Habibie Kazeem Alqais adalah seorang pemimpin di perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi. Perusahan itu adalah perusahaan warisan dari ayahnya. Namun, Habibi sudah menekuni bidang itu lebih dari 10 tahun, jadi sang ayah sudah menyerahkan perusahaan kepadanya.
Habibie adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Dua adik laki-lakinya masih menempuh pendidikan sambil kerja di Kairo dan juga di Turki. Hanya sesekali mereka pulang, oleh karena itu Habibie sangat sibuk sehingga jarang memiliki waktu senggang. Mungkin karena itu juga Habibi menjadi acuh tak acuh pada pasangan hidup. Cintanya kepada Aisyah membuatnya tidak ingin menikah lagi.
"Habibie pergi ke kantor dulu Bi. Ummi kemana?"
"Ummi pergi ke rumah kerabatnya di Bandung. Mau Abi antar ditolak. Katanya gak lama, cuma mau nengok kakek, nenek kamu di sana."
"Abi itu kebiasaan. Harusnya Abi maksa dong biar bisa nemenin Ummi. Gak gentleman banget."
"Hush! Udah sana berangkat. Yang belum memiliki pengalaman gak usah nasehatin senior."
Habibie mengangkat kedua bahunya acuh, setelah mengucapkan salam, dia keluar dari rumah besarnya. Di sana, sudah ada asisten pribadi yang selalu siap siaga menemani Habibie kemanapun dia pergi.
"Assalamualaikum, Tuan Muda."
"Wa'alaikumssalam, Haikal."
Habibie masuk ke dalam mobil mewah mengkilap dengan senyum tipis. Sangat tipis karena Habibie bukan tipe orang yang suka menebar senyum. Bukan karena apa, namun sikap tertutupnya membuat orang-orang segan saat bertemu dengan laki-laki ini. Hanya orang-orang tertentu yang berani bertegur sapa dengan Habibie.
Tiga puluh menit setelah perjalanannya, Habibie mengerutkan kening saat melihat seorang wanita duduk di depan toko pakaian sembari mengacak-acak rambut.
"Jaman sekarang, banyak orang yang stres, Kal. Padahal mereka masih sangat muda. Kasihan mereka."
Haikal melirik Habibie sekilas tetapi dia langsung fokus lagi ke jalanan karena tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka. "Banyak orang-orang seperti itu, Tuan. Lalu apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari hal tersebut?"
"Resepnya cuma satu, Kal. Ingat Tuhan. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja."
Haikal mengangguk. Betapa sempurnanya bos di jok belakang. Dia sangat tampan, karena ayahnya masih keturunan orang Timur Tengah, tubuh tinggi tegap, dengan jenggot yang sangat rapi. Terlebih dia sangat taat agama. Hanya satu kekurangan Habibie, laki-laki ini sangat anti perempuan dan selalu gagal move on dari istri pertamanya.
....
"Benaran ikh, punya temen gak ada yang mau bantu. Apa mungkin Ayah larang mereka buat angkat telpon gue, tapi ya gak mungkin lah ... eishhh Ayah ... kau itu benar-benar keterlaluan."
Kiara terus menggerutu sembari menggaruk rambut panjangnya sampai rambut itu mengembang seperti rambut singa. Dia berbalik ke belakang, wajahnya berbinar. Kiara sangat ingin membeli baju-baju itu, tapi sekarang dia tidak punya uang.
"Hei ... jangan mengotori tempat ini. Jika tidak mau beli, pergilah!"
Kiara mendelik ke arah pelayanan yang meneriakinya. Wanita itu berdiri dengan gerakan yang sangat pelan.
"Awas lo ya. Kalau gue udah balik ke rumah, gue beli ini toko. Tar liat aja, lo bakal habis di tangan gue."
Kiara melengos setelah menggerakkan jempol tangannya keleher seperti orang yang sedang menyembelih kambing.
"Wooooh. Dasar orang gila. Ngaku-ngaku jadi orang kaya, tapi tampilan kayak gitu. Mana ada orang kaya bertingkah seperti gembel."
Kiara terus melangkahkan kakinya seperti orang linglung. Dia bingung mau pergi ke mana. Hari sudah semakin sore, dan dia tidak memiliki uang. Perutnya sudah lapar. Tapi tidak ada apapun yang bisa dia makan. Langkah kakinya berhenti di depan sebuah restoran di pinggir jalan. Orang-orang di sana makan dengan lahapnya membuat Kiara menjilat bibir dan meneguk ludahnya sendiri.
"Sabar anak-anak ku. Mama belum punya uang," cicit Kiara sembari mengusap perutnya yang keroncongan. Dia kembali berjalan menjauh dari restoran tersebut. Matanya berbinar ketika dia merogoh sesuatu di dalam saku jaketnya, dia menarik lembaran itu dengan mata terpejam. Setelah lebaran itu dia pegang di depan wajah, Kiara membuka mata. Seketika senyum di wajahnya hilang. Itu hanya struk belanja. Dia pikir itu uang, ternyata bukan.
"Ya salam ... cuma sampah. Terus giaman dong gue makan. Gue laper."
Kiara terus berjalan menyusuri toko demi toko di area tersebut. Hari sudah semakin malam karena satu per satu toko mulai tutup. Karena sudah sangat lelah, Kiara mendekat ke arah salah satu toko, dia celingukan mencari sesuatu untuk alas dia tidur, dan saat menemukan kardus bekas, Kiara menggelar salah satu kardus, kemudian mengambil kardus lain untuk menutupi tubuhnya.
"Pak, apa tidak sebaiknya kita ajak Non Kiara pulang? Kasihan Non Kiara Pak."
Amzar menggelengkan kepala. "Kamu kasih lah nasi bungkus ini di samping dia Rus. Jangan sampai dia tahu kalau kamu datang. Nanti kalau ada pemilik toko,bilang kalau kita akan bayar sewa karena dia tidur di situ."
"Bapak mau tidur di sini juga?" tanya Rusdi sang sopir.
"Saya tidak mungkin membiarkan anak perempuan saya luntang-lantung sendirian di sini. Cepat kamu kasih nasi sama air itu. Kasihan dia, Rus."
Rusdi mengangguk. Dia langsung turun membawa kantong keresek hitam berisi nasi bungkus dengan sebotol air. Dia berjalan mengendap-endap seperti maling karena takut ketahuan, dan ketika dia sampai di dekat Kiara. Dia simpan kantong keresek itu perlahan.
"Selamat makan, Non." Rusdi membatin, setelah itu dia kembali ke adalam mobil.
Merasa ada yang melewatinya. Kiara langsung bangun. Dia mengusap mata membuat wajahnya semakin kotor karena tangan yang dia gunakan untuk mengusap matanya itu berdebu.
"Wuahhh ... ada makanan," ujar Kiara setelah mengintip isi keresek hitam didepannya. Namun ketika dia hendak melepaskan karet pada bungkus nasi tersebut, Kiara tiba-tiba ragu untuk memakan nasi itu.
"Apa ada orang yang kasih nasi ya? Tapi siapa?"
Kepalanya celingukan mencari-cari orang yang mungkin saja masih ada di sekitaran sana. Saat yakin tidak ada siapapun. Kiara kembali fokus pada bungkus nasi itu.
"Akh sudahlah, udah gak kuat ini perut minta di isi."
Kiara mencuci tangan dengan air minumnya sedikit, dia mulai menyantap nasi bungkus itu lahap. Padahal biasanya Kiara tipe anak yang pilih-pilih makanan, namun sekarang dia menyantap nasi yang hanya ditambahkan telor dadar dan tempe goreng dengan begitu nikmat.
"Itu anak saya kan Rus, kenapa dia terlihat seperti gembel?"
Hidung Rusdi kebang kempis menahan senyum. Ya, majikannya yang terbiasa berpenampilan hedon kini malah terlihat sangat lusuh karena baju yang dia kenakan kotor. Terlebih wajahnya juga cemong bekas usapan tangan. Mungkin karena make up yang luntur juga, alhasil dia benar-benar terlihat seperti seorang pengemis.
Setelah kenyang, Kiara membuang kantong keresek itu ke tempat sampah, dia kembali duduk di tempat semula. Namun saat dia hendak minum, dia mengingat sesuatu.
"Aku tadi lupa baca bismillah, apa jangan minum dulu ya biar setannya keselek?"
Kiara menggelengkan kepala. Dia menutup botol air itu lagi.
"Kenapa dia gak jadi minum Rusdi? Apa kamu beli air kadaluarsa?"
Rusdi menggeleng cepat. "Tidak Tuan, itu air baru kok. Mungkin di tabung untuk besok."
Amzar mengangguk. "Tapi itu pasti seret Rusdi."
Rusdi tak mengindahkan apa yang bosnya katakan. Ya dia mau menjawab apa, masa dia harus berlari mendekati Kiara dan menyuruhnya untuk minum, kan aneh.
"Ekh, tunggu. Kalau tadi pas makan gak bismillah, harusnya pas minum tinggal bismillah aja ya kan, jadi itu setan gak bakal ikut minum," cicit Kiara. "Bego Lo emang Kia."
Setelah beberapa saat selepas meminum air, Kiara memutuskan untuk tidur. Meskipun hanya beralas dan berselimut kardus, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar ...."
Kiara menutup mata setelah mengucapkan doa sebelum tidur 'pikirnya'.
....
Hari terus berlanjut. Ini adalah sore ke 2 setelah Kiara meninggalkan rumah. Tampilan semakin kucel, dan tidak terurus. Rambutnya acak-acakan dan ada beberapa daun kecil yang tersangkut pada rambutnya tersebut.
"Apa Abi tidak salah mau menjodohkan ku dengan orang tidak berakal seperti dia?" monolog Habibie ketika melihat gambar yang ada di ponselnya. Gambar itu memang foto Kiara yang diberikan oleh Amzar dan meminta Amzar untuk menemui putrinya.
Habibie menggelengkan kepala, dia melepaskan rem tangan bermaksud ingin pergi. Tetapi, saat melihat sesuatu, Habibie kembali menarik rem tangan mobilnya dan memperhatikan apa yang Kiara lakukan di depan toko tersebut.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 83 Episodes
Comments
Daffodil Koltim
doa tdur terbaru versi makan😂😂😂💪💪💪💪
2023-06-30
0
Mardiana
Kiara itu do'a makan bukan do'a tiiiduuurrr😂😂😂
2023-06-06
0
Nurlaela
si Kiara di sangka orang stress sama calon suaminya nanti, kan belum ketemu untung rambut yang diperhatikan bukan wajah🤣🤣🤣🤣
2023-03-27
4