Kiara berhenti di depan sebuah cafe mewah di kota itu. Dengan wajah secantik dan seimut yang Kiara miliki, tentu saja Kiara menjadi pusat perhatian semua orang. Jangan tanyakan bagaimana dia saat ini karena perempuan itu sama sekali tidak perduli dengan orang lain. So, wajahnya ya seperti itu saja.
"Hello Guysssss! I'm back!" pekik Kiara di salah satu meja yang ternyata di meja tersebut sudah ada beberapa perempuan dan dua laki-laki.
Orang-orang itu bersorak heboh sampai pengunjung cafe yang lain benar-benar memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Ya Allah, kemana aja lu. Di tungguin dari taun kemaren baru nongol. Kenapa juga enggak ngundang pas nikah hah?"
Kiara mengangkat kedua bahunya acuh. Perempuan itu tidak ingin membahas masalah pernikahan. Dia pergi dari rumah karena tidak ingin pusing dengan status barunya, jangan sampai teman-temannya ini malah membuatnya kehilangan mood.
"Jangan bahas masalah pernikahan deh. Gedek gue!"
Orang-orang di depan Kiara saling menatap. Perempuan itu memang terlihat tidak bersemangat. "Ada masalah sama suami elo, Kia?" tanya Amel. Kiara menggelengkan kepalanya.
"Gue udah bilang enggak usah dibahas! Jangan bikin mood gue hancur. Gue ke sini buat seneng-seneng."
Adnan tersenyum, dia mengulurkan tangan kemudian menepuk punggung tangan Kiara pelan. "Ya udah, lupain apa pun yang ada di rumah suami lo. Kita bakal bantu bikin lo seneng, Kia!"
Amel tersenyum miris melihat perhatian yang Adnan berikan untuk Kiara. Jujur saja, mereka semua sangat tahu kalau Adnan sudah mencintai Kiara sejak lama. Tapi perempuan itu tidak pernah menerima Adnan meskipun hanya karena kasihan.
"Udahlah! Mau pesen apa kita?" tanya Arumi memecah acara saling tatap yang dilakukan oleh Kiara dan Adnan.
Orang-orang itu mulai sibuk, memesan apa pun yang mereka inginkan sampai meja mereka penuh dan mereka benar-benar menikmati waktu mereka. Haha-hihi. Juga menceritakan tentang kehidupan masa lalu mereka saat sekolah.
"Tapi beneran, enggak ada yang bisa nyaingin kecantikan Kiara kita sih," puji Adnan.
"True. Kalau itu no debat sih." David ikut menimpali.
Amel, Sela dan Arumi pun mengangguk dengan kekompakan.
"Udah sore, nih! Kita ke ke karaoke yuk! Bentar aja mumpung masih ada waktu!"
Sela memasang wajah memelas, dia menautkan kedua tangannya di depan dada. "Please! Gue kangen denger suara cempreng kalian!"
"Yuk! Gaskeun lah!" Kiara yang sangat antusias itu langsung berdiri. Namun, sebelum pergi, perempuan itu meminta bill dah membayar semua tagihannya.
"Yakin enggak papa kita nebeng kamu, Kia?" tanya Amel dengan Adnan.
Kiara mengangguk. "Masuk aja! Kalian tinggal duduk manis biar gue yang nyetir."
"Gue aja, Kia!" kata Adnan menawarkan diri. "Lo nanti pulang nyetir sendiri. Sekarang biar gue aja. Takutnya malah lo kecapean!"
"Bener kata Adnan Kia. Mending Adnan aja yang nyetir!"
Kiara yang awalnya tidak menunjukkan ekspresi pun tersenyum kemudian memberikan kunci mobilnya kepada Adnan. Pria itu menerima kunci dengan senang hati juga membukakan pintu untuk yang tercinta.
Mereka kembali menikmati masa-masa kebersamaan itu. Bercerita banyak hal sampai tidak lama kemudian sampailah mereka di depan sebuah gedung karoke keluarga. Memang bukan tempat karaoke remang-remang, tapi ya namanya pergi karaoke bareng sahabat karib, apalagi yang akan mereka lakukan jika bukan hal-hal seperti itu.
Sesampainya di ruang VIP. Beberapa pelayan mulai menyodorkan camilan dan beberapa jenis minuman.
"Tunggu!" Kiara mengerutkan kening karena ada beberapa botol bir dan minuman beralkohol lainnya. "Siapa yang pesen ini?" Kiara mengangkat botol itu.
"Gue!" jawab Amel. "Gue yang pesen Beib. Gak papa lah sesekali doang!"
Kiara mengembuskan napas panjang. Dia ingin menolak tapi juga tidak tega pada teman-temannya. Alhasil, perempuan itu membiarkan hal itu terjadi.
Mereka semua kembali tertawa dan bernyanyi bersama, berjingkrak heboh sampai suara mereka hampir hilang karena terus-terusan berteriak dan bersorak.
"Minum ini, Kia!" titah Arumi menyodorkan satu gelas bir penuh kepada Kiara.
"Enggak mau, enggak suka gue!" tolak Kiara halus.
"Ayolah Kia. Sekali seumur hidup kali. Elo enggak pernah nyoba kan. Gue yakin, setelah nyoba lo pasti ketagihan."
Kiara sudah berusaha untuk menolak, tapi sialnya orang-orang itu tidak tinggal diam, mereka semua memegangi tubuh Kiara dan mencekoki perempuan itu dengan berbagai jenis alkohol.
....
Sementara di perusahaan yang dikelola oleh Habibie, para petinggi di perusahaan itu memberikan tepuk tangan setelah Habibie memberitahukan kalau saham mereka semakin hari pergerakannya semakin bagus, cenderung naik dan tentu saja hal tersebut akan sangat menguntungkan untuk mereka.
"Baiklah, jika tidak ada yang ingin ditanyakan, rapat kita akhiri di sini!" ujar Habibie. Orang-orang itu mengangguk, hanya mengikuti instruksi dari Habibie karena ini juga sudah terlalu sore, bagi yang tidak lembur, mereka harus cepat-cepat pulang.
Namun, Habibie yang sebagian CEO di perusahaan itu pun belum pulang. Sampai jam delapan malam, dia baru menarik diri dari layar laptop. Membuka kacamatanya kemudian memijat tulang hidungnya itu sembari bersandar pada sandaran kursi.
"Kiara!" gumam Habibie ketika bayangan Kiara yang sedang menangis sesenggukan sambil memeluk tas-tas yang telah gosong terngiang begitu saja.
"Ali!" panggilannya pada sang asisten.
"Siap, Tuan!" sahut Ali.
"Tolong carikan tas-tas cantik untuk istri saya!"
Setelah mengucapkan itu, Habibie menyambar jasnya lalu keluar dari ruangan. Pria itu meninggalkan Ali yang masih mematung dengan wajah bodohnya, dia menggaruk kepala yang tidak gatal, berusaha berpikir, tas seperti apa yang istri tuannya itu sukai.
"Astagfirullah ... kalau bukan bos, udah tak hih!"
Puas menggerutu, Ali berlari mengejar Habibie, syukurlah pria itu baru akan masuk ke dalam lift.
"Saya pulang sendiri, Ali! Kamu juga pulanglah! Ini sudah malam."
Ali pun mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih, Tuan!"
....
Sesampainya di depan rumah, Habibie dibuat bingung karena ada salah satu mobilnya yang mendahuluinya masuk, setelah itu pun masih ada mobil lain yang mengikuti dari belakang.
"Kiara!" gumam Habibie melihat istrinya dipapah oleh seorang perempuan dan juga seorang laki-laki. "Astagfirullah ... anak ini benar-benar sangat keterlaluan! Kiara kamu--"
Karena tidak bisa menunggu, Habibie pun membawa mobilnya masuk lebih dalam, ia keluar dari mobil itu dengan tergesa-gesa untuk menghampiri Kiara.
"Eeee busettt, itu suaminya anjir. Gimana dong!" Arumi sudah sangat ketakutan. Air wajah Habibie terlihat sangat tidak menyenangkan, gesture tubuhnya juga.
"Kiaraaaa!" pekik Habibie. Orang-orang yang memapah berbalik dan langsung dibuat tercengang karena melihat kemarahan Habibie tapi dengan wajah tampannya.
"Mas Habibie! Om nakal!" Kiara berlari sempoyongan ke arah suaminya. Perempuan itu langsung mengalungkan tangan di leher sang suami sambil menghirup curuk leher suaminya itu. "Wanginya. Kiara suka wangi ini!"
"Kiara," geram Habibie dengan kedua tangan terkepal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Wury Ayra
temen2 kiara ga beres tuh..
2023-03-21
1
Uneh Wee
kiaaara makanya jng kumpul sama teman mu tuh bisa" makin rusak ahlak mu ...ga kan baik sabar yah habibir itulah karna kamu terlalu keras ...kiara kan kurang nya kasih sayang bukan kuurang bntakan makanya jdi ngaco kan ......duuh
2023-03-21
2
Zay Wex
lagi othor.. lagiiii tak kasih 5🌹 nih..
2023-03-21
2