Pagi semuanya ... bentar, sebelum masuk bab, Author kasih visual dulu ya. Jangan bilang kalau visualnya enggak nyambung karena memang kepribadian mereka juga terlalu jomplang.
Mas Habibie Kazeem Alqais
Kiara Aleema Jaleela
...----------------...
Bi Arum dan Devi dibuat kalang kabut tengah malam karena tingkah dan kelakukan Kiara.
Dua orang itu harus merapikan pakaian Habibie sedang yang membuat ulah malah menggelar bedcover di dekat lemari, perempuan itu meringkuk, tidur seperti anak kucing.
"Maafin Kia, Bi. Teh, Kia capek. Abis nikah kok malah dimarahin terus. Apa suami Kia itu tercipta dari tanah sengketa ya. Kerjaannya ngajak ribut terus. Enggak ada romantis-romantisnya. Aku habislah dimarahin dia terus."
Bi Arum dan Devi tersenyum. Mereka tahu, Habibie ini adalah orang yang baik. Hanya saja, mungkin Kiara ini memang orang yang spesial, oleh karena itu Habibie bisa dengan mudah menujukan emosinya.
Setelah semua pakaian itu tersusun rapi. BI Arum dan Devi akhirnya bisa tersenyum lega. Sudah hampir jam 11 malam, mereka harus kembali dan tidur sebelum melanjutkan aktifitas besok pagi.
"Nyonya!" panggil Bi Arum. Dia tentu saja tidak bisa memanggil Kiara sembarangan lagi. Saat tahu Habibie akan menikah dengan Kiara saja, mereka sudah hampir pingsan. Takut Kiara akan marah dan memecat mereka, tapi ternyata orang ini sangat baik.
"Enggak bangun, Bi. Biarin aja. Kita bilang aja sama Tuan Habibie," kata Novi.
Bi Arum pun mengangguk. Perempuan itu mengambil selimut tipis dan dia gunakan untuk menyelimuti majikan barunya. Setelah menutup pintu kamar, keduanya bergegas untuk kembali ke bawah.
"Sudah Bi?" tanya Habibie.
"Ah, sudah Tuan!"
"Maaf ya Bi. Saya meminta bantuan Bibi supaya Kiara enggak main-main lagi dengan pekerjaan orang lain."
Bi Arum pun tersenyum. "Tidak apa-apa, Tuan. Tapi ... maaf sebelumnya, kalau bisa, jangan terlalu keras sama Nyonya. Kasihan atuh Tuan. Sepertinya Nyonya Kiara memang tidak mendapatkan pelajaran seperti ini di rumahnya."
Habibie mengangguk seraya tersenyum. Memang iya, perempuan itu sudah ditinggalkan oleh ibunya saat dia masih kecil. Wajar jika sekarang dia menjadi seperti ini karena Amzar pun selalu sibuk dengan pekerjaan.
Pria itu masuk ke kamarnya dengan hati-hati. Takut kalau pergerakan yang dia lakukan akan membuat keributan lagi. Ini sudah tengah malam, dia juga harus cepat beristirahat.
Habibie melangkahkan kakinya mendekat ke arah walk in closet. Kepalanya menggeleng begitu melihat Kiara masih meringkuk di atas bedcover. Pria itu berbalik, ingin langsung tidur tapi dia merasa tidak tega melihat istrinya tidur dalam kondisi seperti itu.
Mau tidak mau ia memangku Kiara, membaringkan istri kecilnya di atas ranjang. Kiara memang sudah 25 tahun, tapi kenapa tingkahnya masih sangat kekanakan. Wajah Kiara juga sama sekali tidak menunjukkan jika dia telah berusia di atas 20an. Perempuan ini persis seperti anak SMA yang baru masuk.
"Apa aku enggak akan disangka jadi pedofil!"
Habibie bergidik negeri. Buru-buru ia menyelimuti Kiara dan berbaring di samping istrinya.
.....
Jam empat dua puluh dini hari, Habibie kembali mengembuskan napas kasar begitu melihat Kiara masih terlelap sedangkan dia telah bersiap untuk pergi ke mesjid. Tangan Habibie terulur, menepuk pundak Kiara akan tetapi tentu saja Kiara tidak menggubris hal itu.
"Kia bangun! Ini sudah subuh, bentar lagi adzan! Hei!"
Bukannya mendengar, Kiara malah menarik selimutnya sampai menutupi kepala. Ia merengek karena kesal acara tidurnya terganggu seperti ini.
"Kiaaaaa! Bangun. Apa kau tidak takut masuk neraka? Mau di bakar di atas bara api? Atau, kau mau direbus dalam lava!"
"Eummmm ... Kia masih ngantuk, Ayah! Kia capek. Masih mau tidur, bentar lagi ya. Ayah duluan aja!"
Kening pria itu mengkerut mendengar mulut tidak karuan istrinya. Jadi, Kiara masih berpikir kalau dia adalah ayahnya? Oh astaga ... Habibie benar-benar akan semakin jengkel.
"Kiaaaa ... kalau kamu enggak bangun, saya bakar semua tas dan sepatu kesayangan kamu!"
"No!" pekik Kiara langsung terduduk namun matanya masih terpejam.
Habibie tersenyum. Jadi, ancaman seperti inilah yang Kiara takuti. Baiklah, jika memang seperti itu, Habibie tahu harus melakukan apa.
"Saya ke masjid dulu! Kalau saya pulang kamu masih rebahan! Tas-tas itu akan benar-benar saya bakar!"
Kiara mengangguk, ia beranjak kemudian berjalan dengan lunglai. Namun, ketika pintu kamar tertutup. Perempuan itu malah kembali menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur.
"Eummm, Ayah ... Kia masih ngantuk. Jangan bakar tas Kia, itu mahal. Ayah pasti akan menyesal."
Perempuan itu benar-benar tidak kapok. Dia selalu menganggap kalau apa yang Habibie lakukan hanyalah sebuah ancaman. Kembali tidur dengan nyenyak adalah pilihan terbaik untuknya saat ini.
....
Pukul lima lebih beberapa menit, shalat subuh di masjid sudah selesai. Habibie telah beranjak dan keluar dari pintu masjid tersebut.
"Assalamualaikum, Pak Habibie!" sapa seseorang.
"Wa'alaikumssalam, Ustadz! Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik," jawab Ustad Hanafi. "Saya dengar Pak Habibie sudah menikah ya? Selamat untuk pernikahannya Pak. Semoga langgeng, bahagia dan terus rukun!"
"Aamiin. Aamiin ya Allah. Kapan-kapan main ke rumah saya, Ustadz. Saya mau mengadakan syukuran untuk beberapa hal. Pengennya sih ngundang anak yatim ke rumah. Nanti saya kabari Ustadz kalau waktunya sudah pasti."
Ustadz itu pun mengangguk, hampir 10 menit mereka bercengkrama, setelah itu Habibie kembali ke rumahnya dengan wajah yang lebih baik. Kaki jenjangnya membawa Habibie naik ke lantai atas, membuka pintu kamar juga mengucapkan salam.
Namun, di luar dugaan. Istri kecilnya, yang dia pikir masih anak bau kencur itu masih berbaring dengan nyaman di atas kasur.
"Astagfirullah ... Kiaraaaa!" pekik Habibie.
Perempuan itu langsung berdiri dan memberikan hormat kepada suaminya.
"Siap, Dan!" jawab Kiara yang sepertinya ngelindur.
Tanpa menunggu apa pun lagi, Habibie langsung menyambar tangan Kiara, menyeretnya masuk ke kamar mandi. Dia mengambil gagang shower, menghidupkan air dingin lalu menyiramkan air itu ke tubuh Kiara.
"Akhhhh ... dingin! Apa yang Mas Habibie lakukan!" Kiara memekik tidak terima.
Pria itu kembali meletakan shower dan menatap Kiara tajam.
"Saya sudah bilang shalat subuh! Kamu bilang iya tapi malah tidur lagi! Apa kurang jelas apa yang saya katakan. Kenapa kamu ini sangat berbeda dengan Ais---!"
Habibie menggantungkan kalimatnya. Ia mengembuskan napas kasar seraya memalingkan wajah. "Shalat! Setelah itu temui saya di halaman belakang!"
Blamm!
Kiara terperanjat. Perempuan itu menatap pintu dengan mata berkaca-kaca.
"Sabar Kiara, ini baru permulaan. Sabar! Dia hanya marah. Kamu anak baik kok. Kata Bunda, kamu hanya harus berusaha lebih keras dari orang lain."
Habibie mungkin tidak menghargainya sebagai seorang istri melainkan menganggap dia sebagai budak.
"Sabar, Kiara! Eishhhhhhh ... tapi habis ini pasti kena hukum lagi ... Bundaaaaaa! Kiara takut!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Uneh Wee
iya kia ank baik ...mknya bikin jngkel suami nya itu karna terlalu baik ....heee sabar paksu yh kia nya harus d rukiyah dulu kali baru dia kn sadar hee
2023-03-19
4