Tubuh perempuan itu bergetar ketika Bi Arum membantunya untuk menyuapkan makanan. Padahal, ini baru jam 9. BI Arum dan Devi sudah terbiasa tidak sarapan, mereka terlalu malas untuk itu, jadi mereka makan biasanya antara jam sebelas atau sebelum Dzuhur. Ya, sekalian makan siang.
"Hikssss. Apa salah saya, Bi. Saya enggak bisa beres-beres juga karena enggak pernah diajarin." Kiara menangis saat Bi Arum menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ayam pop kesukaannya nya pun menjadi hambar kerena saat ini hatinya benar-benar ambyar.
"Ya, Neng Kiara ngapain atuh mancing-mancing emosinya Tuan. Tuan Habibie itu aslinya baik. Mungkin dia lagi naik darah aja, Neng!" BI Arum jadi ikut sedih kalau Kiara sampai kesulitan seperti ini.
"Bunda udah pergi saat Kia masih SD kelas satu, Bi," lirihnya. "Sejak saat itu, langit tak lagi indah, matahari tak lagi hangat, dan bulan pun seperti sukar menampakan sinarnya!" Kiara berucap dengan tatapan sendu, wajah datar dan juga seperti tanpa beban.
Devi berusaha mati-matian untuk tidak tertawa. Entahlah, perempuan ini terlihat sangat menyedihkan, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya terlalu renyah, diksi yang dia gunakan pun sangat menggelitik perut.
"Lukis kembali langit itu agar menjadi indah, panggang mataharinya biar enggak dingin lagi. Dan untuk bulan, kasih dia power bank biar bisa nyimpen cahaya yang banyak!"
Buahahaha ... "Astagfirullah ... Bibi ngomong apa!" keluh Devi dengan suara tawa yang semakin lama semakin menjadi. Bahkan, anak gadis itu sudah berguling di atas lantai, jangan tanyakan suaranya yang sudah ngik-ngkan seperti pelek motor yang sudah udzur.
Kiara yang tadinya sudah akan menangis pun ikut tertawa kecil. Dia benar-benar tidak mengerti, disandingkan dengan spesies apa dirinya sehingga harus mendengarkan hal-hal konyol seperti itu.
"Nah 'kan? Kalau senyum kan cantik. Makan lagi, Neng! Habiskan nasinya!" Bi Arum kembali menyodorkan tangannya di depan mulut Kiara. Perempuan itu pun menerima suapan langsung dari tangan wanita di depannya. Ia mengusap bulir bening yang tiba-tiba mendesak untuk keluar. Syukurlah, dari tangan Bi Arum, Kiara masih bisa merasakan suapan seseorang.
"Makasih, Bi."
"Hmmm. Enggak usah sungkan sama Bibi, Neng!"
....
Habibie terus saja mengembuskan napas berat. Entah kenapa, dia merasa jika hukuman menahan Kiara untuk makan itu adalah hukuman yang salah. Mau bagaimana pun salahnya Kiara, untuk urusan makan seharusnya dia tidak bermain-main dengan hal itu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" sahut Habibie dari dalam.
"Assalamualaikum, Tuan. Saya sudah memesan apa yang Tuan katakan sebelumnya. Apa mau langsung diantar ke rumah atau bagaimana?"
"Wa'alaikumssalam ... antar ke sini saja dulu. Nanti kamu yang ambil dan langsung masukan ke bagasi mobil!"
"Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi dulu!"
Habibie hanya mengangguk. Dia kembali menatap layar ponselnya. Kiara yang tengah kesulitan untuk makan karena terlalu lemas membuat Habibie tidak bisa fokus bekerja.
Namun, dia juga tidak bisa disalahkan. Kiara memang harus menerima konsekuensi dari apa yang mereka sepakati.
Sepulang dari kantor, Habibie keluar dari mobilnya diikuti oleh Ali. Asisten pribadinya. Pria itu agaknya 5 tahun lebih muda dari Habibie. Ya, sekitar 30an lah. Tapi kalau urusan gagah dan ganteng, jangan pernah meragukan Habibie.
Belum sempat masuk ke rumah, Bi Arum telah menyambutnya. Wanita itu seperti biasa, memberikan pelayanan terbaik untuk Habibie. Menjawab salam pria itu seperti seorang ibu.
"Kiara enggak kabur 'kan Bi?"
"Enggak, Tuan. Neng Kiara lagi diajarin cara beres-beres sama Teh Novi!"
Habibie mengangguk mendengar hal tersebut. "Ya sudah, tolong letakan barang-barang ini di kamarnya. Paper bag warna hitam untuk Bibi dan Teh Novi!"
"Baik, Tuan. Terima kasih."
Habibie mengangguk. Ali dan Bi Arum berusaha untuk membawa semua paper bag itu meski sangat sulit. Entahlah, mungkin satu toko telah habis diborongnya oleh pria itu.
"Letakan saja di sana!"
"Siap, Bi! ... tapi Bi, Neng Kiara teh siapa?" tanya Ali kepo. "Apa mungkin calon istrinya Tuan?"
Kepala Bi Arum menggeleng, entahlah ... dia juga tidak yakin, kalau memang itu adalah calon istrinya Habibie, dia tidak mungkin menjadikan Kiara pembantu di rumahnya.
"Pekerjaan saya sudah selesai, Bi. Saya pamit pulang dulu, ya!" kata Ali. Bi Arum mengangguk, dia mengantar pria itu sampai ke luar kemudian naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan Kiara.
"Neng Kia! ... Neng Kia!" Bi Arum berteriak sudah seperti di kebun bintang saja.
"Iya, Bibi bawel. Kenapa?" perempuan itu muncul dari salah satu kamar di lantai atas.
"Tuan beliin kamu baju. Pergilah lihat! Saya taruh di atas kasur."
Tanpa menunggu kelanjutan cerita Bi Arum, Kiara sudah benar-benar melesat turun ke lantai bawah. Dia tidak memperdulikan apa pun. Malah bersorak heboh dan berlari dengan sangat kencang.
"Wuahhhh ... banyak banget bajunya." Kiara benar-benar dibuat terperangah oleh puluhan paper bag di atas tempat tidur.
Namun, kening perempuan itu mengkerut begitu melihat kertas yang tertinggal di sana.
"Semuanya jadi 250 juta. Bekerjalah dengan baik dan lunasi itu semua!" Pesan yang Kiara baca.
"Astagfirullah ... dasar pelittttttttt! Masa 250 juta doang harus dibayar. Enggak cocok jadi suami, cukup jadi bos aja," gumamnya masih tidak sadar kalau Habibie memang calon suaminya.
"Ekhhh ... apa-apa an ini? Kenapa ada benda ini di sini? Dia enggak nyuruh gue open BO 'kan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Daffodil Koltim
setidakx kia bisa sadar sedikit,,, qlo semuanya butuh usaha u mndapatkan,,,
2023-06-30
0
Yunia Hartini Rahayu
itu gimana ceritanya matahari di panggang di kompor,,sama bulan di kasih power bank lagi🤣 aya2 wae bi Arum🤣
isshh,,isshh...tuan Habibie perhitungan banget yakk🤧
2023-03-14
3
Uneh Wee
tp klau dipikir " yh jngn terlalu keras ngasih plajaran nya bikin kia ngerti ....suruh bljar sama bibi ...klau keras mn mau ngerti dia ...ank mami kn ....
2023-03-13
4