Malam harinya, Kiara masih tidak bisa tidur, perempuan itu hanya memperhatikan baju haram yang sepertinya itu adalah lingerie, cukup cantik. Ya iya, ini pasti sutra asli, potongannya tidak terlalu terbuka. Lingerie panjang, hanya saja dengan tali mie yang sangat kecil. Jika Kiara memakainya, sudah bisa dipastikan jika dia akan terlihat cantik, seksi dan elegan disaat bersamaan.
Perempuan itu tersenyum menyeringai. Ia menyambar lingerie tersebut kemudian berlalu ke kamar mandi. Tidak harus menunggu lima menit untuk membuat Kiara keluar dari sana. Bahkan sekarang, Kiara telah berdiri di depan cermin, menarik ikat rambutnya kemudian mencium ketiaknya barangkali ada bau bawang putih.
"Eummm ... masih wangi." Dia tergelak sendiri. "Ya kali ketek orang cantik bau busuk."
Merapikan rambut sudah selesai. Kini Kiara memakai lotion diantara tangan dan juga kakinya. Yakin penampilan sudah cetar membahana, Kiara pun keluar dari kamar, berjalan mengendap-endap ke lantai atas. Ini sudah cukup malam, jadi Kiara pikir, orang-orang rumah sudah tidur.
Perempuan itu awalnya ingin masuk ke kamar Habibie. Akan tetapi, saat melihat pintu ruang kerja pria itu terbuka, Kiara mengurungkan niat dan berbalik arah, banting setir ke kanan untuk menemui majikannya yang brengsek itu, ini pemikiran Kiara sih.
Oke lanjut ....
Pintu ruangan itu sangat berat akan tetapi tidak ada suara sedikit pun saat dia menggesernya. Dan ... apa yang Kiara targetkan ada di depan mata. Sedang sibuk dengan laptop dan juga tengah menyeruput sesuatu, apakah itu susu? Kopi? Bandrek atau Bajigur? Tidak ada yang tahu.
"Ekhemmmm!"
Kiara berdehem setelah berpose ala-ala model majalah dewasa. Perempuan itu sama sekali tidak takut Habibie menghukumnya karena dia masih berpikir kalau Habibie lah dalang dari baju-baju lucnut yang tadi dia terima.
Byurrrr!
"Uhukkk!"
Kelopak mata Habibie terbelalak. Kopi yang sedang dia minum menyembur keluar dan jangan lupakan saat ia tersedak dan tidak bisa menghentikan batuk nya. Pria itu menatap Kiara seolah kesulitan untuk sadar.
Mengetahui hal tersebut, Kiara menyeringai. Ia berjalan semakin mendekat dan malah menyandarkan bokongnya di tepian meja kerja Damar. Tubuhnya mulai membungkuk, menatap Damar dengan senyum nakal.
"Apa ini yang kau inginkan!" pekik Kiara dengan nada tiga oktafnya.
Habibie langsung terperanjat, ia terjengkang sehingga jatuh dari kursi. Buru-buru dia memalingkan wajah, tidak ingin melihat dosa itu untuk kedua kalinya.
"Apa yang kau lakukan, Kiara!" pekik Damar tak kalah kencang.
Kiara berdecih kesal. Perempuan itu berjalan mengitari meja, menghampiri Habibie yang sudah berdiri tapi engan untuk melihatnya. Pria itu munafik atau bagaimana, pikir Kiara. Ia duduk di atas meja kerja Habibie kemudian menarik kaos yang dikenakan pria itu sehingga Habibie kini berdiri tepat di depannya.
"Jangan sok suci, Tuan Habibie. Kau yang memberikan aku lingerie ini! Jika bukan karena kau ingin melihat ku mengenakannya? Lalu apa?"
Kiara berbisik di samping telinga pria itu dan Habibie masih sama, memantung dengan kedua tangan terkepal. Wajahnya? Jangan ditanyakan. Habibie telah berubah menjadi tuan crab dalam beberapa menit saja.
"Jadi, maksud Tuan yang terhormat apa? Ingin saya naik ke atas ranjang Tuan?"
"Kiaraaaa!" teriak Habibie membuat perempuan itu terlonjak. Kini Habibie bisa menatap wajah di depannya dengan rahang mengetat dan mata merah menyala. "Jangan mengatakan kalimat menjijikkan seperti itu! Seburuk-buruknya saya, saya tidak akan pernah sudi untuk mengundang perempuan yang bukan mahram saya ke atas ranjang! Kau pikir kau itu siapa? Saya tidak pernah membelikan baju seperti itu!"
Kiara tergelak. Dia mendorong tubuh Habibie kemudian turun dari atas meja. "Maling mana mau berteriak maling. Siapa yang akan menyangka jika Tuan Habibie, laki-laki yang sangat paham agama memiliki pemikiran kotor seperti ini. Najis tau enggak. Gue benci laki-laki kayak lo!"
Bughhhhh!
Kiara mendorong dada Habibie dengan lengannya kemudian melenggang pergi.
"Stop!" teriak Habibie saat Kiara akan membuka pintu ruangan itu. Tanpa mereka sadari, sejak tadi, Bi Arum, Devi dan Mang Agus ada di sana. Di dekat pintu mendengarkan perkelahian mereka.
"Jangan menuduh orang tanpa bukti! Saya bisa pastikan, kalau tuduhan kamu itu adalah tuduhan tidak berdasar."
Kiara pun berbalik, dia berdiri tegak, berpangku tangan kemudian menganggukkan kepala meminta Habibie untuk membuktikan perkataannya.
Pria itu mengambil ponsel, menelpon seseorang dan menghidupkan loud speaker.
"Assalamu'alaikum, Tuan. Ada apa?" tanya Ali di sebrang telepon.
Habibie tersenyum menyeringai. "Wa'alaikumssalam, Ali. Saya ingin menanyakan perihal pakaian yang kamu beli. Ada beberapa yang kurang pantas, apa kamu sengaja membelinya?"
"Mohon maaf, Tuan! Saya juga tidak mengeceknya satu persatu. Seperti apa yang Tuan katakan, saya hanya memesan set pakaian daily rutin untuk perempuan. Mungkin mereka yang berinisiatif."
Habibie menganggukkan kepalanya mengerti. "Baiklah, Ali. Terima kasih. Assalamu'alaikum!"
"Sama-sama, Tuan. Wa'alaikumssalam!"
Habibie kembali menutup teleponnya. Dia menatap Kiara seolah mengatakan kalau Kiara memang telah salah paham.
Namun, perempuan di depannya itu tidak mengeluarkan ekspresinya sama sekali. "Kalian adalah laki-laki. Kalian pasti sudah bersekongkol 'kan! Dasar ba*ingan!" ketus Kiara. Perempuan itu langsung membuka pintu dan membantingnya kasar.
Blam!
"Astagfirullah .... Dia benar-benar bukan manusia," keluh Habibie seraya memijat tulang hidungnya.
"Hebat ya si Neng Kia, baru kali ini kita denger Tuan dibilang bajingaan sama orang!" Devi menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Eishhhhhhh ... lain kitu atuh. Yang aneh itu, kok bisa Tuan setenang ini?" keluh Bi Arum.
"Mungkin Tuan udah nyiapin gergaji buat manipulasi Neng Kiara."
Bi Arum dan Devi mengerutkan kening. Kalimat Mang Agus ini terlalu tidak nyambung.
"Apa hubungannya gergaji sama manipulasi ari kamu, Gus?" tanya Bi Arum.
"Itu, buat motong-motong Neng Kiara."
Plakkkk!
Satu geplakkan mendarat di lengan Mang Agus. "Itu mah mutilasi atuh ontohod, lain manipulasi. Astagfirullah ... gelo maneh, Mang!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Daffodil Koltim
manipulasi n mutilasi😂😂😂💪💪💪💪
2023-06-30
1
Uneh Wee
hahhaha neng mau di mutilasi cnh cek kang agus ge ...padahal d bikin oncom aja yah tuh c neng biar lembek sekalian ..duh kapan yh berubah nya tuh neng kia ..kassian bos habibie..nya paasti darting ...tar kalau dah darting bos habibie ..aku harus ngagoreng daun parte atawa ngagecek mengkud buat nurunin daraah nya hahaaha saabr yah bos..
2023-03-15
2
Oktav
Habibie berbahagialah calonmu itu bisa bikin geleng2 kepala... jadi sehat kan😀
2023-03-14
0