Bab 2 Surprise

Sebulan kemudian, surat pengunduran diri Sofia dari Rumah Sakit tempatnya bekerja keluar sudah. Sofia merasa lega. Itu artinya dia sebentar lagi akan segera berkumpul dengan Wisnu, suaminya.

Namun di balik kebahagiaannya, terselip kesedihan. Sebelum Sofia berlalu dari ruangannya, Sofia bermaksud ke ruangan Dokter Herman. Dia ingin berpamitan dan meminta maaf.

"Dokter Herman!" panggil Sofia saat melihat Dokter muda itu keluar dari ruangannya. Dokter Herman melihat ke arah Sofia, namun Dokter Herman memalingkan mukanya dengan cepat.

"Sofia minta waktunya sebentar, apakah bisa?" pinta Sofia terdengar memohon.

Dokter Herman memutar tubuhnya dan kembali tanpa sepatah katapun ke dalam ruangannya diikuti Sofia dari belakang. Tanpa mempersilahkan duduk atau basa-basi, Dokter Herman langsung menanyakan maksud Sofia.

"Ada apa, bukankah sekarang sudah tidak ada yang dapat saya bantu?" tanya Dokter Herman menusuk hati dengan nada datarnya. Pertanyaan itu terasa begitu menyayat hati ditambah sikap Dokter Herman yang ketus dan dingin, tidak seperti sebelum Sofia menikah.

"Maksud kedatangan Sofia ke sini tidak lain ingin meminta maaf dan mengucapkan banyak terimakasih sama Dokter, sebab selama Sofia bekerja di RS ini, Dokter Herman sudah banyak membantu," ucap Sofia lirih dengan kepala yang tidak berani mendongak. Dokter Herman tidak menjawab, dia masih diam tanpa menyahut satu patah katapun.

"Sekali lagi Sofia mengucapkan beribu terimakasih pada Dokter. Untuk bimbingan serta segala kebaikannya selama Sofia tugas kebidanan saat di kampus maupun di RS. Dan, Sofia juga mau minta maaf sekiranya selama kita kenal, ada tingkah Sofia yang tidak berkenan di hati Dokter," sambung Sofia sedih.

"Ya, sudah saya buru-buru, masih ada urusan lain yang harus saya selesaikan." Dokter Herman menyudahi perbincangan Sofia padanya dengan sepihak, sikap seperti ini membuat Sofia semakin teriris.

"Saya hari ini terakhir di sini, Dok. Jadi besok atau lusa kita tidak akan pernah saling bertegur sapa atau bertatap muka lagi." Sofia berkata sedikit ditekan melihat Dokter Herman mulai berlalu. Dokter Herman sejenak menghentikan langkahnya dan berkata, "semoga kamu sukses di tempat yang baru," ucapnya seraya melangkahkan kaki tanpa menoleh lagi Sofia. Dada Sofia sedikit terhenyak, sakit sudah pasti. Dokter Herman rupanya semarah itu melihat Sofia menikah dengan orang lain.

Sofia keluar dari ruangan Dokter Herman dengan lesu. Hari itu juga Sofia berpamitan pada semua dan meninggalkan Rumah Sakit yang sudah kurang lebih dua tahun ini menjadi tempat dia mencari nafkah dan mendedikasikan ilmu kebidanannya.

***

"Gimana Sof, kamu sudah siapkan semua, barang-barangmu dan tiket pesawatmu? Awas jangan sampai ketinggalan!" peringat Rima dan Tika kedua sahabatnya yang kini membantu Sofia mempersiapkan semua barang-barang yang kira-kiranya akan dibawa pindahanan ke Bandung menyusul Wisnu sang suami.

"Sudah semua dalam satu koper, tiket, KTPku juga sudah siap," ujar Sofia lega. Sofia segera berpamitan setelah Grabcar yang dipesannya telah sampai di depan rumah orang tuanya. Sofia segera berpamitan pada Mamak dan Pak Amar juga pada adik lelakinya Azman.

"Mak, Pak, Sofia pamit ya, jaga kesehatan Mamak dan Bapak," ucap Sofia sedih sembari merangkul kedua orangtuanya yang kini akan ditinggalkannya.

"Hati-hati ya, Nak, baik-baik di sana bersama suamimu. Kalian harus akur dan saling menjaga dan mencintai juga menghormati. Kami tidak bisa mengantar, hanya sampai sini saja," pesan Pak Amar, bapaknya Sofia sembari merangkul Sofia penuh kasih sayang.

Kini giliran Sofia berpamitan pada Azman adik sematawayangnya. "Ayuk, pergi dulu, ya. Titip Mamak sama Bapak. Kau juga jangan lupa belajar ya," pesannya pada sang adik. Azman mengangguk patuh.

"Aku juga pamit ya pada kalian berdua sahabatku, terimakasih Rima, Tika, udah selalu bantu aku dan baik sama aku. Kebaikan kalian tidak akan aku lupakan." Sofia merangkul kedua sahabatnya tanda perpisahan.

"Ingat Rim, setelah aku pergi , sosor terus Dokter Herman supaya dia tidak jutek lagi seperti apa yang dia lakukan sama aku. Nanti kalian berdua, saat aku pulang kampung status kalian harus ganti," peringat Sofia sebelum dia menaiki Grabcar yang sudah menunggunya.

Sofia segera memasuki Grabcar. Perlahan mobil Grabcarpun melaju membelah jalanan kota Prabumulih menuju kota Palembang, untuk ke Bandara Sultan Mahmud Badarudin II, Palembang. Kepergian Sofia tidak lepas dari tatapan dan lambaian tangan kedua orang tua dan sahabatnya dengan tatapan sedih, karena akan berjumpa lagi dengan waktu yang lama.

Tiba di bandara, setelah cek in dan boarding pass, dan melewati tahapan pengecekan lainnya, Sofia segera diarahkan ke ruang tunggu pesawat. Tidak menunggu lama, setengah jam kemudian, pesawat yang akan ditumpangi Sofia sudah memanggil para penumpang.

Perjalanan udara rute Palembang-Bandungpun kini telah dimulai. Sofia duduk dengan nyaman di dalam pesawat sembari membayangkan reaksi apa yang akan diperlihatkan Wisnu dan keluarganya saat kedatangan Sofia yang mendadak ini? Rupanya Sofia ingin memberi kejutan pada Wisnu dan keluarga atas kedatangannya. Sebab Sofia tidak memberi tahu bahwa hari ini dia pulang ke Bandung.

Akhirnya setelah memakan waktu 1.45 menit di udara, pesawat rute Palembang -Bandung mendarat dengan selamat di Bandar Udara Husen Sastranegara, Bandung. Sofia bernafas lega setelah tadi sempat melewati perjalanan udara yang sempat menegangkan.

Kota Bandung yang baru diinjaknya ini memperlihatkan kesan yang indah. Udaranya yang tidak terlalu panas sepertinya akan membuat Sofia betah. Namun perjalanan Sofia belum selesai sampai di situ, untuk ke rumah mertua dan suaminya, Sofia masih harus menempuh jarak satu jam lagi ke kota kecil Lembang, tempat tinggal mertua dan Wisnu, suaminya.

Hanya dengan memesan grab dan menuliskan alamat tujuan yang jelas, satu jam kemudian Sofia akhirnya tiba di depan halaman rumah kedua orang tua Wisnu. Saat turun dari grab, keadaan rumah nampak sepi.

Sofia berjalan perlahan menuju pintu rumah orang tua Wisnu, nomer rumah dan catnya masih sama persis saat pertama kali Sofia datang ke rumah ini untuk menghadiri resepsi pernikahan Abangnya dengan Dara adik sepupu Wisnu, yang kini menjadi Kakak iparnya, empat tahun yang lalu.

Tanpa ingin membuat suasana menjadi riuh, Sofia tetap menjalankan misinya untuk terus berusaha memberikan surprise pada mertua juga suaminya. Kebetulan Wisnu sepertinya sedang berada di rumah orangtuanya, sebab Jeep yang biasa Wisnu pakai berada di depan rumah mertuanya.

Melihat keadaan pintu sedikit terbuka, tanpa bermaksud tidak tahu adab, Sofia perlahan membuka pintu itu perlahan nyaris tidak mengeluarkan suara. Sofia mulai memasuki ruangan tamu. Dari ruang tamu sudah terdengar beberapa orang berbincang dari arah dapur, dan Sofia masih terus berjalan tanpa bersuara.

Tepat dirinya di tubir pintu tengah, yaitu pintu yang menghubungkan ruang tengah dan dapur, terdengar sangat jelas obrolan antara Pak Malik dan Bu Endah serta Wisnu yang membuat Sofia cukup terhenyak.

"Apa, ternyata A Wisnu mencintai cinta pertamanya yang sampai kini masih dicintainya?" Sofia cukup terhenyak, dia menutup mulutnya tidak percaya sebab perempuan yang dicintai Wisnu, suaminya adalah orang yang paling Sofia kenal dan orang itu sangat dekat dengan Sofia.

Siapakah perempuan yang paling dekat yang menjadi cinta pertamanya Wisnu dan masih dicintainya sampai kini?

Bersambung

Terpopuler

Comments

Rini Antika

Rini Antika

tentu saja, namanya jg cinta pasti gak rela kalau sampai nikah sama orglain

2023-04-09

0

🤗🤗

🤗🤗

tumben say pakai pov 3.

2023-04-08

1

Lina Zascia Amandia

Lina Zascia Amandia

Mksh Say...

2023-04-01

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!