"Ikut saya, Kiara!" titah Habibie dengan suara baritonnya. Pria itu melenggang kembali ke ruang olahraga lebih dulu.
"Biiii~~~" rengek Kiara tidak ingin mengikuti Habibie. "Kia takut, enggak mau ikut Om itu!"
Bi Arum tentu tidak mengindahkan perkataan Kiara. Ia justru melepaskan cekalan tangan Kiara kemudian memasukkan perempuan itu ke dalam ruangan gym milik Habibie.
"Masuk aja dulu! Siapa tahu cuma disuruh lurusin pohon toge!" kata Bi Arum enteng.
"What? Maksud Bi Arum gimana? Bibi ... Biiii!"
Tangan Kiara menempel pada pintu ruangan itu meminta dibukakan oleh Bi Arum dan lagi-lagi Bi Arum tidak mendengar suaranya.
"Kiara!" panggil Habibie.
Kiara memejamkan mata, bibirnya menipis kemudian dia berbalik dengan wajah sendu. Kiara menunduk di depan pria itu. Persis seperti anak SD yang ketahuan mencuri premen di warung tetangga.
"Push up 100 kali, dan bersihkan tempat ini sampai kinclong, jika masih ada noda yang tersisa. Tidak akan ada sarapan pagi hari ini!"
"What? Are you crazy?"
Kiara melotot. Dia langsung memukul mulutnya yang lagi-lagi bicara tanpa bisa dia kontrol.
"Maksudnya saya bisa crazy beneran, Tuan!"
"Nobody cares about you. Jika saat saya kembali ke sini kamu masih belum selesai dan ruangan ini masih belum bersih, saya bener-bener tidak akan tinggal diam!"
Habibie tersenyum miring. Dia mengambil handuk kecilnya kemudian berlalu meninggalkan Kiara. Akan tetapi, baru beberapa langkah, Habibie sudah kembali.
"Ada CCTV. Kau tidak akan bisa membodohi saya!" gumam Habibie dan itu membuat Kiara semakin lemas sehingga tubuhnya lumer seperti jelly. Dia ambruk di atas lantai, berbaring telentang dengan kaki yang bergerak-gerak seperti tengah bermain di lautan salju.
"Bundaaaaaa!" teriak Kiara yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Kiara sudah sangat ingin menangis tapi tidak jadi saat melihat lampu CCTV yang seolah-olah seperti tengah berkedip dan mengejeknya.
"Eishhhhhhh ... kau lihat saja, Om Popay! Aku akan buktikan kalau Kiara tidak bisa ditindas."
Perempuan itu berbalik layaknya kura-kura yang kembali tertelungkup setelah tidak sengaja terlentang karena crash yang berlebihan. Ia mulai push up dan berhitung.
"10. 20. 30. 40. 50. 60. 70. 80. 90. 100!"
"Huhuyyyyy! Gue bisa!" kata Kiara berjingkrak heboh.
Prttttttt!
Habibie menyemburkan air putih yang hendak dia telan setelah melihat kekonyolan Kiara dari laptop yang ada di atas meja kerjanya.
"Astagfirullah ... otak anak kancil itu benar-benar sudah tidak tertolong." Habibie meringis melihat tingkah calon istrinya. "Abi! Apa ini perempuan yang Abi jodohkan dengan Habibie? Apa tidak jodohkan saya dengan anak TK saja!"
Habibie mengembuskan napas kasar dan kembali meminum infus water dari tumbler di tangannya. Pria itu mengubah tampilan laptop, melihat pekerjannya kemudian pergi membersikan diri sebelum dia pergi ke kantor.
Anak perempuan di dalam ruangan gym itu duduk tersungkur dengan kaki berselonjor. Punggungnya ia tempelkan pada dinding ruangan tersebut dan bernapas naik turun karena lelah.
"Sudah selesai?" tanya seseorang tiba-tiba.
Kiara menoleh ke arah pintu, dia berdecih pelan kemudian berdiri. "Paduka Raja bisa melihatnya sendiri. Saya yakin ini sudah bersih. Jika tidak, saya akan pingsan!" katanya dengan mata sayu. Kiara berdiri sempoyongan. Tubuhnya benar-benar lelah karena dipaksa untuk bekerja bakti saat dia tidak bisa melakukan apa pun.
Habibie meringis melihat tempat itu. Dinding kaca yang telah bening malah blur entah kenapa, alat-alat gym yang juga malah basah kuyup seperti baru teredam air banjir.
"Apa yang kau lakukan, Kiara? Kenapa jadi seperti ini!"
Kiara mengangkat kedua bahunya acuh, dia merangkak, keluar dari ruangan itu takut-takut kalau Habibie akan menyuruhnya untuk melakukan hal lain.
"Kiaraaaa!" geram Habibie dengan amarah tertahan. "Kau apakan ruangan saya!" keluhnya lagi dan Kiara masih saja merangkak seperti anak kucing yang ingin kabur.
"Neng Kiaaaaa!" panggil Bi Arum. "Neng!" panggilnya lagi dengan napas naik turun seperti baru saja menyelesaikan lari maraton. "Neng Kia, Neng Kia kata Devi Eneng ngambil lap di atas kompor yang ada di dapur kotor?"
Kiara hanya mengangguk. Ia sudah berdiri kembali dengan kaki terseok. "Kia pake buat elap kaca itu, Bi!" tunjuknya pada dinding kaca ruangan gym milik Habibie.
Sepasang mata Bi Arum terbelalak. "Astagfirullah ... Gusti nu Agung! ... Neng Kiaraaaa, itu mah lap bekas minyak atuh. Ya Allah ... ari Eneng teh sok tara eling. Lihat itu! Ari Nang enggak liat, dinding kacanya jadi blur gitu. Astagfirullah ... wes, angel ini mah. Angel!"
Habibie pun sudah tidak bisa berkata-kata. Speechless karena hal seperti ini pun Kiara tidak becus. Akan jadi apa dia kalau mereka benar-benar menikah.
"Bersihkan tempat ini sampai benar-benar bersih. Jika tidak, bukan hanya sarapan pagi, kamu juga enggak bakal dapat makan siang dan makan malam, Kiara!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Daffodil Koltim
sok ospek si kia,,, spya eling sedikit,,,,😂😂😂😂🙏🏻🙏🏻🙏🏻
2023-06-30
0
Yunia Hartini Rahayu
aduuhh Kia,,aya2 wae🤣 bukannya bersih malah di bikin kotor ituu ruangan nya Habibie🤣
sabar ya Habibie😁
2023-03-14
4
Uneh Wee
neng kia ...hadeeuh bner bikin darah tinggi seisi rumah ...mkna jd parawan kudu bisa lalampah neneng ...ngndel kn art aja sih ..pgawean na shoping ...duh ...calin istri jitaken eta mh hihii...sabar tuan bibie ...mklum didikn
2023-03-13
1