Bab 4. Heboh

Kiara menggelengkan kepala. Dia masih tidak mengerti akan semuanya. Ini terlalu rumit untuk dia yang tidak bisa berpikir saat lapar.

"Mbak lapar?" tanya Bi Arum ketika mendengar suara perut keroncongan.

Kiara refleks mengangguk dengan senyum malu-malu.

"Ya sudah, ayok ikut saya!"

Kiara hanya menurut. Dia memperhatikan rumah megah itu dengan mulut menganga. Rumah ini benar-benar sangat besar. Rumah ayahnya saja sudah cukup besar, tapi rumah ini 3 kali lebih besar dari rumah ayahnya.

"Astaghfirullah, Dev. Gimana atuh ya kalau nanti Tuan Habibie marah. Liat itu, pahanya kemana-mana. Tuan kan gak suka liat orang membuka auratnya kayak gitu!"

"Angel sih Bi, tapi teu nanaon atuh. Asal Tuan gak ngedip, di liat sampe pagi juga gak papa, gak dosa 'kan!"

Plak!

"Ishhh, kenapa atuh Bi. Malah ngegaplok lengan aku ikh."

"Kamu itu rada sedeng, kalau Tuan gak ngedip semalaman, mati merun Dev. Sok ngaco kamu mah."

Devi tertawa kecil. "Udahlah, gak usah ngegibah terus. Biarin si Teteh itu makan. Cigana dia udah seminggu gak makan, tuh lihat. Ciga si pig anu dinu kartun Shaun The Sheep ning!"

"Meni sadis ari kamu Dev!" gumam Bi Arum sembari menggelengkan kepalanya.

....

"Kenapa kamu masih disini?" tanya Habibie pada Kiara. Dia sudah cukup tahu dan sudah mendengar semua yang dikatakan asisten rumah tangganya.

"Saya, mau bilang terima kasih, Tuan. Terima kasih karena sudah menolong saya. Saya baru tahu kalau Tuan itu manusia, setelah melihat itu," tunjukan Kiara pada pigura besar yang ada di dinding.

"Emangnya tadi dia pikir saya apa, mahluk halus," gumam Habibie dalam hatinya.

"Saya janji, saya akan membalas semua kebaikan, Tuan."

Habibie mengembuskan napas kasar. "Hmmm. Jadilah pembantu di rumah saya untuk mengganti biaya perawatan."

"What," pekik Kiara dengan mata membulat. "Pembantu, apa kau sudah gila?"

"Iya, dan tidak." jawab Habibie singkat.

Habibie langsung masuk ke kamarnya tanpa menoleh ke arah wanita itu. Dia benar-benar harus istirahat. Melihat kelakukan Kiara yang seperti ini membuat Habibi yakin, jika dia akan menjalani hari-harinya tanpa ketenangan.

Tok! Tok! Tok!

Kiara terus menggedor pintu kamar Habibie, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Dia hanya ingin protes. "Apa tidak ada pekerjaan lain untukku, Tuan? Kau mungkin membutuhkan seorang sekertaris. Atau apa pun itu, aku benar-benar tidak bisa jika harus menjadi pembantu ... yakkkk! Eishhhhh!"

Kiara menendang pintu kamar itu kasar. Tetapi bukannya pintu yang tersakiti, malah dia yang meringis.

"Aduhhh, Bibi, sakit!" keluh Kiara.

Bi Arum menahan senyum, dia menggelengkan kepala kemudian berlalu dari lantai atas.

"Bi ... aku tidur di mana?" kata Kiara mengikuti Bi Arum dari belakang.

"Tuan gak bilang apa-apa, kamu tidur di kamar tamu saja!" jawab Bi Arum seadanya. Tuannya memang tidak mengatakan apa pun. Dan tidak mungkin Bi Arum membawa Kiara ke kamarnya. Asal usul Kiara ini masih belum jelas, Bi Arum takut jika Kiara adalah orang penting yang sedang melakukan misi di rumah ini.

Kiara masuk ke kamar tamu dengan langkah gontai. Dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang lalu menatap langit-langit kamar itu dengan seksama. Ponselnya hilang. Dia tidak bisa menghubungi siapa pun. Terlebih, Kiara sedang dalam mode pelarian. Ini sebenarnya kesempatan yang bagus untuk menghindar dari sang ayah dan membuktikan bahwa dia bisa hidup tanpa bergantung pada ayahnya itu.

....

Tok! Tok! Tok!

Kiara membuka matanya perlahan. Sebenarnya siapa yang mengganggu dia saat dia sedang tidur, Kiara merasa dia baru saja menutup mata, kenapa sekarang sudah ada yang mengetuk pintu kamarnya.

"Kiara ... ini sudah jam 5. Kenapa kau belum bangun! Cepat ke air dan shalat! Tuan Habibie sebentar lagi akan pulang dari mesjid, kami semua bisa kena marah jika Tuan Habibie tahu kau masih belum shalat!"

Kiara malah tersenyum saat mendengar Bi Arum berkicau seperti burung. Pagi-pagi begini sudah membuat keributan. Kenapa Bi Arum sangat ribet.

"Eishhhhhhh. Kamu mah di omongin dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri," celoteh Bi Arum lagi. Dia menarik tangan Kiara dan sampai di kamar mandi.

Syurrrrr!

"Akhhhhh ... Bibi, dingin!" teriak Kiara yang protes saat Bi Arum menyiramnya dengan air shower. Bi Arum tidak perduli. Majikannya bukan orang sembarangan, dia selalu mengatakan jika dia akan ikut berdosa jika membiarkan orang yang ada di rumahnya tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Kiara sekarang tinggal bersama Habibie, apa pun yang Kiara lakukan, harus atas ijin Habibie dan juga tidak boleh bertingkah sesuka hati.

Tubuh Kiara menggigil. Wanita cantik itu memegang gelas berisi teh hangat degan tangan gemetaran. Kiara melirik Bi Arum dengan tatapan tajam. Sungguh, wanita yang sudah tidak muda lagi itu ternyata lebih kejam daripada ibu tiri.

"Setelah minum teh manis, kamu bersihkan rumah ini. Gak usah ngepel. Lap, lap aja. Yang nyuci ada tuh si Devi. Dia lagi nyuci di belakang. Saya akan membereskan sisanya. Lagipula sepertinya kamu tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan ini. Satu hal lagi, jangan buka kamar di dekat ruang baca Tuan, Habibie. Akan ada orang khusus yang membersihkan kamar itu."

Kiara memutar bola mata. Ini masih terlalu pagi, apa setiap asisten rumah tangga memang seperti ini, bangun dari subuh untuk beres-beres dan itu akan terus terulang setiap hari.

"Bi, aku masih ngantuk," kata Kiara malas.

"Kamu itu gak usah manja. Kita sama-sama kerja di sini. Jangan karena kamu tidur di kamar tamu, kamu pikir kamu gak boleh ngelakuin apa-apa. Ini bukan tempat penampungan. Sebaiknya kamu mulai bekerja sekarang, Neng Kiara!"

Kiara mengembuskan napas kasar, dia menghabiskan teh manis dari gelasnya kemudian mengambil lap dan juga kemoceng. Kiara naik ke lantai atas benar-benar tidak bersemangat. Hari pertama ini sungguh sangat berat. Sejak kapan tangan mulusnya akan dia gunakan untuk membersikan rumah. Oh, ayolah, ini tidak sepadan.

Karena tidak ingin kena semprot Bi Arum, Kiara mulai membersihkan setiap lemari yang dia temui, mengibaskan kemoceng nya asal-asalan, begitupun dengan lap yang dia gunakan. Kiara seperti zombi yang sedang dipaksa untuk kerja bakti.

"Bunda ... anak Bunda jadi pembokat ini, Bund. Tapi lebih baik lha ya daripada jadi gembel. Seenggaknya Kiara gak kehujanan. Kiara juga tinggal di rumah yang bagus."

Wanita itu terus berceloteh sendiri. Kiara masuk ke dalam kamar Habibie. Dia memperhatikan seluruh sudut kamar itu dengan seksama. Kamar ini benar-benar sangat besar, dua kali lebih besar dari kamar yang dia miliki di rumah ayahnya.

Tangan Kiara terulur, mengelus pigura besar yang terpajang di dinding kamar tersebut. Habibie terlihat sangat gagah. Meskipun pada kenyataannya dia sangat menyebalkan, tetapi jika ada dalam frame seperti ini, Habibi benar-benar sangat tampan.

"Coba saja kalau kau itu baik Tuan, aku mungkin akan mejadi pengagum mu."

Tangan mungil itu kembali bergerak, dia mulai membersihkan tempat tidur Habibie. Ranjang king size ini sebenarnya untuk apa, pikir Kiara. "Akh, mungkin dia kalau tidur suka bikin pertunjukan. Jadi guling sana, guling sini, nungguin sana, nungging sini!"

Kiara terkekeh saat membayangkan bagaimana hebohnya seorang Habibie saat tidur, ia meraba bantal yang ada di sana. Niat hati hanya ingin merapikan saja. Namun, saat tangannya bisa merasakan kelembutan dan juga keempukan bantal tersebut, Kiara tidak bisa menahan diri untuk tidak mencobanya.

....

"Assalamualaikum!"

"Wa'alaikumssalam, Tuan. Tumben agak siang, Tuan?" tanya Bi Arum. Habibie biasanya akan keluar rumah setelah adzan, tetapi, selepas dari mesjid, Habibie akan berkeliling, sekedar merenggangkan tubuh sebelum dia memulai olahraga yang lebih berat di ruang olahraga yang ada di rumahnya.

"Saya tadi ketemu sama, Pak Ustadz di jalan. Oh iya, Bi, hari ini tolong bilang sama koki untuk masak ayam pop ya. Saya ke atas dulu!"

"Baik, Tuan!" jawab Bi Arum. Dia menengok Habibie sembari tersenyum, tetapi, saat mengingat sesuatu, tiba-tiba senyum di wajahnya hilang. "Alah siah cilaka, si Neng Kiara kemana!" kata Bi Arum kebingungan.

"Novi! ... Novi!" panggil Bi Arum pada teman kerjanya. "Ikh ... si Novi Jeung eweuh atuh nya. Kemana ari kamu, Novi!!!!!!"

Terpopuler

Comments

Daffodil Koltim

Daffodil Koltim

kiara bikin rusuh terusss🙄🙄🙄🙏🏻🙏🏻🙏🏻

2023-06-30

1

Yunia Hartini Rahayu

Yunia Hartini Rahayu

malah tibra deui Kiara🤦‍♀️ ke kna semprot tuan Habibie gra🤧

2023-03-11

4

Uneh Wee

Uneh Wee

tuh ka sareaan
kiara mah di kamar tuan bi hayyooh ...hihii mana bisa anaak manjja jadi. pembokat

2023-03-10

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Perjodohan
2 Bab 2. Perjodohan 2
3 Bab 3. Menerima
4 Bab 4. Heboh
5 Bab 5. Kekesalan Habibie
6 Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7 Bab 7. Kiara Semaput
8 Bab 8. Kiara Nakal
9 Bab 9. Kemarahan Habibie
10 Bab 10. Bertanggungjawab
11 Bab 11. Pernikahan
12 Bab 12. Keputusan Kiara
13 Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14 Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15 Bab 15. Terkontaminasi
16 16. Tidak Kapok-Kapok
17 17. Meluapkan Kemarahan
18 18. Keanehan Habibie
19 19. Tunduk Di Depan Pawang
20 20. Kembali Dibuat Kesal
21 Bab 21. Jurus Merengek
22 22. Salah Sangka
23 23. Mengangetkan
24 Bab 24. Masa Lalu
25 Bab 25. Sedikit Perduli
26 26. Suami Menyebalkan
27 27. Istri Tengil
28 28. Action Kiara
29 29. Kejahilan Kiara
30 Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31 31. Tidak Akan Kalah
32 32. Bala Bantuan atau Maut?
33 33. Kiara Sakit?
34 34. Sikap Lembut Habibie
35 35. Kecurigaan Habibie
36 36. Kesengajaan Gibran
37 37. Kesadaran Habibie
38 38. Habibie Mendadak Baik
39 39. Malam Pertama Untuk Kiara
40 40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41 41. Bukan Dia Yang Salah
42 42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43 43. Bekerja Sama
44 44. Cemburu
45 45. Keributan
46 46. Ingin Memulai Kembali
47 47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48 48. Kesempatan Kedua
49 49. Kebaikan Habibie
50 50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51 51. Protektif
52 52. Bertemu Humaira
53 53. Saya Bukan Aisyah
54 54. Ketulusan Kiara
55 55. Melamar Humaira?
56 56. Kebahagiaan Kiara
57 57. Kabar Mendadak
58 58. Berkelahi?
59 59. Masih Belum Ikhlas
60 60. Malam Pertama
61 61. Kekecewaan Gibran
62 62. Positif
63 63. Ego
64 64. Kamu Di Mana
65 65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66 66. Jalan Untuk Kiara
67 67. Ambil Sisi Positifnya
68 68. Penyesalan
69 69. Upaya Habibie
70 70. Syok Berat ???
71 71. Apa Aku Istrimu?
72 72. Janji Habibie
73 73. Penguntit
74 74. Kiara Dilamar Seseorang?
75 75. Kepanikan Semua Orang
76 76. Operasi??
77 77. Kiara Takut Mas
78 78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79 79. Efek Obat Bius
80 80. Ternyata Baby Boy
81 81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82 82. Habibie Sudah Berubah
83 83. Ending
Episodes

Updated 83 Episodes

1
Bab 1. Perjodohan
2
Bab 2. Perjodohan 2
3
Bab 3. Menerima
4
Bab 4. Heboh
5
Bab 5. Kekesalan Habibie
6
Bab 6. Hukuman Untuk Kiara
7
Bab 7. Kiara Semaput
8
Bab 8. Kiara Nakal
9
Bab 9. Kemarahan Habibie
10
Bab 10. Bertanggungjawab
11
Bab 11. Pernikahan
12
Bab 12. Keputusan Kiara
13
Bab 13. Membuat Suami Jengkel
14
Bab 14. Hukuman Untuk Kiara
15
Bab 15. Terkontaminasi
16
16. Tidak Kapok-Kapok
17
17. Meluapkan Kemarahan
18
18. Keanehan Habibie
19
19. Tunduk Di Depan Pawang
20
20. Kembali Dibuat Kesal
21
Bab 21. Jurus Merengek
22
22. Salah Sangka
23
23. Mengangetkan
24
Bab 24. Masa Lalu
25
Bab 25. Sedikit Perduli
26
26. Suami Menyebalkan
27
27. Istri Tengil
28
28. Action Kiara
29
29. Kejahilan Kiara
30
Bab 30. Kebahagiaan Kiara
31
31. Tidak Akan Kalah
32
32. Bala Bantuan atau Maut?
33
33. Kiara Sakit?
34
34. Sikap Lembut Habibie
35
35. Kecurigaan Habibie
36
36. Kesengajaan Gibran
37
37. Kesadaran Habibie
38
38. Habibie Mendadak Baik
39
39. Malam Pertama Untuk Kiara
40
40. Kiara Dibuat Jatuh Cinta
41
41. Bukan Dia Yang Salah
42
42. Bertarung Dengan Masa Lalu
43
43. Bekerja Sama
44
44. Cemburu
45
45. Keributan
46
46. Ingin Memulai Kembali
47
47. Kejujuran Dibalik Kekacauan
48
48. Kesempatan Kedua
49
49. Kebaikan Habibie
50
50. Sisi Tengilnya Keluar Lagi
51
51. Protektif
52
52. Bertemu Humaira
53
53. Saya Bukan Aisyah
54
54. Ketulusan Kiara
55
55. Melamar Humaira?
56
56. Kebahagiaan Kiara
57
57. Kabar Mendadak
58
58. Berkelahi?
59
59. Masih Belum Ikhlas
60
60. Malam Pertama
61
61. Kekecewaan Gibran
62
62. Positif
63
63. Ego
64
64. Kamu Di Mana
65
65. Semuanya Akan Baik-baik Saja
66
66. Jalan Untuk Kiara
67
67. Ambil Sisi Positifnya
68
68. Penyesalan
69
69. Upaya Habibie
70
70. Syok Berat ???
71
71. Apa Aku Istrimu?
72
72. Janji Habibie
73
73. Penguntit
74
74. Kiara Dilamar Seseorang?
75
75. Kepanikan Semua Orang
76
76. Operasi??
77
77. Kiara Takut Mas
78
78. Prediksi Yang Kurang Tepat
79
79. Efek Obat Bius
80
80. Ternyata Baby Boy
81
81. Rumah Baru Untuk Kiara Dan Alkhan
82
82. Habibie Sudah Berubah
83
83. Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!