Habibie menatap perempuan yang sedang terlelap itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tangannya terulur, melepaskan genggaman jemari sang istri dan kembali menyelimuti istrinya itu perlahan. Habibie harus membersihkan diri karena tubuhnya sudah sangat lengket dengan keringat.
15 menit kemudian, pria itu sudah lebih segar dari sebelumnya. Tangan besarnya masih menggosok rambut basah, ingin keluar dari kamar tapi tiba-tiba sosok perempuan di atas ranjang menghilang entah kemana.
"Kiara!" gumam Habibie. Ia menyingkap selimut di atas ranjang, mengedarkan pandangannya di seluruh sudut kamar tapi istrinya itu tidak ada. Kamar itu sudah Habibie kunci, jadi kemana istrinya pergi.
Kaki panjangnya membawa Habibie masuk ke dalam walk in closet. Pria itu kembali menelisik ruangan tersebut tapi masih tidak ada sosok perempuan yang dia cari. "Kau di mana?" tanya Habibie lagi. Ia baru akan berbalik akan tetapi malah melihat pergerakan dari dalam lemari pakaiannya.
"Kiara!"
Habibie mengerutkan kening, ia berjongkok melihat keadaan istrinya itu yang entah sedang apa. Hanya meringkuk di bawah hanger dan tumpukan baju yang terlipat.
"Kenapa di sini?" Habibie bertanya dengan sangat hati-hati.
"Kiara takut, Ayah. Ada hantu di dekat pintu. Dia mau ngajak Kiara main, Kiara udah bilang Kiara enggak mau tapi dia tetep aja maksa. Kiara capek, Kiara mau tidur."
Kening pria itu semakin mengkerut dalam. Habibie ingin menyentuh tangan Kiara akan tetapi Kiara menepisnya. Bukannya berhenti, Habibie semakin mendekat, Kiara tidak baik-baik saja bukan. Tangan itu pun terulur, menyentuh kening sang istri sehingga Habibie menjadi sangat hapal jika perempuan di depannya itu sedang demam tinggi. Rasa bersalah muncul dalam hatinya, mau mengelak seperti apa pun, Habibie mengaku salah karena dia memang sempat mengguyur istrinya itu dengan air dingin.
"Kita pindah!"
"Enggak mau. Kiara mau tidur di sini. Kia takut, Ayah! Kiara takut!"
Habibie mengembuskan napas pelan. Ia memejamkan mata untuk beberapa saat kemudian tangan itu kembali terulur, menyentuh kepala sang istri dan membelainya cukup lembut.
"Ada saya. Saya akan menjagamu, semuanya akan baik-baik saja Kiara. Saya janji, saya tidak akan meninggalkanmu!"
Kiara menoleh, dia menatap wajah Habibie dengan mata memincing. "Kamu bukan Ayah. Kamu siapa? Jangan sentuh aku ikh, pergi sana!"
Suara itu sangat lemah tapi penuh penekanan.
"Saya suami kamu. Saya tidak akan melakukan hal yang macam-macam!" tegas Habibie lagi.
"Suami? Kamu suami aku? Apa kamu pedofil? Aku masih kecil, belum boleh menikah." Kiara tertawa lirih.
Habibie terlihat sangat bodoh karena harus meladeni mulut ngawur istrinya. Entah apa yang terjadi dengan Kiara, kenapa dia sangat aneh seperti ini.
"Ya sudah, intinya saya bukan orang jahat."
"Kamu pengasuh?"
Habibie pun mengangguk. Terserah Kiara saja mau menganggapnya seperti apa, yang penting dia bisa membawanya kembali ke ranjang.
"Gendong," kata perempuan itu.
Habibie tersenyum kecil, dia menarik Kiara keluar dari dalam lemari kemudian membawanya kembali ke atas ranjang.
"Om!"
"Hmmm!"
"Sakit," lirih perempuan itu.
Lagi-lagi Habibie hanya mengangguk. Ia menarik laci di samping nakas, mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh sang istri.
"Ya Allah, kau demam tinggi, Kiara!"
Malam itu, Habibie dengan sangat telaten mengurus Kiara. Perempuan itu terus saja merengek, terkadang menangis sehingga Habibie dibuat kelimpungan. Keringat besar membanjiri kening pria itu. Apalagi saat Kiara terus bergerak seraya meringis kesakitan.
"Om ... sakit ...!" Perempuan itu kembali berucap dengan isakan.
Habibie mengambil kain basah di atas keningnya, menghidrasi kembali kain tersebut dan meletakkannya lagi di atas kening sang istri.
"Istighfar, InsyaAllah ini tidak akan lama," kata Habibie.
Pria itu mengambil ponselnya, dia menelpon dokter keluarga untuk menanyakan apa yang harus dia lakukan. Saat dokter itu menjelaskan, Habibie mendengarkannya dengan seksama. Tidak sekalipun dia melewatkan tahapan - tahapan yang harus dia lakukan.
"Jika setelah diberikan obat masih belum turun juga demamnya. Kabari saya, biar saya yang ke sana!"
Habibie bernapas lega setelah melihat Kiara tidur lebih nyaman. Perempuan itu tidak lagi meracau, mungkin efek obat yang Habibie berikan membuat Kiara mengantuk. Habibie ikut berbaring di samping Kiara, menatap wajah itu untuk waktu yang cukup lama sebelum dia benar-benar terlelap setelah semalaman mengurus istri kecilnya.
Sadar atau tidak, Kiara kembali bergerak gelisah, perempuan itu menangis dalam tidurnya, padahal ini baru dua jam setelah dia terlelap, pria itu menyadari apa yang terjadi, karena terdesak keadaan, Habibie pun menarik Kiara ke dalam dekapannya, menenangkan Kiara dan semakin lama, tangisan Kiara semakin memelan dan mereka pun kembali terlelap.
....
Perempuan itu mengerejapkan matanya ketika sinar matahari yang menembus celah gorden menerpa wajahnya. Dia baru ingin kembali tidur, akan tetapi saat ingat kalau dia belum shalat subuh, Kiara langsung beranjak begitu saja. Sayangnya, karena perempuan itu masih belum membaik sepenuhnya, ia terhuyung dan hampir jatuh, tubuhnya terseok, syukurlah Kiara masih bisa duduk di atas nakas meksipun barang-barang di atas nakas itu harus berhamburan ke bawah.
"Jangan dipaksakan! Memangnya kau mau ke mana?"
Suara bariton yang khas dan sangat dingin itu membuat kepala Kiara yang pening malah semakin berdenyut. Dia ingin mengumpat tapi dia berusaha untuk menahannya demi kelangsungan hidup.
"Aku belum shalat. Bukankah kau akan membunuhku kalau aku tidak shalat!"
Habibie tergelak, dia menarik tangan kemejanya sampai ke siku lalu memangku Kiara dan membawanya ke kamar mandi. "Baik Allah ataupun saya tidak membutuhkan shalat mu, Kiara!"
Dia menurunkan Kiara di dekat bathub yang sudah terisi sepertiganya dengan air hangat.
"Yang membutuhkan shalat itu kamu sendiri. Bukan orang lain," lanjutnya. "Berendam sebentar agar demam mu cepat turun! Dua jam lagi saya harus pergi ke kantor! Bajunya sudah saya letakan di atas lemari!" Habibie menunjuk ke arah tempat dimana dia menyiapkan apa yang dia katakan.
Mata Kiara terbelalak bukan main. Dia menatap Habibie dengan delikan tajam tapi Habibie tidak perduli. Ia berjalan meninggalkan Kiara yang sedang mengeluarkan asap dari telinga dan hidungnya.
"Apa dia sudah gila!" ketus Kiara. Andai saat itu Kiara tidak sakit kepala dan memiliki tenaga, dia pasti akan menghajarnya habis-habisan. Kenapa Habibie sangat tidak sopan, menyiapkan pakaian, termasuk pakaian dalamnya bukan?
"Apa ini bukan pelecehan?"
....
Habibie turun dari lantai atas menuju meja makan. Tapi, baru akan sampai dipijakan terakhirnya, Habibie menghentikan langkah, ia mematung melihat sesosok perempuan yang ada di dekat meja makan.
Perempuan itu berbalik, tersenyum ke arah Habibie seraya melambaikan tangan.
"Sarapan dulu, Abie!"
Habibie pun tersenyum. Ia berjalan mendekati perempuan itu lantas memeluknya dengan erat.
"Kenapa baru datang?" ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments