"Habibie itu adalah pria yang baik, dia sudah mapan, dan ayah yakin, Habibie akan biasa membimbing mu menuju surganya Allah. Kamu tahu, Nak. Ibu kamu pasti akan sangat bahagia kalau kamu menikah dengan Habibie. Dia adalah orang terpandang, keluarganya juga keluarga baik-baik. Bibit bobot nya sudah jelas. Insyaallah, kamu tidak akan kekurangan apa pun."
Kiara hanya bisa mendesah pasrah. Sebenarnya dia sangat takut untuk menerima perjodohan ini. Namun, bagaimana mungkin dia bisa menolak permintaan sang ayah. Selain karena permintaan almarhumah ibunya yang mengatakan jika Kiara harus menuruti apa pun yang ayahnya katakan, Kiara juga tidak ingi semua fasilitasnya diambil paksa. Tadinya dia sudah senang jika Habibie akan menjadi suaminya. Tapi setelah tahu jika pria itu adalah pria pilihan sang ayah. Kiara kembali tagu. Takut kalau ada konspirasi diantara orang-orang ini.
"Tapi kalau Kiara disuruh pakai hijab gimana Ayah? Kiara belum siap. Kiara masih mau main, mau seneng-seneng sama temen Kiara."
Amzar tersenyum untuk yang kesekian kalinya. Dia menunduk, menyamakan posisi kepalanya di samping wajah Kiara. "Enggak harus seperti itu, pelan-pelan aja! Nanti juga bisa kok."
"Tapi Ayah--"
"Sudah! Ayah mau keluar. Kamu tunggu di sini. Setelah ijab qobul, ayah bawa suami kamu ke sini ya!"
Kiara hanya bisa mendesah pasrah. Ingin kabur, tapi dia tidak bisa. Kiara tidak sanggup kalau harus hidup terlunta-lunta di jalanan. Apalagi jaman sekarang banyak orang-orang brengsek. Kiara tidak ingin harga diri dan kehormatannya hancur oleh manusia seperti itu. Memang, Kiara adalah gadis yang suka main ke tempat-tempat karaoke dan sejenisnya. Namun, dia tidak pernah tertarik untuk bermain api dengan laki-laki mana pun. Kiara terlalu takut.
"Cantik sekali anak Ibu!" ujar seorang wanita di belakang Kiara. Iya, Kiara memang sangat cantik dengan balutan gaun pengantin syar'i atas permintaan dari pihak laki-laki. Riasan wajahnya juga tidak terlalu mencolok.
"Terima kasih, Bu," ujar Kiara dengan senyum tipis di bibirnya. Wanita itu adalah istri kedua ayahnya. Amzar menikah dengan Sabina satu tahun setelah ibunya meninggal. "Tapi Kiara gak akan bisa dugem lagi, Bu. Gak asik akh!"
Sabina terkekeh, mengusap kepala Kiara dengan usapan yang sangat lembut. Sabina tahu, alasan Amzar buru-buru menikahkan Kiara adalah karena ini. Kiara bukan hanya nakal karena pakaiannya yang sangat tidak sesuai dengan syariat. Namun, Kiara juga sering main ke tempat-tempat kurang baik.
"Semoga bahagia, Sayang!"
"Aamiin. Kalau Kiara enggak bahagia, Kiara boleh balik ke rumah ini 'kan?"
Lagi-lagi Sabina terkekeh. Dia mengangguk meskipun rasanya dia sangat gemas terhadap Kiara. Anak manja ini sudah akan menikah, rumah pasti akan sangat sepi setelah kepergiannya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan, Ananda Habibie Kazeem Alqais bin Fawas Faruk Alqais dengan anak saya yang bernama Kiara Aleema Jaleela dengan mas kawin cincin berlian dua karat dan satu buah mobi Mercedes-Benz, tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Kiara Aleema Jaleela binti Amzar Dafir Gazlan dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.
"Sah?" tanya penghulu kala itu.
"Sah!" ucap semua orang serempak.
Kalimat puji dan syukur mereka ucapkan dengan penuh kelegaan. Apalagi untuk Amzar, melepaskan anak perempuannya bukan hal yang mudah. Namun, ini sudah menjadi sebuah kewajiban. Dia tidak bisa mengabaikan Kiara, anak itu terlalu sulit menurutinya, mungkin, bersama dengan Habibie, Kiara akan bisa berubah sedikit demi sedikit.
"Alhamdulillah, tabarakallah, Nak! Ayah serahkan anak ayah kepadamu. Sungguh, ayah sudah tidak memiliki hak apa pun terhadapnya. Baik itu di dunia atau di akhirat, keselamatannya tergantung padamu! Berbahagialah!" Amzar menepuk pundak Habibie beberapa kali. Laki-laki ini memang pria yang sangat tampan. Berwibawa dan memiliki etika yang baik. Dilihat dari segi manapun, tidak ada yang kurang dari seorang Habibie. Dia sudah menjadi CEO di usianya yang masih sangat muda kala itu, dan sekarang, usaha keluarga yang Habibie kembangkan pun maju dengan sangat pesat.
"Temuilah penggantimu!" kata Amzar. Habibie pu mengangguk. Dia dipersilakan untuk masuk kedalam sebuah kamar yang didalamnya tentu sudah ada mempelai wanita.
Kiara menunduk dengan tangan dan kaki yang bergetar hebat. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Kiara takut akan membuat masalah, terlebih laki-laki yang sekarang sudah menjadi suaminya adalah laki-laki yang taat dan cukup paham agama.
"Assalamualaikum!" satu kata terdengar menembus gendang telinga Kiara. Gadis itu mendongak, dia yang duduk di tepian ranjang mendadak beranjak. Tatapannya lurus kedepan, seorang pria, dengan setelah yang hampir sama sepertinya tengah berjalan mendekat. Kiara mematung untuk waktu yang cukup lama, hingga, saat Sabina menyenggol lengannya, barulah Kiara berkedip.
"Wa'alaikumssalam!" jawabnya kikuk. Ia langsung menunduk dengan wajah memerah. Keningnya mengerut setelah melihat wajah Habibie dari jarak yang sangat dekat. "Oh Tuhan, pria ini sangat tampan," batin Kiara bersuara.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu ikut tersenyum. Kiara yang malu-malu, sedangkan Habibie terlihat sangat tenang. Keduanya adalah pasangan serasi, Kiara dengan wajah cantiknya, juga Habibie dengan paras yang sangat tampan.
"Ijinkan saya untuk membacakan do'a," pinta Habibie dan hanya dibalas anggukan oleh Kiara. Gadis itu memejamkan mata ketika telapak tangan besar pria itu diletakan di atas kepalanya. Setelah itu, barulah Kiara diminta oleh seseorang untuk mengecup punggung tangan Habibie juga Habibie diminta untuk mengecup kening Kiara.
Adegannya terasa sangat mendebarkan karena tingkah keduanya terlalu kaku. Amzar yang melihat kejadian itu malah menangis, dia tidak kuasa menahan bulir bening yang menyeruak membasahi kelopak matanya.
....
Selepas acara pernikahan selesai. Kiara langsung dibawa ke rumah suaminya. Dia duduk di tepian ranjang dengan jantung berdegup tak karuan.
"Bagaimana ini? Tuan Habibie memang sangat tampan. Tapi ... kalau hari ini aku harus melepaskan kehormatan ku untuknya, aku sama sekali belum siap."
Kiara mengigit ujung-ujung kuku di jari tangannya. Gadis itu berdiri, lantas duduk kembali. Suara guyuran air di dalam kamar mandi menambah suasana horor dalam hatinya. Apakah Habibie sedang bersiap untuk melakukan malam pertama? Oh tidak. Kiara membaringkan tubuhnya di atas ranjang tetapi tak lama setelahnya Kiara kembali duduk dan merapikan penampilan.
"Aku gak boleh bikin malu, Ayah!" gumamnya dengan wajah serius. Namun, detik berikutnya dia kembali meringis. Tubuhnya terlonjak kaget ketika mendengar pintu kamar mandi tertutup cukup kencang.
"Mas Habibie," gumam Kiara gugup, dia tidak berani untuk menatap wajah pria di depannya karena terlalu takut. "Mas anu, itu ... biasanya orang yang sudah menikah akan melakukan itu, tapi--"
"Jangan mengharapkan apa pun dari saya Kiara, saya menerima pernikahan ini karena saya menghormati keputusan Abi saya, bukan karena saya mau!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Uneh Wee
duh tajam bnget yh ucapan nya ...bng habibie ...kia sekarang yg harus sabar hadapin sikap bng habibie yh ...lanjut ka ...😘😘😘
2023-03-18
3