16. Tidak Kapok-Kapok

Kiara berhenti di depan sebuah cafe mewah di kota itu. Dengan wajah secantik dan seimut yang Kiara miliki, tentu saja Kiara menjadi pusat perhatian semua orang. Jangan tanyakan bagaimana dia saat ini karena perempuan itu sama sekali tidak perduli dengan orang lain. So, wajahnya ya seperti itu saja.

"Hello Guysssss! I'm back!" pekik Kiara di salah satu meja yang ternyata di meja tersebut sudah ada beberapa perempuan dan dua laki-laki.

Orang-orang itu bersorak heboh sampai pengunjung cafe yang lain benar-benar memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Ya Allah, kemana aja lu. Di tungguin dari taun kemaren baru nongol. Kenapa juga enggak ngundang pas nikah hah?"

Kiara mengangkat kedua bahunya acuh. Perempuan itu tidak ingin membahas masalah pernikahan. Dia pergi dari rumah karena tidak ingin pusing dengan status barunya, jangan sampai teman-temannya ini malah membuatnya kehilangan mood.

"Jangan bahas masalah pernikahan deh. Gedek gue!"

Orang-orang di depan Kiara saling menatap. Perempuan itu memang terlihat tidak bersemangat. "Ada masalah sama suami elo, Kia?" tanya Amel. Kiara menggelengkan kepalanya.

"Gue udah bilang enggak usah dibahas! Jangan bikin mood gue hancur. Gue ke sini buat seneng-seneng."

Adnan tersenyum, dia mengulurkan tangan kemudian menepuk punggung tangan Kiara pelan. "Ya udah, lupain apa pun yang ada di rumah suami lo. Kita bakal bantu bikin lo seneng, Kia!"

Amel tersenyum miris melihat perhatian yang Adnan berikan untuk Kiara. Jujur saja, mereka semua sangat tahu kalau Adnan sudah mencintai Kiara sejak lama. Tapi perempuan itu tidak pernah menerima Adnan meskipun hanya karena kasihan.

"Udahlah! Mau pesen apa kita?" tanya Arumi memecah acara saling tatap yang dilakukan oleh Kiara dan Adnan.

Orang-orang itu mulai sibuk, memesan apa pun yang mereka inginkan sampai meja mereka penuh dan mereka benar-benar menikmati waktu mereka. Haha-hihi. Juga menceritakan tentang kehidupan masa lalu mereka saat sekolah.

"Tapi beneran, enggak ada yang bisa nyaingin kecantikan Kiara kita sih," puji Adnan.

"True. Kalau itu no debat sih." David ikut menimpali.

Amel, Sela dan Arumi pun mengangguk dengan kekompakan.

"Udah sore, nih! Kita ke ke karaoke yuk! Bentar aja mumpung masih ada waktu!"

Sela memasang wajah memelas, dia menautkan kedua tangannya di depan dada. "Please! Gue kangen denger suara cempreng kalian!"

"Yuk! Gaskeun lah!" Kiara yang sangat antusias itu langsung berdiri. Namun, sebelum pergi, perempuan itu meminta bill dah membayar semua tagihannya.

"Yakin enggak papa kita nebeng kamu, Kia?" tanya Amel dengan Adnan.

Kiara mengangguk. "Masuk aja! Kalian tinggal duduk manis biar gue yang nyetir."

"Gue aja, Kia!" kata Adnan menawarkan diri. "Lo nanti pulang nyetir sendiri. Sekarang biar gue aja. Takutnya malah lo kecapean!"

"Bener kata Adnan Kia. Mending Adnan aja yang nyetir!"

Kiara yang awalnya tidak menunjukkan ekspresi pun tersenyum kemudian memberikan kunci mobilnya kepada Adnan. Pria itu menerima kunci dengan senang hati juga membukakan pintu untuk yang tercinta.

Mereka kembali menikmati masa-masa kebersamaan itu. Bercerita banyak hal sampai tidak lama kemudian sampailah mereka di depan sebuah gedung karoke keluarga. Memang bukan tempat karaoke remang-remang, tapi ya namanya pergi karaoke bareng sahabat karib, apalagi yang akan mereka lakukan jika bukan hal-hal seperti itu.

Sesampainya di ruang VIP. Beberapa pelayan mulai menyodorkan camilan dan beberapa jenis minuman.

"Tunggu!" Kiara mengerutkan kening karena ada beberapa botol bir dan minuman beralkohol lainnya. "Siapa yang pesen ini?" Kiara mengangkat botol itu.

"Gue!" jawab Amel. "Gue yang pesen Beib. Gak papa lah sesekali doang!"

Kiara mengembuskan napas panjang. Dia ingin menolak tapi juga tidak tega pada teman-temannya. Alhasil, perempuan itu membiarkan hal itu terjadi.

Mereka semua kembali tertawa dan bernyanyi bersama, berjingkrak heboh sampai suara mereka hampir hilang karena terus-terusan berteriak dan bersorak.

"Minum ini, Kia!" titah Arumi menyodorkan satu gelas bir penuh kepada Kiara.

"Enggak mau, enggak suka gue!" tolak Kiara halus.

"Ayolah Kia. Sekali seumur hidup kali. Elo enggak pernah nyoba kan. Gue yakin, setelah nyoba lo pasti ketagihan."

Kiara sudah berusaha untuk menolak, tapi sialnya orang-orang itu tidak tinggal diam, mereka semua memegangi tubuh Kiara dan mencekoki perempuan itu dengan berbagai jenis alkohol.

....

Sementara di perusahaan yang dikelola oleh Habibie, para petinggi di perusahaan itu memberikan tepuk tangan setelah Habibie memberitahukan kalau saham mereka semakin hari pergerakannya semakin bagus, cenderung naik dan tentu saja hal tersebut akan sangat menguntungkan untuk mereka.

"Baiklah, jika tidak ada yang ingin ditanyakan, rapat kita akhiri di sini!" ujar Habibie. Orang-orang itu mengangguk, hanya mengikuti instruksi dari Habibie karena ini juga sudah terlalu sore, bagi yang tidak lembur, mereka harus cepat-cepat pulang.

Namun, Habibie yang sebagian CEO di perusahaan itu pun belum pulang. Sampai jam delapan malam, dia baru menarik diri dari layar laptop. Membuka kacamatanya kemudian memijat tulang hidungnya itu sembari bersandar pada sandaran kursi.

"Kiara!" gumam Habibie ketika bayangan Kiara yang sedang menangis sesenggukan sambil memeluk tas-tas yang telah gosong terngiang begitu saja.

"Ali!" panggilannya pada sang asisten.

"Siap, Tuan!" sahut Ali.

"Tolong carikan tas-tas cantik untuk istri saya!"

Setelah mengucapkan itu, Habibie menyambar jasnya lalu keluar dari ruangan. Pria itu meninggalkan Ali yang masih mematung dengan wajah bodohnya, dia menggaruk kepala yang tidak gatal, berusaha berpikir, tas seperti apa yang istri tuannya itu sukai.

"Astagfirullah ... kalau bukan bos, udah tak hih!"

Puas menggerutu, Ali berlari mengejar Habibie, syukurlah pria itu baru akan masuk ke dalam lift.

"Saya pulang sendiri, Ali! Kamu juga pulanglah! Ini sudah malam."

Ali pun mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, Tuan!"

....

Sesampainya di depan rumah, Habibie dibuat bingung karena ada salah satu mobilnya yang mendahuluinya masuk, setelah itu pun masih ada mobil lain yang mengikuti dari belakang.

"Kiara!" gumam Habibie melihat istrinya dipapah oleh seorang perempuan dan juga seorang laki-laki. "Astagfirullah ... anak ini benar-benar sangat keterlaluan! Kiara kamu--"

Karena tidak bisa menunggu, Habibie pun membawa mobilnya masuk lebih dalam, ia keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa untuk menghampiri Kiara.

"Eeee busettt, itu suaminya anjir. Gimana dong!" Arumi sudah sangat ketakutan. Air wajah Habibie terlihat sangat tidak menyenangkan, gesture tubuhnya juga.

"Kiaraaaa!" pekik Habibie. Orang-orang yang memapah berbalik dan langsung dibuat tercengang karena melihat kemarahan Habibie tapi dengan wajah tampannya.

"Mas Habibie! Om nakal!" Kiara berlari sempoyongan ke arah suaminya. Perempuan itu langsung mengalungkan tangan di leher sang suami sambil menghirup curuk leher suaminya itu. "Wanginya. Kiara suka wangi ini!"

"Kiara," geram Habibie dengan kedua tangan terkepal.

Terpopuler

Comments

Wury Ayra

Wury Ayra

temen2 kiara ga beres tuh..

2023-03-21

1

Uneh Wee

Uneh Wee

kiaaara makanya jng kumpul sama teman mu tuh bisa" makin rusak ahlak mu ...ga kan baik sabar yah habibir itulah karna kamu terlalu keras ...kiara kan kurang nya kasih sayang bukan kuurang bntakan makanya jdi ngaco kan ......duuh

2023-03-21

2

Zay Wex

Zay Wex

lagi othor.. lagiiii tak kasih 5🌹 nih..

2023-03-21

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!