Pria itu membuka pintu kamarnya perlahan, masuk setelah mengucapkan salam, pria itu langsung berjalan ke arah walk in closet untuk berganti pakaian. Akan tetapi, setelah keluar dari ruangan ganti, kening Habibie mengkerut saat melihat sesuatu di atas ranjangnya. Karena penasaran, Habibie pun mendekat, sepasang mata itu terbelalak begitu melihat paha mulus Kiara terpang-pang dengan jelas di depan mata.
"Astagfirullah!" Habibie memalingkan wajah dengan mata terpejam. Pria itu benar-benar tidak mengerti, kenapa perempuan aneh ini malah ada di atas ranjangnya. Habibie ingin berbalik, akan tetapi dia tahan, melihat hal itu, Habibie malah mendekat dengan mata tidak ingin menatap ke arah aurat calon istrinya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, perlahan, Habibi menarik gamis yang dikenakan Kiara dengan maksud agar gamis itu bisa menutup bagian-bagian yang tidak sepatutnya dia lihat.
Namun, ketika Habibie berhasil menggapai ujung kain itu, tiba-tiba Kiara bergerak dan sialnya, kaki perempuan itu menendang sesuatu yang tidak seharusnya.
Bugh!
"Inalilahi!" Habibie ternganga seraya menutup bagian intinya dengan kedua tangan. Pria itu meringis kesakitan sampai dia berjongkok, berharap kalau rasa sakit itu akan sedikit menghilang. Namun Sayang, semuanya malah semakin menjadi dan semakin sakit. "Istighfar Habibie. Tarik napas, buang napas!" Pria itu berceloteh sendirian sementara Kiara malah semakin asyik tidur dengan mimpi indahnya.
Hampir sepuluh menit Habibie menahan sakit yang sampai di ulu hatinya, pria yang sudah sangat kesal itu kembali berdiri kemudian menghentakkan bedcover yang ditiduri Kiara sehingga perempuan itu menggelinding di atas ranjang dan terjatuh ke sisi ranjang satunya.
Bruk!
"Akh!" Kiara memekik seraya mengusap bokongnya yang terasa sangat sakit. Perempuan itu mulai membuka mata dan kembali merangkak berpegangan pada ranjang.
"Ada apa ini? Apa mungkin ada gempa?" Kiara masih belum sadar jika di depannya telah ada seseorang yang tengah berdiri seraya menahan senyum.
"Gempa di mimpi mu." Habibie berbicara seraya menggelengkan kepala dan berlalu dari kamarnya.
Kiara berdecih, dia berdiri kemudian merapikan pakaian dan rambutnya. Padahal dia sedang tidur enak, malah terganggu seperti ini. "Lanjut lagi enak kali ya," gumam Kira yang sudah mengangkat lututnya untuk merangkak kembali ke atas ranjang.
"Stop! Jangan sentuh apa pun lagi!" kata Habibie. Intonasi suaranya termasuk normal tapi penuh ketegasan. Entah kenapa, Kiara yang sudah akan naik pun mengurungkan niat dengan bibir mengerucut.
"Dasar Om-om sedeng, kerjaannya marah aja. Untung ganteng, kalo enggak, tak totok kamu, Om!"
"Saya dengar semuanya, Kia!"
"Lah, tahu nama ku pula."
Habibie akhirnya benar-benar keluar dari kamar itu. Dia hendak berjalan menuju ruang olahraga, tapi terhenti saat melihat Bi Arum.
"Bi!"
"Iya, Tuan?"
"Tolong ganti seprei di kamar saya. Ganti semua dan jangan sampai ada yang tersisa!"
"Tapi ... bukannya baru diganti kemarin sore Tuan?"
Habibie menggelengkan kepalanya. "Maaf Bi. Tadi ada hewan buas yang naik ke ranjang saya. Buat semuanya menjadi bersih kembali."
"Baik, Tuan!" jawab Bi Arum meski dia agak bingung. Di rumah ini tidak ada yang memelihara hewan buas. Bagaimana mungkin ada sesuatu yang masuk ke kamar Habibie tanpa sepengetahuannya.
"Terima kasih, Bi!"
Bi Arum menjawab kemudian segara berjalan ke kamar Habibie. Sebelum masuk kamar, Bi Arum melihat Kiara keluar dari kamar itu. Untuk beberapa saat Bi Arum diam mematung, dan pada saat otaknya ngebut, barulah dia tertawa. Jadi, yang tuannya bilang hewan buas adalah Kiara. Bukan hewan betulan.
"Ya Allah, Neng. Malang sekali nasib Neng Kiara ini!" Bi Arum bergumam seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lagi belajar goyang India, Bi?" tanya Kiara dengan wajah polosnya.
Bi Arum pun malah semakin tertawa. "Iya Neng, goyang kepala ala-ala indie ini bisa sambil merenggangkan otot-otot leher lho, coba Neng Kia praktekkan!" Bi Arum menaruh jari telunjuknya di antara tulang hidung kemudian menggelengkan kepalanya lagi.
Bukannya mengikuti instruksi dari Bi Arum, Kiara malah bergidik negeri seraya meninggalkan tempat itu.
"Ikh ... orang-orang di rumah ini pada sedeng," gumam Kira takut.
Dia memilih untuk menjauh dari BI Arum untuk mengitari rumah itu lagi. Ini benar-benar sangat megah dan mewah.
"Apa aku harus menggasak semua uang Ayah untuk membuat rumah seperti ini? Agaknya terlalu membosankan karena di rumah itu ada banyak sekali orang asing. Aku tidak menyukainya!"
Kiara mengayun-ayunkan kemoceng di tangannya sambil terus berjalan tak tentu arah. Ini agak membosankan, jika ayahnya tidak mengusirnya hari itu, mungkin sekarang dia tengah berbelanja di mall, membeli barang-barang branded keluaran terbaru dan pergi ke tempat tongkrongan kesukaannya. Apalagi yang bisa dia lakukan, keluarganya memiliki kekayaan berlimpah, akan sangat sayang kalau tidak dihabiskan.
Langkah perempuan itu berhenti di depan sebuah dinding kaca transparan yang langsung memperlihatkan pemandangan luar biasa. Kiara meneguk saliva susah payah melihat otot-otot di perut, dan lengan Damar yang sedang olahraga berat. Perempuan itu celingukan, melihat kanan kiri takut-takut ada yang melihatnya meneteskan air liur.
Bibir mungilnya tersenyum merekah ketika melihat sebuah pot besar di sana. Kiara berjongkok di dekat pot tersebut guna menyembunyikan tubuhnya agar tidak ketahuan jika dia tengah mengintip Damar yang sedang olahraga.
"Wihhhh ... untuk pertama kalinya, liat roti sobek kayak beginian. Tangannya juga keker banget, apa mungkin Om Habibie makan bayam Popay ya? Wajib beli ini mah buat si Ayah! Ekhhh ... tapi kan sekarang Ayah udah enggak sama Bunda, mereka udah LDR."
"Akh, LDR ya? Emangnya jauh banget gitu LDR nya?"
"Ho'oh, udah bukan jauh lagi, udah beda alam. Ngojek pake buroq juga enggak bakalan nyampe."
BI Arum terbengong mendengar beda alam dan buroq. Apa mungkin maksud gadis ini kalau Bundanya sudah meninggal?
"Astagfirullah, Neng Kiara!" Bi Arum menarik telinga Kiara, mengeluarkan perempuan itu dari tempat persembunyiannya.
Kiara meringis kesakitan. Dia berusaha untuk melepaskan tangan Bi Arum dari daun telinganya tapi tidak bisa.
"Ya Allah. Kamu teh perempuan atuh Neng. Kenapa malah ngintip Tuan Habibie. Enggak baik Neng, pamali. Kalau Tuan Habibie tahu bagaimana?"
Kiara mengerucutkan bibirnya. Dia mengusap kupingnya pelan setelah Bi Arum melepaskan jeweran pada telinganya.
"Ada apa ini?" tanya Habibie yang ternyata sudah keluar dari ruang olahraga miliknya.
Kiara menyengir malu, perempuan itu mundur beberapa langkah takut jika Habibie akan memarahinya.
Bi Arum ikut bergerak mundur, tapi demi kebaikan Kiara, dia pun pun mulai berbicara. "Ini Tuan, masa tadi Bibi liat Neng Kiara lagi ngintipin Tuan pas lagi olahraga. Mana Neng Kiara bilang Tuan kayak Popay!"
Kiara membelalakkan matanya mendengar kalimat jujur yang keluar dari mulut Bi Arum. Sedangkan Habibie, dia mengerutkan kening dan setelahnya dia menaikan alis merasa jika Kiara harus ....
"Kamu harus saya hukum, Kiara!"
Bi Arum tersenyum sumringah. "Hag siah Neng Kia, di hukum. Jangan tanggung-tanggung, Tuan! Hukum yang berat, kalau perlu suruh cuci genteng sampe kinclong."
"Bibi! Jangan kayak gitu, dong. Kiara enggak sengaja, Kiara minta maaf!" Perempuan itu bersembunyi di belakang Bi Arum, memeluk Bi Arum erat takut-takut Habibi benar-benar akan menjemurnya di atas genteng.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Nurhayati Nia
ampunnn kia bandel bangett sihh kamu🤣🤣🤣
2023-09-25
0
Daffodil Koltim
si neng bikin hidup habibi gak tenang😂😂😂🤕🤕🤕
2023-06-30
0
Uneh Wee
duh kia bikin ulah aja sih kmu neng ....ke darah tinggi sang tuan gera neng ah ....lnjut thour
2023-03-12
4