Seorang pria tengah berdiri mematung di depan dinding kaca dalam ruang kerjanya. Pria itu menatap hiruk-pikuk kota dari gedung tinggi yang dia pijaki saat ini. Habibie, pria itu tidak bisa berpikir jernih setelah mendengar apa yang Amzar katakan.
"Ayah lupa bilang sama kamu, Bie. Kiara memang seperti itu saat sakit. Dia akan melantur, ingatannya berhenti pada saat usianya masih 5-6 tahun, itu sebabnya dia agak aneh dan enggak masuk akal. Ayah sudah pernah bawa Kiara ke Psikolog. Tapi, kata mereka, Kiara juga butuh Psikiater. Ayah pengen banget Kiara sembuh, tapi anak itu selalu menolak untuk melanjutkan pengobatan. Ayah minta maaf karena baru mengatakan ini sekarang!"
Habibie mengembuskan napas kasar. Mata pria itu perlahan terpejam, bingung harus mengatakan apa dan bagaimana ... Habibie tahu, Kiara itu bukan anak pembangkang seandainya 19 tahun yang lalu dia tidak kehilangan ibunya.
Cara Kiara menilai baik dirinya di depan Ummi Amelia, juga cara dia bersikap terhadap Umminya membuat Habibie yakin kalau Kiara masih bisa ditolong jika dia berada di tempat yang tepat.
"Tuan!"
Ali berusaha memanggil Habibie akan tetapi pria itu sama sekali tidak menjawabnya.
"Tuan Habibie!" panggil Ali lagi. "Tuan!"
"Iya!"
Akhirnya pria itu menoleh. "Kenapa, Li?"
"Rapatnya sudah siap, Tuan! Semua orang telah menunggu Anda!"
Habibie mengangguk mengiyakan. Pria itu kembali mengembuskan napas berat, dan itu membuat Ali merasa kurang nyaman.
"Tuan lagi ada masalah ya?"
Habibie menggelengkan kepalanya. Tapi, beberapa saat kemudian, pria itu mulai mengeluarkan suara.
"Ali ... kamu tahu tidak, bagaimana cara membuat peremp-- maksudnya membuat orang menurut pada kita?"
Ali mengerutkan kening, dia awalnya kebingungan, tapi saat mengingat sesuatu, barulah Ali tersenyum.
"Dengan kasih sayang, Tuan! Apalagi kalau orang itu perempuan, jika dikerasin malah akan membuatnya semakin membangkang. Saya tahu Tuan lebih tahu tentang masalah ini. Perempuan itu jika diberikan cinta dan kasih sayang pasti nurut, Tuan. Mereka itu seperti anak kecil, sulit untuk dibilangin karena sukanya mencontoh!"
Ahhhh ... Habibie menganggukkan kepalanya. Jadi, metode yang dia lakukan selama ini adalah kesalahan, tapi ... Kiara itu sangat menyebalkan, Habibie tidak tahan kalau harus melihat kenakalannya setiap hari.
"Ali!"
"Iya, Tuan!"
"Bagaimana dengan tas yang saya minta?"
"Alhamdulillah sudah dapat beberapa, kita hanya harus mengambilnya, membeli barang seperti itu tidak mudah, Tuan! Kita harus menjadi member dulu."
Tak!
Habibie menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. "Jadi, bagaimana caranya kau bisa mendapatkan itu semua?"
"Hehehe. Ada bantuan dari temen, Tuan!"
Habibie menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, kasih dia satu! Tapi nanti, kita harus jadi member juga!"
"Baik, Tuan! Terima kasih."
....
Habibie masuk ke rumahnya dengan beberapa paper bag di tangan. Pria itu sedikit menyunggingkan senyum, dia berharap, Kiara akan memberikan maaf padanya saat perempuan itu melihat tas-tas cantik ini.
"Tuan!" Bi Arum tiba-tiba menghampiri Habibie.
"Kenapa, Bi? Kiara sudah makan 'kan? Dia minum obat dengan baik tidak?"
Bi Arum malah memainkan jari-jarinya gelisah. Kepalanya tertunduk, tidak berani untuk menatap wajah Habibie.
"Bi. Jangan bilang Kiara pergi lagi."
Bi Arum mengangguk, Habibie langsung memalingkan wajah. Semua paper bag yang ada di tangannya dia letakan di atas meja.
"Kiara pergi ke mana Bi?"
"Itu, anu, Tuan! Tadi siang, Nyonya pergi bersama Ummi Amelia. Katanya mau menginap di sana. Nyonya Kiara juga mengatakan kalau Tuan tidak perlu menjemputnya. Nyonya tidak mau pulang!"
"Astagfirullah ....!"
Tangan besar itu memijat pelipisnya yang berdenyut. Habibie tidak habis pikir kenapa Kiara sangat bodoh seperti ini.
"Saya pergi dulu, Bi!"
"Baik, Tuan!"
.....
Mobil mewah mengkilap yang harganya selangit itu tiba di depan rumah kedua orang tua Habibie. Sosok pria tampan nan gagah juga telah matang turun dari mobilnya seraya beristigfar beberapa kali. Dia melakukan itu karena terlalu takut nantinya, dia tidak tahan dan malah meluapkan emosinya lagi pada Kiara.
"Assalamualaikum!" sapa Habibie.
"Wa'alaikumssalam, Tuan."
"Ummi ada, Bi?"
"Ada, Tuan! Lagi masak sama Non Kiara!"
"Masak?"
Habibie langsung lari ke dalam rumah. Pria itu tahu bagaimana istrinya, tidak mungkin Kiara bisa memasak, jika itu terjadi, pastilah dapur akan menjadi sangat berantakan. Benar saja, perempuan itu tengah tersenyum di balik pantry. Umminya tidak ada, Kiara hanya sendirian di sana.
"Assalamualaikum!" ucap Habibie.
"Wa'alaikumssalam," jawab Kiara tanpa menoleh karena dia masih belum sadar siapa yang datang.
"Apa yang sedang kau lakukan Kiara?" Habibie mengerutkan kening melihat gelagat aneh istrinya itu.
Mendengar suara bariton yang tidak asing, Kiara langsung mendongak, tatapannya dipertemukan dengan tatapan Habibie yang tajam seperti ujung tombak.
"Kenapa ke sini?" ketus Kiara kesal.
"Ini rumah orang tua saya. Saya tanya apa yang sedang kamu lakukan?"
Perempuan itu tersenyum. Dia memperlihatkan beberapa sayur mayur yang sudah bersih mengkilap.
"Kiara lagi cuci sayur! Kiara pinter kan?"
Bukan menjawab, Habibie malah memutari pantry, masuk dan berdiri di samping Kiara, dia mengambil satu lembar sawi yang ada di atas keranjang, membauinya sehingga dia langsung lemas setelah itu.
"Kau mencuci ini pakai sabun cuci piring!"
Tanpa ada ras bersalah atau bagaimana, Kiara mengangguk antusias.
"Iya, ada serangga, Mas! Jadi Kia cuci pake sabun biar bersih."
"Astagfirullah Kiaraaa~~~!"
Habibie rasanya ingin menangis, apalagi saat melihat wajah Kiara yang sama sekali tidak menunjukan rasa bersalah, perempuan ini bangga hanya karena bisa mencuci sayur, dan itu pun sangat di luar nalar.
"Ini pengalaman pertama untuk Kiara, Mas. Kiara keren, 'kan. Rasanya sangat menyenangkan karena bisa membantu Ummi!"
Ahhh sudahlah, kepala Habibie rasanya sangat ingin pecah, marah pun percuma karena Kiara mungkin memang tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur.
"Ada apa ini?" tanya Ummi Amelia. "Eummm, Abie juga ada di sini ya. Baguslah. Kita makan malam bersama."
Habibie menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak bisa, dia tidak bisa membiarkan istrinya terlalu lama di rumah ini. Bisa-bisa, Ummi Amelia dibuat darah tinggi oleh istrinya.
"Habibie makan di rumah aja, Ummi!" katanya seraya menarik tangan Kiara.
Plakkkk!
Kiara memukul punggung tangan suaminya yang tidak sopan itu.
"Kiara enggak mau pulang. Kiara udah izin sama Ummi kalau Kiara mau nginep di sini! Ummi~~!" Perempuan itu merengek dengan wajah memelas. Dia langsung menepis tangan Habibie kemudian bersembunyi di belakang punggung Ummi Amelia.
"Kiara enggak mau pulang, Kiara mau di sini aja!"
"Kamu ini istri saya, Kiara. Hanya saya saja yang berhak atas kamu!"
"Ummi~~!" rengek Kiara lagi.
Ummi Amelia menatap Habibie dengan tatapan memohon. Bahkan, hanya dengan tatapan saja, Habibie sudah tidak bisa mengelak, pada akhirnya dia mengalah dan mengiyakan kemauan dua perempuan itu.
"Ummi lihat tuh! Menantu Ummi nyuci sayur pakai sabun!" Pria ini berbicara sangat ketus, ia meninggalkan Kiara dan Ummi Maryam untuk menemui ayahnya.
"Ummi, emang enggak boleh ya cuci sayur pakai sabun?"
Ummi Amelia tersenyum. Beliau menjelaskan setiap detail apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Ummi Amelia juga menjelaskan detail-detail kecil tentang hal yang berhubungan dengan memasak.
"Maafkan Kiara, Ummi. Pantes aja Mas Abie marah, Kiara ini terlalu bodoh!" Kiara menatap Ummi Amelia dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar sangat sedih karena sudah mengecewakan ibu mertuanya.
"Tidak apa-apa. Nanti Ummi ajarkan sampai kamu ngerti!"
....
"Ada apa Abie?" tanya ayah dari pria yang baru saja duduk di samping pria yang telah tidak muda lagi. Mereka tengah berada di bangku taman halaman belakang rumah, tempat favorit mereka untuk bersantai dan menikmati hembusan angin pagi atau sore.
"Abi! Habibie sepertinya tidak sanggup membimbing istri Habibie. Kiara itu terlalu ajaib, Habibie takut, kalau Habibie malah akan menyakitinya!"
"Kalau begitu, berusahalah untuk tidak menyakitinya!" jawaban pria itu terlalu enteng. "Allah menitipkan Kiara padamu karena Allah tahu kamu mampu. Kiara anak yang baik kok, hanya saja, anak itu terlalu menerima banyak luka. Alam bawah sadarnya masih menyimpan kesedihan yang tidak bisa dia angkat ke permukaan. Abi yakin, Kiara akan menjadi istri yang baik asalkan kamu bisa sabar!"
"Tapi Abi---!"
"Tidak ada tapi-tapian. Segeralah buat bayi! Kau itu sudah tidak muda lagi! Kazzem!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Arni
Nah lo, makin berat karna habibi masih cinta sma mantan istrinya
2023-04-28
1