Bab 8 Misi Agresif yang Gagal

Wisnu berjalan mengendap memasuki kamar yang ditiduri Sofia. Wisnu geleng-geleng kepala melihat Sofia tidur dengan lelap. Padahal perut Wisnu sudah lapar ingin segera makan, tapi Sofia malah tertidur sepulas ini. Saat Wisnu akan membangunkan Sofia, tiba-tiba Hp Sofia yang tergeletak di pinggir Sofia berbunyi. Panggilan masuk dari seseorang, Wisnu segera melihat siapa yang menghubungi Sofia, tertera nama Dokter Herman di sana.

Wisnu meraih Hp itu lalu membawanya keluar kamar, dan dengan beraninya Wisnu mengangkat panggilan itu.

"Assalamualaikum, Sofia! Bagaimana kabarnya? Saya minta maaf saat itu begitu marah mendengar kamu menikah dengan orang lain, padahal saya begitu mencintai kamu. Kamu tahu seminggu sebelum mendapat kabar pernikahanmu, saya telah menyiapkan rencana lamaran buat kamu, tapi sayang kamu malah memberi kabar bahwa kamu akan menikah, dan yang membuat saya sakit hati dan kecewa ternyata kamu mencintai lelaki lain yang baru kamu kenal, dan bukan memilih saya yang sudah kenal lama dan sering bersama," ucap lelaki yang bernama Dokter Herman itu melalui sambungan telpon. Ucapannya terdengar sedih dan mengharu. Tapi Wisnu menganggapnya sebagai pengganggu.

Wisnu sedikit terhenyak mendengar pengakuan orang di ujung telpon, dengan marah dia membalas pembicaraan orang itu.

"Dasar distuber! Jangan sekali-sekali Anda hubungi istri saya lagi, Dokter Herman! Kalau Anda punya maksud melamar Sofia kenapa saat itu tidak disosor saja toh janur kuning belum melengkung. Tapi kalau sekarang Anda menghubungi Sofia, maka urusannya dengan saya," balas Wisnu dengan nada sedikit terdengar mengancam.

Wisnu menutup sambungan telpon dengan kasar. Kemudian dia melihat pesan WA yang berderet tiga dari nama yang sama. Dokter Herman mengirim bukti seperangkat perlengkapan lamaran untuk Sofia, kemudian foto sepasang cincin kembar. Ada juga sebuah ucapan kesedihan Dokter Herman. Bahwa Dokter Herman sangat mencintai Sofia, diakhiri dengan sekuntum mawar yang terbelah sebagi bukti bahwa Dokter Herman patah hati.

Wisnu menghempas Hp itu di atas sofa. Kemudian dengan kasar dia membuka SIM card dalam Hp Sofia. Entah apa yang dirasakan Wisnu hingga semarah itu? Sementara itu Sofia yang sudah terbangun, terlihat terkejut melihat Wisnu sedang mengutak-atik Hpnya.

"Aa, kenapa dengan Hp Sofi?" tanya Sofia menghampiri Wisnu. Wisnu menoleh dan berdiri menatap tajam ke arah Sofia yang baru bangun. Matanya mendilak ke sana kemari judes.

"Ganti nomer Hp kamu dengan nomer baru. Nanti aku belikan, kamu hanya boleh menyimpan nomer keluarga dan orang dekat saja," ucap Wisnu mengultimatum tegas. Sofia terperangah dan sedih lalu meraih Hpnya yang dihempas Wisnu di atas sofa.

"Cepat masak, tidak perlu drama begitu. Aku lapar, yang perlu kamu perhatikan sekarang adalah aku, bukan Hp kamu. Itupun jika kamu ingin mendapat cinta dariku," tegas Wisnu seraya berjingkat ke kamar mandi. Sofia menatap sedih punggung Wisnu, dia menyayangkan kenapa Wisnu menyuruhnya mengganti nomer Hp. Padahal selama ini dia tidak pernah menyimpan nomer-nomer aneh.

"Baiklah A, Sofia akan turuti kemauan Aa jika memang itu yang bisa membuat Aa mencintai Sofia. Sofia janji akan buat Aa jatuh cinta sama Sofia," guman Sofia penuh tekad di dalam hatinya.

Sejak Sofia dilarang mencari pekerjaan oleh Wisnu, kini kegiatan Sofia hanya di rumah saja menjadi ibu rumah tangga yang baik, yang berusaha melayani Wisnu semampunya. Untungnya dalam hal makanan, Wisnu tidak rewel. Dibikinkan makanan khas Palembang saja disantapnya. Mungkin lidah Wisnu satu selera dengannya. Walaupun beda tanah kelahiran, namun lidah keduanya sepertinya tidak rewel dalam menerima makanan. "Yang penting halal dan toyyib," ujar Wisnu suatu hari.

Namun malam itu, Sofia merasa sangat sedih. Mengingat kembali cita-citanya sejak dulu yang ingin menjadi seorang Bidan. Dan sekarang dia sudah mendapatkan ilmunya di kebidanan, namun Wisnu tidak mengijinkannya bekerja dan mencari pekerjaan. Rasanya ilmu yang susah payah ia dapatkan dan dia raih dengan peluh lelah, seakan sia-sia.

Wisnu masuk ke rumah setelah tadi ngobrol lima belas menit dengan tetangga yang sama-sama pulang sholat Isya berjamaah di mesjid. Wisnu mendapati Sofia tengah melamun di sofa seperti tidak menyadari dirinya masuk.

"Sofia," tegur Wisnu seraya duduk di samping Sofia. Sofia nampak terkejut, lalu dia berdiri menyambut Wisnu.

"Aa, sudah A ngobrolnya?" ujar Sofia seraya meraih peci yang Wisnu geletak di atas sofa, lalu Sofia gantungkan di paku yang menempel di tembok. "Ayo, kita makan dulu," ajak Sofia seraya meraih lengan Wisnu.

"Aku sudah makan tadi di rumah orang tahlilan," jawab Wisnu sembari menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Ohhhh, apakah Aa mau makan lagi?"

"Tidak, aku sudah kenyang. Kau makanlah. Aku ke kamar duluan," ujar Wisnu seraya berjingkat menuju tangga. Sofia mengangguk dan menatap kepergian suami yang sangat dia cintai itu, walaupun Wisnu masih saja bersikap datar.

Sofia segera beranjak ke dapur untuk makan. Tidak butuh waktu lama, Sofia menyudahi makan malamnya sendiri, lalu menyusul Wisnu ke atas. Sebelum masuk kamar, Sofia bergegas ke kamar mandi, menggosok gigi. Saat menggosok gigi dan berkaca di cermin, tiba-tiba otak Sofia muncul ide untuk merayu Wisnu malam ini.

Sofia akan melancarkan misi agresifnya pada Wisnu. Agresif pada suami sendiri tidak akan jadi dosa, bukankah Sofia sudah bertekad akan membuat Wisnu jatuh cinta padanya? Sementara selama ini misi agresifnya selalu gagal akibat sikap dingin dan datarnya Wisnu. Hanya saat perang baratayuda saja Wisnu memperlihatkan kehangatannya, memanggil sayang dan mencium mesra. Setelah perang berakhir, berakhir juga kehangatan Wisnu.

Malam ini Sofia akan bertekad harus berhasil dalam misinya. Bukankah sejak dulu sikap Sofia sedikit agresif, tidak pendiam seperti ini. "Akan Sofia buat Aa klepek-klepek malam ini sama Sofia," gumannya penuh tekad seraya kembali ceria seperti masa gadisnya dulu.

Setelah membersihkan diri dan gosok gigi, Sofia mengganti baju tidurnya dengan lingeri seksi yang terlihat belahan dada dan lima senti di atas lutut. Rambutnya kini diikat tinggi ke atas, mirip artis-atris yang mau clubbing. Perlahan Sofia memasuki kamar dan membuka pintu dengan pelan.

Saat memasuki kamar terdengar Wisnu sedang berbicara di telpon. "Wisnu belum bisa mencintai Sofia, Bu. Biarkanlah begini adanya, kami suami istri saling memberi nafkah lahir dan batin. Tapi kalau cinta, hati Wisnu belum bisa." Mendengar percakapan Wisnu di telpon yang diduga Sofia bersama Ibunya Wisnu, Sofia mendadak lemas. Kakinya serasa lunglai tidak ada tenaga. Padahal sudah sering menerima perlakuan datar dan dingin dari Wisnu, tapi saat mendengar pengakuan Wisnu pada Ibunya di telpon, rasa kecewa Sofia kembali menjadi.

Niat menjalankan misi agresif kepada Wisnu malam ini gagal, hati Sofia terlanjur kecewa lagi. Mood untuk merayu supaya Wisnu klepek-klepek padanya, hilang sudah. Perlahan Sofia menutup kembali pintu kamar dan keluar kamar untuk mengganti lingeri dengan baju tidur piyamanya.

"Aa hanya menginginkan Sofia saat maunya saja. Tapi hati Aa tidak untuk Sofia. Kapan Aa akan mencintai Sofia seutuhnya?" guman Sofia sedih sembari melepas lingeri seksi yang melekat di badannya.

Terpopuler

Comments

🤗🤗

🤗🤗

4 bab dulu

2023-04-09

1

🤗🤗

🤗🤗

hemm ujungnya marah juga

2023-04-09

1

@Kristin

@Kristin

Semoga berhasil ya SOP...

2023-04-07

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!