Bab 5. Kekesalan Habibie

Pria itu membuka pintu kamarnya perlahan, masuk setelah mengucapkan salam, pria itu langsung berjalan ke arah walk in closet untuk berganti pakaian. Akan tetapi, setelah keluar dari ruangan ganti, kening Habibie mengkerut saat melihat sesuatu di atas ranjangnya. Karena penasaran, Habibie pun mendekat, sepasang mata itu terbelalak begitu melihat paha mulus Kiara terpang-pang dengan jelas di depan mata.

"Astagfirullah!" Habibie memalingkan wajah dengan mata terpejam. Pria itu benar-benar tidak mengerti, kenapa perempuan aneh ini malah ada di atas ranjangnya. Habibie ingin berbalik, akan tetapi dia tahan, melihat hal itu, Habibie malah mendekat dengan mata tidak ingin menatap ke arah aurat calon istrinya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, perlahan, Habibi menarik gamis yang dikenakan Kiara dengan maksud agar gamis itu bisa menutup bagian-bagian yang tidak sepatutnya dia lihat.

Namun, ketika Habibie berhasil menggapai ujung kain itu, tiba-tiba Kiara bergerak dan sialnya, kaki perempuan itu menendang sesuatu yang tidak seharusnya.

Bugh!

"Inalilahi!" Habibie ternganga seraya menutup bagian intinya dengan kedua tangan. Pria itu meringis kesakitan sampai dia berjongkok, berharap kalau rasa sakit itu akan sedikit menghilang. Namun Sayang, semuanya malah semakin menjadi dan semakin sakit. "Istighfar Habibie. Tarik napas, buang napas!" Pria itu berceloteh sendirian sementara Kiara malah semakin asyik tidur dengan mimpi indahnya.

Hampir sepuluh menit Habibie menahan sakit yang sampai di ulu hatinya, pria yang sudah sangat kesal itu kembali berdiri kemudian menghentakkan bedcover yang ditiduri Kiara sehingga perempuan itu menggelinding di atas ranjang dan terjatuh ke sisi ranjang satunya.

Bruk!

"Akh!" Kiara memekik seraya mengusap bokongnya yang terasa sangat sakit. Perempuan itu mulai membuka mata dan kembali merangkak berpegangan pada ranjang.

"Ada apa ini? Apa mungkin ada gempa?" Kiara masih belum sadar jika di depannya telah ada seseorang yang tengah berdiri seraya menahan senyum.

"Gempa di mimpi mu." Habibie berbicara seraya menggelengkan kepala dan berlalu dari kamarnya.

Kiara berdecih, dia berdiri kemudian merapikan pakaian dan rambutnya. Padahal dia sedang tidur enak, malah terganggu seperti ini. "Lanjut lagi enak kali ya," gumam Kira yang sudah mengangkat lututnya untuk merangkak kembali ke atas ranjang.

"Stop! Jangan sentuh apa pun lagi!" kata Habibie. Intonasi suaranya termasuk normal tapi penuh ketegasan. Entah kenapa, Kiara yang sudah akan naik pun mengurungkan niat dengan bibir mengerucut.

"Dasar Om-om sedeng, kerjaannya marah aja. Untung ganteng, kalo enggak, tak totok kamu, Om!"

"Saya dengar semuanya, Kia!"

"Lah, tahu nama ku pula."

Habibie akhirnya benar-benar keluar dari kamar itu. Dia hendak berjalan menuju ruang olahraga, tapi terhenti saat melihat Bi Arum.

"Bi!"

"Iya, Tuan?"

"Tolong ganti seprei di kamar saya. Ganti semua dan jangan sampai ada yang tersisa!"

"Tapi ... bukannya baru diganti kemarin sore Tuan?"

Habibie menggelengkan kepalanya. "Maaf Bi. Tadi ada hewan buas yang naik ke ranjang saya. Buat semuanya menjadi bersih kembali."

"Baik, Tuan!" jawab Bi Arum meski dia agak bingung. Di rumah ini tidak ada yang memelihara hewan buas. Bagaimana mungkin ada sesuatu yang masuk ke kamar Habibie tanpa sepengetahuannya.

"Terima kasih, Bi!"

Bi Arum menjawab kemudian segara berjalan ke kamar Habibie. Sebelum masuk kamar, Bi Arum melihat Kiara keluar dari kamar itu. Untuk beberapa saat Bi Arum diam mematung, dan pada saat otaknya ngebut, barulah dia tertawa. Jadi, yang tuannya bilang hewan buas adalah Kiara. Bukan hewan betulan.

"Ya Allah, Neng. Malang sekali nasib Neng Kiara ini!" Bi Arum bergumam seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Lagi belajar goyang India, Bi?" tanya Kiara dengan wajah polosnya.

Bi Arum pun malah semakin tertawa. "Iya Neng, goyang kepala ala-ala indie ini bisa sambil merenggangkan otot-otot leher lho, coba Neng Kia praktekkan!" Bi Arum menaruh jari telunjuknya di antara tulang hidung kemudian menggelengkan kepalanya lagi.

Bukannya mengikuti instruksi dari Bi Arum, Kiara malah bergidik negeri seraya meninggalkan tempat itu.

"Ikh ... orang-orang di rumah ini pada sedeng," gumam Kira takut.

Dia memilih untuk menjauh dari BI Arum untuk mengitari rumah itu lagi. Ini benar-benar sangat megah dan mewah.

"Apa aku harus menggasak semua uang Ayah untuk membuat rumah seperti ini? Agaknya terlalu membosankan karena di rumah itu ada banyak sekali orang asing. Aku tidak menyukainya!"

Kiara mengayun-ayunkan kemoceng di tangannya sambil terus berjalan tak tentu arah. Ini agak membosankan, jika ayahnya tidak mengusirnya hari itu, mungkin sekarang dia tengah berbelanja di mall, membeli barang-barang branded keluaran terbaru dan pergi ke tempat tongkrongan kesukaannya. Apalagi yang bisa dia lakukan, keluarganya memiliki kekayaan berlimpah, akan sangat sayang kalau tidak dihabiskan.

Langkah perempuan itu berhenti di depan sebuah dinding kaca transparan yang langsung memperlihatkan pemandangan luar biasa. Kiara meneguk saliva susah payah melihat otot-otot di perut, dan lengan Damar yang sedang olahraga berat. Perempuan itu celingukan, melihat kanan kiri takut-takut ada yang melihatnya meneteskan air liur.

Bibir mungilnya tersenyum merekah ketika melihat sebuah pot besar di sana. Kiara berjongkok di dekat pot tersebut guna menyembunyikan tubuhnya agar tidak ketahuan jika dia tengah mengintip Damar yang sedang olahraga.

"Wihhhh ... untuk pertama kalinya, liat roti sobek kayak beginian. Tangannya juga keker banget, apa mungkin Om Habibie makan bayam Popay ya? Wajib beli ini mah buat si Ayah! Ekhhh ... tapi kan sekarang Ayah udah enggak sama Bunda, mereka udah LDR."

"Akh, LDR ya? Emangnya jauh banget gitu LDR nya?"

"Ho'oh, udah bukan jauh lagi, udah beda alam. Ngojek pake buroq juga enggak bakalan nyampe."

BI Arum terbengong mendengar beda alam dan buroq. Apa mungkin maksud gadis ini kalau Bundanya sudah meninggal?

"Astagfirullah, Neng Kiara!" Bi Arum menarik telinga Kiara, mengeluarkan perempuan itu dari tempat persembunyiannya.

Kiara meringis kesakitan. Dia berusaha untuk melepaskan tangan Bi Arum dari daun telinganya tapi tidak bisa.

"Ya Allah. Kamu teh perempuan atuh Neng. Kenapa malah ngintip Tuan Habibie. Enggak baik Neng, pamali. Kalau Tuan Habibie tahu bagaimana?"

Kiara mengerucutkan bibirnya. Dia mengusap kupingnya pelan setelah Bi Arum melepaskan jeweran pada telinganya.

"Ada apa ini?" tanya Habibie yang ternyata sudah keluar dari ruang olahraga miliknya.

Kiara menyengir malu, perempuan itu mundur beberapa langkah takut jika Habibie akan memarahinya.

Bi Arum ikut bergerak mundur, tapi demi kebaikan Kiara, dia pun pun mulai berbicara. "Ini Tuan, masa tadi Bibi liat Neng Kiara lagi ngintipin Tuan pas lagi olahraga. Mana Neng Kiara bilang Tuan kayak Popay!"

Kiara membelalakkan matanya mendengar kalimat jujur yang keluar dari mulut Bi Arum. Sedangkan Habibie, dia mengerutkan kening dan setelahnya dia menaikan alis merasa jika Kiara harus ....

"Kamu harus saya hukum, Kiara!"

Bi Arum tersenyum sumringah. "Hag siah Neng Kia, di hukum. Jangan tanggung-tanggung, Tuan! Hukum yang berat, kalau perlu suruh cuci genteng sampe kinclong."

"Bibi! Jangan kayak gitu, dong. Kiara enggak sengaja, Kiara minta maaf!" Perempuan itu bersembunyi di belakang Bi Arum, memeluk Bi Arum erat takut-takut Habibi benar-benar akan menjemurnya di atas genteng.

Terpopuler

Comments

Nurhayati Nia

Nurhayati Nia

ampunnn kia bandel bangett sihh kamu🤣🤣🤣

2023-09-25

0

Daffodil Koltim

Daffodil Koltim

si neng bikin hidup habibi gak tenang😂😂😂🤕🤕🤕

2023-06-30

0

Uneh Wee

Uneh Wee

duh kia bikin ulah aja sih kmu neng ....ke darah tinggi sang tuan gera neng ah ....lnjut thour

2023-03-12

4

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!