17. Meluapkan Kemarahan

Habibie mengembuskan napas pelan seraya memangku istri tengil nya yang terlewat nakal itu. Dia menatap orang-orang didepannya dengan tatapan tajam penuh penekanan.

"Jangan pernah temui istri saya lagi jika kalian hanya ingin merusaknya!"

Setelah mengucapakan itu, Habibie masuk ke dalam rumah, membawa Kiara masuk ke kamarnya, hal yang aneh adalah, langkah kaki itu tidak berhenti di sana dan jutsru masuk ke kamar mandi. Berjongkok di dekat bathub. Mendudukkan Kiara, membiarkan perempuan itu bersandar pada bathub.

Tangan besarnya mengambil shower, menghidupkan air dingin dan mengguyur tubuh sang istri sehingga Kiara dibuat kelimpungan.

"Apa yang kau lakukan!" pekik Kiara, dia ingin berdiri tapi kepalanya terlalu pusing. Tubuhnya seperti akan tumbang saja.

"Apa yang salah dengan mu, Kiara! Saya sudah memperingatkan berkali-kali untuk tidak main-main dengan saya! Kenapa kamu malah melakukan hal gila seperti ini!" Habibie terus saja membentak Kiara dengan nada tingginya.

"Kamu tahu kalau khamr itu haram! Bagaimana kamu bisa belajar dan membersihkan isi hati dan kepalamu kalau kamu sengaja membiarkan hal-hal yang haram masuk ke tubuhmu! Kamu ini maunya apa sih! Kamu itu sudah dewasa. Bisa tidak untuk mengerti mana yang baik dan mana yang buruk! Haruskah saya menghukum mu dengan cara menggantung mu di tempat ini hah! Jaga harga diri kamu, jaga marwah kamu sebagai seorang perempuan Kiara! Kamu it--- "

"Apa!" teriak Kiara. "Harga diri dan harga diri yang kau bahas! Kau selalu memintaku untuk melakukan ini dan itu, melarang ku melakukan ini dan itu. Kalian itu egois! Kalian semua sama. Hanya Bunda yang sayang sama aku. Cuma Bunda yang bisa mengerti aku!" Kiara menunduk sambil memukul dadanya.

"Kalian hanya bisa memarahiku, meminta hal-hal seperti itu dengan cara memaksa. Pernahkah kalian menanyakan bagaimana perasaan ku!"

Kini perempuan itu telah berdiri, berjalan terseok menghampiri suaminya dengan linangan air mata.

"19 tahun, 19 tahun aku hidup tanpa ada yang merecoki kehidupan ku!" Kiara mendongak, tangannya menarik kemeja yang suaminya kenakan dengan kuat. "Satu kali saja. Bisakah tanyakan apakah aku baik-baik saja? Apa yang benar-benar aku inginkan. Aku kesepian, Tuan! Dan kau!" Kiara menusuk dada suaminya dengan jari telunjuk. "Kau adalah langit yang bisa aku pandang tapi tidak bisa aku sentuh! Aku benci kalian semua. Aku benci kehidupan ini. Aku mau Bunda, aku mau nyusul Bunda aja!"

Perempuan itu berjalan ke arah wastafel, mengambil sebuah vas bunga kemudian memecahkan vas itu sehingga ada pecahan keramik yang mengenai kakinya.

Habibie ingin merebut vas dari tangan Kiara, tapi Kiara tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi. Ia menodongkan vas tak utuh itu tepat di dekat leher Habibie.

"Kiara. Kau terluka!"

"Diammmm!" Perempuan itu berteriak sampai suaranya hampir hilang. Ia sempoyongan, berpegangan pada wastafel untuk menjaga keseimbangan.

"Kiara!"

"Step back!" titah Kiara. "Tuan!" lirih perempuan itu akhirnya. "Aku tidak meminum itu dengan sengaja. Mereka yang memaksa, dan ini yang pertama untuk ku!" Untuk sesaat dia tergelak. "Kau tidak akan mempercayai ku bukan! Terserah. Terserah kau saja! Aku tidak perduli, aku akan segera pergi! Meninggalkan orang-orang kejam seperti kalian. Aku akan menemui Bunda. Bunda pasti akan mengerti!"

Habibie semakin ketakutan karena pergerakan Kiara tidak bisa dikontrol. Tangan dan kakinya bergerak tak tentu arah.

"Selamat tinggal, Tuan Habibie! Semoga kau bahagia!"

Prang!

Vas itu hancur berkeping-keping setelah Habibie menepis tangan Kiara. Namun, karena tepisan itu terlalu keras, Kiara limbung. Perempuan itu jatuh, tapi Habibie sudah lebih dulu mengantisipasi hal tersebut. Ia menarik tubuh Kiara ke dalam dekapannya, tubuh yang telah basah itu terasa sangat dingin.

Habibie kembali memangku Kiara dan membawanya keluar, membaringkan Kiara di atas ranjang dengan pakaian basahnya. Perempuan itu terus saja meracau tidak jelas, tubuhnya bergetar, dia sepertinya kedinginan.

Pria itu kebingungan. Dia mengambil kain lantas membalut kaki Kiara dengan kain itu dan berlari ke luar.

"Bi. Bi Arum!"

Habibie berteriak, sosok itu muncul, mendongak ke lantai atas.

"Ada apa, Tuan?"

"Bi, tolong saya sebentar!"

Bi Arum pun naik ke lantai atas. Ia berdiri di depan Habibie dengan wajah khawatir, apalagi saat melihat kemejanya basah kuyup, semakin over thinking lah Bi Arum.

"Bi, baju Kiara basah, tapi dia lagi enggak sadar. Bibi bisa bantu saya untuk menggantikan pakaiannya?"

Habibie sudah akan kembali masuk ke kamarnya, tapi Bi Arum mengeluarkan suara yang membuat langkah Habibie terhenti.

"Maafkan saya, Tuan! Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Tuan, saya yakin Tuan lebih mengerti hal ini daripada saya. Nyonya Kiara itu memiliki batasan aurat sekalipun itu dengan saya. Hanya Tuan yang boleh melihatnya tanpa batasan apa pun. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa membantu!"

Habibie tertegun, dia seperti dihadapkan dengan jalan buntu yang dia bangun sendiri.

"Maafkan saya, Bi!"

Bi Arum hanya mengangguk, menatap punggung lebar Habibie yang telah kembali masuk ke kamarnya.

"Maafkan saya, Tuan! Yang saya katakan itu memang benar, tapi, sudah saatnya Tuan melupakan almarhumah. Kasian Nyonya Kiara atuh Tuan!"

Bi Arum mengembuskan napa panjang sebelum kembali turun ke lantai bawah.

Sementara di dalam kamar, Habibie tengah berusaha untuk menggantikan pakaian istrinya. Pria itu hanya mengambil baju tidur dan .... Setelah selesai, Habibie mengambil kotak P3K kemudian mengobati kaki istrinya itu dengan sangat hati-hati.

"Aduhhh, Ayah! Pelan-pelan!" teriak Kiara. "Sakittttt woy!"

Habibie tidak mengindahkan hal tersebut, dia memegang pergelangan kaki Kiara yang berada di atas pangkuan dengan sangat erat.

"Tahan sebentar!"

"Akhhhhhh!"

Kiara mencengkram kasur di sampingnya dengan kuat. Perih, sakit, semuanya campur aduk.

"Apa yang kau lakukan, kau ingin membunuhku hah?"

Lagi-lagi Habibie tidak memperdulikan hal tersebut, dia melanjutkan kegiatannya sampai kaki itu selesai dia obati.

"Bundaaaaaa ... sakit!" Kali ini Kiara merengek dengan suara manjanya. "Tenggorokan Kiara juga sakit. Kiara mau minum!"

Beberapa detik kemudian, Habibie membantu Kiara untuk minum. Pria itu kembali menyimpan gelas di atas nakas kemudian menatap Kiara dengan wajah sendu.

"Bunda ... Bunda, Kiara kangen! Bunda di mana?"

Bibir Kiara tidak pernah berhenti untuk bergumam, meskipun tidak kencang, tapi Habibie juga memiliki pendengaran yang baik.

"Apa cara yang saya lakukan itu salah?" Kini tangan pria itu terulur, merapikan rambut pada wajah Kiara yang berantakan. Meski itu ditutupi handuk kering, ada banyak helai yang keluar. "Maafkan saya, Kiara!"

Habibie bergumam lantas beranjak dari duduknya. Baru berbalik, tiba-tiba, jemari mungil Kiara menggenggam jari kelingkingnya kuat.

"Jangan pergi, jangan tinggalin Kiara, Bunda. Kiara kesepian. Kiara kedinginan. Tolong, Kiara ...."

Terpopuler

Comments

Zay Wex

Zay Wex

Kiara tuh sifat nya mirip bian ya othor.. 🤔

2023-03-22

3

Uneh Wee

Uneh Wee

kasiaan kiara harus menderita ...sabar yah kiara ..habibie blm mau muv on dari mantan istri nya knp apa yg dia harap kn....jadeuh

2023-03-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!