"Mas Habibie!!!!"
Kiara berteriak dengan suara cemprengnya. Perempuan itu berlari seperti orang dikejar-kejar hantu. Bukan, dia berlari layaknya orang yang sedang balapan dengan banteng.
"Mas Habibie jangan lempar tas Kiara!"
Tepat saat Kiara ingin mengambil tasnya dari tangan sang suami, Habibie sudah lebih dulu melemparkan tas itu ke tong yang di dalamnya ada api membara.
Bukan cuma satu, tapi beberapa tas Kiara habis terbakar. Perempuan itu menatap sang suami dengan tatapan kecewa, dia buru-buru kembali ke dalam, mengambil apar mengarahkannya ke tong tersebut sampai api itu padam, tabung apar itu pun dia lempar ke sembarang arah.
Habibie sama sekali tidak tersentuh saat Kiara mengorek isi tong, mengeluarkan tas-tas branded Kiara yang sudah gosong bahkan sudah tidak utuh lagi.
Perempuan itu ambruk di atas rerumputan. Ia menunduk, menangis karena tas kesayangannya habis terlalap api.
"Saya tidak suka kalau kamu terlalu mencintai sesuatu seperti itu. Jangan sampai apa yang kamu sukai itu menjerumuskan kamu pada api neraka, Kiara! Ada kewajiban yang harus kamu lakukan alih-alih menghabiskan waktu untuk hal yang tidak penting!"
"Tidak penting?" gumam Kiara seraya mengusap air matanya. Dia menoleh, berdiri menghampiri sang suami, berhenti tepat di depan suaminya itu.
"Mas bilang enggak penting? Yang gak penting itu Mas Abie! Bakar barang orang seenaknya. Mas pikir itu baik hah? Apa Mas gak diajarin buat jaga perasaan orang lain? Sesalah apa pun aku. Mas enggak berhak ngelakuin hal ini. Mas itu keterlaluan! Mas melakukan semuanya sesuka hati Mas Abie! Berpikir jika dunia ini milik Mas Abie! Agama Kiara urusan Kiara!" pekik perempuan itu kencang. "Mas enggak usah ikut campur!"
Habibie memejamkan mata, emosinya kembali dipermainkan karena perempuan di depannya itu. Ia menarik tangan Kiara saat perempuan itu hendak pergi meninggalkannya.
"Kamu itu istri saya! Akhirat mu juga menjadi tanggung jawab saya! Oke, kamu pikir itu semua urusan kamu! Tapi ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang suami untuk memperbaiki apa yang salah dari istri saya!"
"Cih," Kiara berdecih cukup keras. Mendelik ke arah Habibie dan itu membuat Habibie kembali terdiam. "Suami? Apakah aku enggak salah denger? Suami apa yang hanya memikirkan urusan akhirat istrinya tanpa memikirkan perasaan dan kebahagiaan istrinya! Seharusnya Mas itu ngaca! Udah bisa dibilang jadi suami apa belum!"
Kiara kembali mengusap bulir bening dari sudut matanya. Perempuan itu mendorong dada Habibie, melenggang meninggalkan suaminya itu dan masuk ke dalam rumah.
"Nyonya!" panggil Bi Arum. Dia begitu khawatir saat melihat Kiara naik ke lantai atas sambil menangis sesenggukan. Ingin mengabaikan tapi tetap kepikiran. Kalau dikejar, Kiara juga masuk ke kamarnya.
"Semoga kalian baik-baik saja, jangan berantem terus atuh, Nyonya!" Bi Arum hanya bisa mendoakan. Ia kembali turun ke lantai satu untuk menyiapkan sarapan.
30 menit kemudian, Kiara telah kembali turun. Dengan pakaian dan gaya yang berbeda. Perempuan cantik itu mengenakan dress berwarna merah dengan blazer hitam di luarnya. Sebenarnya untuk Kiara itu adalah pakaian biasa saja. Namun, untuk Habibie, mungkin saja ini adalah bentuk pemberontakan.
"Mau ke mana kamu, Kiara!" ketus Habibie dari arah meja makan. Pria itu tengah membaca sesuatu di tabletnya sambil menyesap kopi hitam tanpa gula.
"Pergi lah! Ngapain di rumah kalau cuma dimarahin terus. Butek!"
Kening Habibie langsung mengkerut, dia melirik Kiara dengan sudut matanya dan keluarlah hembusan napas kasar itu.
"Keluar satu langkah dari pintu, kau akan langsung sampai di gerbang neraka, Kiara!"
Tak.
Langkah Kiara terhenti. Dia langsung berbalik, matanya memerah dengan rahang mengetat. Tangannya terkepal dan dia langsung melemparkan tas kecil kepada suaminya.
Sett!
Brukkk!
Satu detik saja Habibie telat bergerak, tas itu pasti sudah akan mengenai kepalanya. Kiara menghentak-hentakan kakinya kemudian berdiri di depan sang suami.
"Maunya apa sih. Jangan kurung aku di rumah. Aku enggak mau!"
Pria itu menarik ujung bibirnya. Mendongak menatap Kiara dengan tatapan kesal. "Apa kau tidak tahu kalau keluar rumah tanpa izin suami itu berdosa? Dan kau mau memakai kain buruk ini? Mau jadi wanita nakal atau bagaimana? Mau diganggu orang!"
Kiara kembali menggeram. Alis perempuan itu terangkat. Dia tersenyum mengejek kemudian berjalan semakin mendekat.
"Wanita nakal, biar aku tunjukkan wanita nakal itu seperti apa!"
Dengan kemarahan yang dimilikinya, Kiara duduk di atas pangkuan sang suami, mengalungkan tangannya di leher Habibie dengan senyum menyeringai. Wajah perempuan itu langsung menunduk, menyambar bibir suaminya yang mana hal tersebut membuat Habibie terbelalak. Ia diam mematung ketika bibir Kiara mulai bergerak, menyessap sesuatu yang seharusnya dia berikan sejak lama tapi memang bukan untuk Kiara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Aini Chayankx Ahmad N
disini Habibie bilanga masuk neraka 2,tapi sama istri kasar.istri gak akan durhaka klo suami gak durhaka duluan, semuanya butuh proses
2023-04-29
2
Uneh Wee
heee untuk siapa tuh tuan bibir mu untuk org yg sudah mati takan nanti di surga ....katanya soleh taat agama tp masih mengharepkn yg udah ga ada tuh ....sabar yah kiara ..jadi lah suami yg baik biar kiara cepet berubah
2023-03-20
1