Bab 14. Hukuman Untuk Kiara

"Mas Habibie!!!!"

Kiara berteriak dengan suara cemprengnya. Perempuan itu berlari seperti orang dikejar-kejar hantu. Bukan, dia berlari layaknya orang yang sedang balapan dengan banteng.

"Mas Habibie jangan lempar tas Kiara!"

Tepat saat Kiara ingin mengambil tasnya dari tangan sang suami, Habibie sudah lebih dulu melemparkan tas itu ke tong yang di dalamnya ada api membara.

Bukan cuma satu, tapi beberapa tas Kiara habis terbakar. Perempuan itu menatap sang suami dengan tatapan kecewa, dia buru-buru kembali ke dalam, mengambil apar mengarahkannya ke tong tersebut sampai api itu padam, tabung apar itu pun dia lempar ke sembarang arah.

Habibie sama sekali tidak tersentuh saat Kiara mengorek isi tong, mengeluarkan tas-tas branded Kiara yang sudah gosong bahkan sudah tidak utuh lagi.

Perempuan itu ambruk di atas rerumputan. Ia menunduk, menangis karena tas kesayangannya habis terlalap api.

"Saya tidak suka kalau kamu terlalu mencintai sesuatu seperti itu. Jangan sampai apa yang kamu sukai itu menjerumuskan kamu pada api neraka, Kiara! Ada kewajiban yang harus kamu lakukan alih-alih menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting!"

"Tidak penting?" gumam Kiara seraya mengusap air matanya. Dia menoleh, berdiri menghampiri sang suami, berhenti tepat di depan suaminya itu.

"Mas bilang enggak penting? Yang gak penting itu Mas Abie! Bakar barang orang seenaknya. Mas pikir itu baik hah? Apa Mas gak diajarin buat jaga perasaan orang lain? Sesalah apa pun aku. Mas enggak berhak ngelakuin hal ini. Mas itu keterlaluan! Mas melakukan semuanya sesuka hati Mas Abie! Berpikir jika dunia ini milik Mas Abie! Agama Kiara urusan Kiara!" pekik perempuan itu kencang. "Mas enggak usah ikut campur!"

Habibie memejamkan mata, emosinya kembali dipermainkan karena perempuan di depannya itu. Ia menarik tangan Kiara saat perempuan itu hendak pergi meninggalkannya.

"Kamu itu istri saya! Akhirat mu juga menjadi tanggung jawab saya! Oke, kamu pikir itu semua urusan kamu! Tapi ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang suami untuk memperbaiki apa yang salah dari istri saya!"

"Cih," Kiara berdecih cukup keras. Mendelik ke arah Habibie dan itu membuat Habibie kembali terdiam. "Suami? Apakah aku enggak salah denger? Suami apa yang hanya memikirkan urusan akhirat istrinya tanpa memikirkan perasaan dan kebahagiaan istrinya! Seharusnya Mas itu ngaca! Udah bisa dibilang jadi suami apa belum!"

Kiara kembali mengusap bulir bening dari sudut matanya. Perempuan itu mendorong dada Habibie, melenggang meninggalkan suaminya itu dan masuk ke dalam rumah.

"Nyonya!" panggil Bi Arum. Dia begitu khawatir saat melihat Kiara naik ke lantai atas sambil menangis sesenggukan. Ingin mengabaikan tapi tetap kepikiran. Kalau dikejar, Kiara juga masuk ke kamarnya.

"Semoga kalian baik-baik saja, jangan berantem terus atuh, Nyonya!" Bi Arum hanya bisa mendoakan. Ia kembali turun ke lantai satu untuk menyiapkan sarapan.

30 menit kemudian, Kiara telah kembali turun. Dengan pakaian dan gaya yang berbeda. Perempuan cantik itu mengenakan dress berwarna merah dengan blazer hitam di luarnya. Sebenarnya untuk Kiara itu adalah pakaian biasa saja. Namun, untuk Habibie, mungkin saja ini adalah bentuk pemberontakan.

"Mau ke mana kamu, Kiara!" ketus Habibie dari arah meja makan. Pria itu tengah membaca sesuatu di tabletnya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.

"Pergi lah! Ngapain di rumah kalau cuma dimarahin terus. Butek!"

Kening Habibie langsung mengkerut, dia melirik Kiara dengan sudut matanya dan keluarlah hembusan napas kasar itu.

"Keluar satu langkah dari pintu, kau akan langsung sampai di gerbang neraka, Kiara!"

Tak.

Langkah Kiara terhenti. Dia langsung berbalik, matanya memerah dengan rahang mengetat. Tangannya terkepal dan dia langsung melemparkan tas kecil kepada suaminya.

Sett!

Brukkk!

Satu detik saja Habibie telat bergerak, tas itu pasti sudah akan mengenai kepalanya. Kiara menghentak-hentakan kakinya kemudian berdiri di depan sang suami.

"Maunya apa sih. Jangan kurung aku di rumah. Aku enggak mau!"

Pria itu menarik ujung bibirnya. Mendongak menatap Kiara dengan tatapan kesal. "Apa kau tidak tahu kalau keluar rumah tanpa izin suami itu berdosa? Dan kau mau memakai kain buruk ini? Mau jadi wanita nakal atau bagaimana? Mau diganggu orang!"

Kiara kembali menggeram. Alis perempuan itu terangkat. Dia tersenyum mengejek kemudian berjalan semakin mendekat.

"Wanita nakal, biar aku tunjukkan wanita nakal itu seperti apa!"

Dengan kemarahan yang dimilikinya, Kiara duduk di atas pangkuan sang suami, mengalungkan tangannya di leher Habibie dengan senyum menyeringai. Wajah perempuan itu langsung menunduk, menyambar bibir suaminya yang mana hal tersebut membuat Habibie terbelalak. Ia diam mematung ketika bibir Kiara mulai bergerak, menyessap sesuatu yang seharusnya dia berikan sejak lama tapi memang bukan untuk Kiara.

Terpopuler

Comments

Aini Chayankx Ahmad N

Aini Chayankx Ahmad N

disini Habibie bilanga masuk neraka 2,tapi sama istri kasar.istri gak akan durhaka klo suami gak durhaka duluan, semuanya butuh proses

2023-04-29

2

Uneh Wee

Uneh Wee

heee untuk siapa tuh tuan bibir mu untuk org yg sudah mati takan nanti di surga ....katanya soleh taat agama tp masih mengharepkn yg udah ga ada tuh ....sabar yah kiara ..jadi lah suami yg baik biar kiara cepet berubah

2023-03-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!