Setelah Wisnu masuk kamar, Sofia tidak berniat menyusulnya, dia beranjak dan duduk di kursi ruang tamu untuk membuang segala kesedihan akibat Wisnu barusan. Sofia menghela nafas panjang, lalu membuangnya jauh-jauh mencoba mengusir galau yang kini ada. Dadanya bergemuruh, Sofia berpikir kenapa suaminya masih mencintai Dara, Kakak iparnya.
"Apakah Yuk Dara tahu bahwa A Wisnu mencintainya? Kalau dia tahu, kenapa dulu saat bercerita tidak pernah tersemat nama A Wisnu sebagai cinta masa lalu maupun cinta pertamanya? Benarkah Yuk Dara sungguh-sungguh tidak mengetahuinya? Hanya ada satu nama seorang lelaki yang dia sebut, yaitu Rian. Iy, Yuk Dara hanya naksir pada seorang cowok bernama Rian." Sofia berpikir keras tentang siapa cowok yang menjadi cinta pertamanya Dara, hanya ada satu cowok yang sempat Dara sebutkan dulu, yaitu Rian. Teman satu pabrik kakaknya Azlan.
Sofia menjadi sakit kepala memikirkan siapa lelaki yang menjadi cinta masa lalunya kakak iparnya Dara. Belum lagi memikirkan nasib cintanya yang tidak dicintai suaminya, membuat Sofia sedih. Sofia menghela nafas kasar, saat tadi mendengar Wisnu yang membela Dara, membuat hatinya tambah sakit dan kecewa.
Tapi apa yang harus dia lakukan sekarang? Hanya menangis dan kecewa yang bisa dia lakukan. Kalau mengikuti kata hati dan ego, ingin rasanya Sofia pergi meninggalkan Wisnu. Namun, Sofia seakan disadarkan akan niat awalnya, Sofia ingin merebut hati Wisnu dan membuat Wisnu mencintainya. Sofia tidak akan pergi meninggalkan Wisnu, karena dia harus bisa merebut hati dan cintanya Wisnu. Sofia harus bisa melupakan cinta pertamanya Wisnu.
"Aku harus tunjukkan sikap yang kuat dan agresif seperti sebelum menikah. Tapi ketika berhadapan dengan A Wisnu, kenapa aku menjadi sangat lemah dan mudah sedih? Aku ingin kuat seperti dulu. Seperti Sofia yang dulu," ujar Sofia berkata-kata kecil di ruang tamu.
Sofia bangkit, sejenak dia ke dapur mengambil air minum dan merapikan kembali tudung saji yang tadi sempat terbuka karena mempersilahkan Wisnu makan. Segera setelah itu dia menaiki tangga, dan memasuki kamar sebelah. Kini Sofia ingin menenangkan diri tanpa berdekatan dengan Wisnu dulu. Sofia segera tidur, dalam hatinya bertekad besok dia harus mengutarakan keinginannya untuk membuka praktek bidannya di rumah ini. Dalam hal ini Sofia sedikit lega, sebab ada Bu Endah yang akan membantunya jika Wisnu masih juga melarangnya.
Suara azan subuh berkumandang, Sofia yang terlelap kini mulai melakukan pergerakan. Ia bergeliat ke kiri dan kanan melakukan peregangan di otot-otot tangan. Namun saat ingin melakukannya, tubuhnya terasa berat dan seperti susah untuk melakukan pergerakan. Perlahan Sofia membuka matanya, dan seketika Sofia terkejut sebab di sampingnya Wisnu tengah tidur dan memeluknya.
"*Aa, kenapa ada di sini? Bukankah aku tidur* *sendiri di sini? Jadi Aa pindah ke sini*?" batin Sofia merasa heran akan tetapi bahagia.
Sofia perlahan melepaskan tangan Wisnu yang memeluknya. Pantas saja kakinya berat dan kini terasa kebas sebab kaki Wisnu menumpang di atas paha Sofia. Benar-benar berat tubuh suaminya ini. Karena pergerakan Sofia di tangan dan kaki, Wisnu merasa terusik sehingga dia terbangun.
"Aa, kenapa Aa tidur di sini?" tanya Sofia heran. Wisnu tidak menjawab, dia malah menenggelamkan wajahnya di balik tengkuk Sofia. Kini Sofia melakukan pergerakan lagi dan berusaha melepas kaki Wisnu dari atasnya.
"Sudahlah jangan bergerak, aku tidur di sini karena semalam aku kedinginan," akunya memberi alasan.
"Tapi Sofia harus bangun, A. Ini sudah azan Subuh. Kita harus bangun dan melaksanakan sholat Subuh," ujar Sofia mengingatkan. Wisnu sedikit melakukan pergerakan dan sejenak bergeliat melepas kaku di otot tangannya.
"Kamu membuat aku terbangun, padahal aku masih sangat ngantuk. Dan bukan hanya aku yang terbangun, tapi ...."
Sofia tidak bisa menghindar, sebab keinginan Wisnu begitu besar subuh ini, terlebih Wisnu memang suaminya yang selalu Sofia harapkan sentuhannya. Sebelum Subuh dia melayani Wisnu dengan ikhlas dan pasrah karena iapun sangat menikmati dan berharap pertautan ini membuahkan hasil.
"Semoga saja kali ini bisa membuahkan hasil, dan A Wisnu bisa mencintai aku dan tentunya anak yang aku kandung bisa menjeratnya supaya bisa menerimaku. Dengan begini aku bisa merebut hati Aa, dan membuat Aa melupakan Yuk Dara sebagai cinta pertama Aa," batin Sofia berdoa.
Pagi menjelang, suara burung sudah mulai meramaikan alam semesta. Sofia kini sedang berada di dapur menyiapkan sarapan buat Wisnu dan dirinya. Sekarang Sofia hanya membuat nasi goreng dengan toping telur mata sapi kesukaan Wisnu.
Wisnu turun dari tangga dan menghampiri dapur. Tubuhnya terlihat bugar dan segar. Terlebih dirinya kini mengenakan pakaian olah raga. Sebab habis sarapan ini dia akan olah raga sejenak di kantor sekalian membina siswa.
Sarapannya kini sudah siap, tanpa di komando lagi Wisnu sudah menduduki kursi yang di mejanya sudah tersaji nasi goreng telur mata sapi dan segelas air putih. Wisnu dan Sofia sarapan pagi tanpa bersuara. Sesekali Sofia menatap Wisnu yang fokus dengan nasi goreng buatannya.
Hanya dengan berbaju olah raga saja di mata Sofia, Wisnu begitu sangat tampan. Seketika rasa sedih dan sakit hati Sofia akibat kemarahan Wisnu kemarin, kini seakan sirna. Mungkin saja karena tadi subuh sudah di amunisi dengan zat gizi yang melelahkan sekaligus menyenangkan, dan kini Sofia tidak terlihat murung lagi.
Wisnu menyudahi sarapannya lalu berdiri. "Aku pergi dulu, aku ada agenda olahraga di kantor bersama para siswa," ucap Wisnu berpamitan.
"A, sebenarnya ada yang ingin Sofia katakan sama Aa," tahan Sofia sembari menatap Wisnu segan, sebab Wisnu kembali ke mode dingin. Sudah Sofia katakan Wisnu akan romantis jika sedang membutuhkannya. Dia memang bukan tipe lelaki romantis, terlebih sikapnya ini bisa jadi didasari oleh cinta pertamanya yang belum mati.
"Bicara apa? Nanti saja pulang aku olah raga. Sekarang tidak ada waktu banyak," respon Wisnu seraya meraih sepatu olahraganya di rak sepatu. Saat Wisnu menyudahi memakai sepatunya, tiba-tiba Sofia menghambur dan memeluk Wisnu. Wisnu sedikit tersentak sebab yang dilakukan Sofia sangat spontan.
"Sofia, ada apa?" Wisnu heran seraya memegangi bahu Sofia.
"Sofia hanya tidak ingin Aa pergi," ucap Sofia jujur. Biar saja kali ini Sofia dianggap melakukan hal lebay dan bodoh dengan memeluk Wisnu dan mengungkapkan bahwa dia tidak ingin Wisnu pergi.
Wisnu sekilas tersenyum dan menatap Sofia. "Gara-gara tadi subuh rupanya kamu masih menginginkannya. Ya, sudah aku pergi dulu, ya. Itu bisa kita lakukan nanti pulang aku olahraga. Kamu persiapkan diri kamu saja," ujar Wisnu yang sebenarnya bukan itu arah tujuan Sofia, tapi jujur saja mendengar itu hati Sofia girang dan bangkit kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
🤗🤗
miris sekali nasibmu sofi
2023-04-16
1
mom mimu
sebenernya aku miris banget sama Sofi, dia cuma di pake Wisnu buat salurin maunya aja... 😭😭😭 sof kamu balik aja deh sama Dokter yang kayanya masih cinta sama kamu...
2023-03-27
1