Bab14 Kesal dan Benci Sofia

"Awas ya A, jangan sampai menyakiti Sofia. Ingat! Seorang prajurit alias aparat negara selain harus bisa menjaga negaranya dari serangan musuh, dia juga harus bisa menjaga negara di dalam rumah tangganya sendiri. Jika seorang prajurit sudah menyakiti orang di dalam rumah tangganya sendiri, maka dipastikan prajurit itu tidak pantas menjadi aparat negara, sebab jangankan menjaga negara dari serangan musuh, menjaga rumah tangganya sendiri saja tidak becus. Pergi saja ke dapur lalu pakai daster," peringat Azlan sekaligus mengejek Wisnu membuat Wisnu naik pitam.

"Lu diam saja jangan banyak bacot! Dan ingat jangan panggil gua Aa, gua tidak sudi punya hubungan saudara dengan elu. Yang jelas di sini dalam hal mendapatkan pasangan, gua lebih terhormat cara mendapatkannya, daripada elu mendapatkan Dara adik gua dengan cara yang culas. Sampai kapanpun gua akan mengingatnya dan gua benci setiap ketemu elu," tandas Wisnu tegas dan ketus. Azlan diam dengan muka yang berubah memerah. Kalau bukan karena Wisnu adalah iparnya, sudah pasti amarah Azlan meledak saat itu juga.

"Eh, kalian rupanya di sini." Tiba-tiba saat Wisnu dan Azlan berdebat di halaman belakang, Dara datang menghampiri sembari memangku baby Zla yang sudah terbangun. Untung saja perang mulut antara Wisnu dan Azlan telah berhenti.

"A, barusan Dara sudah mencoba menghubungi Sofia, tapi kenapa tidak diangkat ya, padahal WAnya barusan aktif? Apakah HP Sofia dibiarkan aktif tanpa dikeluarkan dulu mungkin, ya?" duga Dara heran setelah merasa tidak berhasil menghubungi Sofia, adik iparnya. Dara sangat merindukan Sofia sebab sudah sebulan ini dia dan Sofia sudah jarang berkomunikasi.

"Mungkin saja HP Sofia sedang ditinggal masak, Aa juga kurang tahu," jawab Wisnu, wajahnya memerah artinya masih menyimpan marah yang sejak tadi dirasakannya saat sedang berdebat dengan Azlan tadi.

"Ya, sudah deh, kalau begitu Aa pulang dulu, ya. Aa sehari lagi sampai besok di Cijantung. Dan Aa pasti akan lama tidak datang ke sini," ujar Wisnu seraya memeluk Dara dengan gerakan cepat seolah sengaja diperlihatkan pada Azlan suami Dara. Azlan membalas dengan tatapan mata yang tidak senang. Wisnupun angkat kaki dari rumah Dara diiringi tatapan mata Dara dan tentunya Azlan yang nampak masih kesal.

"Hati-hati, A. Jika sudah sampai Lembang, titip salam buat Sofia juga Bapak dan Ibu, ya," teriak Dara sambil melambaikan tangan mengantar kepergian Wisnu. Jeep yang ditumpangi Wisnu pun pergi menjauh dan kini membelah jalanan kota Cikarang menuju Cijantung.

Sementara itu di kediaman orang tuanya Wisnu, hampir tiap hari Sofia datang ke rumah mertuanya. Kadang Sofia ikut membantu Bu Endah membuat kue-kue pesanan tetangga.

"Wah, pesanan Ibu sudah kelar. Tinggal diantar ya, Bu?" seru Sofia merasa senang melihat kue-kue yang siap antar ke rumah tetangganya. Kalau yang dekat-dekat seringnya diambil langsung oleh si pemesan. Akan tetapi jika yang jauh, jasa gosentlah jalan yang ditempuh Bu Endah untuk mengantarkan setiap pesanan pelanggannya.

"Alhamdulillah, kelar untuk hari ini. Besok ibu masih banyak lagi orderan dari pelanggan," ujar Bu Endah dengan raut wajah gembira. Sejenak setelah selesai mengantar semua pesanan kepada para pemesan, Bu Endah dan Sofia ngeteh sore sembari mencicipi kue dan panganan lain yang sengaja ada lebihnya untuk dicicip di rumah.

"Enak banget kue buatan Ibu ini. Ibu pandai memasak semua jenis masakan dan makanan. Nanti kalau Ibu tidak sedang sibuk, Sofia mau belajar kue-kue ini," puji Sofia antusias.

"Iya, nanti ya saat ibu sedang tidak sibuk. Pasti nanti ibu ajarkan. Padahal Nak Sofi juga pinter masak lho. Ibu juga pernah nyicip masakannya dan rasanya enak dan mantap," sahut Bu Endah diakhiri pujian untuk Sofia. Sofia tersenyum malu-malu.

"Sofi hanya belajar sedikit dari Mamak, dan kalau resepnya ditambah dengan resep dari Ibu kayaknya pengetahuan Sofia tentang masakan akan bertambah," ujar Sofia.

"Insya Allah, nanti Ibu ajarkan memasak, ya. Tapi, bukannya Nak Sofi mau melamar kerja ke Puskesmas terdekat menjadi Bidan?"

"Itu dia Bu, A Wisnu tidak mengijinkan Sofia mencari kerja diluaran. Padahal ilmu Sofia menjadi Bidan sayang kalau tidak dipakai. Tapi A Wisnu melarang Sofia, dan sejak itu Sofia tidak melanjutkan lagi untuk melamar pekerjaan." Sofia menjawab dengan perasaan sedih.

"Oalaa, rupanya Nak Sofi sudah pernah melamar pekerjaan di sini dan rupanya A Wisnu melarangnya? Ibu sih sangat menyayangkan ilmu yang Nak Sofi punya tidak dimanfaatin untuk menolong orang lain. Tapi kalau A Wisnu sudah melarang, ibu tidak bisa kasih pendapat lagi. Yang namanya suami kalau sudah melarang maka kita sebagai istri harus patuh." Bu Endah menjeda sejenak ucapannya. Dia melihat Sofia yang menunduk sedih. Bu Endah tahu Sofia sangat ingin mengamalkan ilmu yang pernah didapatnya dari perguruan tinggi.

"Bagaimana kalau Nak Sofi buka praktek Bidan saja di rumah, ini sepertinya solusi terbaik untuk menyalurkan ilmu kebidanan Nak Sofi. Ibu rasa A Wisnu tidak akan melarang. Apakah Nak Sofi berminat?" lanjut Bu Endah tiba-tiba memberi solusi yang sebenarnya sudah Sofia pikirkan sejak jauh hari sebelumnya. Dan kini ibu mertuanya memberi solusi seperti itu, seperti gayung bersambut bagi Sofia.

"Itu dia, Bu. Justru hal itu yang sedang Sofia pikirkan sekarang ini. Dari sejak Aa melarang Sofia mencari kerja, Sofia kepikiran buka praktek, tapi sampai sekarang Sofi belum ada waktu yang tepat untuk bicara sama Aa," ungkap Sofia seakan diberi jalan.

"Bagaimana Bu, jika Ibu bantu Sofia untuk bicara ke A Wisnu, jika A Wisnu masih belum ijinkan Sofia buka praktek kebidanan di rumah, Ibu mau, kan, bantu Sofia bicara ke Aa?" ucap Sofia memohon.

Bu Endah menatap dalam wajah menantunya, sepertinya Sofia sangat ingin buka praktek Bidan di rumah, tapi dia terlihat takut akan ijin dari Wisnu. "Iya, nanti Ibu bantu Nak Sofi untuk bicarakan hal ini, jika A Wisnu masih tidak mengijinkan buka praktek di rumah," ucap Bu Endah berjanji.

Sorenya Sofia pulang dari rumah Bu Endah dengan membawa rantang yang isinya makanan untuk di makan Sofia di rumah. Hari ini Sofia tidak masak karena dia keburu dikasih oleh Bu Endah.

Tiba di rumah, tepat kumandang Magrib diperdengarkan di mana-mana, dan Sofia segera menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Sembari menunggu azan Isya, Sofia sengaja leyeh-leyeh di kasur memainkan HPnya dan membuka pesan balasan WA dari suaminya. Sofia tersenyum kecut saat mendapati balasan WA dari suaminya yang selalu dijawab seperlunya tanpa basa-basi seperti kata-kata romantis, padahal dirinya selalu menyematkan kata-kata itu.

"Aa tidak pernah memberi WA duluan sama Sofia, kadang-kadang di sini Sofia merasa benar-benar dianggap tidak ada." Sofia bicara sendiri dengan sedih, lama-lama air matanya luruh satu persatu membasahi kasur.

"Sofia bukan butuh raga Aa saja, tapi kasih sayang dan perhatian Aa lebih Sofia butuhkan. Kapan Aa bisa mencintai Sofia seutuhnya? Sofia juga butuh kasih sayang Aa, tapi Aa lebih memberikan kasih sayang pada Yuk Dara. Sofia benci Yuk Dara," desisnya diiringi isak tangis yang memilukan sembari menatap wajah Wisnu di layar Hp. Perasaan kesalnya pada Dara Kakak iparnya kini muncul kembali setelah mengingat betapa besar cinta Wisnu pada Dara.

Beberapa menit setelah Sofia menumpahkan rasa kecewa dan kesalnya pada Wisnu dan Dara, tiba-tiba sebuah panggilan vidio call dari Dara muncul. Padahal orang ini baru saja Sofia pikirkan karena merasa kesal, tapi kini malah hadir dan menghubunginya.

"Maafkan Sofia, Yuk. Sofia tidak sengaja tidak angkat panggilan Ayuk hanya semata ingin menghindarkan rasa benci Sofia bertambah besar pada Ayuk. Padahal Ayuk tahu sendiri kita ini begitu saling menyayangi dan saling mendukung. Tapi karena Sofia sekarang mengetahui bahwa perempuan di masa lalu A Wisnu yang masih dicintainya adalah Ayuk, maka Sofia kini merasa kesal bahkan timbul benci sama Ayuk. Padahal hati Sofia tidak ingin," jerit Sofia dalam keluh kesah di dalam kamarnya sendirian.

Panggilan itupun berhenti tanpa Sofia angkat. Sebetulnya Sofia tidak ingin melakukan ini, tapi semua ini terpaksa. "Maafkan Sofia, Yuk!" ujarnya sedih.

Terpopuler

Comments

@Kristin

@Kristin

Mampir bawa 2 iklan buatmu Thor semangat nulis nya 👌

2023-06-10

1

🤗🤗

🤗🤗

sabar lha sof

2023-04-12

0

mom mimu

mom mimu

sabar Bae ya sof, semoga Wisnu kena karma dari kamu jadi balik bucin akut 😁😁😁

2023-03-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!