Bab 13. Membuat Suami Jengkel

Pagi semuanya ... bentar, sebelum masuk bab, Author kasih visual dulu ya. Jangan bilang kalau visualnya enggak nyambung karena memang kepribadian mereka juga terlalu jomplang.

Mas Habibie Kazeem Alqais

Kiara Aleema Jaleela

...----------------...

Bi Arum dan Devi dibuat kalang kabut tengah malam karena tingkah dan kelakukan Kiara.

Dua orang itu harus merapikan pakaian Habibie sedang yang membuat ulah malah menggelar bedcover di dekat lemari, perempuan itu meringkuk, tidur seperti anak kucing.

"Maafin Kia, Bi. Teh, Kia capek. Abis nikah kok malah dimarahin terus. Apa suami Kia itu tercipta dari tanah sengketa ya. Kerjaannya ngajak ribut terus. Enggak ada romantis-romantisnya. Aku habislah dimarahin dia terus."

Bi Arum dan Devi tersenyum. Mereka tahu, Habibie ini adalah orang yang baik. Hanya saja, mungkin Kiara ini memang orang yang spesial, oleh karena itu Habibie bisa dengan mudah menujukan emosinya.

Setelah semua pakaian itu tersusun rapi. BI Arum dan Devi akhirnya bisa tersenyum lega. Sudah hampir jam 11 malam, mereka harus kembali dan tidur sebelum melanjutkan aktifitas besok pagi.

"Nyonya!" panggil Bi Arum. Dia tentu saja tidak bisa memanggil Kiara sembarangan lagi. Saat tahu Habibie akan menikah dengan Kiara saja, mereka sudah hampir pingsan. Takut Kiara akan marah dan memecat mereka, tapi ternyata orang ini sangat baik.

"Enggak bangun, Bi. Biarin aja. Kita bilang aja sama Tuan Habibie," kata Novi.

Bi Arum pun mengangguk. Perempuan itu mengambil selimut tipis dan dia gunakan untuk menyelimuti majikan barunya. Setelah menutup pintu kamar, keduanya bergegas untuk kembali ke bawah.

"Sudah Bi?" tanya Habibie.

"Ah, sudah Tuan!"

"Maaf ya Bi. Saya meminta bantuan Bibi supaya Kiara enggak main-main lagi dengan pekerjaan orang lain."

Bi Arum pun tersenyum. "Tidak apa-apa, Tuan. Tapi ... maaf sebelumnya, kalau bisa, jangan terlalu keras sama Nyonya. Kasihan atuh Tuan. Sepertinya Nyonya Kiara memang tidak mendapatkan pelajaran seperti ini di rumahnya."

Habibie mengangguk seraya tersenyum. Memang iya, perempuan itu sudah ditinggalkan oleh ibunya saat dia masih kecil. Wajar jika sekarang dia menjadi seperti ini karena Amzar pun selalu sibuk dengan pekerjaan.

Pria itu masuk ke kamarnya dengan hati-hati. Takut kalau pergerakan yang dia lakukan akan membuat keributan lagi. Ini sudah tengah malam, dia juga harus cepat beristirahat.

Habibie melangkahkan kakinya mendekat ke arah walk in closet. Kepalanya menggeleng begitu melihat Kiara masih meringkuk di atas bedcover. Pria itu berbalik, ingin langsung tidur tapi dia merasa tidak tega melihat istrinya tidur dalam kondisi seperti itu.

Mau tidak mau ia memangku Kiara, membaringkan istri kecilnya di atas ranjang. Kiara memang sudah 25 tahun, tapi kenapa tingkahnya masih sangat kekanakan. Wajah Kiara juga sama sekali tidak menunjukkan jika dia telah berusia di atas 20an. Perempuan ini persis seperti anak SMA yang baru masuk.

"Apa aku enggak akan disangka jadi pedofil!"

Habibie bergidik negeri. Buru-buru ia menyelimuti Kiara dan berbaring di samping istrinya.

.....

Jam empat dua puluh dini hari, Habibie kembali mengembuskan napas kasar begitu melihat Kiara masih terlelap sedangkan dia telah bersiap untuk pergi ke mesjid. Tangan Habibie terulur, menepuk pundak Kiara akan tetapi tentu saja Kiara tidak menggubris hal itu.

"Kia bangun! Ini sudah subuh, bentar lagi adzan! Hei!"

Bukannya mendengar, Kiara malah menarik selimutnya sampai menutupi kepala. Ia merengek karena kesal acara tidurnya terganggu seperti ini.

"Kiaaaaa! Bangun. Apa kau tidak takut masuk neraka? Mau di bakar di atas bara api? Atau, kau mau direbus dalam lava!"

"Eummmm ... Kia masih ngantuk, Ayah! Kia capek. Masih mau tidur, bentar lagi ya. Ayah duluan aja!"

Kening pria itu mengkerut mendengar mulut tidak karuan istrinya. Jadi, Kiara masih berpikir kalau dia adalah ayahnya? Oh astaga ... Habibie benar-benar akan semakin jengkel.

"Kiaaaa ... kalau kamu enggak bangun, saya bakar semua tas dan sepatu kesayangan kamu!"

"No!" pekik Kiara langsung terduduk namun matanya masih terpejam.

Habibie tersenyum. Jadi, ancaman seperti inilah yang Kiara takuti. Baiklah, jika memang seperti itu, Habibie tahu harus melakukan apa.

"Saya ke masjid dulu! Kalau saya pulang kamu masih rebahan! Tas-tas itu akan benar-benar saya bakar!"

Kiara mengangguk, ia beranjak kemudian berjalan dengan lunglai. Namun, ketika pintu kamar tertutup. Perempuan itu malah kembali menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.

"Eummm, Ayah ... Kia masih ngantuk. Jangan bakar tas Kia, itu mahal. Ayah pasti akan menyesal."

Perempuan itu benar-benar tidak kapok. Dia selalu menganggap kalau apa yang Habibie lakukan hanyalah sebuah ancaman. Kembali tidur dengan nyenyak adalah pilihan terbaik untuknya saat ini.

....

Pukul lima lebih beberapa menit, shalat subuh di masjid sudah selesai. Habibie telah beranjak dan keluar dari pintu masjid tersebut.

"Assalamualaikum, Pak Habibie!" sapa seseorang.

"Wa'alaikumssalam, Ustadz! Apa kabar?"

"Alhamdulillah baik," jawab Ustad Hanafi. "Saya dengar Pak Habibie sudah menikah ya? Selamat untuk pernikahannya Pak. Semoga langgeng, bahagia dan terus rukun!"

"Aamiin. Aamiin ya Allah. Kapan-kapan main ke rumah saya, Ustadz. Saya mau mengadakan syukuran untuk beberapa hal. Pengennya sih ngundang anak yatim ke rumah. Nanti saya kabari Ustadz kalau waktunya sudah pasti."

Ustadz itu pun mengangguk, hampir 10 menit mereka bercengkrama, setelah itu Habibie kembali ke rumahnya dengan wajah yang lebih baik. Kaki jenjangnya membawa Habibie naik ke lantai atas, membuka pintu kamar juga mengucapkan salam.

Namun, di luar dugaan. Istri kecilnya, yang dia pikir masih anak bau kencur itu masih berbaring dengan nyaman di atas kasur.

"Astagfirullah ... Kiaraaaa!" pekik Habibie.

Perempuan itu langsung berdiri dan memberikan hormat kepada suaminya.

"Siap, Dan!" jawab Kiara yang sepertinya ngelindur.

Tanpa menunggu apa pun lagi, Habibie langsung menyambar tangan Kiara, menyeretnya masuk ke kamar mandi. Dia mengambil gagang shower, menghidupkan air dingin lalu menyiramkan air itu ke tubuh Kiara.

"Akhhhh ... dingin! Apa yang Mas Habibie lakukan!" Kiara memekik tidak terima.

Pria itu kembali meletakan shower dan menatap Kiara tajam.

"Saya sudah bilang shalat subuh! Kamu bilang iya tapi malah tidur lagi! Apa kurang jelas apa yang saya katakan. Kenapa kamu ini sangat berbeda dengan Ais---!"

Habibie menggantungkan kalimatnya. Ia mengembuskan napas kasar seraya memalingkan wajah. "Shalat! Setelah itu temui saya di halaman belakang!"

Blamm!

Kiara terperanjat. Perempuan itu menatap pintu dengan mata berkaca-kaca.

"Sabar Kiara, ini baru permulaan. Sabar! Dia hanya marah. Kamu anak baik kok. Kata Bunda, kamu hanya harus berusaha lebih keras dari orang lain."

Habibie mungkin tidak menghargainya sebagai seorang istri melainkan menganggap dia sebagai budak.

"Sabar, Kiara! Eishhhhhhh ... tapi habis ini pasti kena hukum lagi ... Bundaaaaaa! Kiara takut!"

Terpopuler

Comments

Uneh Wee

Uneh Wee

iya kia ank baik ...mknya bikin jngkel suami nya itu karna terlalu baik ....heee sabar paksu yh kia nya harus d rukiyah dulu kali baru dia kn sadar hee

2023-03-19

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!