa kau datang kemari? apa kau ingin memarahi ku, dan melapor pada Papa?" tanya El, yang masih duduk di atas kasur, Alena tidak menjawab, ia terus mengambil sepatu El, dan memegang nya.

"Alena, katakan apa sekarang rencana mu!" teriak El.

"Diam!" Alena berbalik berteriak, karena ia sudah sangat capek, dari sejak tadi mencari El di semua kamar. Mendengar suara teriakan Alena, lalu El turun dari ranjang, dan menghampiri wanita itu.

"Siapa Kau berani meninggikan suara mu terhadap ku, Haah?" El berdiri di depan Alena.

Dari luar terdengar suara langkah kaki yang begitu terburu-buru, dan Alena tahu langkah kaki itu berjalan ke arah kamar El.

"Kita tidak punya banyak waktu, Tuan El kamu harus pergi dari sini, aku akan menceritakan semua nya pada mu, saat kita di rumah!" tukas Alena, El berjalan ke arah pintu kamar, dan ingin keluar.

Dari luar aparat kepolisian, dan ada beberapa wartawan yang di percayakan untuk meliput kasus ini.

"Kamar ini yang belum di periksa, dan ini kamar terakhri!" ucap salah satu bawahan.

"Baik, periksa kamar ini, dan jangan sampai ada yang lengah, periksa semua sudut kamar dengan teliti, ambil gambar !" titah pria dengan badan tegap yang memakai seragam kepolisian.

"Baik ..!"

Terpopuler

Comments

Alexandra Juliana

Alexandra Juliana

Pengulangan bab sebelumnya byk banget Thor..

2024-01-02

0

ria

ria

semangat alena..
semoga bisa menghindar dari pemeriksaan polisi...

2023-03-26

0

mudahlia

mudahlia

siapa yg di razia kok aq yg tegang

2023-03-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!