Alena sedang membereskan semua buku milik nya, yang ia bawa ke rumah sakit, memasukkan semua itu ke dalam tas milik nya.
"Paman, saya harus pulang, karena dosen saya hari ini akan berangkat ke Inggris, dia meminta saya untuk mengambil skripsi yang ia periksa bandara, jika terlambat maka masa depan saya dalam masalah" ujar Alena, Arga melihat gadis itu tidak berhenti tersenyum, apalagi saat Alena berdebat sepanjang malam saat berdiskusi akan skripsi nya yang di periksa sang dosen.
"Minta Fino untuk mengantar mu ke bandara agar kamu tidak terlambat"
"Tidak usah Paman, aku bisa sendiri. Jangan lupa bubur nya di makan, terus ini buah sudah aku potong- potong juga di habiskan" titah Alena, meletakkan semua makanan di dekat Arga.
"Tunggu, ambil lah ini" Pria itu memberikan Alena uang, namun Alena menolak nya.
"Tidak usah paman, yang kemarin saja sudah cukup, saya baru bekerja dua hari, tidak baik menerima uang terus menerus" Alena terlihat sungkan, padahal uang semalam telah dia bayar kontrakan yang menunggak selama lima bulan.
"Bagaimana kalau kamu jadi baby sitter anak - anak ku, kamu hanya perlu mengawasi dan menjaga mereka saja!" Alena menaikan alisnya,
"Satu lagi, kamu dapat tinggal dengan kami, dan semua biaya hidup mu aku tanggung, asal kamu bisa membuat Anak - anak ku betah di Indonesia" lanjut Arga,
"Eeemmm... Baik lah Paman, aku pergi dulu, karena aku sudah mau terlambat" Alena langsung berlari dari kamar itu, dia tidak sempat menyapa Fino yang baru saja akan masuk ke dalam ruangan Arga.
"Alena"
"Om dokter saya ada urusan, saya titip Paman Arga!" teriak Alena, yang berlari menelusuri lorong rumah sakit, semua orang memperhatikan Alena.
"Dasar bocah" gumam Fino yang melihat tingkah Alena.
Ceklek !
"Pagi, Tuan" sapa Fino,
"Eemm, pagi. Bagaimana ?"
"Semua nya telah terkendali, menurut asisten Xander, Mereka semua telah berangkat sejak tadi malam, seharunya pagi ini sudah tiba di Indonesia" pungkas Fino,
"Apa perlu mengirim sopir untuk menjemput mereka?"
"Tidak perlu, mereka bisa pulang sendiri, aku sudah mengirim alamat untuk mereka"
Fino langsung memeriksa kondisi Arga.
"Tuan, kenapa anda melakukan ini semua? bukan kah, Tuan Xan, sudah cukup mandiri?"
"Meskipun mereka semua sudah mandiri, namun mereka masih tanggung jawab ku, sampai kapan pun, aku ini adalah Papa mereka, aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan anak - anak ku sebelum aku pergi menyusul Mama mereka"
"Tenang lah, jangan terlalu banyak pikiran, anda akan segera pulang ke rumah" Fino, membantu membaringkan Arga di tempat tidur.
"Lihat lah, mereka sudah tiba" Arga memperlihatkan pesan wa miliki Leo kepasa Fino.
"Tumben, Tuan Leo tidak merengek seperti bayi" cibir Fino, yang menahan tawa nya.
"Tentu saja, selama Xan, El dan Al ada bersama dengan Leo, dia tidak akan menangis atau merengek seperti bayi, karena Kakak nya sangat menyayangi dia"
"Eeemmm, Anda beruntung punya anak yang begitu akur"
Arga hanya tersenyum, melihat foto anak - anak nya di layar ponsel dia.
Bandar Udara. . .
Alena baru saja turun dari taxi, lalu berlari masuk untuk mengejar sang dosen yang akan segera take off.
Dugh !
"Aagrh!" pekik Alena, tanpa sengaja menabrak seseorang yang juga keluar dari tempat itu.
"Maaf - maaf, aku tidak sengaja" ucap Alena yang langsung berdiri dan meminta maaf. Namun, disaat Alena ingin pergi, mereka menghentikan Alena.
"Kau baru saja menabrak ku, dan mengotori sepatu ku, bersihkan sepatu ku!" titah Pria dengan jas hitam nya, lalu mencengkram kuat lengan Alena.
"Tapi aku sudah minta maaf, Om saya buru- buru biar 'kan saya pergi dulu, nanti saya kembali lagi" Alena melirik ke kanan dan kiri mencari sosok dosen yang akan ia temui.
"Om ?"
"Om?
"Ha...Ha..."
Al, El dan Leo, meledek Xander, dan menertawakan pria itu, Xander langsung memalingkan wajah nya menatap tajam ke arah adik nya semua.
Dengan tinggi 175, membuat Alena harus mendongakkan kepala nya menatap Xander, Alena dengan tinggi 150, tentu saja Alena hanya sebahu Xander.
Alena segera menghentakkan tangan Xan, dan berlari ke arah ruang tunggu. Namun, tidak satu orang pun yang di kenal Alena ada di sana, tidak ada dosen atau keluarga dosen di ruang tunggu, tentu saja itu membuat Alena panik.
Lalu Alena, membuka pesan yang masuk ke wa nya. Ternyata sang dosen sudah take off sejak lima menit yang lalu.
"Ini semua gara - gara pria itu, membuat aku terlambat" gerutu Alena yang kesal, lalu kembali berlari mencari pria yang ia tabrak tadi.
Di tempat parkir, Alena kembali melihat Xander dan Adik - adik nya yang sedang menunggu taxi.
" Hei, tunggu!" teriak Alena, mereka berempat segera menoleh bersama, saat mendengar suara teriakan Alena.
"Kak, gadis itu lagi " bisik Al, Xan menaikan alis nya saat melihat Alena berjalan ke arah mereka.
"Apa yang membuat gadis itu memanggil kita lagi?"
"Entah, mungkin dia naksir sama Om kita" ejek El,
"Diam!" mereka bertiga langsung diam, saat Xan bersuara.
Alena pun tiba di depan mereka, dengan celana hanya sepaha, dan memakai Hoodie, membuat Alena seperti gadis kecil, tidak terlihat jika dia mahasiswa akhir semester.
"Adik kecil, ada apa memanggil kami lagi?" tanya El, yang menggoda Alena,
"Diam, siapa yang adik kecil, aku sudah berusia 22th, mengerti!" teriak Alena, El menahan tawa nya, saat melihat Alena yang sedang marah.
"Dan kau!" Alena berjalan ke arah Xander.
"Gara - gara kamu, aku terlambat, dan skripsi ku di bawa oleh dosen, dan aku gagal ikut wisuda " ujar Alena yang sedih, menangis tapi tidak mengeluarkan air mata.
"Kenapa kau menyalahkan Kakak ku, kamu sendiri yang menabrak Kakak ku, dan malah nyalahin orang" kini Leo, ikut membela Xander. Leo dan Alena seumuran terlihat kalau mereka berdua sangat cocok jika berdebat, Alena tidak perlu mendongakkan kepala nya menatap Kakak - kakak Leo.
"Oh, jadi kalian main keroyokan, ayo!" Alena langsung menaikan lengan baju nya, dan ingin berkelahi dengan Leo dan tiga pria tinggi lain nya.
"Siapa takut"
"Kami enggak takut!"
"Eemmm"
Xan, El dan Al kini berdiri tepat di belakang Leo, dan itu tentu saja membuat keberanian Alena menciut.
"Kalian memang tidak takut, tapi aku yang takut. Kaboooorrr...." Alena kembali berlari dan pergi menuju pintu gerbang bandar udara.
Al dan El tertawa melihat Alena yang lari ketakutan, Leo tertawa sampai memukul Xander yang berdiri di samping nya.
"Sudah cukup belum mukul nya, jangan sampai koper ini ikut melayang" ketus Xan, Leo langsung berhenti, dan nyengir.
"Maaf, Kakak!" Leo, mengibas- gibas jas Xan, dengan tangan nya. Mereka langsung pergi mencari taxi untuk kembali pulang ke rumah, karena Arga tidak akan menjemput atau mengirim sopir untuk mereka. Menyuruh mereka untuk mandiri di tanah kelahiran mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Yeti Karniati
ko ada sih skripsi dibawa terbang sang dosen
2023-10-03
1
Neulis Saja
Alena, you just talk but you run away 😄
2023-04-19
0
ria
😂😂😂😂😂..
semangaat alena❤
2023-03-25
0