Habibie mengembuskan napas pelan. Dia menguatkan hatinya dan bertekad untuk menjalani kehidupannya sesuai ketetapan. Jika memang dia harus melewati semuanya, InsyaAllah dia siap.
Kiara mendongak, dia yang sudah menggigil menatap orang yang sedang berdiri didepannya dengan tatapan bingung. Jaket dia telah dia pakai untuk menyelimuti anak-anak kucing di lantai toko itu, sementara dia hanya bisa memeluk dirinya sendiri.
Habibie menaruh payung yang dia pakai kemudian melepaskan coatnya untuk menutupi tubuh Kiara.
"Apa malaikat maut setampan ini!" gumam Kiara masih tidak melepaskan tatapan matanya pada Habibie. Dia tersenyum, tetapi, detik berikutnya Kiara ambruk dalam dekapan laki-laki yang seigap menahan bahunya.
"Astaghfirullah. Kau itu sangat bodoh dan ceroboh!"
Habibie celingukan mencari seseorang. Barangkali ada yang ingin membantunya untuk memegangi payung agar mereka tidak basah. Sayangnya, saat itu suasana di sana sangat sepi. Mungkin karena hujan lebat membuat semua orang enggan untuk keluar dari rumah.
Menembus hujan di sore hari sebetulnya tidak terlalu buruk namun tidak bisa dikatakan baik juga. Habibie mendudukkan Kiara di kursi depan, karena jika membaringkannya di belakang, Habibi takut kalau Kiara akan menggelinding ke bawah jok. Dia merapatkan coat depan dada wanita itu berusaha untuk menutup auratnya dengan baik.
"Bismillah," ucap Habibie meyakinkan hatinya.
....
Semua orang di rumah Habibie menatap heran ke arah lelaki dewasa yang sedang berjalan seraya menggendong perempuan. Habibie masuk ke kamar tamu, meletakan Kiara di sana kemudian menutup tubuh Kiara dengan selimut.
"Bi!" panggil Habibie pada asisten rumah tangga.
"Iya, Tuan!" jawab Bi Arum, sedikit membungkuk ke arah majikannya.
"Tolong urus dia ya Bi. Saya akan memanggil dokter. Jika dia ingin mandi atau apa, tolong disiapkan kebutuhannya."
Bi Arum mengangguk mengiyakan. Wanita itu melirik Kiara sekilas kemudian keluar dari kamar itu untuk mengambil beberapa pakaian bersih yang mungkin bisa Kiara pakai.
"Dia itu siapa, ya. Kenapa Tuan bawa dia ke rumah ini. Terus, kenapa atuh tampilannya kayak gitu. Masa Tuan masukin gembel ke rumah."
Bi Arum bergidik negeri membayangkan fakta-fakta yang mungkin saja terjadi.
"Bi, kenapa atuh kayak gitu? Kesetrum?" tanya Devi yang juga asisten rumah tangga di kediaman Habibie. Devi sebenarnya masih sangat muda. Mungkin usianya baru 19 tahun. Namun, karena mereka sudah lama bekerja di rumah yang sama, Devi dan Bi Arum menjadi sangat dekat. Bahasa yang mereka gunakan pun tidak formal meski usia mereka berbeda 20 tahun.
"Itu atuh, Dev. Tuan, dia teh bawa perempuan. Tapi meni lecek pisan, jaba raremong beungutna teh. (Mukanya cemong). Pikarunyaeun pokona mah (Kasian)."
"Ari Bibi, meni kayak cucian aja atuh lecek. Hati-hati Bi, jangan ngomong sembarangan. Nanti Tuan denger, bisa-bisa kita di tendang dari sini. Devi masih harus nyicil HP. Kalau dipecat sama Tuan Habibie, gimana caranya Devi bayar hutang."
Bi Arum terkekeh kecil. Dia menarik Devi untuk pergi ke kamar mereka. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan. Dan Bi Arum membutuhkan bantuan temannya itu.
Sebenarnya ada masih ada juru masak, dan beberapa pekerja pria dia sana. Tetapi yang paling sering berkeliaran adalah BI Arum dan Devi. Ada satu lagi si Agus, tapi sepertinya dia sudah pergi ke mesjid untuk shalat magrib.
"Iya dokter, tolong datang ke rumah saya sebentar. Iya, terima kasih. Assalamualaikum!"
Habibie menaruh ponselnya di atas nakas. Dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap karena dia harus pergi ke mesjid. Ada sebuah mesjid besar di perumahan yang dia tempati, dan itu tidak terlalu jauh. Masih enak kalau berjalan kaki.
Selepas mengucapkan salam, Habibie tak lantas beranjak, dia terus melafazkan nama-nama Allah dan segala sesuatu yang bisa menenangkan hatinya. Mengambil tanggungjawab seperti ini agaknya sangat sulit. Amzar memberikannya waktu satu minggu untuk berpikir, tapi ... sepertinya dia harus mendatangi Amzar malam ini juga.
Setelah shalat Isya, Habibie tak langsung pulang, karena tadi hujannya sangat lebat, Habibie ke mesjid membawa mobil kesayangannya, dia merubah arah di map yang ada pada layar di dashboardnya untuk pergi ke rumah sang ayah dan berlanjut ke rumah Amzar.
....
Pukul 9 malam, Habibie baru sampai dirumahnya. Perasaannya lebih lega dan lebih tenang. Mungkin, karena satu beban di pundaknya sudah dia lepaskan, semuanya terasa lebih baik.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumssalam, Tuan!" jawab Bi Arum yang membukakan pintu untuk Habibie.
"Apa dokter sudah datang, Bi?" tanyanya.
"Sudah, Tuan. Tapi, karena tadi beliau buru-buru, beliau hanya sebentar disini. Ada catatan yang beliau tinggalkan di atas meja kerja Tuan."
Habibie mengangguk. "Apa 'dia' baik-baik saja?" tanya Habibie lagi.
"Mbaknya baik-baik saja Tuan, sudah bersih-bersih dan sudah makan juga. Tadi, dia mengatakan ingin melihat-lihat rumah ini."
Habibie kembali mengangguk. Dia meninggalkan Bi Arum lalu naik ke lantai atas menunju kamarnya. Rumah yang sagat besar itu memang sepi. Tetapi, rumah inilah yang paling nyaman untuk Habibie tinggali.
"Astaghfirullah!" Habibie terbelalak dan langsung memalingkan wajah saat melihat pemandangan tak biasa di depannya. Seorang wanita sedang berdiri di ambang pintu sembari tersenyum, bukan senyum wanita itu yang membuat Habibie berpaling. Namun, pakainya.
"Tuan!" sapa Kiara pada Habibie. Wanita itu berdiri tepat di depan Habibie, menelisik wajah Habibie karena laki-laki itu terus berpaling darinya.
"Bi Arum!" teriak Habibie meminta pertolongan. "Bi!"
"Iya, Tuan, aya naon?" tanya Bi Arum takut sekaligus terkejut.
Kiara menautkan alis melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Habibie.
"Bi, apa gak ada baju lain yang bisa dia pakai? Kenapa Bibi kasih baju kayak gitu?" tanya Habibie tanpa menoleh ke arah Kiara.
Kiara menunduk, memperhatikan penampilannya takut jika ada yang salah. Namun, saat ditelisik, semuanya aman. Pikir Kiara, menipiskan bibir dengan kedua bahu yang terangkat.
"Anu, Tuan. Sebenarnya begini ...."
Dua jam yang lalu, Kiara mengerejapkan mata saat merasakan tangan seseorang sedang meraba-raba lengannya. Ia langsung terduduk seraya menarik selimut sampai ke dada karena terkejut melihat seorang laki-laki tua ada di ruangan yang sama dengannya.
"Apa aku sedang berada di neraka? Kenapa malaikat pencabut nyawa sangat tampan, yang ini enggak. Apa salahku sampai aku harus dihukum kayak gini." Kiara terus bergumam di dalam hatinya. Kedua matanya berkaca-kaca. Kiara tidak menyangka jika umurnya akan sependek itu.
"Apa Anda baik-baik saja? Adakah keluhan yang Anda rasakan?" tanya dokter kepada Kiara.
"Anjir, tunggu ... harusnya gue di tanya man robbuka. Kenapa jadi kayak gini?" Kiara kembali membatin.
"Mbak!" panggil dokter Sutomo mengibaskan tangan di depan wajah Kiara.
"Akh, iya. Saya baik-baik saja. Anda siapa?" tanya Kiara balik.
Dokter itu tersenyum. "Saya adalah dokter pribadi keluarga Pak Habibie. Anda baik-baik saja, tidak ada demam, tapi tidak tahu kalau nanti malam. Saya akan meninggalkan catatan, pereda nyeri dan antibiotik. Semoga lekas sembuh ya," ucap dokter itu. Dia langsung beranjak dan mengusap hidungnya sembari menggelengkan kepala.
"Apa aku bau?" tanya Kiara pada dirinya sendiri. "Tapi tunggu. Pak Habibie itu siapa, Kakek gue, Om gue, atau Paman gue. Perasaan gak ada yang namanya Habibie."
"Mbak sudah bangun ya?" tanya bi Arum pada Kiara. "Mbak mandi dulu, ya. Saya sudah siapakan air hangat. Ayok Mbak!"
Bi Arum menggandeng lengan Kiara dan memasukkan wanita itu ke kamar mandi.
"Mbak, bajunya saya simpan di atas ranjang ya!"
Kiara tidak menyahut. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya, tapi ... daripada memusingkan itu, lebih baik Kiara mandi, mungkin saja sekarang Kiara sedang bermimpi di alam ghoib.
"Astagaaa ... ini baju atau karung goni, kenapa panjang dan gede banget!"
Kiara memutar tubuhnya di depan cermin. Bibirnya meringis menahan ngilu, seorang Kiara, memakai pakaian seperti itu, bisa hancur reputasinya.
Melihat sebuah gunting di atas meja, Kiara tersenyum. Ide cemerlang terlintas di otak cerdasnya.
Kiara mulai memotong gamis yang menutupi mata kakinya, sampai sebatas paha, wanita itu tersenyum, akhirnya dia bisa kembali menjadi Kiara.
"Astaghfirullah, Mbak. Kenapa di pendekin gini bajunya? Nanti kalau Tuan marah bagaimana." Bi Arum terlihat sangat terkejut dan panik.
"Tuan?" tanya Kiara menatap Bi Arum bingung.
"Iya, Tuan. Tuan Habibie, majikan saya yang punya rumah ini. Yang tadi bawa Mbaknya ke sini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Maryana Fiqa
baru pertama baca sudah bikin sakit perut,betul betul kami kyara ya🤣🤣🤣
2025-01-04
1
Rita Susanti
baru baca aja sdh ketawa thor 😁😁😁
2023-11-29
1
Daffodil Koltim
ada2 saja nih kiara,,, masa ngerusak karya org😂😂😂😂💪💪💪
2023-06-30
0