Amelia Taslima Umaiza, perempuan cantik yang sudah tidak muda lagi itu adalah sosok perempuan yang sangat Habibie sayangi dalam hidupnya, Ummi Amelia adalah sosok penyayang, baik hati tapi sangat tegas dengan kelembutan sebagai ciri khasnya.
"Ummi ke sini karena Ummi dapet kabar dari Bi Arum kalau menantu Ummi sakit. Ini Ummi sudah buatkan bubur. Kiara masih tidur?" tanya Ummi Amelia.
Habibie menggelengkan kepalanya. Ia baru akan mengeluarkan suara akan tetapi mendengar pekikan kencang di lantai atas, pria itu langsung berlari meninggalkan Ummi Amelia yang mengikutinya dari belakang.
"Kiara!" panggil Habibie dengan wajah khawatir.
"Mas Habibie!!!!!!" teriak Kiara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tanpa melihat kanan kiri, perempuan itu langsung melompat, memeluk leher Habibie erat. "Mas, kenapa ada suara aneh di kamar mandi. Mas enggak pelihara tuyul kan. Kiara takut, Mas."
Ummi Amelia tersenyum. Dia sangat senang karena Habibie tidak menolak pelukan Kiara. Apalagi saat melihat Kiara hanya mengenakan handuk, Amelia pikir hubungan keduanya mungkin sudah lebih jauh, mangkanya Kiara dan Habibie berani melakukan hal itu.
"Kia ... lepasin dulu! Di kamar mandi enggak ada apa-apa. Jangan mikir yang macam-macam lah!"
Habibie ingin melepaskan Kiara tapi perempuan itu malah memeluk lehernya semakin erat. Perempuan itu menggelengkan kepalanya, dia tidak mau melepaskan Habibie, sampai kapan pun tidak akan dia lepaskan.
"Aku sudah janji kalau aku akan membuatmu menyesali apa yang kau katakan Tuan Habibie. Kau itu pendusta, jelas-jelas aku mendengar degup jantungmu. Kenapa kau sangat keras kepala!" Kiara membatin seraya bersorak gembira. Dia tidak bisa menyerah pada kenyataan. Dia tidak tahu apa yang terjadi tadi malam, tapi ... saat melihat keanehan Habibie, Kiara menjadi takut kalau pria ini memiliki niat buruk. Mungkin saja Habibie berlaku baik padanya hanya untuk menenangkan dia kemudian menceraikannya.
Kiara tidak mau itu terjadi, dia yang harus meninggalkan Habibie, bukan Habibie yang harus meninggalkannya.
"Ekhemmmm!"
Kiara mengerutkan kening mendengar suara perempuan berdehem di belakang Habibie. Ia sedikit melonggarkan rangkulannya kemudian berjinjit untuk mengintip orang itu dari balik leher dan juga bahu suaminya.
"Mas ... ada Ummi!" gumam Kiara.
"Jaga sikap kamu, Kia!"
Kiara tersenyum kikiuk ke arah Ummi Amelia. Lama-lama kepalanya terbenam dan berhenti di depan dada sang suami. Matanya terpejam sangat kuat karena dia begitu malu dengan Ummi Amelia. Tangannya menarik-narik kerah kemeja hitam yang Habibie kenakan tapi Habibie juga malah menggenggam kedua tangannya dan menggenggamnya di depan dada.
Baru juga akan kembali bersuara, tiba-tiba Kiara oleng dan hampir jatuh andai saja Habibie tidak menahan pinggang sang istri.
"Kenapa lagi!" tanya Habibie. Bukannya khawatir, pria itu hanya merasa jengkel dengan sikap istrinya.
"Kiara lemes, Mas!"
Mendengar hal tersebut, Habibie kembali menggendong Kiara kemudian membawanya masuk ke kamar mandi, menurunkan istrinya di sana, meminta Kiara untuk mengenakan pakaian.
"Mas ... Kiara takut!"
"Terus mau gimana?"
"Temenin!"
Glek!
Habibie meneguk saliva susah payah. Sejak tadi saja dia telah berusaha untuk tidak melihat tubuh istrinya dan sekarang Kiara minta untuk ditemani. Perempuan ini benar-benar sudah gila.
"Saya masih banyak urusan!"
Blam!
Pintu kamar mandi ditutupnya cukup kencang, Kiara hanya mengerucutkan bibirnya, kesal. Dan Habibie yang ada di luar pun mematung untuk beberapa saat, menormalkan detak jantungnya kemudian pergi meninggalkan kamar itu.
....
Langkah gontai Kiara membawanya masuk ke kamar, perempuan itu menggosok rambutnya dengan mata terpejam, sesekali meringis karena ternyata dia masih terlalu pusing.
"Kiara~~"
Perempuan itu mendongak dan kembali dibuat terkejut karena sosok yang ada di depannya.
"Ummi!"
Amelia tersenyum. Perempuan itu menarik tangan Kiara kemudian mendudukkannya di kursi depan meja rias.
"Jangan terlalu lama di kamar mandi, kamu itu masih sakit 'kan! Ummi bantu keringkan rambutnya ya!"
Kiara hanya mengangguk. Ia menatap wajah Ummi Amelia dari pantulan cermin di depannya. Ummi Amelia sangat cantik, meskipun sudah berumur, tapi Kiara bisa melihatnya, apalagi saat melihat dagu dan hidung Ummi yang runcing, ibu dari suaminya ini sangat luar biasa.
"Ummi dengar, kemarin kamu dimarahin Habibie, iya enggak?" bohong Ummi Amelia, dia hanya ingin mendengar tanggapan dari mulut menantunya itu.
Kiara menggelengkan kepalanya dengan yakin . "Mas Habibie itu sangat baik, Ummi, dia sayang sama Kiara, perhatian dan sangat pengertian. Mas Habibie akan memberikan apa pun yang Kiara minta meskipun itu tidak mudah!"
"Iya 'kah?"
"Hmmmm ... putra Ummi itu memang yang terbaik!"
"Ekhemmmm!"
Kiara dan Amelia langsung menoleh ke arah pintu. Tiba-tiba Kiara berwajah masam. Entah Kenapa, moodnya selalu berubah-ubah saat melihat Habibie. Apalagi jika ingat kata-kata pedas suaminya. Ikh, rasanya itu seperti Kiara ingin menghajar wajah tampannya saat itu juga.
"Katanya anak Ummi baik," goda Amelia.
Kiara langsung merubah raut wajahnya. Perempuan itu berusaha untuk menunjukan binar meskipun hatinya gelap tanpa penerangan.
"Buburnya Abie bawa ke sini aja, Ummi. Takutnya Kiara malah jatuh dan menggelinding di tangga."
Ummi Amelia tersenyum, sedangkan Kiara menatap Habibie dengan mata mendelik. Oh Tuhan, memangnya dia trenggiling. Suaminya ini terlalu ngawaur.
"Iya," jawab Ummi Amelia. "Kiara kita masih lemah, lebih baik istirahat di sini saja, takutnya malah pusing, jatoh dan nauzubillah. Sok atuh di suapin istrinya!"
Habibie dan Kiara saling menatap, melempar tatapan aneh dan saat Habibie akan menjawab iya, Kiara langsung menyerobot begitu saja.
"Kiara mau Ummi aja yang nyiapin! Biarkan Mas Habibie kerja, kalau Mas Abie enggak bisa menghasilkan, nanti Kiara mau makan apa Ummi!"
Lagi-lagi Ummi Amelia dibuat tertawa karena dua anak manusia di depannya. Ia menuntun Kiara untuk duduk di kursi yang ada di dekat meja bundar di kamar itu. Sangat dekat dengan dinding kaca satu arah sehingga mereka bisa melihat langsung taman di samping rumah.
"Bawa ke sini, buburnya, Bie!"
"Iya, Ummi!"
"Sekalian ambilkan minum. Sama, Ummi tadi ada bawa vitamin. Tolong bawakan ke sini ya!"
"Baik Ummi!"
Kiara bersorak heboh dalam hati. Perempuan itu menatap punggung Habibie dengan tatapan yang .... Arghhhhhh, pokonya Kiara senang karena saat bersama Ummi Amelia, Habibie benar-benar sangat penurut.
"Bismilah dulu, Nak!"
Kiara pun mengangguk mengiyakan. Perempuan itu membuka mulutnya menerima suapan-suapan yang diberikan Ummi Amelia. Wajah perempuan di depannya ini, gesture tubuhnya, juga cara dia mengajak Kiara berinteraksi, Kiara menjadi teringat akan sosok ibunya.
Tiba-tiba, bulir bening itu mengalir dari pelupuk mata Kiara dan itu membuat Ummi Amelia merasa sangat khawatir.
"Kenapa? Bubur Ummi enggak enak ya?"
Kiara menggelengkan kepalanya seraya mendongak menatap langit-langit untuk menghalau desakan air mata yang meminta untuk ditumpahkan.
"Kiara cuma kangen sama Bunda, Ummi. Ummi sangat baik, dan cara Ummi bicara itu persissss banget sama Bunda."
Ummi Amelia tersenyum, dia meletakan sendoknya kembali dan menggeser kursi agar dia bisa memeluk Kiara. Tidak ada yang Ummi Amelia katakan, beliau hanya memeluk menantunya, menyalurkan kekuatan agar Kiara tidak terlalu sedih.
"Yang sabar, Nak! Do'akan Bunda, perbanyak kirim doa untuknya. Mungkin Bunda juga lagi kangen sama kamu."
Kiara mengangguk, perempuan itu membalas pelukan mertuanya dan malah menangis semakin menjadi.
"Maafkan, Kiara Ummi. Kiara cengeng kalau udah bahas masalah Bunda."
Ummi Amelia menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Semua ini wajar, menangis bukan berarti lemah. Ummi seneng karena bisa jadi sandaran kamu, Nak!"
Tidak ada sahutan lagi dari Kiara, perempuan itu malah semakin mengeratkan pelukannya, mendekap Ummi Amelia seolah-olah itu adalah ibu kandungnya yang telah lama tidak dia temui.
"Bunda, Bunda jangan cemburu kalau Kiara sayang sama Ummi Amelia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments