Habibie mengembuskan napas pelan seraya memangku istri tengil nya yang terlewat nakal itu. Dia menatap orang-orang didepannya dengan tatapan tajam penuh penekanan.
"Jangan pernah temui istri saya lagi jika kalian hanya ingin merusaknya!"
Setelah mengucapakan itu, Habibie masuk ke dalam rumah, membawa Kiara masuk ke kamarnya, hal yang aneh adalah, langkah kaki itu tidak berhenti di sana dan jutsru masuk ke kamar mandi. Berjongkok di dekat bathub. Mendudukkan Kiara, membiarkan perempuan itu bersandar pada bathub.
Tangan besarnya mengambil shower, menghidupkan air dingin dan mengguyur tubuh sang istri sehingga Kiara dibuat kelimpungan.
"Apa yang kau lakukan!" pekik Kiara, dia ingin berdiri tapi kepalanya terlalu pusing. Tubuhnya seperti akan tumbang saja.
"Apa yang salah dengan mu, Kiara! Saya sudah memperingatkan berkali-kali untuk tidak main-main dengan saya! Kenapa kamu malah melakukan hal gila seperti ini!" Habibie terus saja membentak Kiara dengan nada tingginya.
"Kamu tahu kalau khamr itu haram! Bagaimana kamu bisa belajar dan membersihkan isi hati dan kepalamu kalau kamu sengaja membiarkan hal-hal yang haram masuk ke tubuhmu! Kamu ini maunya apa sih! Kamu itu sudah dewasa. Bisa tidak untuk mengerti mana yang baik dan mana yang buruk! Haruskah saya menghukum mu dengan cara menggantung mu di tempat ini hah! Jaga harga diri kamu, jaga marwah kamu sebagai seorang perempuan Kiara! Kamu it--- "
"Apa!" teriak Kiara. "Harga diri dan harga diri yang kau bahas! Kau selalu memintaku untuk melakukan ini dan itu, melarang ku melakukan ini dan itu. Kalian itu egois! Kalian semua sama. Hanya Bunda yang sayang sama aku. Cuma Bunda yang bisa mengerti aku!" Kiara menunduk sambil memukul dadanya.
"Kalian hanya bisa memarahiku, meminta hal-hal seperti itu dengan cara memaksa. Pernahkah kalian menanyakan bagaimana perasaan ku!"
Kini perempuan itu telah berdiri, berjalan terseok menghampiri suaminya dengan linangan air mata.
"19 tahun, 19 tahun aku hidup tanpa ada yang merecoki kehidupan ku!" Kiara mendongak, tangannya menarik kemeja yang suaminya kenakan dengan kuat. "Satu kali saja. Bisakah tanyakan apakah aku baik-baik saja? Apa yang benar-benar aku inginkan. Aku kesepian, Tuan! Dan kau!" Kiara menusuk dada suaminya dengan jari telunjuk. "Kau adalah langit yang bisa aku pandang tapi tidak bisa aku sentuh! Aku benci kalian semua. Aku benci kehidupan ini. Aku mau Bunda, aku mau nyusul Bunda aja!"
Perempuan itu berjalan ke arah wastafel, mengambil sebuah vas bunga kemudian memecahkan vas itu sehingga ada pecahan keramik yang mengenai kakinya.
Habibie ingin merebut vas dari tangan Kiara, tapi Kiara tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi. Ia menodongkan vas tak utuh itu tepat di dekat leher Habibie.
"Kiara. Kau terluka!"
"Diammmm!" Perempuan itu berteriak sampai suaranya hampir hilang. Ia sempoyongan, berpegangan pada wastafel untuk menjaga keseimbangan.
"Kiara!"
"Step back!" titah Kiara. "Tuan!" lirih perempuan itu akhirnya. "Aku tidak meminum itu dengan sengaja. Mereka yang memaksa, dan ini yang pertama untuk ku!" Untuk sesaat dia tergelak. "Kau tidak akan mempercayai ku bukan! Terserah. Terserah kau saja! Aku tidak perduli, aku akan segera pergi! Meninggalkan orang-orang kejam seperti kalian. Aku akan menemui Bunda. Bunda pasti akan mengerti!"
Habibie semakin ketakutan karena pergerakan Kiara tidak bisa dikontrol. Tangan dan kakinya bergerak tak tentu arah.
"Selamat tinggal, Tuan Habibie! Semoga kau bahagia!"
Prang!
Vas itu hancur berkeping-keping setelah Habibie menepis tangan Kiara. Namun, karena tepisan itu terlalu keras, Kiara limbung. Perempuan itu jatuh, tapi Habibie sudah lebih dulu mengantisipasi hal tersebut. Ia menarik tubuh Kiara ke dalam dekapannya, tubuh yang telah basah itu terasa sangat dingin.
Habibie kembali memangku Kiara dan membawanya keluar, membaringkan Kiara di atas ranjang dengan pakaian basahnya. Perempuan itu terus saja meracau tidak jelas, tubuhnya bergetar, dia sepertinya kedinginan.
Pria itu kebingungan. Dia mengambil kain lantas membalut kaki Kiara dengan kain itu dan berlari ke luar.
"Bi. Bi Arum!"
Habibie berteriak, sosok itu muncul, mendongak ke lantai atas.
"Ada apa, Tuan?"
"Bi, tolong saya sebentar!"
Bi Arum pun naik ke lantai atas. Ia berdiri di depan Habibie dengan wajah khawatir, apalagi saat melihat kemejanya basah kuyup, semakin over thinking lah Bi Arum.
"Bi, baju Kiara basah, tapi dia lagi enggak sadar. Bibi bisa bantu saya untuk menggantikan pakaiannya?"
Habibie sudah akan kembali masuk ke kamarnya, tapi Bi Arum mengeluarkan suara yang membuat langkah Habibie terhenti.
"Maafkan saya, Tuan! Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Tuan, saya yakin Tuan lebih mengerti hal ini daripada saya. Nyonya Kiara itu memiliki batasan aurat sekalipun itu dengan saya. Hanya Tuan yang boleh melihatnya tanpa batasan apa pun. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa membantu!"
Habibie tertegun, dia seperti dihadapkan dengan jalan buntu yang dia bangun sendiri.
"Maafkan saya, Bi!"
Bi Arum hanya mengangguk, menatap punggung lebar Habibie yang telah kembali masuk ke kamarnya.
"Maafkan saya, Tuan! Yang saya katakan itu memang benar, tapi, sudah saatnya Tuan melupakan almarhumah. Kasian Nyonya Kiara atuh Tuan!"
Bi Arum mengembuskan napa panjang sebelum kembali turun ke lantai bawah.
Sementara di dalam kamar, Habibie tengah berusaha untuk menggantikan pakaian istrinya. Pria itu hanya mengambil baju tidur dan .... Setelah selesai, Habibie mengambil kotak P3K kemudian mengobati kaki istrinya itu dengan sangat hati-hati.
"Aduhhh, Ayah! Pelan-pelan!" teriak Kiara. "Sakittttt woy!"
Habibie tidak mengindahkan hal tersebut, dia memegang pergelangan kaki Kiara yang berada di atas pangkuan dengan sangat erat.
"Tahan sebentar!"
"Akhhhhhh!"
Kiara mencengkram kasur di sampingnya dengan kuat. Perih, sakit, semuanya campur aduk.
"Apa yang kau lakukan, kau ingin membunuhku hah?"
Lagi-lagi Habibie tidak memperdulikan hal tersebut, dia melanjutkan kegiatannya sampai kaki itu selesai dia obati.
"Bundaaaaaa ... sakit!" Kali ini Kiara merengek dengan suara manjanya. "Tenggorokan Kiara juga sakit. Kiara mau minum!"
Beberapa detik kemudian, Habibie membantu Kiara untuk minum. Pria itu kembali menyimpan gelas di atas nakas kemudian menatap Kiara dengan wajah sendu.
"Bunda ... Bunda, Kiara kangen! Bunda di mana?"
Bibir Kiara tidak pernah berhenti untuk bergumam, meskipun tidak kencang, tapi Habibie juga memiliki pendengaran yang baik.
"Apa cara yang saya lakukan itu salah?" Kini tangan pria itu terulur, merapikan rambut pada wajah Kiara yang berantakan. Meski itu ditutupi handuk kering, ada banyak helai yang keluar. "Maafkan saya, Kiara!"
Habibie bergumam lantas beranjak dari duduknya. Baru berbalik, tiba-tiba, jemari mungil Kiara menggenggam jari kelingkingnya kuat.
"Jangan pergi, jangan tinggalin Kiara, Bunda. Kiara kesepian. Kiara kedinginan. Tolong, Kiara ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Zay Wex
Kiara tuh sifat nya mirip bian ya othor.. 🤔
2023-03-22
3
Uneh Wee
kasiaan kiara harus menderita ...sabar yah kiara ..habibie blm mau muv on dari mantan istri nya knp apa yg dia harap kn....jadeuh
2023-03-22
0