Malam itu setelah lelah menyiapkan keperluan Wisnu, Sofia segera membersihkan diri, dan bersiap untuk tidur. Sofia menaiki ranjang dan berbenah. Sebetulnya rasa kantuk belum ada, dia hanya tidak ada hal lain yang bisa dikerjakan lagi. Sementara Wisnu masih di ruang tamu, Sofia tidak ada niat untuk menemaninya atau sebaliknya Wisnu juga tidak minta ditemaninya. Semuanya kaku dan canggung. Terlebih Sofia yang masih kesal karena Wisnu yang membiarkan Sofia tidur di mobil tanpa berniat membangunkannya.
Tapi malam ini Sofia akan mengutarakan niatnya, yaitu ingin buka praktek Bidan di sini, di rumah Wisnu. Sofia berharap Wisnu tidak melarangnya, toh ini bukan kerja di tempat orang lain. Lagipula rumah Wisnu lantai bawahnya lumayan luas untuk dijadikan tempat praktek kebidanannya.
Tiba-tiba suara pintu terdengar, Wisnu masuk dan menutup pintu kembali. Sejenak dia melihat tas yang telah disiapkan Sofia. Wisnu berdecak sukur, hatinya merasa lega. Kemudian matanya bergulir menuju Sofia yang ternyata belum tidur. Hati Wisnu sedikit terenyuh melihat Sofia yang sebetulnya cantik, tapi karena hatinya masih belum bisa melupakan Dara, akhirnya Sofia hanya dijadikan pelampiasan hasratnya saja.
Wisnu pergi sejenak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu kembali ke kamar dan sejenak menatap cermin sebelum dia benar-benar naik ke atas ranjang. Sesaat sebelum kakinya melangkah menuju saklar lampu, Wisnu melihat penampakan yang membuat dia sukses mengerutkan kening.
"Pil KB?" Wisnu heran lalu melihat ke arah Sofia dengan wajah yang berubah geram. "Sofia, ini apa?" tanya Wisnu seraya memperlihatkan kemasan pil yang diyakini Wisnu merupakan pil KB. Sofia terkejut dengan mata yang terlihat mengerjap. Namun beberapa detik kemudian wajah Sofia berubah dan kembali biasa penuh senyum.
"Itu pil KB milik Sofi, A. Memangnya kenapa, A?" jawab Sofia diakhiri sebuah pertanyaan yang membuat Wisnu terpancing emosi.
"Kok, memangnya kenapa? Kamu malah balik nanya. Memangnya kamu benar-benar serius tidak ingin punya anak dari aku?" tuding Wisnu keras.
Sofia seketika tersentak, tidak menduga Wisnu bakal semarah itu. "Bukan begitu maksudnya A. Tapi .... "
"Tapi apa? Kau memang lucu ya, mencintai aku tapi malah tidak mau mempunyai anak dari aku. Padahal kurang bagaimana, aku sudah menafkahi lahir dan batinmu," sentak Wisnu marah.
Sofia menjadi takut dan ciut melihat Wisnu semarah itu. Maksud Sofia meminum pil KB hanya semata menunda dulu kehamilan selama Wisnu belum benar-benar mencintainya.
"Sofia minta maaf, itu semata Sofia lakukan karena Aa yang belum mencintai Sofia, kan?" Sofia membela diri dengan wajah menunduk.
"Sok tahu, memangnya kamu tahu aku tidak ingin memiliki keturunan?" tekan Wisnu sembari menatap wajah Sofia marah. Sofia melengos menghindari tatapan Wisnu yang menusuk, dia sadar dia yang telah mengambil keputusan untuk minum pil KB tanpa meminta ijin dulu dari Wisnu.
"Kamu sudah berani mengambil keputusan tanpa tanya aku, kamu memang dableg. Sepertinya kamu memang punya hobi ngebantah suami. Sejak awal kamu sudah membantah, kemarin saat kepulangan aku, kamu masih ingat aku mewanti-wanti kamu supaya memberitahu aku jika surat pengunduranmu di acc supaya aku jemput kamu pulang, namun apa yang kamu lakukan? Malah sok-sokan pulang sendiri memberi kejutan murahan tanpa memberi tahu suami, bukankah itu sudah pertanda membantah?" tandas Wisnu kesal mengungkit kepulangan Sofia yang tiba-tiba dan tanpa memberitahu.
"Belum lagi yang kedua, kamu mencari pekerjaan tanpa mendapat ijin dariku main slonong saja, apa itu pantas kamu lakukan, sementara di rumah saja tidak kurang pekerjaan, kamu bisa lakukan apa saja sembari menunggu aku pulang. Tugas kamu itu sekarang melayani aku bukan sibuk mendedikasikan diri ke instansi lain yang bisa membayarmu. Dan sekarang terjadi lagi, tanpa ijin seenaknya kamu minum pil KB tanpa tanya aku, apa aku sebrengsek itu sampai kamu tidak mau hamil dariku?" sentak Wisnu panjang lebar membuat Sofia mati kutu dan sakit hati, namun yang mampu dia lakukan hanya diam dan menahan sesak di dada.
"Sofia minta maaf, A," ucap Sofia penuh sesal. Dia tidak menyangka Wisnu yang notebene belum bisa move on dari cinta lamanya, namun pada kenyataannya tidak menolak jika Sofia akhirnya hamil. Dan kini malah dirinya yang disemprot karena ketahuan minum pil KB tanpa ijin Wisnu. Rasa bersalah dan sedih seketika bergelayut dalam dada.
Wisnu berjingkat dan keluar dari kamar seraya membanting pintu kesal, sehingga suaranya berdentum keras. "Bruggg." Sofia tersentak kaget menatap Wisnu yang keluar kamar dengan perasaan marah. Sejujurnya Sofia merasa bersalah, namun kini terlanjur sudah. Mungkin untuk besok dan seterusnya dia tidak akan meminum pil itu lagi.
Wisnu menuruni tangga, setelah itu Sofia tidak mendengar pergerakannya lagi. Mungkin Wisnu tidur di kamar bawah. Dan untuk saat ini Sofia rasanya belum tepat jika harus menyusul dan membujuk dengan maaf sekalipun.
Besok menjelang, suara kumandang azan bersahutan diiringi kokok ayam yang ikut meramaikan suasana pagi. Sofia segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan segera melaksanakan kewajiban sebagai seorang Muslim. Tiba-Tiba Wisnu masuk dan segera mengenakan baju lorengnya yang sudah wangi dan rapi tergantung di hanger. Setelah itu dia segera meraih tas yang sudah Sofia siapkan dengan terburu-buru.
Wisnu keluar kamar diikuti Sofia yang kini tidak berani bicara apa-apa, kecuali menatap semua gerak-gerik Wisnu penuh rasa bersalah. Wisnu hanya tinggal memakai semua perlengkapan sebab semua sudah Sofia siapkan sejak malam tadi dengan detil.
"Aku pergi dulu, kamu hati-hati di rumah. Kalau kamu tidak berani tinggal sendiri di rumah, kamu nginap saja di rumah ibu," tutur Wisnu tiba-tiba, saat tubuhnya sudah berada di mulut pintu kamar sembari menatap Sofia. Sofia mencoba menatap Wisnu namum Wisnu langsung membuang tatapan ke arah lain. Sofia sejujurnya sangat sedih ditinggal Wisnu selama seminggu. Bagaimanapun juga dia sangat mencintai Wisnu, sekeras dan sedingin apapun Wisnu. Jadi saat Wisnu akan pergi karena tugas dari Komandan, Sofia merasa sangat kehilangan.
Tiba-tiba Sofia memeluk Wisnu sembari menangis, ingin rasanya subuh ini Wisnu pamit meninggalkan kecupan cinta di keningnya. Tidak ingin rasanya Sofia melepaskan pelukan itu. Dan saat ini dia membayangkan Wisnu menciumnya sebelum pergi. "Maafkan Sofia, A, Sofia menyesal," ucap Sofia sedih dan menitikkan air mata.
"Aku harus pergi, seminggu lagi pulang. Kamu baik-baik di sini," ujar Wisnu dayar seraya melepaskan pelukan Sofia yang begitu erat. Harapan Sofia pupus saat tangan Wisnu sudah diraup dan dicium Sofia, lalu Wisnu dengan cepat menarik tangan itu dan segera melangkahkan kaki menuju pintu kamar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
🤗🤗
ya jelas sofia kb, kamunya gitu sih
2023-04-12
0
🤗🤗
lama2 lo jadi bucin juga wisnu
2023-04-12
0
mom mimu
sabarrrr sof... kita bujuk kak Lina aja biar bikin Wisnu balik bucin sama kamu 😁😁😁✌🏻✌🏻✌🏻
2023-03-22
1