Perempuan itu terbengong untuk beberapa waktu. Namun, detik berikutnya ia tergelak cukup kencang. Syukurlah Habibie telah keluar dari kamar itu, jika tidak, Kiara mungkin akan habis mencakar wajah suaminya.
"Astagfirullah ... Astagfirullah!" Kiara mengusap dadanya yang sejak tadi naik turun tidak karuan. "Bisa-bisanya gue ge'er. Astagfirullah ... itu orang minta ditabok kali ya. Mulutnya pedes kayak cabe setan."
Kiara tidak habis pikir, kenapa Habibie malah semakin menjadi-jadi setelah mereka menikah. Seharusnya Habibie bersikap lebih baik bukan? Kok bisa seperti ini? Astaga ... habislah Kiara.
"Oke! Aku jabanin Tuan Habibie yang terhormat. Lagipula, bagus kalau begini. Enggak usah saling ngatur, enggak usah saling ikut campur dan biarkan saja mengalir apa adanya. Aku akan menjalani kehidupan ku. Dan kau juga jalani saja kehidupan sempurna mu itu!"
Kiara mendelik menatap pintu kamar tajam. Ia berjalan ke arah kopernya. Membawa koper itu ke lemari dan meletakan baju-bajunya di sana. Dengan tidak beradabnya, Kiara menumpuk baju Habibie tanpa merapikan itu semua, dia telah terlalu kesal, sehingga tidak ada waktu baginya untuk menghormati kehidupan pria itu.
"Kau lihat saja, Tuan! Aku akan membuatmu jengkel hingga kepalamu pecah. Jangan panggil aku Kiara kalau aku tidak bisa membuat mu kejang-kejang dalam waktu dua minggu, ah tidak. Satu minggu juga cukup."
Gelak tawa perempuan itu terdengar sangat jelas. Setelah membuka satu kopernya, Kiara kembali masuk ke kamar. Perempuan itu menatap dirinya dari pantulan cermin. Membuka jilbabnya dan juga menghapus make up tipis dari wajah cantiknya itu.
"Bunda ... Ayah! Ini adalah jodoh pilihan kalian. Kiara janji, jika Kiara tidak bisa menaklukannya. Kiara akan mundur meski dia sangat tampan dan kaya. Kiara enggak perduli."
Perempuan itu masuk ke kamar mandi, membersihkan diri sambil bersenandung. Entahlah, karena status pernikahan sudah jelas, Kiara tidak akan sungkan lagi.
15 menit kemudian, perempuan itu keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk di atas paha. Sementara handuk lain melingkar di atas kepala.
Wajah perempuan itu mendongak ketika pintu kamarnya terbuka. Sosok pria tampan nan gagah itu berdiri mematung ketika melihat pemandangan di depan mata. Buru - buru dia memalingkan wajah, tidak ingin melihat sesuatu yang tidak boleh dilihatnya.
"Eishhhhhhh ... sok suci!" ketus Kiara.
Perempuan itu berjalan ke arah walk in closet. Berpakaian kemudian kembali ke kamar. Selepas rambutnya kering, dengan beraninya Kiara merangkak ke atas ranjang. Menarik selimut dengan kencang sehingga pria yang tengah berbaring itu terganggu.
"Jangan tudur di sini!" ketus Habibie.
Kiara mendelik, perempuan itu menarik selimut dari tubuh Habibie dan mulai berbicara. "Kalau enggak tidur di sini mau tidur di mana hah? Di kamar mandi? Di kursi? Atau di dalam lemari?"
"Ya terserah kamu aja. Yang penting jangan tidur di samping saya!"
Kiara semakin geram. Perempuan itu mengepalkan kedua tangan dengan rahang mengetat. "Heiii! Tuan Habibie yang terhormat. Saya sudah menikah dengan Anda. Saya adalah istri Anda. Bukankah tidak baik memperlakukan istri Anda seperti itu? Kalau Anda tidak ingin tidur di dekat saya. Keluar!"
"Tapi ini kamar saya!"
"Saya enggak nanya!" ketus Kiara. "Aku mau tidur di sini. Jangan harap aku akan menyerah. Bertingkah seperti perempuan lembek yang mudah ditindas. Pemikiran Anda itu terlalu drama. Saya ini Kiara, bukan protagonis dalam novel lebai!"
Astagfirullah ... Habibie dibuat melongo untuk yang kesekian kalinya. Tanpa merasa takut sedikitpun. Kiara berbaring di atas ranjang itu dengan santainya. Habibie kesal, tapi tidak mungkin juga dia keluar dari kamar itu.
"Dasar merepotkan!" keluh Habibie. Dia pun ikut berbaring. Menarik selimut akan tetapi selimut tersebut ditarik lagi oleh Kiara. Hal itu terus terjadi sampai keduanya berbalik dan saling berhadapan dengan wajah dongkolnya.
"Ambil selimut sendiri, Kiara!"
"Eeeitsss. Siapa Anda mau menyuruh-nyuruh saya seperti itu. Ambil sendiri. Ini rumah mu, bersikaplah seperti tuan rumah yang baik. Apa Tuan Habibie enggak ngaji!"
Duarrrrr!
Habibie seperti tersambar petir tengah malam. Pria itu dikatai apa? Tidak ngaji? Oh ayolah ... bukankah Kiara yang seperti itu? Ini juga alasan dia menikahi Kiara demi untuk mendidik perempuan ini agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Menghilangkan kebiasaan buruk agar kedua orang tua mereka menjadi senang.
Kiara benar-benar berbaring memunggungi Habibie. Dia menarik selimut itu agar Habibie tidak bisa mengenakan selimut yang sama dengannya. Enak saja, setelah menikahinya Habibie ingin berbuat sesuka hati? No! Kiara tidak akan menerima itu.
Habibie mengembuskan napas. Pria itu mau tidak mau berjalan ke walk in closet, untuk mengambil selimut. Namu, keningnya tiba-tiba mengkerut saat dia melihat sesuatu yang aneh dari lemari pakaian miliknya.
Tangan besar itu terulur, membuka lemari perlahan dan ketika itu dia lakukan, semua pakaian yang ada di dalam lemarinya berhamburan keluar. Baju-baju yang biasanya tersusun rapih bertumpuk seperti gunung kain.
Napas pria itu naik turun. Matanya terpejam dengan kedua tangan terkepal.
"Kiaraaaaaa!" pekik Habibie dengan nada tiga oktafnya. Perempuan dibalik selimut itu malah tersenyum dan kembali tidur dengan nyaman.
"Rasain!" ledek Kiara dengan senyum merekah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Lilly
jd suami jg g mau nurunin ego ..
istri itu di bimbing dilembutkan ..
bukan di musuhin..
apalgi uda ad ikatan sah ..
yg dosa kamu lah sbagai suami krn dgn sngaja g mau nyentuh istri sndiri ..
haddehh dasar si suami paling sempurna 🔨🙄🤣
2023-05-27
0
Uneh Wee
maju terus habibie hadapin kiara biar dia jadi istri yg soleh ...tp jngn suka ngambek atau bentak donk tar kiara jantungn .,
2023-03-19
2
Oktav
Diberi kasih sayang Habibie bkn dimusuhi.... Ya kalahlah sm non Kia
2023-03-19
2