Kiara tersenyum melirik Habibie yang ada di sampingnya. Perempuan itu awalnya hanya main-main saat mengatakan akan bertanggungjawab. Namun, entah bagaimana ceritanya Habibie malah menanggapi serius apa yang dia katakan, sehingga, saat ini mereka berakhir di dalam mobil yang akan menuju kediaman Amzar, yaitu rumah orang tua Kiara.
"Syukur deh kalau ada calon dadakan. Kalau Ayah tahu aku punya calon suami, dia pasti enggak akan jodohin aku sama duda tua itu. Ya kali harus nikah sama kakek - kekek tumbal pesugihan. Ogah. Mending lah nikah sama Tuan Habibie. Dia emang galak sih, tapi ganteng nya bener-bener enggak ngotak."
Kiara terkekeh kecil setelah mengucapkan kalimat itu dalam hatinya.
"Are u oke?" tanya Habibie ketakutan.
Kiara mengangguk dengan senyum seribu bunga. Perempuan itu sejak tadi tidak bisa untuk menahan senyum. Membayangkan bagaimana marahnya sang ayah membuat Kiara begitu bahagia. Sudah hampir satu minggu Kiara keluar dari rumah, tapi sang ayah tidak ada satu kali pun mencari keberadaannya. Benar-benar ayah durhaka.
"Ayok, Tuan. Turun!" ajak Kiara.
Habibie pun menurut. Dia menatap punggung perempuan di depannya sedikit tersenyum. Apakah Kiara memang sebodoh ini? Dia masih belum sadar juga kalau dirinya adalah laki-laki yang akan dijodohkan dengannya? Sungguh kebodohan yang haqiqi.
"Calon istri Tuan Habibie sangat lucu," gumam Ali seraya menggelengkan kepala.
"Assalamualaikum! Ayahhhhhh! Ayahhhhh! Kia pulang!" teriaknya.
"Assalamu'alaikum ... yuhuuuuuuuu! Enggak ada orang ya? Pada tidur atau udah meninggal woyyyyy!"
Astagfirullah ... Habibie memejamkan mata mendengar pekikan suara Kiara. Jangan lupakan kalimat tidak biasa yang keluar dari mulut Kiara.
"Wa'alaikumssalam. Ya Allah, Non Kia. Udah pulang, Non!" sapa Bi Darsini.
"Alhamdulillah, udah Bi. Ayah mana ya?" tanya Kiara. "Oo iya, Bi. Minta tolong buatkan teh hangat ya, untuk calon suami Kia," bisik perempuan itu.
Bi Darsini tersenyum, dia mencolek pinggang Kiara seraya melirik ke arah Habibie.
"MasyaAllah, Non. Ganteng ikh, gagah pula. Pinter amat cari jodoh!" pujinya.
Kiara tersenyum bangga. Dia baru akan berbicara tapi suara di belakangnya membuat Kiara langsung menoleh.
"Anak ayah sudah pulang?" tanya Amzar.
Kiara mendelik. Dia menarik lengan baju yang dikenakan oleh Habibie, membawa pria itu mendekat ke arah sang ayah.
"Jangan sok akrab sama Kiara Ayah. Emangnya kita saling kenal," ketus perempuan itu.
Amzar tergelak mendengar ucapan Kiara. Dia sangat merindukan kekonyolan putrinya itu. Sebandel apa pun Kiara, rumah ini selalu sepi tanpanya.
"Ayah kangen, Nak!" ucap Amzar. Dia menarik tangan Kiara kemudian memeluk anak perempuannya itu erat. "Kenapa baru pulang?"
Bukannya menjawab, Kiara malah menangis terisak dalam dekapan sang ayah. Perempuan manja itu memukul lengan sang ayah berkali-kali. Tanpa merasa puas, ia terus saja meraung. "Ayah tega! Ayah kenapa ninggalin Kiara? Kenapa enggak cari Kia, Ayah udah enggak sayang sama Kiara? Hiksss ... ayah jahat!"
Amzar malah tersenyum, dia mengusap punggung sang anak dengan usapan yang sangat lembut. Amzar juga mengecup puncak kepala Kiara cukup lama. Bukan hanya Kiara yang tersiksa, dia juga. Merindukan seorang anak itu terlalu menyakitkan. Namun, Amzar melakukan ini demi kebaikan Kiara sendiri. Bukan untuk orang lain.
"Shutttt! Maafkan ayah. Jangan menangis. Ada orang lain di sini, apa kau tidak malu? Nanti anak ayah enggak cantik lagi."
Kiara menggelengkan kepalanya. "Enggak mungkin. Kiara udah cantik dari lahir, Ayah!"
Baik Amzar maupun Habibie tersenyum mendengar celotehan perempuan itu. Kiara memang agak lain dari perempuan kebanyakan.
....
Setelah Kiara lebih tenang, mereka pindah ke sofa yang ada di ruang tamu. Habibie tidak banyak bicara. Pria itu malah tersenyum melihat kode dari Amzar.
"Ayah!" pekik Kiara akhirnya.
"Ada apa?" tanya Amzar. "Kamu sudah siap untuk menikah?"
Kiara mengangguk. "Iya, Kiara mau nikah, tapi bukan dengan pria pilihan Ayah. Kia sudah melakukan kesalahan, Ayah. Kiara sudah melecehkan Tuan Habibie!"
Uhukkk!
Mata Habibie membulat dengan sempurna. Dia sampai tersedak air teh yang sedang dia minum. Apa yang sedang Kiara katakan. Kenapa sangat ambigu. Jangan sampai Amzar berpikir yang tidak-tidak.
Di luar dugaan Habibie, Amzar malah tersenyum kecil.
"Apa maksudmu, Kiara?" tanya Amzar.
"Kiara sudah melecehkan Tuan Habibie. Kiara harus bertanggungjawab. Kiara enggak bisa menikah dengan pria yang ayah mau. Perempuan itu kan enggak boleh punya pasangan lebih dari satu. Iya enggak, Tuan?" tanya Kiara pada Habibie. Pria itu hanya mengangguk seraya menahan senyum.
"Kiara akan menikahi Tuan Habibie. Tolong lamar pria ini untuk Kiara. Ayah banyak uang, siapkan mahar yang paling bagus. Boleh 'kan?"
Amzar tergelak sampai menunduk seraya memegangi perutnya yang sakit. Pria itu tidak kuasa menahan tawa, tidak perduli itu di depan siapa, tapi anaknya itu benar-benar sangat lucu. Ingin rasanya Amzar cubit ginjal sang anak, saking gemasnya.
"Ayah kenapa? Ayah enggak sakit 'kan?" Entah kapan Kiara berdiri, tapi sekarang dia telah berada di hadapan Amzar, menyentuh kening sang ayah dengan wajah kebingungan.
Amzar menghentikan tawanya. Pria paruh baya itu menarik tangan Kiara sehingga anak sulungnya terduduk di atas pangkuan.
"Tuan Habibie mu itu adalah pria yang ingin ayah jodohkan dengan mu, Kia!" bisik Amzar dengan suara tawa renyahnya.
Kiara mematung. Perempuan itu menoleh ke arah Habibie, menatap pria itu lekat. "Kau!" tunjuk Kiara dengan jarinya. Habibie hanya menipiskan bibir seraya mengangkat kedua bahunya acuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Rita susilawati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2025-02-18
0
Wury Ayra
kia-kia org yg kamu hindari trnyta tnpa sengaja kamu berada disampingnya... jkalo sdh odoh emg ga bkl kemana
2023-03-20
4
Uneh Wee
kia kena loh anak manja di kerjaintuan habibie dan ayah mu heee selamet berjuang kia
2023-03-18
2