"Sofia mau bicara sama Aa." Sejenak Sofia diam untuk mengumpulkan keberanian yang cukup banyak untuk bicara pada Wisnu suaminya.
"Apa yang mau kamu bicarakan?"
"Sofia ingin buka praktek kebidanan di rumah ini. Karena Aa tidak mengijinkan Sofia untuk bekerja di luar. Maka ijinkan Sofia buka praktek di rumah ini. Sofia minta tolong, ijinkan A," ucap Sofia memohon. Wisnu menatap dalam wajah Sofia yang kini hampir tidak berjarak.
"Aku tidak ijinkan," tegas Wisnu.
"Tapi kenapa, A? Sofia masih bisa menghandle pekerjaan rumah dengan buka praktek di sini."
"Kamu mau patuh ucapanku atau tidak? Selama kamu tidak patuh maka ridoku tidak ada untukmu," tegas Wisnu kembali. Sofia terhenyak seketika mendengar keputusan Wisnu. Rasanya terlalu egois jika Wisnu sampai melarang kembali niat Sofia yang ingin buka praktek Bidan di rumahnya.
"Aa itu egois," ucap Sofia seraya beranjak pergi dan masuk kamar mengurung diri.
Sejak saat itu, Sofia selalu mengurung diri di kamar. Tentu saja Sofia tidak melupakan kewajibannya sebagai istri. Memasak, beberes rumah dan mencuci baju, bahkan urusan batinnya Wisnu saat Wisnu meminta masih Sofia penuhi. Wisnu memang masih membutuhkan Sofia dalam urusan itu. Namun lama-lama sikap dingin Wisnu membuat Sofia merasakan sakit perasaan. Dia juga butuh dimanja dan diperhatikan tidak sekedar disentuh. Sedikit senyum saja dari Wisnu bisa membuat Sofia ceria dan bahagia. Tapi memang dasar dari awalnya Wisnu menikah dengan Belia karena dijodohkan, dan seolah-olah dipaksa. Maka sikap dingin dan egois kini mendominasi Wisnu pada Sofia.
Siang ini Sofia merasa kurang enak badan. Tiba-tiba kepalanya pusing dan mual. Badannya juga demam. Segera Sofia meminum obat penghilang demam dan membaringkan tubuhnya kembali. Sebetulnya Sofia merasa tidak enak badan sejak kemarin, tapi tidak dirasa.
Seharian Sofia tidak keluar kamar. Untuk makan sesuap nasi saja rasanya tidak kuat berjalan. Terpaksa Sofia hanya bisa berbaring. Entah kenapa Sofia merasakan hal aneh dalam dirinya.
"Apakah aku sedang hamil?" Sofia bertanya pada dirinya sendiri, sebab dia tahu betul bagaimana ciri-ciri perempuan hamil. Sebentar dia berdiri untuk meraih tespek di dalam meja rias di kamar itu. Untuk berdiri saja rasanya Sofia tidak kuat, karena sakit kepala yang kini melandanya.
Tapi Sofia urung mengambil tespek tersebut, dia hanya mengambil obat penambah darah di sana yang segera diteguknya. Sepertinya Sofia mengalami gejala kekurangan darah. Ini semua terjadi akibat banyak pikiran. Akhir-akhir ini Sofia sedih memikirkan usahanya meminta ijin Wisnu yang ternyata ditolaknya. Wisnu menurutnya sangat egois.
Setelah meminum obat penambah darah, Sofia berjalan kembali memasuki kamar, dan membaringkan kembali tubuhnya yang kini seakan tidak bertenaga.
Jam 14.30 motor gede milik Wisnu tiba. Suaranya terdengar sampai kamar di loteng rumah. Sofia bukan tidak ingin menyambut Wisnu, namun keadaan dirinya yang tidak memungkinkan untuk bangkit.
Tap, tap, suara kaki Wisnu terdengar menaiki tangga, walaupun hanya kaki telanjang tapi bunyinya bisa Sofia rasakan. Sofia ingin tahu bagaimana reaksi Wisnu setelah dia tahu Sofia sakit, pedulikah Wisnu atau malah sebaliknya?
Wisnu membuka pintu kamarnya, hari ini dia dapat tugas kembali mengawal Komandannya ke Cijantung. Wisnu butuh beberapa barang untuk dibawanya, namun Sofia yang biasanya menyiapkan, kini tidak berada lagi di kamarnya.
Sejenak Wisnu duduk termenung di atas rajang. Dia memilih termenung daripada mencari Sofia. Beberapa menit kemudian, akhirnya Wisnu dengan perlahan menyiapkan keperluannya ke dalam tas ranselnya. Wisnu tidak mau meminta bantuan pada Sofia karena dia merasa gengsi.
Sofia keluar kamar berniat menuju kamar mandi. Namun secara kebetulan malah bertemu dengan Wisnu. Wisnu menenteng tas ranselnya, sejurus dengan itu tatapan matanya bersitatap dengan Sofia. Sofia langsung melengos dan segera memasuki kamar mandi.
Saat Sofia keluar kamar mandi, ternyata Wisnu masih ada di sana. Dia tengah duduk di ruang tengah loteng itu. Entah apa yang dilakukan Wisnu masih berada di sana. Sofia kembali masuk kamar tanpa menegur Wisnu. Dia membaringkan kembali tubuhnya dengan perasaan yang sangat sedih dan kecewa. Kecewa akan sikap Wisnu yang sama sekali tidak menyapanya.
Tiba-tiba pintu kamar yang ditempati Sofia terbuka, Wisnu memasuki kamar dan berdiri di samping ranjang.
"Aku akan pergi ke Cijantung selama seminggu, kamu tinggal di rumah dan jangan kemana-mana," ucap Wisnu tanpa menunggu Sofia bangkit.
Sofia mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Wisnu. Tanpa bangkit dari ranjang dia segera menyahut, "masih pentingkah Aa memberitahu Sofia dan memperingatkan Sofia untuk tidak pergi kemana- mana saat Aa mau pergi berdinas keluar kota? Bukankah selama ini Aa sudah tidak butuh lagi dengan Sofia?"
"Aku hanya memberi tahu, supaya kamu tidak cemas menunggu aku pulang."
"Pergilah, Sofia juga tidak butuh lagi kabar Aa. Pulang atau tidak," tandas Sofia mulai memperlihatkan kesalnya.
"Apa maksud kamu?"
"Tidak ada maksud apa-apa. Sofia hanya akan mengikuti mau Aa. Supaya Aa tidak pusing lagi memikirkan Sofia, alangkah lebih baiknya hubungan kita ini diakhiri saja," ujar Sofia entah punya keberanian dari mana dia bicara seperti itu pada Wisnu, bukankah dia begitu sangat mencintai Wisnu.
"Sofia, apa yang kamu katakan?" Wisnu menyalak memperlihatkan rasa kesalnya.
"Sofia hanya mengatakan apa yang ada di hati Aa. Mengakhiri hubungan pernikahan kita," tandasnya lagi seraya meringis menahan sakit kepala yang semakin dahsyat. Entah kenapa sakit kepala yang melandanya malah membuatnya punya keberanian untuk melawan Wisnu.
"Berani kau ya!" Hanya itu yang kalimat yang disampaikan Wisnu. Setelah itu dia keluar kamar tanpa menoleh lagi ke arah Sofia.
Sepeninggal Wisnu, Sofia menangis sejadi-jadinya dengan menelungkupkan mukanya pada bantal. Sungguh Wisnu benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan dirinya yang kini sakit. Masa iya dia tidak bisa membedakan orang sakit atau sehat sehingga sedikitpun tidak was-was atau bertanya tentang keadaan Sofia.
Suara Jeep Wisnu terdengar dan menjauh dari halaman rumah. Sofia segera menuruni tangga walau dengan memapah dinding, lalu menuju pintu depan dan membukanya.
"Tega banget A, pergi tanpa meninggalkan kata-kata yang bisa menyejukkan hati Sofia. Padahal Aa mau pergi keluar kota, apakah di hati Aa tidak sedikitpun tersentuh rasa iba?"
Sofia menatap keluar rumah dengan linangan air mata. Dia berbalik menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa dahaga.
"Ya Allah, kuatkan Sofia," pintanya dengan sungguh-sungguh. Sofia bertekad untuk kembali kuat dan sembuh. Untuk itu Sofia memaksa dirinya untuk sembuh dengan mengisi perutnya dengan makanan.
Besok tiba, suara burung bersahutan. Sofia bangun dengan kepala yang masih sakit. Sofia bergegas ke kamar Wisnu untuk mengambil tespek di meja rias itu. Dan Sofia berhasil menemukannya yang segera dia gunakan ke kamar mandi.
Garis dua yang membuat Sofia terharu sekaligus bahagia. Saat itu juga Sofia menangis antara bahagia dan sedih. Tespek itu masih digenggaman jemarinya dan dilihat kembali dengan teliti. Garis dua dan Sofia kini berbadan dua.
"Aku harus segera sembuh dan tidak boleh banyak pikiran supaya tidak sakit kepala lagi karena stress," tekad Sofia berapi-api.
Seminggu kemudian, Wisnu pulang. Dia memarkirkan Jeepnya seperti biasa. Saat ingin memasuki rumah, ternyata pintunya dikunci. Wisnu sedikit mengerutkan keningnya. Dia heran, kenapa pintunya sampai dikunci. Padahal kalau siang hari setahunya dia maupun Sofia tidak pernah mengunci pintu.
Saat sedang bingung seperti itu, tiba-tiba Bu Endah datang. Sepertinya dia sudah mengetahui Wisnu pulang. Dengan raut wajah yang risau Bu Endah menghampiri Wisnu.
"Sofia pergi A, dia pamit pada ibu dan bapak, dan hanya menitipkan kunci ini," ujar Bu Endah seraya memberikan kunci rumah Wisnu ke tangan Wisnu.
"Sofia pergi, Bu? Kemana Bu? Kenapa Ibu dan Bapak tidak menahannya?" ujar Wisnu tersentak, raut wajahnya berubah dengan raut wajah was-was serta penyesalan.
"Ibu tidak tahu Sofia mau kemana, Sofia hanya bilang akan pergi menenangkan diri." Bu Endah menjawab dengan wajah yang sedih.
"Ibu kecewa dengan sikap Aa, ini terjadi gara-gara Aa tidak mau memaakan Sofia. Aa ternyata egois," lanjut Bu Endah menyalahkan Wisnu. Wisnu terhenyak mendengar ucapan Bu Endah seperti itu. Tudingan Bu Endah tidak ditampiknya, hatinya mengakui, dia memang egois. Wisnu pikir omongan Sofia satu minggu yang lalu tidak serius. Namun rupanya Sofia benar-benar nekad dan pergi.
Wajah tampan yang penuh kharisma itu, kini berubah muram. Rasa was-was menyelimuti wajahnya yang biasa dingin dan tegas serta jutek terhadap Sofia.
"Sofia kenapa kamu nekad pergi?" Hati Wisnu berbisik dengan rasa khawatir yang nyata di wajahnya.
"Ini bagaimana dong A, kamu harus segera temukan Sofia. Ibu takut ada apa-apa dengan Sofia. Kamu itu keterlaluan dengan membuat Sofia pergi seperti ini," ucap Bu Endah kesal dan menyalahkan Wisnu yang sejatinya tubuhnya sangat lelah dan ngantuk ingin segera diistirahatkan.
"Kira-kira perginya kemana ya Bu, Sofia?" Wisnu balik bertanya pada Bu Endah.
"Entahlah Ibu tidak tahu. Ibu khawatir Sofia pulang ke Prabumulih dan dia mengadu pada keluarganya. Ibu malu dan pastinya keluarganya akan menyalahkan kita," ujar Bu Endah nampak sangat risau. Wisnu tidak kalah risau, air mukanya berubah 180 derajat muram.
"Bagaimana Bu, apakah Ibu sudah menghubungi Mamaknya Sofia di Prabumulih?" tanya Wisnu gusar berharap jawabannya ini ada sedikit pencerahan tentang keberadaan Sofia.
"Tidak, Ibu tidak menghubungi Mamaknya Nak Sofi. Ibu justru takut jika Mamaknya tahu maka dia akan balik emosi dan kesal sama kita. Akan tetapi menurut Ibu, sepertinya Sofia tidak pulang ke Prabumulih, sebab mertuamu tidak ada sama sekali menghubungi ibu. Sepertinya dia tidak pergi ke sana," jawab Bu Endah. Wisnupun terdiam, dia kini merasa menyesal dan terpukul atas kepergian Sofia yang nekad itu.
Karena rasa lelah dan ngantuk, sepertinya Wisnu akan mengistirahatkan sejenak tubuhnya, supaya pulih kembali saat nanti mencari Sofia.
Saat memasuki kamar, Wisnu segera menghampiri kamar yang terakhir ditiduri Sofia. Wisnu menatap segala penjuru kamar itu. Tidak lupa Wisnu membuka bantal. Dan duagaan Wisnu benar. Di sana ada secarik kertas dari Sofia yang isinya menyentuh hati dan membuat Wisnu muncul rasa menyesal.
"Jangan cari Sofia, ini kan maunya Aa. Sofia pergi ya, A. Jaga kesehatan Aa. Sofia tidak ingin membebankan pikiran Aa terus. Sebagaimana cintanya Sofia, tapi Sofia lebih peduli dengan kebahagiaan Aa. Dari awalpun Sofialah yang mencintai Aa, jadi sekarang Sofia belajar melupakan Aa dan pergi menjauh dari Aa. Terimakasih atas tumpangan rumahnya selama ini. Sofia janji, dan bahkan berharap sama Allah walau dengan memaksa "bahwa Sofia akan berusaha melupakan cinta Sofia pada Aa, selamat tinggal A, 😭😭." Tulisan tangan itu diakhiri emot menangis. Wisnu meremas kertas itu dengan perasaan yang hancur.
"Sofiaaaaa, kenapa kau nekad pergi dariku?" pekiknya sedih, matanya kini berkaca-kaca.
Malam menjelang, Wisnu segera mengeluarkan mogenya berniat mencari Sofia. Untuk sementara dia akan mencari Sofia di dekat-dekat perumahan komplek. Harapannya dia bisa mendapat info, di manakah Sofia atau kemanakah perginya Sofia?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
🤗🤗
sepertinya sofia sudah lelah
2023-04-18
1
Aurora
Kak... Aku udah mampir lagi, jangan lupa mampir lagi ya🤗
2023-04-14
1
mom mimu
harusnya dari dulu kamu kaya gitu sof, biar si Wisnu mikir, kalau sikapnya udah salah banget sama kamu semenjak awal nikah..
2023-04-01
1