20. Kembali Dibuat Kesal

Seorang pria tengah berdiri mematung di depan dinding kaca dalam ruang kerjanya. Pria itu menatap hiruk-pikuk kota dari gedung tinggi yang dia pijaki saat ini. Habibie, pria itu tidak bisa berpikir jernih setelah mendengar apa yang Amzar katakan.

"Ayah lupa bilang sama kamu, Bie. Kiara memang seperti itu saat sakit. Dia akan melantur, ingatannya berhenti pada saat usianya masih 5-6 tahun, itu sebabnya dia agak aneh dan enggak masuk akal. Ayah sudah pernah bawa Kiara ke Psikolog. Tapi, kata mereka, Kiara juga butuh Psikiater. Ayah pengen banget Kiara sembuh, tapi anak itu selalu menolak untuk melanjutkan pengobatan. Ayah minta maaf karena baru mengatakan ini sekarang!"

Habibie mengembuskan napas kasar. Mata pria itu perlahan terpejam, bingung harus mengatakan apa dan bagaimana ... Habibie tahu, Kiara itu bukan anak pembangkang seandainya 19 tahun yang lalu dia tidak kehilangan ibunya.

Cara Kiara menilai baik dirinya di depan Ummi Amelia, juga cara dia bersikap terhadap Umminya membuat Habibie yakin kalau Kiara masih bisa ditolong jika dia berada di tempat yang tepat.

"Tuan!"

Ali berusaha memanggil Habibie akan tetapi pria itu sama sekali tidak menjawabnya.

"Tuan Habibie!" panggil Ali lagi. "Tuan!"

"Iya!"

Akhirnya pria itu menoleh. "Kenapa, Li?"

"Rapatnya sudah siap, Tuan! Semua orang telah menunggu Anda!"

Habibie mengangguk mengiyakan. Pria itu kembali mengembuskan napas berat, dan itu membuat Ali merasa kurang nyaman.

"Tuan lagi ada masalah ya?"

Habibie menggelengkan kepalanya. Tapi, beberapa saat kemudian, pria itu mulai mengeluarkan suara.

"Ali ... kamu tahu tidak, bagaimana cara membuat peremp-- maksudnya membuat orang menurut pada kita?"

Ali mengerutkan kening, dia awalnya kebingungan, tapi saat mengingat sesuatu, barulah Ali tersenyum.

"Dengan kasih sayang, Tuan! Apalagi kalau orang itu perempuan, jika dikerasin malah akan membuatnya semakin membangkang. Saya tahu Tuan lebih tahu tentang masalah ini. Perempuan itu jika diberikan cinta dan kasih sayang pasti nurut, Tuan. Mereka itu seperti anak kecil, sulit untuk dibilangin karena sukanya mencontoh!"

Ahhhh ... Habibie menganggukkan kepalanya. Jadi, metode yang dia lakukan selama ini adalah kesalahan, tapi ... Kiara itu sangat menyebalkan, Habibie tidak tahan kalau harus melihat kenakalannya setiap hari.

"Ali!"

"Iya, Tuan!"

"Bagaimana dengan tas yang saya minta?"

"Alhamdulillah sudah dapat beberapa, kita hanya harus mengambilnya, membeli barang seperti itu tidak mudah, Tuan! Kita harus menjadi member dulu."

Tak!

Habibie menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang. "Jadi, bagaimana caranya kau bisa mendapatkan itu semua?"

"Hehehe. Ada bantuan dari temen, Tuan!"

Habibie menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, kasih dia satu! Tapi nanti, kita harus jadi member juga!"

"Baik, Tuan! Terima kasih."

....

Habibie masuk ke rumahnya dengan beberapa paper bag di tangan. Pria itu sedikit menyunggingkan senyum, dia berharap, Kiara akan memberikan maaf padanya saat perempuan itu melihat tas-tas cantik ini.

"Tuan!" Bi Arum tiba-tiba menghampiri Habibie.

"Kenapa, Bi? Kiara sudah makan 'kan? Dia minum obat dengan baik tidak?"

Bi Arum malah memainkan jari-jarinya gelisah. Kepalanya tertunduk, tidak berani untuk menatap wajah Habibie.

"Bi. Jangan bilang Kiara pergi lagi."

Bi Arum mengangguk, Habibie langsung memalingkan wajah. Semua paper bag yang ada di tangannya dia letakan di atas meja.

"Kiara pergi ke mana Bi?"

"Itu, anu, Tuan! Tadi siang, Nyonya pergi bersama Ummi Amelia. Katanya mau menginap di sana. Nyonya Kiara juga mengatakan kalau Tuan tidak perlu menjemputnya. Nyonya tidak mau pulang!"

"Astagfirullah ....!"

Tangan besar itu memijat pelipisnya yang berdenyut. Habibie tidak habis pikir kenapa Kiara sangat bodoh seperti ini.

"Saya pergi dulu, Bi!"

"Baik, Tuan!"

.....

Mobil mewah mengkilap yang harganya selangit itu tiba di depan rumah kedua orang tua Habibie. Sosok pria tampan nan gagah juga telah matang turun dari mobilnya seraya beristigfar beberapa kali. Dia melakukan itu karena terlalu takut nantinya, dia tidak tahan dan malah meluapkan emosinya lagi pada Kiara.

"Assalamualaikum!" sapa Habibie.

"Wa'alaikumssalam, Tuan."

"Ummi ada, Bi?"

"Ada, Tuan! Lagi masak sama Non Kiara!"

"Masak?"

Habibie langsung lari ke dalam rumah. Pria itu tahu bagaimana istrinya, tidak mungkin Kiara bisa memasak, jika itu terjadi, pastilah dapur akan menjadi sangat berantakan. Benar saja, perempuan itu tengah tersenyum di balik pantry. Umminya tidak ada, Kiara hanya sendirian di sana.

"Assalamualaikum!" ucap Habibie.

"Wa'alaikumssalam," jawab Kiara tanpa menoleh karena dia masih belum sadar siapa yang datang.

"Apa yang sedang kau lakukan Kiara?" Habibie mengerutkan kening melihat gelagat aneh istrinya itu.

Mendengar suara bariton yang tidak asing, Kiara langsung mendongak, tatapannya dipertemukan dengan tatapan Habibie yang tajam seperti ujung tombak.

"Kenapa ke sini?" ketus Kiara kesal.

"Ini rumah orang tua saya. Saya tanya apa yang sedang kamu lakukan?"

Perempuan itu tersenyum. Dia memperlihatkan beberapa sayur mayur yang sudah bersih mengkilap.

"Kiara lagi cuci sayur! Kiara pinter kan?"

Bukan menjawab, Habibie malah memutari pantry, masuk dan berdiri di samping Kiara, dia mengambil satu lembar sawi yang ada di atas keranjang, membauinya sehingga dia langsung lemas setelah itu.

"Kau mencuci ini pakai sabun cuci piring!"

Tanpa ada ras bersalah atau bagaimana, Kiara mengangguk antusias.

"Iya, ada serangga, Mas! Jadi Kia cuci pake sabun biar bersih."

"Astagfirullah Kiaraaa~~~!"

Habibie rasanya ingin menangis, apalagi saat melihat wajah Kiara yang sama sekali tidak menunjukan rasa bersalah, perempuan ini bangga hanya karena bisa mencuci sayur, dan itu pun sangat di luar nalar.

"Ini pengalaman pertama untuk Kiara, Mas. Kiara keren, 'kan. Rasanya sangat menyenangkan karena bisa membantu Ummi!"

Ahhh sudahlah, kepala Habibie rasanya sangat ingin pecah, marah pun percuma karena Kiara mungkin memang tidak pernah menginjakkan kakinya di dapur.

"Ada apa ini?" tanya Ummi Amelia. "Eummm, Abie juga ada di sini ya. Baguslah. Kita makan malam bersama."

Habibie menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak bisa, dia tidak bisa membiarkan istrinya terlalu lama di rumah ini. Bisa-bisa, Ummi Amelia dibuat darah tinggi oleh istrinya.

"Habibie makan di rumah aja, Ummi!" katanya seraya menarik tangan Kiara.

Plakkkk!

Kiara memukul punggung tangan suaminya yang tidak sopan itu.

"Kiara enggak mau pulang. Kiara udah izin sama Ummi kalau Kiara mau nginep di sini! Ummi~~!" Perempuan itu merengek dengan wajah memelas. Dia langsung menepis tangan Habibie kemudian bersembunyi di belakang punggung Ummi Amelia.

"Kiara enggak mau pulang, Kiara mau di sini aja!"

"Kamu ini istri saya, Kiara. Hanya saya saja yang berhak atas kamu!"

"Ummi~~!" rengek Kiara lagi.

Ummi Amelia menatap Habibie dengan tatapan memohon. Bahkan, hanya dengan tatapan saja, Habibie sudah tidak bisa mengelak, pada akhirnya dia mengalah dan mengiyakan kemauan dua perempuan itu.

"Ummi lihat tuh! Menantu Ummi nyuci sayur pakai sabun!" Pria ini berbicara sangat ketus, ia meninggalkan Kiara dan Ummi Maryam untuk menemui ayahnya.

"Ummi, emang enggak boleh ya cuci sayur pakai sabun?"

Ummi Amelia tersenyum. Beliau menjelaskan setiap detail apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Ummi Amelia juga menjelaskan detail-detail kecil tentang hal yang berhubungan dengan memasak.

"Maafkan Kiara, Ummi. Pantes aja Mas Abie marah, Kiara ini terlalu bodoh!" Kiara menatap Ummi Amelia dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar sangat sedih karena sudah mengecewakan ibu mertuanya.

"Tidak apa-apa. Nanti Ummi ajarkan sampai kamu ngerti!"

....

"Ada apa Abie?" tanya ayah dari pria yang baru saja duduk di samping pria yang telah tidak muda lagi. Mereka tengah berada di bangku taman halaman belakang rumah, tempat favorit mereka untuk bersantai dan menikmati hembusan angin pagi atau sore.

"Abi! Habibie sepertinya tidak sanggup membimbing istri Habibie. Kiara itu terlalu ajaib, Habibie takut, kalau Habibie malah akan menyakitinya!"

"Kalau begitu, berusahalah untuk tidak menyakitinya!" jawaban pria itu terlalu enteng. "Allah menitipkan Kiara padamu karena Allah tahu kamu mampu. Kiara anak yang baik kok, hanya saja, anak itu terlalu menerima banyak luka. Alam bawah sadarnya masih menyimpan kesedihan yang tidak bisa dia angkat ke permukaan. Abi yakin, Kiara akan menjadi istri yang baik asalkan kamu bisa sabar!"

"Tapi Abi---!"

"Tidak ada tapi-tapian. Segeralah buat bayi! Kau itu sudah tidak muda lagi! Kazzem!"

Terpopuler

Comments

Arni

Arni

Nah lo, makin berat karna habibi masih cinta sma mantan istrinya

2023-04-28

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!