19. Tunduk Di Depan Pawang

Amelia Taslima Umaiza, perempuan cantik yang sudah tidak muda lagi itu adalah sosok perempuan yang sangat Habibie sayangi dalam hidupnya, Ummi Amelia adalah sosok penyayang, baik hati tapi sangat tegas dengan kelembutan sebagai ciri khasnya.

"Ummi ke sini karena Ummi dapet kabar dari Bi Arum kalau menantu Ummi sakit. Ini Ummi sudah buatkan bubur. Kiara masih tidur?" tanya Ummi Amelia.

Habibie menggelengkan kepalanya. Ia baru akan mengeluarkan suara akan tetapi mendengar pekikan kencang di lantai atas, pria itu langsung berlari meninggalkan Ummi Amelia yang mengikutinya dari belakang.

"Kiara!" panggil Habibie dengan wajah khawatir.

"Mas Habibie!!!!!!" teriak Kiara yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tanpa melihat kanan kiri, perempuan itu langsung melompat, memeluk leher Habibie erat. "Mas, kenapa ada suara aneh di kamar mandi. Mas enggak pelihara tuyul kan. Kiara takut, Mas."

Ummi Amelia tersenyum. Dia sangat senang karena Habibie tidak menolak pelukan Kiara. Apalagi saat melihat Kiara hanya mengenakan handuk, Amelia pikir hubungan keduanya mungkin sudah lebih jauh, mangkanya Kiara dan Habibie berani melakukan hal itu.

"Kia ... lepasin dulu! Di kamar mandi enggak ada apa-apa. Jangan mikir yang macam-macam lah!"

Habibie ingin melepaskan Kiara tapi perempuan itu malah memeluk lehernya semakin erat. Perempuan itu menggelengkan kepalanya, dia tidak mau melepaskan Habibie, sampai kapan pun tidak akan dia lepaskan.

"Aku sudah janji kalau aku akan membuatmu menyesali apa yang kau katakan Tuan Habibie. Kau itu pendusta, jelas-jelas aku mendengar degup jantungmu. Kenapa kau sangat keras kepala!" Kiara membatin seraya bersorak gembira. Dia tidak bisa menyerah pada kenyataan. Dia tidak tahu apa yang terjadi tadi malam, tapi ... saat melihat keanehan Habibie, Kiara menjadi takut kalau pria ini memiliki niat buruk. Mungkin saja Habibie berlaku baik padanya hanya untuk menenangkan dia kemudian menceraikannya.

Kiara tidak mau itu terjadi, dia yang harus meninggalkan Habibie, bukan Habibie yang harus meninggalkannya.

"Ekhemmmm!"

Kiara mengerutkan kening mendengar suara perempuan berdehem di belakang Habibie. Ia sedikit melonggarkan rangkulannya kemudian berjinjit untuk mengintip orang itu dari balik leher dan juga bahu suaminya.

"Mas ... ada Ummi!" gumam Kiara.

"Jaga sikap kamu, Kia!"

Kiara tersenyum kikiuk ke arah Ummi Amelia. Lama-lama kepalanya terbenam dan berhenti di depan dada sang suami. Matanya terpejam sangat kuat karena dia begitu malu dengan Ummi Amelia. Tangannya menarik-narik kerah kemeja hitam yang Habibie kenakan tapi Habibie juga malah menggenggam kedua tangannya dan menggenggamnya di depan dada.

Baru juga akan kembali bersuara, tiba-tiba Kiara oleng dan hampir jatuh andai saja Habibie tidak menahan pinggang sang istri.

"Kenapa lagi!" tanya Habibie. Bukannya khawatir, pria itu hanya merasa jengkel dengan sikap istrinya.

"Kiara lemes, Mas!"

Mendengar hal tersebut, Habibie kembali menggendong Kiara kemudian membawanya masuk ke kamar mandi, menurunkan istrinya di sana, meminta Kiara untuk mengenakan pakaian.

"Mas ... Kiara takut!"

"Terus mau gimana?"

"Temenin!"

Glek!

Habibie meneguk saliva susah payah. Sejak tadi saja dia telah berusaha untuk tidak melihat tubuh istrinya dan sekarang Kiara minta untuk ditemani. Perempuan ini benar-benar sudah gila.

"Saya masih banyak urusan!"

Blam!

Pintu kamar mandi ditutupnya cukup kencang, Kiara hanya mengerucutkan bibirnya, kesal. Dan Habibie yang ada di luar pun mematung untuk beberapa saat, menormalkan detak jantungnya kemudian pergi meninggalkan kamar itu.

....

Langkah gontai Kiara membawanya masuk ke kamar, perempuan itu menggosok rambutnya dengan mata terpejam, sesekali meringis karena ternyata dia masih terlalu pusing.

"Kiara~~"

Perempuan itu mendongak dan kembali dibuat terkejut karena sosok yang ada di depannya.

"Ummi!"

Amelia tersenyum. Perempuan itu menarik tangan Kiara kemudian mendudukkannya di kursi depan meja rias.

"Jangan terlalu lama di kamar mandi, kamu itu masih sakit 'kan! Ummi bantu keringkan rambutnya ya!"

Kiara hanya mengangguk. Ia menatap wajah Ummi Amelia dari pantulan cermin di depannya. Ummi Amelia sangat cantik, meskipun sudah berumur, tapi Kiara bisa melihatnya, apalagi saat melihat dagu dan hidung Ummi yang runcing, ibu dari suaminya ini sangat luar biasa.

"Ummi dengar, kemarin kamu dimarahin Habibie, iya enggak?" bohong Ummi Amelia, dia hanya ingin mendengar tanggapan dari mulut menantunya itu.

Kiara menggelengkan kepalanya dengan yakin . "Mas Habibie itu sangat baik, Ummi, dia sayang sama Kiara, perhatian dan sangat pengertian. Mas Habibie akan memberikan apa pun yang Kiara minta meskipun itu tidak mudah!"

"Iya 'kah?"

"Hmmmm ... putra Ummi itu memang yang terbaik!"

"Ekhemmmm!"

Kiara dan Amelia langsung menoleh ke arah pintu. Tiba-tiba Kiara berwajah masam. Entah Kenapa, moodnya selalu berubah-ubah saat melihat Habibie. Apalagi jika ingat kata-kata pedas suaminya. Ikh, rasanya itu seperti Kiara ingin menghajar wajah tampannya saat itu juga.

"Katanya anak Ummi baik," goda Amelia.

Kiara langsung merubah raut wajahnya. Perempuan itu berusaha untuk menunjukan binar meskipun hatinya gelap tanpa penerangan.

"Buburnya Abie bawa ke sini aja, Ummi. Takutnya Kiara malah jatuh dan menggelinding di tangga."

Ummi Amelia tersenyum, sedangkan Kiara menatap Habibie dengan mata mendelik. Oh Tuhan, memangnya dia trenggiling. Suaminya ini terlalu ngawaur.

"Iya," jawab Ummi Amelia. "Kiara kita masih lemah, lebih baik istirahat di sini saja, takutnya malah pusing, jatoh dan nauzubillah. Sok atuh di suapin istrinya!"

Habibie dan Kiara saling menatap, melempar tatapan aneh dan saat Habibie akan menjawab iya, Kiara langsung menyerobot begitu saja.

"Kiara mau Ummi aja yang nyiapin! Biarkan Mas Habibie kerja, kalau Mas Abie enggak bisa menghasilkan, nanti Kiara mau makan apa Ummi!"

Lagi-lagi Ummi Amelia dibuat tertawa karena dua anak manusia di depannya. Ia menuntun Kiara untuk duduk di kursi yang ada di dekat meja bundar di kamar itu. Sangat dekat dengan dinding kaca satu arah sehingga mereka bisa melihat langsung taman di samping rumah.

"Bawa ke sini, buburnya, Bie!"

"Iya, Ummi!"

"Sekalian ambilkan minum. Sama, Ummi tadi ada bawa vitamin. Tolong bawakan ke sini ya!"

"Baik Ummi!"

Kiara bersorak heboh dalam hati. Perempuan itu menatap punggung Habibie dengan tatapan yang .... Arghhhhhh, pokonya Kiara senang karena saat bersama Ummi Amelia, Habibie benar-benar sangat penurut.

"Bismilah dulu, Nak!"

Kiara pun mengangguk mengiyakan. Perempuan itu membuka mulutnya menerima suapan-suapan yang diberikan Ummi Amelia. Wajah perempuan di depannya ini, gesture tubuhnya, juga cara dia mengajak Kiara berinteraksi, Kiara menjadi teringat akan sosok ibunya.

Tiba-tiba, bulir bening itu mengalir dari pelupuk mata Kiara dan itu membuat Ummi Amelia merasa sangat khawatir.

"Kenapa? Bubur Ummi enggak enak ya?"

Kiara menggelengkan kepalanya seraya mendongak menatap langit-langit untuk menghalau desakan air mata yang meminta untuk ditumpahkan.

"Kiara cuma kangen sama Bunda, Ummi. Ummi sangat baik, dan cara Ummi bicara itu persissss banget sama Bunda."

Ummi Amelia tersenyum, dia meletakan sendoknya kembali dan menggeser kursi agar dia bisa memeluk Kiara. Tidak ada yang Ummi Amelia katakan, beliau hanya memeluk menantunya, menyalurkan kekuatan agar Kiara tidak terlalu sedih.

"Yang sabar, Nak! Do'akan Bunda, perbanyak kirim doa untuknya. Mungkin Bunda juga lagi kangen sama kamu."

Kiara mengangguk, perempuan itu membalas pelukan mertuanya dan malah menangis semakin menjadi.

"Maafkan, Kiara Ummi. Kiara cengeng kalau udah bahas masalah Bunda."

Ummi Amelia menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa. Semua ini wajar, menangis bukan berarti lemah. Ummi seneng karena bisa jadi sandaran kamu, Nak!"

Tidak ada sahutan lagi dari Kiara, perempuan itu malah semakin mengeratkan pelukannya, mendekap Ummi Amelia seolah-olah itu adalah ibu kandungnya yang telah lama tidak dia temui.

"Bunda, Bunda jangan cemburu kalau Kiara sayang sama Ummi Amelia."

Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!