Alena

Alena mulai mencari bahan untuk skripsi baru nya. Alena berulang kali mengabaikan pesan dari Arga, dan Fino, karena saat ini Alena tengah sibuk. Karena sudah kesal, ponsel terus berdering Alena pun mengangkat nya.

"Hallo Om dokter!" Alena meletakkan ponsel di telinga nya.

[Kamu kemana saja, Tuan menunggu mu di rumah sakit, dan hari ini beliau harus pulang ke rumah, bukan kah, kamu sudah janji akan menjadi baby sitter anak nya ? kamu jangan lupa Alena, kamu sudah menerima uang nya, kamu mau di tuduh menipu dan di laporkan ke kantor polisi? ] ancam Fino, yang saat ini sedang menahan tawa nya.

"Om dokter jangan sembarangan ngomong ya, hari ini hidup ku sudah sial, jangan tambah kesialan ku lagi, dengan mengancam ku begitu! " ketus Alena yang kesal.

[ Jadi, kapan kamu akan kesini? ]

"Besok!" jawab Alena enteng, dokter Fino menaikan alis nya.

[Serius ?]

"Iya, masak aku bercanda, 'kan kita enggak lagi main, ngapain aku becandain dokter, kurang kerjaan aku nya!" gerutu Alena, sembari mencatat hal yang penting di buku nya.

[ Alena, kamu serius, tidak bisa datang hari ini?]

"Serius dok, aku harus menyiapkan bahan skripsi ku, tolong sampaikan permintaan maaf ku pada paman Arga, aku janji besok Aku akan langsung menemui nya!"

[Baiklah Alena, kali ini aku membantu mu]

"Terimakasih Om dokter!"

Panggilan terputus, Alena menghela nafas berat nya, lalu ia melanjutkan tugas nya yang sempat tertunda.

"Alena...!" teriak seorang wanita, yang satu semester dengan Alena, dia adalah Ria lestari, teman sekelas Alena, seangkatan dengan Alena, sedang menyusun skripsi juga.

"Sudah selesai?"

"Belum, kamu sudah?"

"Sudah, lagi sama dosen, entar sore aku di bimbing "

"Enak dong"

"Ya jelas dong" jawab Ria dengan bangga, Alena hanya bisa menghela nafas nya, lalu melanjutkan pekerjaan nya agar segera selesai.

Akhirnya, Fino menyuruh sopir Arga untuk menjemput pria itu, agar segera kembali ke rumah, karena keempat anak nya sudah tiba disana.

Mobil HRV milik Arga kini memasuki halaman rumah nya, ada banyak mobil mewah terparkir di garansi, semua itu milik anak - anak nya, dan semua fasilitas di rumah itu Arga siapkan untuk mereka jika mereka kembali ke rumah.

"Tuan, anda sudah kembali" sapa pelayan rumah Arga, dan membantu Arga untuk masuk.

"Apa mereka sudah tiba?"

"Tuan muda sudah tiba, dan kelihatannya Tuan muda sangat marah" ujar Bi yem pembantu rumah tangga Arga.

Begitu Arga masuk, tidak satu pun dari mereka yang menyambut Arga, padahal mereka tahu Arga sudah kembali dari rumah sakit.

"Papa!" hanya Leo yang langsung lari memeluk Arga, dan betapa senang nya Leo bisa bertemu dengan Arga.

"Jangan percaya, dia hanya takut ATM nya enggak balik lagi" ujar Xan, yang kini berbaring di sofa.

"Benar, cari muka dia pah" sahut Al, yang kini bersandar di sofa,

"Tau tuh, pintar dia sekarang, apalagi soal uang" ketus El,

"Menghormati orang tua itu penting tahu!" sahut Leo, yang kini kembali memeluk Arga.

"Karena kamu baik sama Papa, kini Papa kasih hadiah" Arga mengeluarkan sebuah card berwarna hitam untuk Leo, dan tentu saja membuat anak nya yang lain, melongo dan melotot menatap Leo dan Arga.

"Ini untuk Leo pa?" Leo kesenangan mendapat kartu magic itu, dia enggak akan ngemis - ngemis sama kakak nya lagi.

"Benar"

Leo langsung mengambil, dan mencium card yang ada di tangan nya. Al dan El langsung berdiri, hanya Xander yang masih setia berbaring.

"Papa enggak adil, masak kami enggak dapat"

"Iya benar"

"Kalau kalian mau kartu itu juga, kalian harus patuh sama Papa, besok akan datang seseorang kesini. Wanita itu akan tinggal disini, dan kalian harus menghormati nya, sebagai mana kalian menghormati Papa" setelah mengatakan itu, Arga kembali ke kamar dengan di antar Bi Yem.

"Wanita?" ulang Xander, yang langsung bangkit dari tidur nya.

"Papa mau nikah lagi?" tanya El,

"Haah? masak sih, enggak mungkin, pasti wanita itu hanya mau uang Papa saja" tegas Al,

"Siapa yang mau nikah sih ?" tanya Leo, yang penasaran, dengan card di tangan nya. Xan, El dan Al, langsung melirik ke arah Leo, dan mulai menyusun rencana untuk wanita yang akan datang besok.

"Pokoknya kita jangan sampai setuju Papa nikah lagi, masak kita belum nikah sama sekali, Papa udah mau nikah dua kali, jangan sampai itu terjadi!" tegas El,

"Ho'oh, aku enggak setuju, masak Papa duain Mama" Leo langsung sedih, meskipun air mata tidak keluar, dia meringkuk di sofa.

"Kalian jangan heboh dulu, kita lihat saja besok, jangan biarkan wanita itu, betah disini meskipun hanya satu detik !" tegas Xan, yang kini berdiri dari tempat duduk nya.

Akhirnya mereka berempat kembali ke kamar masing - masing yang bersebelahan. Tepat nya di lantai dua, kamar Xan, El dan Al serta Leo, terdapat kamar terpisah.

Kamar mereka terlalu besar untuk di tempati untuk satu orang, terkadang mereka sering ngumpul di satu kamar, keseringan di kamar Leo, karena Xan enggak mau kamar nya di kotori, apalagi Al, kamar nya sangat privat, untuk El, banyak majalah dewasa di kamar nya, jadi dia tidak membiarkan siapapun masuk. Kecuali kamar Leo, rapi dan bersih, siapa saja boleh masuk sangat Wellcome.

Mereka semua saat ini sedang berada di meja makan, dan semua tatapan mencurigakan mereka kini mengarah kepada Arga.

"Apa yang kalian lihat, apa kalian tidak mau makan? " tanya Arga, saat melihat anak nya terus memperhatikan Arga.

"Makan" sahut mereka berempat.

"Leo, besok kamu sudah mulai kuliah, Papa sudah mengurus semua nya, dan besok hari pertama mu, dan kamu Xan, bantu Papa di kantor, untuk Al, Papa sudah siapkan dealer serta bengkal las untuk kamu dan El, jangan sia - sia 'kan niat baik Papa" pungkas Arga.

"Papa sedang nyogok kita bukan? agar kita menerima wanita itu!" bisik Al, Xan mengangguk nya.

"Pokonya aku tidak setuju" bisik El, kepada Al.

"Apa yang kalian bisikan?" tanya Arga,

"Mereka kata nya tidak setuju Papa nikah lagi!" cetus Leo,

"LEO!!!" teriak Xan, El dan Al serentak, sehingga mengagetkan seluruh isi rumah, termasuk Arga.

"Menikah? siapa yang mau nikah?" tanya Arga bingung.

"Alah, Papa jujur aja, kami enggak akan setuju" Xan langsung berdiri, dan di susul oleh Al dan El.

Mereka pun pergi meninggalkan meja makan, hanya tertinggal Leo, disana.

"Kamu enggak ikut pergi?" tanya Arga,

"Sayang Pa, ayam nya belum habis" jawab Leo, polos.

"Leo!" panggil Al, Leo langsung berdiri, dan lari ke arah mereka yang berada di tangga dengan ayam goreng di tangan nya.

"Iya Kak"

"Ini apa?" tanya El,

"Ayam goreng" jawab Leo, sambil nyengir, Al hanya bisa menggelengkan kepala nya.

"Kita malam ini meeting di kamar kamu" tukas Xan,

"Oke kak" jawab Leo, mereka berempat langsung pergi menuju kamar Leo.

Arga yang di meja makan hanya bisa tersenyum melihat tingkah anak - anak nya, umur sudah dewasa namun tingkah mereka masih seperti bayi yang sering merajuk sama Arga.

Terpopuler

Comments

Azriel Prayoga

Azriel Prayoga

maaf thor, koreksi dikit.
itu garasi thor, bukan garansi

2023-09-18

0

ria

ria

kebanyakan dimanja mereka ber4

2023-03-25

0

ria

ria

tul leo..

2023-03-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!