Kiara menggelengkan kepala. Dia masih tidak mengerti akan semuanya. Ini terlalu rumit untuk dia yang tidak bisa berpikir saat lapar.
"Mbak lapar?" tanya Bi Arum ketika mendengar suara perut keroncongan.
Kiara refleks mengangguk dengan senyum malu-malu.
"Ya sudah, ayok ikut saya!"
Kiara hanya menurut. Dia memperhatikan rumah megah itu dengan mulut menganga. Rumah ini benar-benar sangat besar. Rumah ayahnya saja sudah cukup besar, tapi rumah ini 3 kali lebih besar dari rumah ayahnya.
"Astaghfirullah, Dev. Gimana atuh ya kalau nanti Tuan Habibie marah. Liat itu, pahanya kemana-mana. Tuan kan gak suka liat orang membuka auratnya kayak gitu!"
"Angel sih Bi, tapi teu nanaon atuh. Asal Tuan gak ngedip, di liat sampe pagi juga gak papa, gak dosa 'kan!"
Plak!
"Ishhh, kenapa atuh Bi. Malah ngegaplok lengan aku ikh."
"Kamu itu rada sedeng, kalau Tuan gak ngedip semalaman, mati merun Dev. Sok ngaco kamu mah."
Devi tertawa kecil. "Udahlah, gak usah ngegibah terus. Biarin si Teteh itu makan. Cigana dia udah seminggu gak makan, tuh lihat. Ciga si pig anu dinu kartun Shaun The Sheep ning!"
"Meni sadis ari kamu Dev!" gumam Bi Arum sembari menggelengkan kepalanya.
....
"Kenapa kamu masih disini?" tanya Habibie pada Kiara. Dia sudah cukup tahu dan sudah mendengar semua yang dikatakan asisten rumah tangganya.
"Saya, mau bilang terima kasih, Tuan. Terima kasih karena sudah menolong saya. Saya baru tahu kalau Tuan itu manusia, setelah melihat itu," tunjukan Kiara pada pigura besar yang ada di dinding.
"Emangnya tadi dia pikir saya apa, mahluk halus," gumam Habibie dalam hatinya.
"Saya janji, saya akan membalas semua kebaikan, Tuan."
Habibie mengembuskan napas kasar. "Hmmm. Jadilah pembantu di rumah saya untuk mengganti biaya perawatan."
"What," pekik Kiara dengan mata membulat. "Pembantu, apa kau sudah gila?"
"Iya, dan tidak." jawab Habibie singkat.
Habibie langsung masuk ke kamarnya tanpa menoleh ke arah wanita itu. Dia benar-benar harus istirahat. Melihat kelakukan Kiara yang seperti ini membuat Habibi yakin, jika dia akan menjalani hari-harinya tanpa ketenangan.
Tok! Tok! Tok!
Kiara terus menggedor pintu kamar Habibie, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Dia hanya ingin protes. "Apa tidak ada pekerjaan lain untukku, Tuan? Kau mungkin membutuhkan seorang sekertaris. Atau apa pun itu, aku benar-benar tidak bisa jika harus menjadi pembantu ... yakkkk! Eishhhhh!"
Kiara menendang pintu kamar itu kasar. Tetapi bukannya pintu yang tersakiti, malah dia yang meringis.
"Aduhhh, Bibi, sakit!" keluh Kiara.
Bi Arum menahan senyum, dia menggelengkan kepala kemudian berlalu dari lantai atas.
"Bi ... aku tidur di mana?" kata Kiara mengikuti Bi Arum dari belakang.
"Tuan gak bilang apa-apa, kamu tidur di kamar tamu saja!" jawab Bi Arum seadanya. Tuannya memang tidak mengatakan apa pun. Dan tidak mungkin Bi Arum membawa Kiara ke kamarnya. Asal usul Kiara ini masih belum jelas, Bi Arum takut jika Kiara adalah orang penting yang sedang melakukan misi di rumah ini.
Kiara masuk ke kamar tamu dengan langkah gontai. Dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang lalu menatap langit-langit kamar itu dengan seksama. Ponselnya hilang. Dia tidak bisa menghubungi siapa pun. Terlebih, Kiara sedang dalam mode pelarian. Ini sebenarnya kesempatan yang bagus untuk menghindar dari sang ayah dan membuktikan bahwa dia bisa hidup tanpa bergantung pada ayahnya itu.
....
Tok! Tok! Tok!
Kiara membuka matanya perlahan. Sebenarnya siapa yang mengganggu dia saat dia sedang tidur, Kiara merasa dia baru saja menutup mata, kenapa sekarang sudah ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Kiara ... ini sudah jam 5. Kenapa kau belum bangun! Cepat ke air dan shalat! Tuan Habibie sebentar lagi akan pulang dari mesjid, kami semua bisa kena marah jika Tuan Habibie tahu kau masih belum shalat!"
Kiara malah tersenyum saat mendengar Bi Arum berkicau seperti burung. Pagi-pagi begini sudah membuat keributan. Kenapa Bi Arum sangat ribet.
"Eishhhhhhh. Kamu mah di omongin dari telinga kanan, keluar dari telinga kiri," celoteh Bi Arum lagi. Dia menarik tangan Kiara dan sampai di kamar mandi.
Syurrrrr!
"Akhhhhh ... Bibi, dingin!" teriak Kiara yang protes saat Bi Arum menyiramnya dengan air shower. Bi Arum tidak perduli. Majikannya bukan orang sembarangan, dia selalu mengatakan jika dia akan ikut berdosa jika membiarkan orang yang ada di rumahnya tidak melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Kiara sekarang tinggal bersama Habibie, apa pun yang Kiara lakukan, harus atas ijin Habibie dan juga tidak boleh bertingkah sesuka hati.
Tubuh Kiara menggigil. Wanita cantik itu memegang gelas berisi teh hangat degan tangan gemetaran. Kiara melirik Bi Arum dengan tatapan tajam. Sungguh, wanita yang sudah tidak muda lagi itu ternyata lebih kejam daripada ibu tiri.
"Setelah minum teh manis, kamu bersihkan rumah ini. Gak usah ngepel. Lap, lap aja. Yang nyuci ada tuh si Devi. Dia lagi nyuci di belakang. Saya akan membereskan sisanya. Lagipula sepertinya kamu tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan ini. Satu hal lagi, jangan buka kamar di dekat ruang baca Tuan, Habibie. Akan ada orang khusus yang membersihkan kamar itu."
Kiara memutar bola mata. Ini masih terlalu pagi, apa setiap asisten rumah tangga memang seperti ini, bangun dari subuh untuk beres-beres dan itu akan terus terulang setiap hari.
"Bi, aku masih ngantuk," kata Kiara malas.
"Kamu itu gak usah manja. Kita sama-sama kerja di sini. Jangan karena kamu tidur di kamar tamu, kamu pikir kamu gak boleh ngelakuin apa-apa. Ini bukan tempat penampungan. Sebaiknya kamu mulai bekerja sekarang, Neng Kiara!"
Kiara mengembuskan napas kasar, dia menghabiskan teh manis dari gelasnya kemudian mengambil lap dan juga kemoceng. Kiara naik ke lantai atas benar-benar tidak bersemangat. Hari pertama ini sungguh sangat berat. Sejak kapan tangan mulusnya akan dia gunakan untuk membersikan rumah. Oh, ayolah, ini tidak sepadan.
Karena tidak ingin kena semprot Bi Arum, Kiara mulai membersihkan setiap lemari yang dia temui, mengibaskan kemoceng nya asal-asalan, begitupun dengan lap yang dia gunakan. Kiara seperti zombi yang sedang dipaksa untuk kerja bakti.
"Bunda ... anak Bunda jadi pembokat ini, Bund. Tapi lebih baik lha ya daripada jadi gembel. Seenggaknya Kiara gak kehujanan. Kiara juga tinggal di rumah yang bagus."
Wanita itu terus berceloteh sendiri. Kiara masuk ke dalam kamar Habibie. Dia memperhatikan seluruh sudut kamar itu dengan seksama. Kamar ini benar-benar sangat besar, dua kali lebih besar dari kamar yang dia miliki di rumah ayahnya.
Tangan Kiara terulur, mengelus pigura besar yang terpajang di dinding kamar tersebut. Habibie terlihat sangat gagah. Meskipun pada kenyataannya dia sangat menyebalkan, tetapi jika ada dalam frame seperti ini, Habibi benar-benar sangat tampan.
"Coba saja kalau kau itu baik Tuan, aku mungkin akan mejadi pengagum mu."
Tangan mungil itu kembali bergerak, dia mulai membersihkan tempat tidur Habibie. Ranjang king size ini sebenarnya untuk apa, pikir Kiara. "Akh, mungkin dia kalau tidur suka bikin pertunjukan. Jadi guling sana, guling sini, nungguin sana, nungging sini!"
Kiara terkekeh saat membayangkan bagaimana hebohnya seorang Habibie saat tidur, ia meraba bantal yang ada di sana. Niat hati hanya ingin merapikan saja. Namun, saat tangannya bisa merasakan kelembutan dan juga keempukan bantal tersebut, Kiara tidak bisa menahan diri untuk tidak mencobanya.
....
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumssalam, Tuan. Tumben agak siang, Tuan?" tanya Bi Arum. Habibie biasanya akan keluar rumah setelah adzan, tetapi, selepas dari mesjid, Habibie akan berkeliling, sekedar merenggangkan tubuh sebelum dia memulai olahraga yang lebih berat di ruang olahraga yang ada di rumahnya.
"Saya tadi ketemu sama, Pak Ustadz di jalan. Oh iya, Bi, hari ini tolong bilang sama koki untuk masak ayam pop ya. Saya ke atas dulu!"
"Baik, Tuan!" jawab Bi Arum. Dia menengok Habibie sembari tersenyum, tetapi, saat mengingat sesuatu, tiba-tiba senyum di wajahnya hilang. "Alah siah cilaka, si Neng Kiara kemana!" kata Bi Arum kebingungan.
"Novi! ... Novi!" panggil Bi Arum pada teman kerjanya. "Ikh ... si Novi Jeung eweuh atuh nya. Kemana ari kamu, Novi!!!!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Daffodil Koltim
kiara bikin rusuh terusss🙄🙄🙄🙏🏻🙏🏻🙏🏻
2023-06-30
1
Yunia Hartini Rahayu
malah tibra deui Kiara🤦♀️ ke kna semprot tuan Habibie gra🤧
2023-03-11
4
Uneh Wee
tuh ka sareaan
kiara mah di kamar tuan bi hayyooh ...hihii mana bisa anaak manjja jadi. pembokat
2023-03-10
0