Bab 15. Terkontaminasi

"Kiara!" geram Habibie seraya mendorong bahu Kiara agar berhenti melakukan kekonyolan seperti itu.

"Kenapa? Dulu alasan bukan mahram. Sekarang aku mahram mu 'kan?"

Habibie melirik kanan kiri, matanya terpejam saat melihat Bi Arum dan Devi memutar tubuh mereka. Mungkin saja kedua orang itu telah melihat apa yang sudah Kiara lakukan.

"Turun!"

"Enggak mau!"

"Turun, Kiara!"

"Enggak mau!"

"Kiaraaaa!"

"Apa!" Kiara kembali membentak.

"Kiara bilang enggak mau ya enggak mau. Jangan maksa. Nanti Kiara laporkan Mas Abie atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga. Mau?"

Habibie mengembuskan napas kasar. Pria itu dengan kesalnya sedikit memundurkan kursi, memangku Kiara dan membawanya menaiki anak tangga menuju lantai atas. Dengan santainya, Kiara malah semakin mengalungkan tangan pada leher suaminya itu. Kiara sudah bertekad bukan, jika dia tidak bisa membuat suaminya jatuh cinta, Kiara harus bisa membuat sang suami menceraikannya agar dia bisa kembali hidup bebas.

"Ya ampun ... pengantin baru gitu amat," keluh Devi. "Bikin iri aja."

"Hush! Kamu masih kecil. Enggak boleh!"

....

Brukkk!

Kiara berdecih saat Habibie melemparkannya ke atas ranjang. Kekesalan itu membuat Kiara semakin hilang akal. Ia membuka blazer yang dia kenakan sehingga tubuh bagian atasnya lebih banyak yang terekspos. Tangan perempuan itu juga melemparkan sepatu hak merah yang tadi dia kenakan.

"Majulah! Kalau kau ingin mengambil hak mu, silahkan!" ucap Kiara seraya mencondongkan tubuh bagian atasnya.

Hembusan napas itu kembali keluar dari mulut Habibie. Dia memejamkan mata menahan kekesalannya pada perempuan di depan mata. Apakah tidak ada yang bisa Kiara lakukan selain membuatnya kesal? Satu menit saja, diam dan jangan membuat masalah. Tapi sepertinya itu percuma karena Kiara tidak pernah mau belajar untuk menjadi lebih baik.

"Saya tidak tertarik pada tubuh mu itu, Kiara! Jangan terlalu bermimpi!"

Duarrr!

Kiara seperti mendengar sambaran kilat menggelegar. Apa dia bilang?

"Tidak tertarik?"

Semakin membara lah api dalam hati perempuan itu. Kiara menggeram, mengepalkan tangan dengan emosi tertahan. Dia benar-benar ingin mencabik mulut dan mata Habibie yang tidak memiliki selera yang baik itu.

Tangan Kiara menarik tali dress yang dia kenakan. Ia hanya ingin melihat, apakah Habibie benar-benar tidak tertarik dengan tubuhnya? Why? Di saat banyak pria menginginkan hal itu darinya? Kenapa suaminya sendiri malah mengatakan hal mengerikan seperti itu.

Di luar dugaan. Saat baru satu tali yang lepas, Habibie sudah mencondongkan tubuh ke arah Kiara, perempuan itu langsung mematung, terkejut akan reaksi yang suaminya tunjukan. Padahal beberapa detik yang lalu, ia telah sangat bersemangat. Tapi, kenapa jantungnya malah berdegup kencang seperti ini.

Namun, di luar dugaan Kiara.. Habibie ternyata hanya mengambil selimut di atas ranjang kemudian menyelimuti tubuh sang istri dengan kain tebal itu.

"Harusnya kau punya harga diri meskipun hanya sedikit!"

Deg!

Netra perempuan itu langsung terbelalak. Kiara menatap nanar punggung Habibie yang masuk ke kamar mandi. Tubuhnya ambruk, terduduk pada tepian ranjang dengan wajah melongonya.

"Astagfirullah ... dia itu manusia atau bukan? Kenapa mulutnya sangat tajam? Apa aku juga harus memiliki harga diri di depannya? Haruskah aku diam saja?"

Kiara tidak habis pikir, kenapa Habibie sangat tega mengatakan hal seperti itu. Apa salahnya? Dan kenapa dia sama sekali tidak tertarik. Apa tubuhnya memang sangat menjijikan.

"Atau mungkin, dia itu impoten!"

Mata Kiara kembali terbelalak. Dia bergidik negeri membayangkan hal-hal gila yang ada di dalam kepalanya. "Apa mungkin, istri pertamanya juga meninggal karena mengetahui hal ini? Orang yang gagah seperti itu tidak jantan? Eh ... lelucon macan apa ini!"

Kiara masih terus membayangkan hal-hal aneh yang terlintas dalam otaknya. Kiara yakin, ada yang salah dengan kehidupan sexual sang suami. "Melon ku juga enggak kecil-kecil amat. Mana mungkin dia enggan doyan."

Sementara di dalam kamar mandi, Habibie tidak henti-hentinya membasuh wajah dengan air dari wastafel. Pria itu menatap pantulan dirinya dari cermin, dadanya naik turun dengan napas tak karuan. Habibie mendesah, menahan gejolak yang memang wajar dia rasakan. Habibie adalah laki-laki normal, dia memiliki libido layaknya pria pada umumnya. Bukan tidak tertarik untuk menyentuh Kiara yang memang sudah halal untuknya. Hanya saja ....

"Aku tidak mencintaimu, Kiara. Tidak mungkin aku melepaskan hasrat ku hanya untuk kepuasan ku saja!"

....

Kiara mengerucutkan bibir ketika Habibie telah pergi dengan mobilnya. Dia menjadi sangat bingung harus melakukan apa. Berganti pakaian sudah, makan sudah, tas habis sudah. Apalagi yang tersisa.

"Bestie!" gumam Kiara dengan binar di wajahnya. Dia langsung bergegas menuju walk in closet, mencari pakaian lain karena target sudah tidak ada di rumah. Kiara akan mencari pakaian yang nyaman saja.

Sebenarnya tidak ada bedanya pakaian yang di pakai tadi dengan yang sekarang. Hanya saja, kali ini lebih panjang sedikit dan tidak terlalu memperlihatkan aurora di belakang tubuhnya.

"Ekh ... gue gak ada duit. Minta sama Ayah kali ya."

Perempuan itu berceloteh sendiri. Dia mengambil ponselnya dan melancarkan aksinya untuk berpura-pura mengemis.

"Halo, Ayah. Iya ... Kiara mau minjem uang sama Ayah."

"Loh, kok minjem sama ayah? Bukannya udah punya suami?"

Kiara membuat ekspresi seolah-olah akan muntah ketika mendengar kata suami dari mulut ayahnya.

"Kiara enggak berani minta. Temen Kiara mau ulang tahun. Kiara harus kasih kado, Yah. Kirim ke M Banking ya! 50 juta aja, enggak usah banyak-banyak!"

Terdengar helaan napas panjang dari sebrang telepon. Namun, meskipun begitu, Amzar tetap memberikan uang tersebut kepada sang anak. "Kalau mau keluar rumah, izin dulu sama suami kamu!"

"Siap, Ayah! Laksanakan."

Kiara berjingkrak heboh setelah melihat notifikasi saldo g6ang masuk ke rekeningnya. Memang sangat mudah untuk mengelabui sang ayah. Jangan menyalahkannya, karena hal ini juga terjadi atas keinginan sang ayah.

"Loh, Nyonya Kia mau ke mana?" Bi Arum berjalan tergesa menghampiri Kiara. Perempuan itu malah tersenyum, dia sangat antusias karena tadi dia juga sempat mengambil kunci mobil milik suaminya.

"Saya mau ketemu temen saya Bi. Udah izin kok sama Mas Abie! Bibi enggak usah khawatir!"

Kiara melenggang pergi meninggalkan rumah itu menuju garasi. Dia begitu kebingungan karena mobil yang terparkir di sana sangat banyak. Tapi tentu Kiara tidak bodoh, dia membuka kunci mobil dan kembali berjingkrak heboh ketika melihat lampu mobil yang menyala.

"Oke, Kiara! Party." Heboh perempuan itu dengan wajah berseri.

Terpopuler

Comments

Ass Yfa

Ass Yfa

hrusnya Kiara diajari dgn kelembutan bukan dgn kekerasan yg ada dia berontak ters, dan Habibie meras berkuasa, kenapa tisak berusaha menerima Kiara tuntun dgn cinta dan ketulusan... otomatis Kia mau berubah

2023-04-27

2

Uneh Wee

Uneh Wee

waduh bikin ulah tambah parah kia nih duh makin puyeng tuh suami ...tp kalau di pikir pedes juga yah suami kalau gitu ...mana mau kia jadi baik ..sabar

2023-03-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!