Jeep yang dikemudikan **Wisnu** memasuki gerbang rumah dinas milik **Pak Akbar**, setelah pintu gerbang itu terbuka lebar. Kedatangan Wisnu sudah disambut Pak Akbar dan istri. Tidak ada rasa marah dalam diri Pak Akbar maupun istrinya saat bertatap muka dan bersalaman dengan Wisnu dan **Sofia**. Terlebih melihat Sofia sangat bersahaja dan sopan.
"Kalau sudah punya istri pasti kemana-mana ditanyain ya sama istrinya, ada di mana, sedang apa, sudah makan atau belum. Betul tidak, Wisnu?" Pak Akbar memulai dengan obrolan ringan. Sofia hanya bisa tersenyum hampa dalam hatinya. Sebab apa yang dikatakan Pak Akbar tidak benar. Sofia tidak pernah bertanya sedang di mana, lagi apa, sudah makan atau belum, semua itu hampir tidak pernah lagi Sofia tanyakan pada Wisnu, sebab Wisnu tidak suka dipertanyakan hal-hal seperti itu, alasannya terlalu lebay dan sok romantis. Sejak itu Sofia tidak berani lagi mengirimkan pesan basa-basi ke Hp Wisnu.
"Alhamdulillah. Sekarang sudah ada yang memperhatikan, semoga sakinah mawadah warohmah," harap Bu Akbar sembari tersenyum. Wisnu dan Sofia kompak manggut merespon ucapan Bu Akbar barusan.
Tidak berapa lama **Jeny** anaknya Pak Akbar tiba-tiba muncul. Dengan pakaian yang modis, sepertinya Jeny akan pergi. Saat tatapannya menuju Wisnu dan Sofia, sejenak Jeny menghentikan langkahnya. Keningnya mengkerut seolah heran, namun beberapa detik kemudian tatapan itu berubah sinis.
"Jen, kemarilah, Nak! Ini ada A Wisnu dan istrinya. Ayo, berkenalanlah," ajak Pak Akbar melambaikan tangan ke arah Jeny. Jeny diam terpaku melihat ke arah Wisnu dan Sofia. Tanpa berniat menghampiri atau berkenalan, Jeny hanya berpamitan kepada Pak Akbar dan Bu Akbar.
"Pah, Mah, Jeny pergi dulu, ya. Assalamualaikum," ucap Jeny berpamitan. Wisnu dan Sofia menatap kepergian Jeny dengan heran. Dalam hatinya, Sofia berpikir kenapa Jeny anaknya Pak Akbar bersikap seakan tidak kenal pada Wisnu? Padahal setahu Sofia, Jeny sudah dekat dengan Wisnu dan bahkan Pak Akbar sering memberi perintah kepada Wisnu untuk mengantar jemput Jeny ke kampus.
Pak Akbar dan Bu Akbar menatap kepergian Jeny dengan heran juga. Jeny berpamitan, namun tidak mencium tangan seperti kebiasaannya. "Jeny ... kenapa tidak salaman dulu?" Pak Akbar sedikit berteriak memanggil anaknya yang ngeluyur pergi begitu saja. "Duhhh, anak ini, kenapa main ngeluyur begitu saja?" ucap pak Akbar heran.
Bu Akbar menimpali, "mungkin Jeny sedang buru-buru Pak, nanti juga dia pulang akan ingat bahwa yang datang ini adalah Nak Wisnu."
"Maafkan anak kami, Nak Wisnu, Nak Sofi. Dia kadang seperti itu, sikapnya kadang kolokan dan masih manja," ucap Bu Akbar menyesalkan sikap anaknya yang pergi begitu saja tanpa menyapa Wisnu dan Sofia dahulu.
"Tidak masalah Bu. Kami tidak apa-apa. Bisa jadi Mbak Jeny sedang buru-buru." Wisnu mencoba memahami sikap Jeny yang seolah tidak mengenalinya. Namun dalam hati Wisnu berkata, dia sebetulnya tidak masalah tidak disapa Jeny, sebab dia sudah tahu sikap Jeny yang sebenarnya seperti apa terhadapnya. Jeny memang tidak pernah bersikap baik pada Wisnu. Selama mengawalnya seperti yang diperintahkan Pak Akbar, Jeny hanya menganggap Wisnu sebagai kacung Papanya.
Obrolan santai keduanya kadang diselingi obrolan dinas. Sebagaimana telah diobrolkan pada Sofia bahwa besok Wisnu mendapat perintah mengawal Komandan ke Cijantung, Jakarta Selatan. Sofia pun sudah mengetahui sebelumnya.
Tidak berapa lama Wisnu dan Sofia berpamitan, karena waktu sudah semakin meninggi dan sore sudah menjelang, Wisnu dan Sofia menaiki kembali Jeep yang akan membawanya pulang. Pak Akbar dan Bu Akbar menatap kepergian Wisnu dan Sofia dengan lambaian tangan.
Sepanjang perjalanan pulang tidak ada obrolan, baik dari Wisnu maupun Sofia. Keduanya larut dalam kebekuan. Namun sesekali Wisnu melirik dengan ujung matanya ke arah Sofia yang rupanya tengah fokus ke jalan. Lama-kelamaan Sofia yang sejak tadi hanya fokus ke jalan, merasakan kantuk yang berat. Lamat-lamat diapun tertidur saking ngantuknya bersandar pada jok mobil.
Wisnu yang merasa heran karena tidak ada pergerakan sama sekali dari Sofia, menoleh dan menatap Sofia. Rupanya Sofia tertidur, Wisnu berpikir mungkin Sofia lelah dan ngantuk karena seharian ini mengikuti kegiatan di kantornya sebagai Ibu Persit, juga kunjungan ke rumah dinas Komandannya.
Wisnu menatap dalam wajah sendu Sofia yang terlelap. Ada perasaan bersalah dalam dirinya yang selama ini masih belum memperlakukan Sofia dengan baik. "Maafkan aku, Sof. Aku selalu membuatmu sedih dan tidak bahagia. Yang terpenting terimakasih untuk hari ini, Sof," bisik Wisnu pelan seraya masih fokus ke depan kemudinya.
Akhirnya cuma butuh waktu 30 menit, Jeep milik Wisnu sudah tiba di depan rumah dan terparkir dengan sempurna di depan halaman rumah Wisnu. Sementara Sofia belum lagi dibangunkan, karena Wisnu tidak tega. Wisnu turun duluan dari mobil dan menutup pelan pintu mobil. Namun beberapa menit kemudian, Sofia pun terbangun, pandangannya bergulir ke kiri dan kanan. Rupanya Wisnu sudah tidak ada di sampingnya.
"Ya, ampun tega banget A Wisnu tidak membangunkan Sofia. Malah dibiarkan tidur di sini. Mungkin jika Sofia tidur sampai malam, bisa jadi A Wisnu tidak akan bangunkan Sofia juga. Tega kamu, A!" Hati Sofia mendadak sedih. Perlahan Sofia turun dan menutup pintu Jeep perlahan.
Saat membuka pintu, Sofia mendapati Wisnu tengah minum kopi yang masih ngebul, uapnya masih melayang di udara. "Assalamualaikum!" ucap Sofia sembari melewati Wisnu yang sedang menatap Sofia. Belum dijawab tapi Sofia sudah terburu-buru pergi menuju tangga.
"Sofia, kau sudah bangun?" Tidak ada jawaban, karena Sofia sudah terlanjur ke atas. Wisnu menyusul dan merasa heran.
"Aku minta maaf, tadi tidak bangunkan kamu karena kamu terlihat sangat ngantuk, aku tidak tega bangunkan kamu." Wisnu langsung meminta maaf karena dia tadi tidak membangunkan Sofia. Dan perihal inilah yang membuat Sofia kini merasa kesal dan sedih. Sofia berpikir, sebagai istri rasanya dia tidak dianggap.
"Tidak masalah A, memang Sofia tidak perlu dibangunkan oleh Aa. Sofia kan sama sekali tidak penting untuk Aa," balas Sofia seakan-akan menumpahkan kekecewaannya.
"Bukan begitu, dengar alasanku. Aku tadi tidak tega membangunkan kamu karena kamu sangat lelap banget. Jadi aku tinggal sampai kamu bangun sendiri," ujar Wisnu memberi alasan.
"Bahkan kalau Sofia terlelap sampai pagipun, Aa tidak akan mencoba membangunkan Sofia, kan?" serang Sofia tidak terima dengan alasan Wisnu.
"Ahhhh, sudahlah perkara tidak dibangunkan saja jadi masalah. Sekarang, yang lebih penting siapkan bawaan aku besok pagi. Aku habis Subuh pergi dari rumah, jangan sampai telat. Dan satu lagi, siapkan makan, aku sudah lapar." Wisnu beranjak menuju kamar mandi dengan wajah yang tidak kalah kesal pada Sofia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
🤗🤗
aminin kek, ya ampun wisnu bener2 dah
2023-04-10
0
mom mimu
ishh ko aku makin kesel ya sama Wisnu, heii a... Sofia itu istri kamu, bukan pembantu kamu yang seenaknya bisa di suruh ini itu tanpa di hargai...
2023-03-20
1
Lina Zascia Amandia
Komen pertama....
2023-03-20
0